Linkin Park A Thousand Suns : World Tour 2011
September, 23rd 2011 | by Ferry Ardiansyah | Comments: 0
Bernostalgia, itulah yang ada dalam pikiran saya saat menuju Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Rabu malam, 21/9/2011. Ini adalah kali kedua saya menonton band asal California, Linkin Park. Sebelumnya mereka pernah datang ke Jakarta jauh di tahun 2004 lalu.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Entah mengapa pihak promotor Big Daddy menjatuhkan pilihan venue konser ke dalam Gelora Bung Karno. Tempat yang sama dipilih promotor Tommy Pratama untuk menggelar konser Iron Maiden sebelum akhirnya dipindah karena takut akan merusak rumput stadion. Namun, rupanya tempat ini menjadi pilihan tepat bagi grup band yang beranggotakan Chester Bennington (vokal), Rob Bourdon (drum), Brad Delson (gitar), Dave Farrell (bass), Joseph Hahn (DJ turntable), dan Mike Shinoda (rap & backing vokal) untuk memberikan aksi terbaik mereka.
Bagaimana tidak, sebuah panggung raksasa yang membelakangi area lapangan hijau terbentang megah. Dikiri dan kanan panggung terpajang sound system bermerek Adamson yang mampu menghasilkan level suara sebesar 121db, lengkap dengan logonya. Ditambah tiga layar LED raksasa berukuran 16X16 meter membuat saya optimis bahwa ini akan menjadi malam yang tak mudah terlupakan.
Benar saja, tak lama setelah gemuruh teriakan penonton memanggil Linkin Park agar segera tampil, lagu pembuka berjudul Papercut menyentak. Perpaduan antara sound system yang mumpuni, permainan lighting yang cantik dan video mapping di masing-masing layar telah memesona saya sejak awal. Konser yang dimulai tepat pukul 20.30 WIB itu langsung mendapat sambutan meriah dari para penonton.
Saya pun berniat mengabadikan moment ini. Sebelumnya para fotografer dan juru kamera memang dijanjikan boleh mengambil gambar di dua lagu pertama. Belum lama saya mengambil gambar tiba-tiba terdengar teriakan Out! Out! You must go out! Beberapa pengawal pribadi dari Linkin Park menyeruak ke tengah meminta para pewarta foto untuk segera keluar. Nampaknya mereka sudah merasa terganggu dan saya pun memakluminya.
Saya kemudian bergegas menuju tribun untuk terus menikmati konser tanpa harus dipusingkan untuk mengabadikannya. "Bagus banget, ga nyesel gue beli tiketnya. Gue punya koleksi albumnya lengkap, tadinya pengen nonton sekalian liat F1 di Singapura. Tapi karena Linkin juga main disini ya, lebih baik gue nonton disini aja, ya engga?," tanya balik Farhan, salah seorang penonton ketika ditanya alasannya mengapa malam itu datang untuk menonton Linkin Park.
Panitia penyelenggara konser sebelumnya tengah menyiapkan pengamanan khusus untuk penonton yang diperkirakan mencapai 20.000 orang.
Empat lagu dihajar Chester yang tampil hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih dan jeans. "Jakarta, terima kasih banyak. Cantik sekali malam ini dan terima kasih sudah datang," sapanya. Walau tidak terlalu banyak menyapa para penggemar, lagu demi lagu yang dibawakannya mampu menghipnotis penonton agar terus berjingkrak dan melantunkan lagu bersama.
Dengan durasi kurang lebih satu setengah jam, Linkin Park sukses membawakan 19 lagu yang diambil dari empat rilis album Hybrid Theory, Meteora, Minutes to Midnight, dan A Thousand Suns. Lagu-lagu yang dibawakan pada malam itu banyak yang terdengar familiar ditelinga penggemarnya seperti, ‘Numb’, ‘New Divide’, ‘Faint’, ‘Breaking The Habit’, ‘Shadow Of The Day’, ‘The Catalyst’, ‘In The End’, ‘Crawling’, ‘One Step Closer’,'What I've Done' hingga ‘Iridescent’.
Semuanya dibawakan dengan semangat tinggi. Aksi Chester yang bolak balik ke kanan dan kiri panggung mampu bersinergi dengan Joseph Hahn dan Mike Shinoda yang malam itu banyak memainkan gitar dan synthesizer.
Lampu kemudian padam, lima buah limousine hitam dengan mesin menyala nampak tengah bersiap mengangkut para personil Linkin Park ke hotelnya. Encore yang cukup menyakinkan saya bahwa konser telah usai, mengingat Chester memang tak banyak bicara selama pertunjukkan tak heran juga dia mau bersusah untuk mengakhirinya.
Setelah puluhan ribu penonton berteriak 'we want more' berulang-ulang, lagi-lagi tanpa basa basi, lagu Bleed It Out yang dimedley dengan A Place For My Head kembali ditampilkan. Setelah itu satu persatu personil dari Linkin Park beranjak pamit dengan melambaikan tangan dan melempar beberapa peralatan alat musik mereka kepada penonton. Wajah-wajah puas nampak menghiasi sebagian besar penonton yang mulai meninggalkan Gelora Bung Karno secara perlahan. Saya termasuk salah satunya.
Contact the writer at ferry.ardiansyah@mediasatu.com
Follow him on Twitter


Comments
Be the first to comment.