HOT SEAT

Jemima

October, 14th 2011 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 0

Membuat lagu bisa bikin hidup gue bahagia!

Membuat lagu bisa bikin hidup gue bahagia Membuat lagu bisa bikin hidup gue bahagia

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Mungkin nama perempuan ini belum banyak dikenal, namun bakat dan hobi menyanyinya sejak kecil menjadikannya salah satu penyanyi blues and soul yang patut di perhitungkan di negeri ini, terbukti ia telah dua kali tampil di Soulnation.  Ternyata perempuan cuek dan idealis ini mantan drummer sebuah band punk rock yang sudah 2 kali mangung di klub underground legendaris CBGB, bahkan pernah menjadi band pembuka Motorhead. Saya pun tercengang dan terlibat percakapan mengenai kecintaannya terhadap musik.

Anda mulai bernyanyi sejak usia berapa?
Bukan soal nyanyinya tapi sejak kapan gue mencintai musik. Gue mencintai musik dari kecil. Karena kalau nyanyi itu kan semua anak kecil suka nyanyi dan nari tapi tidak semua anak kecil ke depannya mengeksplor dunia musik, sedangkan gue berlanjut terus.

Kenapa akhirnya Anda memutuskan untuk menjadi penyanyi?
Yang membuat gue ingin terjun di dunia musik secara industri, ketika gue mulai tertarik pada komposisi terciptanya lagu. Detail-detail seperti instrumen-instrumen alat musik yang kemudian ditambah lirik menjadi sesuatu yang indah, hal itulah yang bisa membuat gue merasa cuma ini satu-satunya yang bisa membuat hidup bahagia. Bukan hanya nyanyi tapi membuat lagu.

Benarkah Anda sempat belajar musik di New York?
Sebenarnya gue di sana dari SMA. Gue sempat kuliah di Berkley College Of Music, tapi nggak selesai, karena gue bukan tipe orang yang bisa belajar dari segi teori. Di sana gue lebih banyak belajar di ‘jalan’.

Bisa dijelaskan maksud di ‘jalan’?
Gue dulu ngeband yang alirannya punk rock, jadi drummer. Nama band-nya Skipper, bertiga cewek semua. Dari bawa alat sampai nyari gig, ya kita lakuin sendiri dan saat itu umur gue masih 17 tahun. Band gue pernah dua kali main di CBGB yang sound-nya jelek banget. Tapi, yang nggak terlupakan adalah kita pernah jadi band pembuka Motorhead, tapi lupa di klub mana.

Apa perbedaan scene di New York dan Jakarta?
Disini orang lebih senang mendengarkan cover song, lagu yang familiar. Kalo di sana loe lebih dihargain ketika band loe membawakan lagu-lagu sendiri. Itu tertanam dalam diri gue sampai saat ini.

Bagaimana akhirnya Anda bisa memutuskan membuat album?
Ketika gue balik ke Indonesia pada 2004, penyanyi perempuan cuma ada Agnes Monica, banyak band Melayu dan semua terdengar sama. Gue terhambat membuat album karena mereka menginginkan gue mengubah image jadi seperti Ratu. Terus terang gue menolak kontrak uang yang banyak banget. Kalau gue terima, sama aja kayak ngelacurin diri ke pejabat. Akhirnya gue struggle untuk bisa buat album sendiri.

Sejauh mana kontribusi Anda dalam album perdana yang berjudul ‘Jemima’?
Dari produced, composed, arranged, written itu semua gue yang ngerjain. Bukannya enggak mau dikerjain sama orang lain, intinya ‘anak’ gue yang pertama ini sebagai pembuktian diri bahwa Jemima seperti itu.

Kenapa akhirnya Anda memilih genre blues & soul pada album perdana?
Ada rock-nya dikit, tapi kalo dari jauh lebih banyak soul-nya ya, karena gua sangat mencintai orang-orang seperti Jim Morrison, Janis Joplin, Erykah Badu. Mereka tuh kalau nyanyi nggak sekedar lirik, tapi mereka memiliki pesan yang ingin di utarakan. Kalau enggak dinyanyiinnya pakai jiwa, pesannya enggak nyampe.

Apa benang merah dari album perdana Anda?
Nggak ada. Dari lagu pertama sampai akhir itu beda, karena semua track jadi sesuai dengan perasaan gue ketika bikin lagu itu.

Apakah Anda akan total di musik?
Gue bakalan total di musik. Seandainya gue enggak bikin musik untuk diri sendiri, gue pengen jadi produser yang dihormati oleh musisi-musisi lain.

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.