Sarah Sechan, Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, dan Edward Gunawan bakal tampil dalam sekuel film Arisan! Rencananya, film Arisan! 2 ini bakal dirilis 1 Desember mendatang.

Masih ingat dengan film Arisan! Garapan sukses Nia Di Nata bersama Kalyana Shira Film pada 2003 silam? Film yang sukses menyabet berbagai penghargaan dan jadi perbincangan banyak orang kala itu. Nah, tepat 1 Desember mendatang, Nia Di Nata bersama Kalyana Shira Film akan merilis sekuel film yang memotret sekelumit kehidupan orang-orang metropolis ini, Arisan! 2.

Garansinya, film Arisan! 2 ini akan menampilkan kelanjutan cerita dari lima tokoh utamanya, yaitu Meimei (Cut Mini), Sakti (Tora Sudiro), Nino (Surya Saputra), Andien (Aida Nurmala), dan Lita (Rachel Maryam). Cerita kini yang lebih segar dan lebih kompleks dari tokoh-tokohnya. Nah, menambah kesegaran tersebut, Nia Di Nata juga menampilkan beberapa figur tokoh baru dengan dalam film Arisan 2! ini yang dijamin menambah riuh cerita. Nama-nama yang dipilihnya ini, di antaranya: Rio Dewanto, Sarah Sechan, Atiqah Hasiholan, dan Edward Gunawan.

Lantas, bagaimana komentar, kesan, dan cerita di balik bergabungnya 4 nama ini dalam Arisan! 2,  berkerja bareng Nia Di Nata, dan lain-lainnya? simak hasil wawancaranya berikut ini.

SARAH SECHAN
“Harus Ditonton Dengan Pikiran yang Terbuka


Bagaimana ceritanya bisa ikutan dalam film ini?
Sebenarnya, saat Arisan yang pertama sebenarnya sudah ditawarin. Sayangnya waktu itu timing-nya nggak pas. Dan, waktu itu filmnya memang seru banget. Makanya di Arisan yang sekarang ini saya senang banget bisa diajak lagi. Waktu itu aku baca di Twitter, aku tahu teteh sedang menyiapkan Arisan! 2. Makanya,  saat itu juga saya ' teror' Teh (Nia Di Nata) bahwa saya harus ikut. Waktu itu dibuka casting untuk coba beberapa orang dan beberapa karakter. Akhirnya, Teh Nia memutuskan saya yang dapat peran Dokter Joy itu. 

Soal Nia Di Nata. Bagaimana rasanya bekerja  dengan Teteh?
Utamanya, sih, harus kuat mental. Teh Nia orangnya perfectsionist banget. Dia ingin semuanya sempurna. Saya pikir semua sutradara atau siapapun harus miliki karakter seperti itu untuk hasil yang bagus. Wajar saja, ya. Teh Nia dan Kalyana Shira Films tentu sangat menjaga image dan kualitas film-filmnya, mulai dari nama-nama yang dipilih, ciri khas, sampai karakter yang benar-benar pas. Makanya harus kuat-kuat mendengarkan cerewetnya dia. Tapi, aku rasa itu normal dan sewajarnya diharapkan. Supaya kita juga nggak sembarangan. Di lapangan memang Teh Nia punya suara yang keras, kesannya teriak marah-marah, padahal nggak begitu. Kita tahu itu karakter dan tugas dia untuk kesempurnaan filmnya. Jadi ya, kita juga harus selalu siap. Satu hal lagi, Teh Nia adalah orang yang sangat detail. Untuk detail tokoh misalnya, penampilannya, bajunya, sepatunya, aksesoris, rambutnya, dan lain-lain, harus pas. Meski begitu Teh Nia sangat terbuka untuk apapun. Dia bukan diktator. Kita masih bisa diskusi ini-itu, ngasih ide, berimprovisasi, dan lain-lain. Teh Nia cuma nggak terbuka waktu aku minta Atiqah ganti sepatu tingginya, he-he-he.

Bicara peran, apa dan bagaimana karakter tokoh yang Anda mainkan?
Saya dapat peran Dokter Joy. Dia ini dokter ahli bedah plastik. Dalam kenyataannya, profesi ini sudah menjadi salah satu elemen dalam kehidupan sosialita. Sosok yang berkuasa dalam keluarga dan pekerjaannya. Sosok yang tahu apa yang dia inginkan.Dia punya hubungan rada ajaib dengan suaminya. Joy sosok yang terbuka dan lumayan liberal. Sosok yang unik. Makanya aku berusaha membuat peran ini hidup dan berbeda. Akhirnya aku diskusi dengan Teteh dan sepakat memberi karakter dan gaya bicara yang lebay.

Peran medis sebenarnya sudah pernah Anda mainkan dalam XL (Extra Large, 2008) sebagai dukun. Bedanya?
Bedanya, Dokter Joy benerin pinggang ke atas, sedangkan dukun di XL benerin pinggang ke bawah, ha-ha-ha. Kalau di XL itu tradisonal Sunda banget, sedangkan ini benar-benar modern.

Membandingkan peran ibu-ibu dalam Jakarta Love Riot vs Arisan! 2?
Sebenarnya peran ibu Rudi dan dokter Joey ini belagu-belagunya sama. Nyebelinnya sama. Beda di style saja.

Ada kesulitan dalam memerankan Dokter Joy?
Sebenarnya nggak. Tapi, saya memang orang yang senang 'bereksperimen'. Saat reading bisa jauh berbeda saat sudah mulai take, —alih-alih aku lupa sama naskah, ha-ha-ha. Tapi, memang tokoh Joey ini boleh dibilang bukan saya banget. Banyak hal yang saya nggak tahu. Karenanya saya banyak banyak tanya dan diskusi sama teteh. Saya juga banyak riset. Nah, Teh Nia banyak memberi saya referensi seputar gaya hidup kaum sosialita yang menjadi latar belakang tokoh dokter ini, dari mulai soal perawatan wajah, botox, pergaulan, gaya hidup, sampai gaya bicara.

Terbebani dengan sukses Arisan! sebelumnya?
Saya tidak pernah membebani diri dengan hal seperti itu. Biar ini jadi beban sutradara dan produser, ha-ha-ha. Saya berangkat dari keinginan ingin sekali ikut dalam produksi ini, saya lakukan yang terbaik.  Kalau sukses juga, ya alhamdulillah. Tapi, berhasil atau tidak tentu tidak didasarkan  pemain saja. Dengan ceritanya, lifestyle-nya, dan pemain-pemainnya, paling tidak film ini bisa menghibur.

Ada pemain lama, ada pemain baru. Ada kesulitan dalam berbaur?
Saya rasa nggak ada. Kami sudah kumpul untuk reading dengan waktu yang lumayan lama. Keberatannya sih, saya kan banyak dialog sama Atiqah, dan Atiqah itu tinggi banget, he-he-he.

Arisan! waktu itu tampil dengan isu-isu yang membuat khawatir masyarakat. Bagaimana dengan Arisan! 2 kali ini?
He-he-he, apalagi yang ini. Ya, ada juga. Film ini memang tidak masuk di semua kelas masyarakat. Nyatanya ada beragam kelompok kelas dalam masyarakat. Coba lihat film ini dengan pandangan yang lebih luas. Ini mengenai kenyataan. This is reality. Film ini harus ditonton dengan pikiran yang terbuka. Ini adalah bagian dari kehidupan. Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan yang harus kita terima. Yang harus diingat, film ini bukan untuk anak-anak. Jadi kalau masyarakat khawatir dengan isu-isu yang ditampilkan dalam film ini, ya jangan ajak anak-anak untuk nonton.

ATIQAH HASIHOLAN, RIO DEWANTO, DAN EDWARD GUNAWAN
"Bukan Semata-mata Berharap Sukses"

 
Komentar tentang Teh Nia dan ikut terlibat dalam proyek Arisan! 2 ini?
Atiqah Hasiholan:  Ini kali ke dua bekerjasama dengan Teh Nia. Pertama kali saat di Berbagi Suami (2006). Di Berbagi Suami saja sudah merupakan pengalaman yang tidak terlupakan untuk saya. Itu pertama kalii saya syuting dan akting di depan kamera. Kesempatan untuk main film itu datang pertama kali dari Teh Nia. Sebelumnya saya banyak di teater. Nah, dari situ saya banyak belajar. Teh Nia banyak memberikan masukan yang  berguna buat saya dan perjalanan karier saya. Nah,  Arisan! 2 ini ini merupakan project yang menantang mengingat film pertamanya mendapat sukses yang luar biasa. Saya sendiri suka sekali dengan film Arisan!. Bisa ikutan di sini merupakan excitement tersendiri. Bukan semata-mata berharap sukses seperti film pertama, tapi bisa diajak ikut dalam produksi kali ini sudah jadi penilaian lebih dan kepercayaan yang luar biasa dari Teh Nia. Itu menyenangkan sekali.

Rio Dewanto:
Ini pertama kalinya saya bekerjasama dengan Teh Nia. Di film ini saya mendapat karakter dan peran yang jauh berbeda dari yang pernah saya lakoni. Buat saya Nia Di Nata adalah sosok yang seru, birokratis banget, dan gosip terus, he-he-he. Syuting, kayak waktu di Lombok, sudah bukan seperti suasana syuting. Ramai, seru, dan kekeluargaan banget. Teman-teman yang lain,  kru, pemain lama, semuanya friendly banget. Buat saya sendiri, Arisan! 2 bukan seperti film, tapi lebih pada kekeluargaan yang coba untuk di filmkan.

Edward Gunawan: Buat saya, experience-nya sangat istimewa banget. Ini pertama kali saya main film layar lebar. Sangat bersyukur diberi kepercayaan oleh Nia untuk ikut main film ini. Saya sendiri di Jakarta baru 2 tahun, sebelumnya di Los Angeles, Amerika Serikat. Delapan tahun lalu saya nonton Arisan! di film festival di Los Angeles. Saat itu saya kagum dan terkejut bahwa di industri film Indonesia saat itu sudah ada yang membuat film seperti ini. Dan, nggak menyangka, 8 tahun kemudian saya terlibat dalam project kelanjutan film itu.

(Untuk Edward) Bagaimana proses Anda bertemu dengan Nia Dinata?
Saya juga filmmaker. 2006 silam, saya sudah bertemu dengan Teh Nia di Cannes Film Festival. Saat itu, Teh Nia sedang promosi film Berbagi Suami. Tapi, saat itu sekadar kenal, karena sama-sama dari Indonesia. Sempat ngobrol sedikit dan bertukar pendapat seputar film.

(Untuk Edward) Film-film yang pernah Anda Produksi?
Kebanyakan film pendek yang diikutsertakan dalam festival-festival film. Terakhir yang paling menonjol adalah film Payung Merah (2010). Atiqah jadi pemainnya. Dan, film itu juga  mendapatkan penghargaan.

Apa dan bagaimana tokoh yang diperankan dalam Arisan! 2 ini?
Atiqah: Di film ini aku berperan sebagai Ara. Ara adalah tokoh cewek kaya raya, tapi kurang exsist di lingkungannya. Dalam film ini diceritakan Ara mati-matian berusaha menjadi dikenal. Ya, bisa dibilang tipikal social climber.

Rio: Saya berperan sebagai Octa, and I'm gay. Octa ini sosok yang flamboyan. Pokoknya terbalik banget dari kehidupan saya sebenarnya, he-he-he.

Edward: Untuk saya, perannya bernama Tom. Tokoh ini adalah seorang healer. Semacam guru untuk penyembuhan dan meditasi.

(Untuk Rio) Perlu riset untuk mendalami peran gay ini?
Nggak, sih, di lingkungan saya sendiri juga ada teman-teman yang seperti itu, he-he-he. Jadi, ya lebih mudah untuk beradaptasi.

Terbebani dengan sukses Arisan! sebelumnya dan memaksa film ini juga harus sukses?
Atiqah: Nggak sih, soal kesuksesan itu aku serahkan pada sutradaranya. Yang cukup aku pikirkan adalah tanggung jawabku untuk bermain sebaik mungkin. Lagipula kesuksesan itu tidak bergantung pada orang-per orang. Kami yakin pada figur Nia Di Nata dengan kapasitas dan pengalamannya.

Rio: Nggak. Ya, kalau memang nggak sukses gara-gara kita ya, paling kita nggak dipanggil lagi, he-he-he. Tapi, yang jelas kita lakukan yang terbaik yang kita bisa.

Edward: Kalau saya, pressure itu ada karena ini film pertama saya, pertama kalinya saya main film. Tapi dari filmnya sendiri, dari cerita, dari para pemainnya, saya percaya pada Teh Nia.

Sejak awal sudah ditentukan untuk memainkan tokoh seperti apa atau memilih sendiri?
Atiqah: Kami memang diajak untuk main, tapi untuk memilih tokoh  itu kekuasaan penuh sang sutradara. Bukan keputusan kita untuk memilih. Sebagai sutradara dan penulis, Teh Nia pasti sudah punya bayangan apa dan bagaimana tokoh yang ada dalam gambaran ceritanya, serta siapa yang layak untuk memainkan peran tersebut.
 Rio: Dari awal memang sudah 'diplot' untuk peran gay . Tapi saat itu memang belum tahu akan ada apa-apanya, he-he-he.

Edward: Setuju dengan Atiqah. Itu menjadi kehebatan visi Teh Nia. Dia sudah bisa lihat siapa saja yang cocok untuk karakter yang dia buat.