Death is Just Invention of Life
October, 6th 2011 | by Ferry Ardiansyah | Comments: 0
“RIP Steve Jobs. Goodbye and thank you!” demikian kutipan status dari seorang sahabat berakun @medisubhan di Twitter. Nama yang dimaksud mengingatkan saya pada sosok CEO dari neXT, Pixar, dan perusahaan multimedia raksasa Apple Inc.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Namun, saya segera menepisnya karena tahu persis sahabat saya pasti tidak pernah bertemu atau pun kenal secara langsung dengan Jobs yang dimaksud.
Status yang hampir senada ternyata juga ada di status Blackberry Messenger, Yahoo!, Facebook, dan forum-forum di dunia maya lainnya. Benar, Steve Jobs, sang pendiri Apple sekaligus orang di belakang terciptanya produk iPhone, iPad, iPod, dan Mac, meninggal dalam usia 56 tahun pagi dini hari tertanggal 6 Oktober 2011.
Penasaran, saya mengunjungi situs resmi Apple dan kalimat duka resmi dikeluarkan dalam halaman situs tersebut. "Apple kehilangan seorang genius yang visionaris dan kreatif, dan dunia kehilangan sosok mengagumkan. Kami yang cukup beruntung untuk mengenal dan bekerja dengan Steve sangat kehilangan teman terkasih dan mentor yang penuh inspirasi. Steve meninggalkan perusahaan yang hanya bisa dibangun olehnya, dan semangatnya akan selamanya menjadi landasan Apple. Kecemerlangan, hasrat, dan energi Steve merupakan sumber inovasi yang memperkaya hidup kami. Dunia menjadi tempat yang lebih indah karena Steve. Cinta terbesarnya diberikan bagi istrinya, Laurene, dan keluarganya. Hati kami bersimpati kepada mereka dan semua orang yang tersentuh oleh karya-karyanya yang luar biasa,” ungkap situs Apple. Apple juga menyediakan jalur khusus untuk berbagi kenangan melalui alamat e-mail rememberingsteve@apple.com bagi siapa pun yang ingin turut berduka cita.
Sekilas tentang Steve Paul Jobs, ia lahir di San Francisco, Amerika Serikat, 25 Februari 1955. Ia bisa dibilang seorang master pencipta yang membuat ragam produk inovatif, seperti komputer personal yang membawa internet ke dalam saku dan membuat revolusi informasi tidak hanya bisa diakses tapi juga intuitif dan fun.
Wajar jika banyak orang yang merasa dekat dengan Jobs, dan kemudian menyatakan turut berduka. Sebab, merasa produk Apple sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Selain membangun salah satu perusahaan paling sukses di planet ini dari garasinya, Jobs memang seringkali memberi contoh tentang semangat kepintaran dan bagaimana mendulang sukses dari kegagalan lewat kalimat yang membangun dalam presentasi dan pidatonya.
Kalimat-kalimat inspiratif itulah yang kini menghiasi status sebagian Facebooker sebagai tanda penghormatan terakhir. Contoh lain, di ranah Twitter, saat ini juga terdapat lima trending topik yang berkaitan dengan tutup usianya Jobs yakni, #RIP Steve Jobs, #ThankYouSteve, #iSad, STAY HUNGRY, dan Apple II.
"Steve, terima kasih telah menjadi pembimbing sekaligus teman. Terima kasih telah menunjukkan bahwa apa yang kau bangun mampu mengubah dunia. Saya akan merindukanmu.," demikian pesan duka yang disampaikan CEO Facebook Mark Zuckerberg.
"Sangat sedih mendengar berita tentang Steve Jobs. Dia orang yang jenius dan menjadi salah satu orang yang inovatif di dunia. Dia telah mengubah dunia dengan banyak cara," kata Paris Hilton dalam akun twitternya.
"Michelle dan saya bersedih mendengar kabar meninggalnya Steve Jobs. Steve termasuk inovator terbesar Amerika, cukup berani untuk berpikir berbeda, cukup berani untuk meyakini dia bisa mengubah dunia dan cukup berbakat untuk melakukannya,” ungkap Barrack Obama, seperti dikutip dari Sun Times.
Tiga tokoh diatas membuktikan bahwa peran serta Jobs diakui oleh berbagai kalangan di dunia.
Dan seperti judul artikel ini “Death is Just Invention of Life”, Jobs dalam pidatonya di Stanford commencement speech (2005) berkata, “Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Meski mereka yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati. Namun kematian adalah tujuan kita bersama, tidak ada yang bisa lolos darinya. Kematian adalah penemuan terbaik dalam kehidupan. Ia membersihkan yang lama dan membuat jalan untuk yang baru. Sekarang yang baru adalah kamu, namun suatu saat nanti kamu akan menjadi tua dan 'dibersihkan'. Maaf terlalu dramatik, namun ini benar.”
Selamat jalan, Steve Jobs.


Comments
Be the first to comment.