Indonesia, Negeri Sejuta Kain
October, 3rd 2011 | by Martin Johnindra | Comments: 0
Satu dari 365 hari dalam setahun diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Mengapa hanya batik? Lantas bagaimana nasib kain-kain lainnya?
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Batik sebenarnya sebuah teknik melukis dengan canting maupun cap dengan menggunakan cairan malam pada sebuah kain putih. Batik kini kerap diartikan sebagai busana yang dibuat dari kain maupun motif batik.
Beberapa tahun lalu batik sempat dianggap sebelah mata oleh masyarakat kita. Batik dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Sampai akhirnya timbul polemik antara Indonesia dengan Malaysia. Negeri jiran itu memang mencoba mematenkan batik.
Nasionalisme masyarakat Indonesia dalam sekejap langsung tersulut. Pemerintah turun tangan dan memperjuangkan agar batik asal Indonesia diakui oleh dunia. Perjuangan ini membuahkan hasil. Dua tahun lalu, tepatnya 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik dari Indonesia adalah Masterpiece of the Oral and Intangable Heritage of Humanity. Setahun kemudian presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan bahwa 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Batik mendapat tempat mulia di Indonesia.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa hanya batik yang digembar-gemborkan dan diperjuangkan? Indonesia, yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, adalah negeri yang kaya. Ya, kaya akan keanekaragaman etnis. Dan, etnis-etnis ini punya kain kebanggaannya masing-masing, sebut saja Batak yang mempunyai ulos, Minang memiliki songket, Palembang ada songket juga jumputan, hingga Sumba yang punya ikat nan memesona.
Beragam kain ini belum mendapat tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Ini masih milik dan kebanggaan etnis masing-masing. Padahal, keindahan kain-kain dan makna simbolis yang terkandung sangatlah luar biasa. Lantas, apakah kita harus ‘menunggu’ negara lain mengklaim agar kita tanggap dan berupaya memilikinya dengan bangga?
Masyarakat dunia sepertinya lebih menghargai kain-kain itu. Beberapa desainer dan rumah mode telah mengaplikasikan keindahan kain-kain tersebut ke dalam desain pakaian mereka.
Hal semacam ini sudah menjadi semacam ‘budaya’ masyarakat kita. Lihat saja pada kasus angklung, reog ponorogo, hingga lagu “Rasa Sayange”. Sebelum ketiganya diklaim oleh negara tetangga, sebagian besar dari kita tak peduli dan tak menyadari keberadaanya.
Kita sebagai bangsa seharusnya lebih dahulu menghargai kain-kain tersebut. Kita harus bangga memilikinya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Pada akhirnya, rasa bangga tersebut akan melahirkan rasa kepemilikan bersama. Dari sini kemudian Pemerintah sepantasnya mendukung dengan memperjuangkannya, agar bisa diakui pula oleh dunia. Dan suatu hari nanti ada pula hari peringatan khusus untuk kain-kain tersebut.
Contact the writer at martin.johnindra@mediasatu.com
Follow him on Twitter


Comments
Be the first to comment.