Stereocase
August, 10th 2011 | by Hanindyo Suropati | Comments: 0
Musik harus disalurkan dan dicoba apapun hasilnya.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Band yang terbentuk pada 19 Maret 2008 ini mungkin masih terhitung ‘muda’. Namun dengan musiknya yang unik, Stereocase pernah masuk Top 30 L.A Lights Indiefest 2008 wakil Jakarta pada saat mereka baru terbentuk sebulan. Selain itu lagu’Just Called Life’ membawa band ini sebagai Best New Comer di ICEMA 2010. Saya pun ‘mengulik’ mereka pada saat datang ke markas area.
Bagaimana awal terbentuknya Stereocase?
Awalnya gua (Fadli) sama Rifky yang kebetulan adik-kakak, mutusin untuk bikin band. Nemu namanya duluan, yaitu Stereocase. Setelah itu baru nyari personel lainnya. Tadinya dari teman-teman saja sampai akhirnya mutusin untuk nyari personel dari luar pertemanan yang bener-bener cocok dan pas sama kita. Akhirnya ketemu Richard, teman kampusnya Rifky dan Donny yang kenal lewat situs pertemanan. Pertama kali latihan langsung dapat chemistry-nya dan langsung tercipta 1 lagu.
Apa judul lagu pertama tersebut?
‘Wake Me’, cuma nggak masuk di album.
Ada history-nya kenapa nama band kalian Stereocase?
Nggak ada, sih. Sebelumnya udah nyari macam-macam nama sampai akhirnya ketemu Stereocase. Gue browse di internet belum ada yang punya. Stereocase juga gampang dicari, jadi akhirnya memakai nama itu.
Melihat video klip kalian dari You Tube, musiknya terdengar seperti Incubus. Stereocase mendapat pengaruh dari situ?
Salah satunya, tapi kita juga dipengaruhi oleh Lenny Kravitz, Red Hot Chilli Peppers, dan Jamiroquai. Sebenarnya macam-macam, sampai lagu ‘sekarang’ juga kita dengarkan untuk menambah referensi.
Apa genre musik yang di usung Stereocase?
Nah itu dia, kalo genre ngebingungin ya, ha-ha. Namun yang paling terasa alternative, funk, pop, dan rock.
Pengalaman manggung paling seru ?
Farid: Di salah satu acara sekolah, gua ngerasa nggak ada yang tahu lagu kita, tapi mereka ikut nyanyi dan ikut gila-gilaan. Itu surprise buat gua.
Rifky: Kalo gue di Java Rockin' Land 2010, pas jadwal kita maen berbarengan sama Dashboard Confenssional. Beruntung banget ternyata banyak juga yang nonton kita.
Richard: Di Java Rockingland 2010, karena itu panggung terbesar kita dan banyak penonton yang merespon dengan baik.
Doni: Jujur saja kalo di JRL yang paling besar, tapi waktu di acara sekolah itu berasa banget ada yang respect sama karya kita.
Waktu manggung masih suka membawakan lagu orang atau total membawakan lagu-lagu kalian sendiri?
Tergantung keperluan dan event. Kalo lagi manggung di tempat yang untuk menghibur orang banyak, kita suka membawakan lagu orang. Sebenarnya kita fleksibel asal lagu orang itu sesuai dengan kita, nggak ada masalah.
Saat ini kalian sedang proses pembuatan album, berapa lama waktu yang dibutuhkan dan kapan akan rilis?
Tinggal proses mastering, kita membutuhkan 3-4 bulan dan rencananya akan rilis pada September. Album itu akan berisi 10 lagu.
Lirik kalian berbahasa Indonesia atau Inggris?
Dalam album ini sebanyak 65% bahasa Indonesia, sih.
Album akan disebarkan melalui jalur indie atau berada di bawah naungan sebuah record label?
Sekarang kita di bawah NuBuzz Record. Label ini biasanya kan mengeluarkan kompilasi. Nah album ini menjadi proyek full album pertama dari NuBuzz.
Apa harapan kalian dari album perdana ini?
Semoga seru, nggak ngebosenin, fresh, dan jadi alternatif lain saat banyak band yang musiknya seragam. Tentunya bisa diterima luas sama masyarakat dan bisa go international.
Kenapa kalian milih jalur musik, padahal saat ini semakin banyak band-band yang bermunculan?
Karena kita suka musik. Musik harus disalurkan dan dicoba apapun hasilnya. Nggak bisa dipungkiri juga kalo memang saat ini sudah banyak band, tapi peluang tetap banyak juga dan saat ini bisa hidup dari nge-band.
Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on Twitter


Comments
Be the first to comment.