FEATURE

2011 Area Local Heroes : Maju Tak Gentar!

October, 16th 2011 |  by  Tim Redaksi Area  | 0

Bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-8 tahun ini, area kembali mendaulat sejumlah figur bertitel “Hero of Jakarta”.

Holycow Holycow

De Majors De Majors

Berlian Entertainment Berlian Entertainment

Barli Asmara Barli Asmara

Gojek Gojek

Mira Lesmana Mira Lesmana

Nano dan Ratna Riantiarno Nano dan Ratna Riantiarno

Lola Amaria Lola Amaria

Indonesia Berkebun Indonesia Berkebun

Indo Runners Indo Runners

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Setiap tahunnya, feature ini, area Local Heroes, sejatinya menjadi medium apresiasi juga penghargaan positif atas kerja keras mereka. Dengan idealisme, semangat, kreativitas, dan karya di bidangnya masing-masing, sosok-sosok 'hero' tersebut membikin Jakarta semakin “hidup dan penuh warna”. Segala sesuatu yang dihasilkan para 'hero' tersebut menjadi trend, dikenal, dan diapresiasi positif oleh khalayak. Karya-karya mereka ada juga yang menjadi inspirasi seisi Jakarta. Dikagumi, diikuti, bahkan ditiru. Sebagian lainnya lagi bahkan sanggup menjelma ikon yang meninggikan citra Jakarta—bahkan Indonesia—secara positif. Tak mesti diakui dengan penghargaan atau award, popularitas kreativitas dan karya para 'pahlawan' ini bahkan sanggup menembus level internasional.

Nyatanya, ada begitu banyak figur yang layak didaulat sebagai hero di kota ini. Sayang, keterbatasan waktu dan kesibukan membikin kami tak sempat menemui dan menampilkan semua figur inspiratif tersebut. Namun, kami berjanji akan menampilkan para pahlawan ini di edisi area Local Heroes selanjutnya. Anda setuju atau tidak, tapi inilah sosok-sosok hero pilihan kami. Teriring salut dan terima kasih atas semangat juga kerja keras mereka, kami perkenalkan 'area Local Heroes' tahun ini. Please stand up and have a big around of applauses!

 

Holycow!
“Menantang diri sendiri untuk berbuat lebih!”

Jika Anda bertanya siapa yang pantas dianggap sebagai Local Heroes di bidang kuliner versi area, ini dia juaranya. The Steak Hotel, Holycow! Mengapa? Karena Holycow sanggup menyodorkan inovasi yang cukup berani sejak kejadirannya pada 15 Maret 2010. Lucy Wiryono, Afit Dwi Putranto, Wynda  Mardio, dan Iswanda Mardio adalah empat dalang yang bermain di belakangnya. Bisa dikatakan Afit adalah core dari usaha ini karena beliau yang bertugas sebagai chef dan penggagas ide berdirinya “warung” ini. Wynda mengurus bagian operasional, Wanda menghandle urusan desain dan logo. Nah, Lucy yang biasa berurusan dengan media.

Holycow

Siapa sangka dari modal kurang dari 100 juta, dalam waktu empat bulan sejak tercetusnya ide, lahir sebuah tempat makan steak wagyu enak dan murah namun tidak murahan. Dan, dalam kurun waktu setahun, Holycow beranjak menjadi sebuah bisnis kuliner yang tengah merambah ke luar negri, yaitu Singapura. Tak melulu profit oriented, Holycow menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mereka yang membutuhkan. Mereka bahkan merangkul Indonesia Berkebun (komunitas peduli lingkungan yang menghijaukan lahan-lahan di Indonesia dengan tanaman produktif) sebagai pemasok setiap bayam yang Anda nikmati di sana. Keempatnya mengaku usaha mereka ini “dibesarkan” oleh Twitter.

Holycow juga punya cara sendiri untuk memanjakan para Carnivore (sebutan untuk pecintanya). Misalnya Anda akan mendapatkan free dessert (caramel tiramisu atau cupcake) setiap men-tweet di TKP, free steak untuk yang berulang tahun, free refill untuk minuman. Baru-baru ini, Holycow mengadakan kompetisi berhadiah iPad 2 dengan cara mengumpulkan bendera Holycow sebanyak-banyaknya. Nah, untuk yang terbaru, dengan cara yang sama, Holycow akan membawa Anda ke gerai terbaru yang akan dibuka di Singapura pada bulan November. What a way to treat their customer, right?

Bahkan tujuan dari dibukanya Holycow di Singapura lagi-lagi berazas customer oriented, yaitu ingin meningkatkan kualitas Holycow sendiri agar dapat memberikan kepuasan yang lebih baik kepada customer.  Afit, Lucy, Winda, dan Wanda membeberkan mereka ingin sekali menginspirasi orang-orang di luar sana untuk berani berbuat lebih dan berbisnis di luar negri meskipun berangkat dari kelas emperan. Tantang diri Anda untuk berpikir borderless, di negara dengan iklim bisnisnya jauh lebih tinggi dari Indonesia. Mereka juga berpesan, untuk menjadi entrepreneur yang baik, percayakan insting Anda. "You have to dare to challenge yourself, kalau bukan diri kita sendiri siapa lagi?" imbuh Lucy.

 

Indo Runners
“Menularkan Virus Mari Lari”

Lari sudah lama dikenal sebagai olahraga yang murah bin praktis. Besarnya manfaat olahraga yang satu inipun tak sedikit yang sudah paham. Sayangnya, lantaran alasan kesibukan dan hilangnya motivasi menekuni lari, menjadikan olahraga yang satu ini ditinggalkan. Nah, Indo Runners, yang muncul sejak 2009 silam, hadir sebagai 'komunitas lari' yang berupaya menggiatkan kembali kebiasaan olahraga ini menjadi bagian lifestyle masyarakat urban sekarang.

Indo Runners

Ide mendirikan Indo Runners sendiri terlahir dari visi Reza Puspo yang menyadari bahwa kebiasan lari tidak mudah untuk dimulai. “Perlu motivasi. Apalagi, jika dilakukan sendiri akan mudah bosan dan kehilangan motivasi. Adanya komunitas ini salah satunya adalah untuk saling memotivasi,” ungkap sang founder Indo Runners ini.

Sejak awal kehadirannya, penggunaan perangkat dalam social media menjadi salah satu formula berkembangnya Indo Runners. Facebook dan Twitter menjadi “wadah” Indo Runners dalam menjaring orang-orang yang memiliki hobi yang sama untuk saling memotivasi dan berbagi informasi seputar lari. Fitur-fitur social media inilah yang menjadi alat Indo Runners dalam menyebarkan semangat, ajakan, dan motivasi virus lari ke khalayak. Nyatanya, kehadiran Indo Runners berhasil menarik perhatian khalayak. Dari mulai hanya segelintir orang, kini Indo Runners memiliki dua ribuan 'followers' di Facebook dengan rata-rata peserta lari mencapai 30-50 orang dalam setiap gelaran rutinnya.

Saat Indo Runners muncul, memang sudah ada beberapa klub atau komunitas lari yang duluan hadir, dengan beragam visi dan misi. Ada juga kelompok-kelompok lari dengan bentuk organisasi, regulasi, dan pembinaan teknik yang serius untuk mencapai kecepatan dan prestasi. Sayangnya, kelompok-kelompok lari macam itu malah memberi kesan mengintimidasi bagi pelari pemula. Nah, Indo Runners hadir mewadahi para pelari pemula dan siapa saja yang peduli pada investasi kesehatan untuk mau berlari. Misi utama komunitas ini adalah menanam bibit kebiasaan dan menyebarkan virus “Mari Lari”.

Di samping gencarnya 'penyebarluasan' virus "Mari Lari" via jejaring sosial dan keanggotaan yang terbuka bagi pemula, keberhasilan Indo Runner menarik simpati adalah pengemasan kegiatan lari dalam atmosfer yang fun, segar, dan santai. Selain gelaran rutin Thursday Night Run dan Sunday Morning, Run Indo Runners juga membikin beberapa kegiatan lari dengan tema-tema unik, salah satunya adalah fun run dengan kostum unik.

Bicara ketersediaan lintasan berlari di kota ini, sejatinya tidak lagi menjadi soal. “Kita bisa berlari di mana pun, tidak hanya seputaran Sudirman-Thamrin,” tegasnya. Hanya saja, seiring bangkitnya semangat olahraga di masyarakat, rasanya sudah harus ada regulasi yang mengatur soal pembagian lahan untuk kegiatan olahraga yang digelar di jalan-jalan di seputaran Jakarta. Maylaffayza, salah seorang penggiat Indo Runners sejak awal mengusulkan adanya regulasi dari pemerintah untuk penggunaan jalan. Maylaf, ia biasa disapa, mengusulkan sistem lawan arah untuk para pelari. Hal ini didasari banyaknya kasus cedera yang dialami para pelari akibat kelalaian penguna jalan lain. “Dari pada membuat jalur yang memakan waktu dan biaya, solusi yang lekas adalah membuat regulasi dan  social awarness kepada masyarakat. Selain itu juga perlu pengadaan petugas untuk menjaga regulasi itu,” jelasnya. Maylaf sendiri mengaku sudah ada upaya membuka jalan untuk membicarakan isu ini kepada kementerian terkait.

 

De Majors
Musik Tidak Akan Pernah Mati Selama Masih Ada Lifestyle!

Pilihan area untuk local heroes kategori musik jatuh pada De Majors. Alasannya karena selain record label indie ini sudah mengeluarkan sekitar 300 katalog (80% lokal, 20% luar negeri) dengan jalur distribusi yang mencapai kota-kota besar di Indonesia baik toko CD, distro maupun online. Selain itu De Majors juga membantu dalam mencetak, packaging, promosi hingga mencari event untuk setiap band yang mereka release.

 
De Majors

Awalnya De majors adalah sebuah  toko piringan hitam yang berdiri sejak 30 Maret 2001 di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. De Majors mulai masuk ke industri musik melalui jalur distribusi terlebih dahulu, pada 2004. ‘Jalur distribusi adalah unsur terpenting apabila suatu saat membuat record label, kebetulan juga saat itu kami tidak punya background dengan detail sebagai orang studio’ ungkap David Karto.

Setelah berjalan 11 tahun, De Majors kini sudah memiliki toko sendiri di Alun-Alun (Grand Indonesia), Living World (BSD), dan Jogja Nasional Museum (Jogjakarta).  David Karto, salah satu owner dan founder, menambahkan bagaimana De Majors bisa bertahan hingga saat ini, ‘Passion  dengan niat yang positif dan yakin pasti akan berjalan, membangun manajemen dengan sistem kekeluargaan dan kepercayaan’
Saat ini De Majors sedang dalam proses membuat De Majors Butik yang menjual CD, merchandise band yang tidak ada di toko-toko lain dengan harga yang sama, studio recording,  terdapat pula hall yang tidak terlalu besar untuk coaching dan gelaran media meet & greet. Kesibukan lainnya adalah membangun radio online bernama De Majors Radio.com.

Menyoal tantangan bisnis yang bakal dihadapi di masa depan, De Majors tampak optimis bahwa record label akan bertahan dalam 5-10 tahun mendatang. "Musik adalah bagian dari lifestyle. Selama lifestyle itu ada, record label akan survive," jawab mereka.

 

Berlian Entertainment
"Vision, Network, and Action"

Walau baru seumur jagung, Berlian Entertainment yang berdiri sejak 2008 tidak boleh dianggap remeh. Sejumlah event yang mereka gelar selalu berbuah sukses, seperti Invaders: Armin van Buuren, Ben10, David Foster, Janet Jackson dan yang paling membuat mereka dikenal adalah konser Justin Bieber. Sedianya, Berlian Entertainment memposisikan diri sebagai Entertainment Provider and Consultant, yang bertujuan menghasilkan sesuatu yang menghibur dan berbeda yang dapat menghibur masyarakat luas. Tak hanya konser musik, Berlian Entertainment  juga menggelar berbagai varian pertunjukan seperti Ben10 untuk anak dan event bertema olahraga. 

Berlian Entertainment selalu memiliki strategi dalam menghadapi semakin banyaknya promotor saat ini. "Dalam beberapa event kami berdampingan  bersama promotor lain dengan tujuan agar ke depannya lebih solid. Persaingan pasti ada, tetapi soliditas lebih penting. Selain itu, ketika promotor lain main di pasar luar, kami main di pasar lokal, jadi tidak harus bersaing," ungkap Dino Hamid, CEO BErlian Entertainment.

Mengusung motto "Vision, Network, and Action", selain membuat konser musik, Berlian Entertainment juga menjadi konsultan pada drama musikal ONROP!. Gelaran pertandingan tinju Chris Jhon baru-baru lalu juga menjadi salah satu portfolio Berlian Entertainment. Uniknya, dalam gelaran tinju itu Berlian Entertainment menyuguhkan kegiatan Celebrity Boxing sebagai pembuka, dengan tujuan olahraga tinju dapat dibuat menarik dan dapat ditonton semua kalangan.

Menyoal kesulitan perizinan dari Pemda saat ingin mengadakan suatu event di Jakarta, Dino mengaku tidak ada. "Hmm, apabila masalah izin hubungan kita selama ini baik kok, tapi kelebihannya Indonesia dibanding negara lain birokrasinya banyak," jelasnya.

Rencana selanjutnya, Dino Hamid mengungkapkan bahwa Berlian Entetainment akan membuat event Jakarta International Female Festival. "Pengisi acaranya itu perempuan semua, baik dari luar negeri maupun lokal. Kalau selama ini urusan genre , kalo ini gender. Jadi, kami tidak mengambil pasar orang kan," ungkapnya sambil tersenyum.

 

Barli Asmara
"Batik Itu Menantang Untuk Dieksplor"

Pada 2011 ini Barli Asmara kembali menyita perhatian kalangan fashion Indonesia, terutama saat namanya disangkutpautkan dengan ajang Miss Universe. Tiga buah rancang busana karyanya diboyong untuk mendukung Puteri Indonesia yang maju dalam ajang Miss Universe 2011. Salah satu master piece-nya adalah anyaman batik Solo yang khusus diciptakan untuk dikenakan  Nadine Alexandra Dewi Ames di Sao Paulo Brazil.

Memang, banyak sekali pemain dalam ranah fashion bertema batik atau kain tradisional lainnya. Dan Barli adalah salah satunya. Tapi, mungkin banyak yang keliru kalau mengira kisah persahabatan Barli dengan kain tradisional Indonesia yang bernama batik baru dimulai pada saat namanya disangkut-sangkutkan dengan pageant contest kenamaan itu. Padahal, ia telah memulai hubungan persahabatannya sejak 2007, semenjak bergabung dengan Rumah Pesona Kain. Tak hanya batik, hubungannya dengan kain tradisional lain pun tak kalah erat. Saat ditanya tentang kain tradisional apa saja yang pernah dieksplornya selama bergabung dengan Rumah Pesona Kain, kelima kain inilah yang menduduki peringkat teratas: Batik Cirebon, Batik Madura, Batik Garut, Batik Kudus, dan Tenun Makassar.

Kecintaannya kepada batik dan kain tradisional lainnya tak membuat ia lantas enggan untuk tahu sejarah hingga proses pembuatannya. Akhirnya, hubungan dan dukungannya terhadap perkembangan kain tradisional pun terus berlanjut hingga ke pengrajin batik yang ada di Indonesia.

Persoalan ekonomi para pengrajin kain tradisional yang masih memprihatinkan adalah salah satu alasan yang membuatnya semakin gencar untuk mendukung para pengrajintersebut. "Padahal, sekarang mereka sudah banyak yang sadar dengan trend an berusaha untuk menghasilkan kain dengan motif yang up to date," ujar desainer yang telah mulai mewarnai dunia fashion Indonesia sejak 1998. 

Menyoal perkembangan batik atau kain tradisional lain, tak menjadi kekhawatirannya lagi sekarang. "Batik  tidak hanya digunakan pada hari Jumat saja dan para pelaku fashion di luar negeri pun suah semakin banyak yang berani menggunakan karena coraknya yang unik", jelasnya.

 

Go-Jek
"Celah Bisnis Menyiasati Kemacetan Jakarta"

Teriakan tentang kemacetan tak hanya memenuhi lini masa Twitter, tapi juga berbagai media yang dapat dijajah dengan luapan kemarahan dan ketidakpuasan tentang lalu lintas Jakarta. Pemerintah dan berbagai instansi dengan embel-embel ‘yang berwajib’ menjadi sasaran amukan, namun hanya sedikit yang bertindak. Nah, Go-Jek  salah satunya! Memang, Nadiem Makarim dan para punggawa Go-Jek tidak menelurkan solusi memerangi kemacetan, tapi mereka berhasil menyiasatinya.

Singkat cerita, ide menciptakan lapangan bisnis yang juga berbasis sosial ini lahir dari pengalaman Nadiem yang kerap 'membelah' kemacetan dengan menggunakan ojek. Tak  berlama-lama, ia dan beberapa rekannya merealisasikan peluang bisnis tersebut dengan menyambungkan supply dan demand melalui cara yang lebih efisien dan terorganisir, yaitu dengan call center. Bukan bisnis semata, Go-Jek juga mengedepankan misinya untuk membantu para pengemudi ojek tersebut dalam segi ekonomi dan tentunya membantu mengurangi tingkat stres warga Jakarta dan sekitarnya untuk soal transportasi orang dan barang.

Meski terhitung  pemain baru tapi Go-Jek  tidak dapat dipandang sebelah mata. Sejak peluncuran resminya pada  Februari 2011, bukan hanya armada yang bertambah dan sambutan positif yang terus mengalir, penghargaan yangmereka kantungi pun tidak main-main. Paling membanggakan, pujian yang dilayangkan oleh Hillary Clinton dan Eric Schmidt, Chairman Google atas inovasinya dalam mencari celah untuk mengatasi kemacetan Jakarta.

Namun, bukan lantas Go-Jek luput dari segala halangan. Nadiem mengungkap bahwa membangun kepercayaan antara para pelanggan dan pengemudi  adalah salah satu halangan utama. Bukan antara dua pihak itu saja, tetapi para pengemudi ojek pun pada awalnya masih sangsi dengan sistem dari Go-Jek. Keraguan mereka adalah tentang peningkatan pendapatan yang diharapkan karena bergabung dengan Go-Jek.

Untuk ke depannya, daerah coverage Go-Jek akan di perluas. Jabodetabek adalah kawasan yang akan menjadi perhatian utama Nadiem dan tim, mengingat daerah tersebut yang memprihatinkan kemacetannya. ‘‘Keamanan dalam hal asuransi juga yang menjadi concern kami yang tak kalah penting,  untuk pengendara, penumpang, dan barang,’tambah sang owner.

 

Mira Lesmana
"Memberikan Hiburan Yang Berkualitas untuk Anak"

Nama yang satu ini mungkin tidak erat kaitannya dengan gerakan kemanusiaan yang mendanai suatu organisasi pendidikan anak. Tapi perempuan kelahiran 8 Agustus 1964 ini bersama lima rekannya, yaitu Toto Arto sebagai co-producer, Riri Riza sebagai sutradara, Jay Subiakto sebagai penata artistik panggung, Hartati sebagai koreografer, dan Erwin Gutawa sebagai penata musik membuat suatu inovasi dalam sebuah proyek musical yang layak dijadikan sebuah hiburan bernafas baru untuk anak-anak.
Ialah 'Musikal Laskar Pelangi', sebuah pertunjukan musikal yang lahir dari sebuah cerita novel tentang Bu Mus, Ikal, Lintang, Mahar, dan kawan-kawan, karangan Andrea Hirata. Memang, sebelum dijadikan sebagai karya musikal, Laskar Pelangi telah diangkat lebih dulu ke layar lebar di bulan September 2008. Sambutannya juga meriah dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan.

Di bulan November 2008, ia diminta untuk membuat pertunjukan musikal dari karya layar lebarnya tersebut.  Mira yang memang sudah begitu mencintai musikal, tertarik dengan niatan tersebut. Ia ingin membuat suatu karya yang setidaknya bisa mendekati Broadway ataupun West End di London. Sayang, visinya tidak sesuai, sehingga ditolak. Ia memilih untuk fokus pada sekuelnya, Sang Pemimpi di tahun 2009. Baru setelah menyamakan visi dengan tim yang memang sudah diketahui sepak terjangnya, Laskar Pelangi bermetamorfosis ke dalam bentuk musikal, dimulai pada Maret 2009. Proses audisinya memakan waktu 3 bulan, sementara latihan terus dilakukan selama 6 bulan. Baru pada bulan Desember 2009 dihadirkanlah 'Laskar Pelangi Musikal' selama tiga pekan, dipertunjukan sebanyak 29 kali di Teater Jakarta. Benar saja, reaksi dari masyarakat sungguh luar biasa. Tiket selalu habis terjual di setiap pementasannya. Bahkan baru-baru ini, Musikal Laskar Pelangi diminta untuk pentas di Esplanade Theatres on the Bay, Singapura. Selama dua hari, tanggal 1 dan 2 Oktober 2011 lalu, Musikal Laskar Pelangi yang dipentaskan sebanyak tiga kali, berhasil menyedot 1.700 penonton, jauh melebihi dugaan.

Banyak nilai positif yang terkandung di dalam karya musikal ini. Misalnya saja nilai kejujuran, kebaikan, kekayaan budaya bangsa, keragaman kelas masyarakat, cerita tentang perjuangan meraih keberhasilan. Ke-enam kreator yang juga sudah menjadi orang tua ini memiliki kekhawatiran sendiri jika pesan cerita disalahartikan oleh para penerus bangsa, karena itu mereka berusaha memolesnya dengan baik.

Salah satu hal yang patut diacungkan jempol dari Mira Lesmana adalah, berbeda dari kebanyakan film maker yang mengesampingkan nilai moral dan lantas menyerahkannya begitu saja kepada si penonton, alumni Institut Kesenian Jakarta ini justru mengutamakan pesan moral dalam setiap karyanya. “Medium kesenian itu sangat powerful dalam menyampaikan pesan”, ujarnya. Ada tanggung jawab yang diemban si pembuat dalam apa yang diciptakan. Ia pun menambahkan Laskar Pelangi memiliki dimensi lebih sehingga dapat menyerap pesan di luar konten cerita, yaitu bakat-bakat anak Indonesia di panggung  luar biasa. Ini dibuktikan dalam pertunjukan dimana para pemain tidak boleh lip sync, tak ada pengulangan, setiap aktor harus bisa akting, menyanyi dan menari. Mira percaya bahwa jika diberikan kesempatan, bakat terpendam tiap orang bisa keluar.

 

Teater Koma: Nano & Ratna Riantiarno
"Tidak Berhenti Menjadi Titik"

Jelang 35 tahun malang-melintang menghidupkan denyut pentas teater Indonesia, Teater Koma masih perkasa. Belum berhenti berkarya, dan masih dicintai penontonnya. Sejoli Nano Riantiarno dan Ratna ibarat napas yang terus menghidupkan kelompok teater ini sejak kelahirannya hingga kini.

Ikhwal kemunculan Teater Koma sendiri, berdiri 1 Maret 1977 dan pentas produksi pertama 3-5 Agustus 1977, merupakan gagasan Nano Riantiarno. Kehadiran Teater Koma sendiri ditenggarai oleh beratnya terjangan yang menimpa sejumlah kelompok yang ada saat itu. “Saat itu Rendra dan kelompok teaternya diobok-obok oleh aparat keamanan sehingga produktivitasnya terganggu. Arifin C. Noer dan Teguh Karya juga mulai konsentrasi dan nyaman di film,” ungkap Nano.  

Setelah sekian lama menimba ilmu dan pengalaman di Teater Populer, ditambah ketersendatan dan bekunya seni pertunjukan, Nano mengajak Teguh Karya dan beberapa teman lain untuk mendirikan sebuah kelompok teater. Berkumpullah 12 orang sebagai angkatan pendiri Teater Koma. Teater yang diusung Nano ini hadir dengan gebrakan dan konsep-konsep seni pertunjukan baru. Teater Koma dimaklumatkan sebagai kelompok teater yang terus mencari dan tidak berhenti menjadi titik.

Hingga kini, berkat kecintaan Nano dan Ratna pada dunia pentas teater dan Teater Koma sendiri, Teater Koma tetap eksis, terus hidup dari satu produksi ke produksi yang lainnya dan mewariskan semangat tersebut dari generasi ke generasi. Kecintaan pada teater inilah yang mendorong Nano dan Ratna tak pernah merasa jenuh, buktinya sudah lebih dari 120-an produksi terbikin dan masih akan bertambah. Berkesenian bagi Nano dan Ratna ibaratnya menjadi media pemenuhan kebutuhan non-fisik bagi keduanya, sesuatu yang ditekuni dengan cinta.

Kunci keberhasilan lain teater ini juga terletak pada komunikasi. Nano percaya ada tiga pilar yang tidak boleh dilupakan dalam teater, yaitu tempat, pekerja, dan penonton. Ketika para pekerja (kelompok teater) mencoba mengekspresikan sesuatu, mereka harus bisa mengkomunikasikannya kepada penonton. Sederhananya bila komunikasi tersebut tidak berhasil, tidak sampai, atau salah penonton akan merasa diabaikan. Bagi Nano dan Teater Koma, penonton adalah bagian keluarga yang turut menentukan sukses kelompok ini.

Menyoal kritik untuk pemerintah terhadap teater, atau lebih luas lagi adalah seni pertunjukan, seharusnya pendidikan apreasiasi tentang teater dan seni pertunjukan sudah dimulai sejak dini sekali, dan jangan lupa difasilitasi dengan sarana yang memadai. Selain sekolah-sekolah internasional, coba hitung berapa banyak sekolah dasar, smp, atau sma milik pemerintah yang memiliki perlajaran apresiasi seni pertunjukan dan fasilitas seni? Kebanyakan bidang-bidang prestasi yang didukung pemerintah hanya bersifat individual. Di pihak lain, kebudayaan dan kesenian yang sejatinya bisa menjadi kebanggaan justru terlupakan. Nah, pemerintah harusnya sadar bahwa seni pertunjukan adalah sesuatu yang membikin masyarakatnya punya inisiatif, disiplin, dan bertanggung jawab. Ini bukan lagi semata-mata soal sedikit-banyaknya gedung pertunjukan. Kalaupun protes meminta ditambahkan gedung pertunjukan, tapi tidak diikuti dengan proses kaderisasi dan pembinaan pekerja dan penonton teater justru akan sia-sia.

 

Lola Amaria
"Kesuksesan yang Dibekali oleh Passion"

 Memang, sebagai pemain sekaligus sutradara, Lola Amaria belum menghasilkan sederetan daftar dalam dunia perfilman. Namun kesungguhannya dalam mengerjakan sebuah karya yang dihasilkan dari hati menjadikan karyanya sebagai sebuah tontonan yang memiliki pesan, berkualitas sekaligus fun dan heart-warming. Karya terakhirnya sebagai sutradara sekaligus pemain dalam film 'Minggu Pagi di Victoria Park' menarik perhatian dan tanggapan positif dari banyak pihak, termasuk kami.

Karirnya di dunia film sebetulnya ia jalani setelah berkecimpung di dunia modelling yang ia rintis sejak mengikuti ajang Wajah Femina tahun 1997. Awalnya ia hanya berperan sebagai aktris dalam beberapa film seperti 'Beth', 'Ca Bau Kan', 'Novel Tanpa Huruf R', dan 'Dokuritsu' -sebuah film produksi Jepang tentang proses kemerdekaan Indonesia. Setelah memerankan beberapa lakon dalam film, ia akhirnya tertarik untuk ikut bekerja di balik layar. Dengan berbekal passion yang besar terhadap dunia film, Lola belajar semuanya sendiri tanpa mengenyam pendidikan film secara formal. Film yang ia sebut sebagai film pembelajaran berjudul 'Betina' merupakan film pertama yang ia sutradarai. Pada tahun 2008 ide membuat film tentang TKI yang bekerja di luar negeri muncul setelah ia memerankan sebuah film Taiwan yang bercerita tentang TKI Indonesia. Saat itu Lola menyayangkan mengapa tak ada orang Indonesia sendiri yang mengangkat mengenai isu TKI. Melihat kehidupan TKI di Taiwan yang ternyata jauh dari kesan negatif membuat Lola terpancing untuk membuat film sendiri yang mengangkat cerita seputar hidup para TKI, kemudian lahirlah ide membuat Minggu Pagi di Victoria Park.

Tak pernah ada misi khusus untuk mengikutkan filmnya pada berbagai festival, apalagi menyabet penghargaan khusus pada awal ia melahirkan ide Minggu Pagi di Victoria Park. Hanya sebuah niat mulia untuk mengubah paradigma masyarakat bahwa image TKI itu tak sepenuhnya negatif. Itu yang ingin disampaikan oleh Lola dalam film ini. Film yang diakuinya dikerjakan oleh seluruh tim yang bekerja dengan semangat dan sepenuh hati ini mengangkat isu TKI yang dikemas dengan sangat menghibur dan jauh dari kesan berat. Akhirnya pesan dan kesan yang positif terhadap para TKI yang telah menghasilkan devisa 90 triliun rupiah bagi negara dari jerih payah kerja mereka sukses tersampaikan. Tak ia sangka film ini mendapat banyak pujian dan menyabet beberapa penghargaan termasuk film terbaik di Indonesia Movie Award 2011.

Ketika ditanya mengenai cukupkah peran dan support pemerintah pada perfilman nasional, jawabannya masih jauh dari cukup. “Ada banyak hal yang tidak mendukung kita sebagai orang film di Indonesia. Dukungan secara materil enggak ada, apalagi dukungan berupa meringankan pajak, menyediakan bioskop atau paling tidak membuat kebijakan khusus yang dapat membantu industri perfilman lokal.  Misalnya membuat aturan kepada pengusaha bioskop untuk membuatkan kontrak tayang minimal dua kali weekend di bioskop mereka," papar Lola.
Ia menambahkann, "Sedih sekali ketika kita mengerjakan film susah payah, 'Minggu Pagi di Victoria park' yang cari investornya makan waktu hampir dua tahun, akhirnya hanya tayang selama satu minggu di bioskop, padahal tanggapannya positif,” pungkasnya.

 

Indonesia Berkebun
"Hidupkan Lahan Tidur, Hijaukan Indonesia"

Indonesia Berkebun
Misi mulia komunitas ini sederhana saja, membuat Jakarta menjadi lebih hijau. Caranya? Berkebun! Orang Jakarta berkebun? Bagaimana bisa?  

Nyatanya, di sejumlah kota, termasuk Jakarta, terdapat sejumlah lahan tidur yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Nah, lahan-lahan kosong ini—dengan izin pemiliknya tentu saja--dimanfaatkan sementara waktu untuk dijadikan lahan produktif.

Sejatinya, kehadiran Indonesia Berkebun diawali oleh Jakarta berkebun. Gagasan Jakarta Berkebun ini sendiri lahir dari Ridwan Kamil atau biasa disapa Kang Emil yang prihatin melihat banyaknya lahan-lahan tidur di Jakarta. Memanfaatkan media Twitter, Kang Emil mengajak sejumlah orang yang peduli untuk membuat sesuatu yang bermanfaat di lahan-lahan tersebut. Dari situlah muncul ide program bertajuk Jakarta Berkebun.

Dari lontar ide dan diskusi via Twitter, berkumpullah 20 orang penggiat yang tertarik dengan program ini dan punya visi yang sama. Mereka kemudian merumuskan teori dan konsep pada November—Desember 2010. Baru pada akhir Februari 2011, pilot project gerakan Jakarta Berkebun ini dijalankan, dengan memanfaatkan lahan kosong seluas hampir satu hektar di kawasan Springhill, Kemayoran. Berbekal pengetahuan ala kadarnya soal pertanian dan bercocok tanam, para penggiat ini yang kebanyakan adalah para karyawan kantoran, mencoba untuk menanam berbagai sayur. Berkali-kali gagal panen, sampai akhirnya berhasil panen kangkung para Februari 2011 lalu. Nah, kegiatan panen kangkung tersebut sekaligus menjadi pengukukuhan berdirinya komunitas Jakarta Berkebun.

Sukses Jakarta Berkebun nyatanya mengundang perhatian banyak orang untuk membuka gerakan yang sama di daerah masing-masing. Gerakan inipun menyebar ke sejumlah daerah melalui komunitas-komunitas independen, mulai dari Banten Berkebun, Bandung Berkebun, dan lain-lain. Hasilnya, dalam waktu singkat, gerakan urban farming ini hadir di 16 kota di Indonesia. Nah, sejak itulah muncul nama program Indonesia Berkebun yang memayungi kegiatan berkebun di daerah-daerah tersebut.

Dalam perkembangannya, Indonesia Berkebun menghadirkan Akademi Berkebun yang memberikan pengetahun tentang skema Edukasi, Ekologi, dan Ekonomi yang mendukung gerakan bertani urban ini. Edukasi tentang bagaimana cara menanam sampai bagus. Ekologi tentang mentukan lahan atau daerah mana kita akan menanam sayur atau buah, sedangkan ekonomi untuk menentukan hasil yang bisa dijual buat orang-orang sekitar. Akademi ini memberi pendidikan teori dan praktek seputar metode pertanian urban selama 1 hari penuh dan terbuka untuk umum.

Tak cuma sharing informasi dan pengetahuan sistem pertanian urban, kini Indonesia Berkebun juga sudah mulai mengembangkan model pertanian yang lebih modern, misalnya di dalam mal. Atas semua inisiatif dan kreativitas tersebut, beberapa waktu lalu Indonesia Berkebun mendapatkan penghargaan dari Google Inc. penghargaan sebagai Web Heroes!

Soal hasil berkebun, selain memenuhi kebutuhan para petani, hasil panen dari kebun tersebut sepenuhnya dimanfaatkan untuk membangun program Indonesia Berkebun. Bahkan, sejumlah restoran di Jakarta meminta suplai sayuran dari Indonesia Berkebun yang mengembangkan tanaman sayur organik karena hasilnya akan lebih bagus, dibandingkan dengan tanaman berpestisida.

 

Jakarta Car-Free Day
"Gerakan Sehat Sudirman-Thamrin"

Coba sesekali melenggang ke kawasan Sudirman-Thamrin pada hari Minggu pagi. Pandangan mata akan dibuat takjub dengan tidak adanya kendaraan bermotor—kecuali angkutan TransJakarta—yang melintas di jalan-jalan protokol ibukota.

Anda juga akan dibuat terpana dengan pemandangan membludaknya warga Jakarta yang turun ke jalan protokol tersebut. Bukan aksi demo! Warga berolahraga! Sendiri-sendiri atau berkelompok, mereka mengisi setiap jengkal jalan protokol ibukota ini dengan aktivitas bertema olahraga, mulai dari bersepeda, lari, atau sekadar berjalan kaki santai. Bahkan ada juga yang menggelar permainan bulu tangkis di sini. Apapun itu, suasana Jakarta hari itu begitu sehat dan asri. Inilah sedikitnya potret kesibukan warga Jakarta dalam program Jakarta Car-free Cay.

Setidaknya, dua kali dalam sebulan, gelaran Jakarta Car-Free Day ini menjadi momen menyehatkan jasmani massal. Tujuan jangka panjangnya adalah meminimalisasi tingkat pencemaran udara dengan menekan penggunaan kendaraan bermotor. Program ini sendiri hadir pertama kali pada September 2007. Gerakan ini menjadi bagian kampanye Car-free Day yang sudah duluan digelar di sejumlah negara dan menjadi kampanye internasional. Jakata Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) yang digulirkan setiap minggu pada hari Minggu, mulai pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang. Tak terpusat pada Jalan Sudirman-Thamrin, gerakan ini diluaskan di beberapa di ruas jalan utama Jakarta lainnya seperti Jalan Rasuna Said, Jalan Letjen Suprapto, dan Jalan Pramuka.


 

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.