"Menulis Karena Diarahkan Orang Lain..."

Kalau ada orang yang layak disandangkan gelar "makin tua makin jadi", Wimar Witoelar jadi satu pilihan yang tepat. Seiring merambatnya usia, sosok ini malah kian bersinar dengan segala idealisme, ke-apa-adaannya, dan keinginannya untuk terus bisa berguna bagi siapapun.

Menulis di berbagai media, menerbitkan buku, membawakan program televisi dan radio, hingga melakoni public speaking bersama PR Consultant yang dikelolanya adalah sekelumit produktivitasnya. Soal buku, dari keuletannya menulis lahir sejumlah judul, dari yang bertema serius sampai yang bermain-main dengan keusilan kritisnya. Still More About Nothing merupakan yang teranyar dirilisnya. Buku ini merupakan  rangkuman tulisan lepasnya di sejumlah media, termasuk Majalah area. Khusus di Majalah area, sudah hampir 6 tahun Wimar menjadi kolomnis tetap rubrik Wimar's Says. Untuk program televisi, yang teranyar yang dibidaninya adalah tayangan TvTWO di YouTube (http://tvtwo.info).

Sampai detik ini, Wimar masih lelaki gendut dengan rambut keriting yang doyan ngomong dan gemar menulis. Dua wahana tersebut seakan menjadi 'kendaraannya' untuk berekspresi. Pembawaannya yang riang menjadikannya sosok yang menyenangkan. Tapi Wimar bukan tak bisa serius. Ia bisa sangat serius manakala membahas topik-topik yang bikin kening berkerut; carut-marut politik negeri ini atau dukungannya untuk Sri Mulyani. Eits, tapi jangan salah. Wimar tetap membawakannya dengan bumbu canda.

Di kantornya yang berlokasi di kawasan Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Jakarta Selatan, Wimar Witoelar pun ngoceh soal pribadi dan kesibukan kreatifnya. Ini kali kedua penampilannya di rubrik Hot Seat majalah ini.

Kenapa memilih 'kesenangan' menulis?
Pilihan yang dibuat oleh orang lain. Selain itu, saya senang membaca. Buku cerita, majalah, sampai surat kabar. Sampai orang bilang saya berkacamata gara-gara baca. Karena senang baca, dan mengamati kejadian di sekitar saya, senang nonton film, dengerin lagu. Dengerin kata-kanya. Ya, senang ngambil input. Jadi, input-nya banyak. Nah, output-nya, saya senang bicara. Tapi, mungkin kurang jadi juga, menggambar dan menulis. Sayangnya, menggambar kurang bakat. Nah, jadi pilihannya menulis. Kalimat kerennya untuk ekspresi.

Sejak awal menulis hal-hal yang serius?
Baru setelah berkenalan dengan Majalah Area saya dapat kebebasan boleh menulis tentang apa saja. Bagi saya kolom ini (Wimar Says) sangat berarti. Dulu menulis sebagai support kegiatan saya yang lain. Nah ini, menulis, menulis saja. Tentang apa saja? About nothing. Saya mulai banyak menulis sesuatu yang murah, meriah, dan cepat jadi, ha-ha-ha. Nah, sejak ada artikel-artikel itu, orang senang, dan meminta saya menulis tentang apa saja. Saya senang menulis tentang apa saja yang membuat orang senang. Kalau temanya tentang apa saja, tentu saya sanggupi. Kalau disuruh nulis politik saya senang, tapi kalau menulis kolom politik saya nggak suka, ha-ha-ha.

Nah, kenapa akhirnya Wimar identik dengan celoteh politik?
Hmm, itu bukan karena tulisan, tapi kegiatan. Selama menjadi mahasiswa, politik memang menjadi kegiatan saya. Apalagi jaman saya saat itu sangat politis. Ya, saya memang harus banyak berterima kasih pada politik karena saya bisa dapat beasiswa dan pergi ke Amerika segala. Kalau tidak, mungkin saya masih jeblok di ruang kuliah. Saat itu memang politiknya ada, yaitu membikin demokrasi setelah era Soekarno. Tapi waktu tema persaingan parpol, saya tidak senang. Jadi kalau politiknya besar saya senang. Isunya jelas, dari Soekarno ke Soeharto, dari Soeharto ke reformasi, dari reformasi ke demokrasi, dari korup-korup ke Sri Mulyani, ha-ha-ha. Jadi menulis dengan suatu keberpihakan. Itu saya senang. Semua yang saya tulis adalah ekspresi saya. Segala yang saya tulis di Majalah area atau di manapun bukan asal tulis. Itu adalah apa yang saya yakini. Makanya saya suka memainkan dengan istilah 'about nothing' yang sebenarnya bukan nothing. Sampai sekarang, buat saya menulis adalah ekspresi.

Wimar yang kritis, menyentil, dan nyeleneh, tercirikan dalam tulisan?
Karakter saya keseharian, ya begitulah saya di tulisan. Nyeleneh juga, nyindir juga, suka mengeluarkan fakta-fakta dari sana-sini juga. Jadi identik seperti Batman dalam komik, kartun, dan filmnya sama. Saya juga dalam bentuk apapun. Ya, Wimar tetap Wimar.

Bagaimana Wimar dalam tema-tema serius?
Ah, tidak. Sama saja. Di dua kolom politik sebuah media minggu lalu ada pembicaraan yang sangat serius, mengenai pencalonan Sri Mulyani. Saya tetap tampil dengan gaya becanda. Coba bandingkan penampilan saya di televisi dan Anas Poerbaningrum di televisi, tentu beda sekali. Walaupun saya pernah sama pentingnya dengan dia, ha-ha-ha. Saat menjadi juru bicara kepresidenan pun pembawaan saya ya seperti itu. Karena saya punya presiden tidak keberatan. Beda mungkin bila saya dengan SBY. Setengah hari pun saya sudah dipecat, ha-ha-ha.

Bagaimana perkenalan dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Juga melalui tulisan?
Melalui tulisan juga rasanya. Saya tidak pernah bergaul dengan Gus Dur secara politis. Bahkan selama dia 20 tahun berkiprah sebelum menjadi presiden saya tidak pernah bertemu secara pribadi. Saat ia menjadi presiden saya melihat Gus Dur sebagai sosok yang unik dan banyak diserang. Pilihan saya melihat orang seperti itu adalah ikut menyerang atau membela, ha-ha-ha. Saya pikir orang ini tidak patut diserang karena disalahkan untuk hal-hal yang tidak penting. Jadi, saya banyak menulis tentang Gus Dur. Akhirnya saya dianggap sebagai orang yang bisa mengerti Gus Dur. Sampai diundang ke Australia untuk menjelaskan tentang Gus Dur. "Wimar Witoelar orang yang bisa menerjemahkan Gus Dur". Padahal saya tidak punya otoritas apapun atas Gus Dur, ha-ha-ha. Saya justru lebih dulu kenal dan berteman dengan Yenny Wahid (putri ke-2 Gus Dur). Dari Yenny saya banyak bahan tentang Gus Dur. Sampai suatu hari saya dipanggil Gus Dur setelah saya menulis di The Jakarta Post tentang 'pembelaan' atas Gus Dur. Dari pertemuan itu, beberapa lama kemudian, saya ditunjuk menjadi juru bicara kepresidenan.

Dengan pengalaman menjadi juru bicara kepresidenan, opini soal politik, hingga yang teranyar ikut mendukung pencalonan Sri Mulyani, bukankan akan semakin mengukuhkan intensitas Wimar dalam politik?
Ya, karena memang saya banyak bersentuhan dengan politik dan orang-orang politik. Tapi meski saya orang politik, saya bukan anggota parpol. Saya lebih memilih berkontribusi dengan opini. Saya punya kekuatan untuk beropini. Saya orang yang berekspresi. Kebetulan politik menjadi berita dan saya banyak mendapat bahan dari teman-teman yang terjun ke politik. Itu yang menarik untuk diopinikan. Dan saya senang bersuara. Saya berpolitik juga karena saya tidak mau garong-garong menjadi penyelenggara negara ini.

Di buku Still More About Nothing ini, apakah Wimar memilih dan menyunting kembali tulisan yang dikumpulkan?
Tidak. Saya tidak mengedit lagi. Ini adalah effort yang luar biasa dari tim teman-teman di sini. Tugas saya cuma menulis artikel. Semuanya saya serahkan pada mereka untuk dipilih-pilih. Bagi saya semua tulisan saya adalah yang terbaik. Tujuannya semata-mata mengumpulkan artikel-artikel saya yang terbaik di Majalah area dan beberapa media lain. Tentunya dengan izin masing-masing media. Soal tema, saya rasa tidak ada tema tertentu. Ibarat kehidupan, semuanya berbaur.

Populer sudah, apa proyek Wimar selanjutnya?
Popularitas merupakan produk sampingan. Itu sudah ada tanpa saya mengorbankan sesuatu. It's a blessing dan berguna. Dari segi waktu proyek saya selanjutnya adalah menjadikan Sri Mulyani sebagai presiden, walaupun saya bukan pejabat partai, ha-ha-ha. Dari segi waktu lainnya, 10 % menulis, 20 % lagi berkecimpung dengan perusahaan PR ini, 10% untuk keluarga, dan 40% menjaga kesehatan dengan tidur cukup, makan tidak boleh terlambat, dan disiplin dengan diet; diet kalori, menghindari gula sama sekali kecuali yang ada dalam buah, dan menghindari kolesterol dan karbohidrat.

Untuk program televisi akan ada program baru?

Ada di Binus TV, namanya "Omong Kribo", saya menjadi pemandunya. Dan yang saya senangi sekarang adalah siaran TV saya sendiri, namanya TV Two. Ditayangkan di website dengan memanfaatkan YouTube. Kenapa namanya TV Two karena saya kurang senang dan salah satu stasiun televisi nasional. Kontennya beragam, menghadirkan tokoh dan saya wawancarai. Kami juga ada rencana kerjasama dengan sebuah perusahaan elektronik untuk menjadikan acara Perspektif sebagai standar aplikasi produknya. Selain itu, untuk TV Two, bekerja sama dengan digital media penyedia layanan TV berlangganan sebagai VoD (video on demand). Itu yang sekarang menjadi passion saya. Ini juga cara saya berekspresi.

Wimar menyisir rambut?

Saya menyisir setiap hari, mandi setiap hari, ha-ha-ha. Mengapa kribo dianggap aneh? Kenapa menyisir ke depan dianggap aneh? Apa jelek? Nggak, kan. Dengan rambut begini saya disukai wanita-wanita cantik, ha-ha-ha.

Hal apa yang membuat marah?

Utama bila ada orang yang baru bertemu, tapi berkomentar sok tahu tentang fisik saya. Hal lainnya yang membuat saya marah setiap kali maksud saya untuk menyenangkan orang tidak dimengerti oleh orang yang bersangkutan. Saya selalu ingin bisa berguna dan menyenangkan orang lain.

Wimar senang dikelilingi perempuan?

bagi saya perepuan adalah the only relevant gender. Laki-laki hanya sebagai pro-kreasi. Sejatinya it's all about woman. Orang terpenting dalam hidup saya, istri saya, ibu saya. Lelaki cuma by standart saja. Proses keterlibatan laki-laki dalam penciptaan manusia hanya 7 menit atau maksimal 30 menit. Perempuan, 9-10 bulan. Saya sangat menghormati perempuan.

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow him on Twitter