FEATURE

Celebrating area 8th Anniversary

October, 31st 2011 |  by  Tim Redaksi Area  | 0

Kado Untuk area Dari Seniman Muda Jakarta

Greetings from Tanah Abang to Kampung Melayu (Aprilia Apsari) Greetings from Tanah Abang to Kampung Melayu (Aprilia Apsari)

I'm with You (Emte) I'm with You (Emte)

Jakarta Dancing 8 (Hauritsa) Jakarta Dancing 8 (Hauritsa)

Talk to Your Friend, Not Your Smartphone (Lala) Talk to Your Friend, Not Your Smartphone (Lala)

Akrobatavia Paradoxia (Mendiola) Akrobatavia Paradoxia (Mendiola)

8+24 Hours (Ricky Janitra) 8+24 Hours (Ricky Janitra)

VAST (Ykha) VAST (Ykha)

Ten without Two Fingers (Marishka) Ten without Two Fingers (Marishka)

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Yep, Oktober ini, area genap 8 tahun. Dan, kami masih merayakannya. Bukan sembarang angka, lho. Banyak yang menganggap delapan sebagai angka keberuntungan. Dalam beberapa tradisi, seperti Jepang dan Tionghoa, angka 8 dianggap sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan.

Anggaplah pemaknaan angka delapan menjadi harapan dan permohonan kami untuk majalah yang mendaulat diri sebagai “Guide to Everything Jakarta” ini di masa-masa mendatang. Bukan apa, perjalanan 8 tahun bukan soal mudah. Beratnya pekerjaan merangkum segala keaktualitasan di kota ini, persaingan media, ditambah derasnya kemajuan teknologi yang mendorong perubahan budaya membaca menjadi sekelumit aral yang merintangi perjalanan majalah ini. Meski demikian, kami harus bangga majalah ini masih kokoh berdiri bermodal optimisme, kerja keras, dan kepandaian menyiasati segala perubahan. “Now, make a wish and blow up the candles!

Layaknya kebiasaan banyak orang, perayaan ulang tahun kerap dirayakan dengan pesta, potong kue, tiup lilin, peluk-cium ucapan selamat, dan KADO! Nah, bicara soal kado, di ulang tahun istimewa kali ini kami menghadiahkan area sesuatu yang unik dan istimewa pula. Terinspirasi semangat perayaan yang bertajuk “area 8th Anniversary: Festiveight!”, kami mempersilakan delapan seniman muda Jakarta dengan latar kreativitas seni rupa yang beragam untuk membikin hadiah kejutan untuk Area. Dengan keahlian, gaya, dan kreativitas masing-masing, para seniman muda yang kebanyakan namanya sudah tak asing di pentas senirupa Jakarta tersebut menuangkan ekspresi mereka dalam karya dalam lingkup tema “area, Delapan, dan Jakarta”.

Tak lupa kami, segenap redaksi area dan manajemen Mediasatu Group mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para seniman muda Jakarta atas partisipasinya. Demi merayakan ulang tahun area, seniman-seniman sahabat area tersebut, telah sudi meluangkan waktu, tenaga dan kreativitasnya demi menelurkan karya sebagai hadiah untuk area. Semoga kelak area bisa membalas budi baik para seniman-seniman muda ini. 

Well, penasaran siapa  saja seniman muda Jakarta yang berbaik hati membikinkan kado untuk Area dan apa hadiah istimewa tersebut? Kami pinjam 'jampi-jampinya' Pak Tarno, “sim salabim jadi apa prok, prok, prok....”

 

Aprilia Apsari: “Kurikulum Seni Rupa di Sekolah”

Komentar mengenai dunia senirupa dan seniman muda Jakarta?
Perkembangan seni rupa di Jakarta sangat pesat dan banyak sekali yang berbakat, spiritnya luar biasa jika kita melihat ruang lingkup Jakarta yang sangat riuh, waktu yang cepat, semua harus sibuk namun sepertinya seniman muda Jakarta selalu bisa menemukan cara untuk terus produktif.

Kritik untuk pemerintah?
Seharusnya bisa lebih mendukung proses dasar saja dulu, seperti memperdalam kurikulum seni rupa di sekolah-sekolah.

Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi terhadap senirupa dan seniman muda?
Sangat responsif dan beragam semua tergantung latar belakang masing-masing, tapi rasanya jika sesuatu yang sangat menyenangkan ada di depan mata mereka pasti akan menyukainya.

Komentar mengenai galeri-galeri dan dukungan terhadap seniman-seniman muda?
Seni rupa memiliki pemetaan atau pengelompokkan yang istimewa. Mengadakan pameran sekarang sudah tidak harus di dalam galeri, sudah banyak yang mengadakan pameran di dalam kafe, restoran, atau media alternatif lainnya.

Perlukah pendidikan formal bagi calon seniman?
Tidak ada salahnya otodidak, namun sebaiknya menyempatkan belajar secara formal. Bukan mengenai ilmunya saja, tapi bertemu dengan teman-teman yang memiliki kesukaan yang sama dan mengasah apresiasi kita terhadap karya seni lainnya.

Bio!
Name: Aprilia Apsari
Nickname: Sari, Sartje, Aprilia
Born: Surabaya, 18 April 1981

Creative!
the Reason: Penasaran
the Style: Basic drawing / gambar dasar
the Begining: 1999
the Tools: Ballpen, pinsil, tinta China , akrilik, cat air.
the Objects: Potrait, gambar bentuk / still life, ilustrasi ruang lingkup sosial dan budaya anak muda di Jakarta.
the Idols: Drs. Suyadi, Raymon Pettibon, Stainboy Reinel
the links: www.apriliaapsari.blogspot.com


“Greetings From Tanah Abang To Kampung Melayu”
(Tinta Cina di atas kertas)

Abstraksi:
T502 adalah nomor Kopaja jurusan Tanah Abang—Kampung Melayu. Hampir semua yang pernah bekerja, sekolah, kuliah, atau berkegiatan di wilayah Cikini, Menteng, atau sekitarnya familiar dengan nomor Kopaja jurusan ini. Tiap Kopaja memiliki nickname yang berbeda-beda, tertulis dengan cutting sticker besar di atas kaca muka. “Ravenska” adalah salah satu yang paling populer. Tidak diragukan, angkutan kota di Jakarta sudah menjadi ikon, tapi sering dilihat sebelah mata. Mereka kita sering kita caci maki, namun juga kita butuhkan dalam waktu yang bersamaan. (Aprilia Hapsari, 30 September 2011)

 

Emte: "Seniman Juga Aset Berharga"

Komentar mengenai senirupa Jakarta dengan artists muda?
BAGUS BANGET! Bermunculannya banyak seniman muda menandakan adanya regenerasi, dan keinginan untuk menekuni seni dan berkarya sejak usia muda. Berbagai bentuk seni yang unik menunjukkan adanya keberagaman, keinginan dari tiap seniman untuk lebih memunculkan personalitas dan ciri khasnya masing-masing.  

Kritik untuk pemerintah untuk memajukan senirupa dan seniman muda?
Pemerintah HARUS mendukung dan memberi kemudahan dalam hal fasilitas, bagi seniman yang ingin berkarya, misalnya berpameran dalam sebuah galeri, program residensi, pertukaran kebudayaan ke negara lain, membuat program ‘dana pensiun’ bagi seniman yang sudah lanjut usia. Seniman juga bisa dibilang sebagai aset yang berharga. Pemerintah harus memberi kepastian hukum dan tindakan tegas untuk kasus pembajakan karya. 

Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi terhadap senirupa dan seniman muda?
Ada yang menganggap seni adalah untuk orang yang urakan, tak punya masa depan yang jelas, tapi masyarakat yang sudah bisa menghargai berbagai bentuk karya seni. Contoh kecil, banyak masyarakat yang mengatakan betapa bagusnya karya-karya mural di beberapa ruang publik kota, ketimbang menganggapnya hanya sebatas vandalisme belaka.  

Komentar mengenai galeri-galeri dan dukungan terhadap seniman muda?
Galeri sudah banyak yang bermunculan, walaupun belum semuanya bisa menerima maupun mendukung keberadaan karya para seniman muda

Perlukah pendidikan formal bagi calon seniman?
Perlu. Karena pendidikan membuat calon seniman memiliki wawasan dan tahu struktur yang jelas dalam proses penggarapan karyanya.

Bio!
Name: Muhammad Taufiq
Nickname: Emte
Born: Jakarta 15 Maret 1979

Creative!

the Reason: Passion sejak kecil
the Beginning: Taman Kanak-kanak
the Style: Tidak pernah merasa memilih aliran seni tertentu, tapi mungkin lebih ke ‘semi-realis’
the Tools: Watercolor, acrylic, marker, tinta, kolase, digital-painting, dan lain-lain
the Objects: Semua hal yang bersifat 'dreamy' karena bisa membuat berimajinasi sebebas-bebasnya.
the Idols: Norman Rockwell, Dwi Koendoro, Alex Ross, Jordi labanda, Adam Hughes, Budi Priyono, Kelik Siswoyo, Ganes TH, Hasmi, David Downton

“I’m With You”
(Pen, ink, Photoshop)

Abstraksi:
Pencapaian AREA selama 8 tahun menjadi ‘the guide to everything Jakarta’, tentunya bukan proses yang singkat. Selama itu pula AREA telah memberi banyak kontribusi pada warga Jakarta. Size doesn’t matter. Ukuran yang mungil untuk sebuah majalah lifestyle tidak menjadikan hambatan bagi AREA untuk tetap memberikan segudang informasi yang singkat, namun padat dan berisi. Kehadiran AREA menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rutinitas dan kehidupan setiap manusia di Jakarta. Penyandang cacat pada gambar ini menggambarkan satu contoh kecil betapa AREA bisa dinikmati oleh siapapun. (Muhammad Taufiq, 2011)

 

Hauritsa: “Percuma Minta Dukungan Pemerintah”

Tantangan saat berkarya?
Karya bisa berkomunikasi antara artist dan penikmat.

Tolok ukur keberhasilan dalam bidang senirupa?
Sejauh ini barometernya hanya menikmati karya yang sudah jadi selama berjam-jam, bukan karena karya laku atau sukses berpameran.

Dukungan dari pemerintah?
Percuma minta dukungan pemerintah selama negara ini belum stabil. Seniman-seniman muda harus tetap berkarya apapun yang terjadi, baik didukung atau tidak oleh pemerintah.

Pentingkah organisasi atau kelompok untuk mewadahi seniman muda?
PENTING!

Komentar mengenai galeri-galeri, apakah sudah cukup dan mendukung seniman muda?
Galeri alternatif yang tidak selalu komersil harus dikembangkan.

Bio!
Name: Hauritsa
Nickname: Haorits, Ica
Born: Jakarta, 22 April

Creative!
the Reason: Senirupa sangat fleksibel. Bisa untuk apa saja, kapan saja, siapa saja, di mana saja, dan bagaimanapun juga
the beginning: Sekolah Dasar
the Style: Hampir semua bentuk artwork (tergantung konsep)
the Tools: Instalasi, art performance, fotografi
the Object: Personal/sosial
the Idols: Haruki Murakami, Keith Haring
the Link: www.hauritsa.blogspot.com

“Jakarta Dancing 8” (Photography)

Abstraksi:
Jakarta Dancing 8 adalah waras dan tidaknya Jakarta secara utuh yang selalu direkam oleh AREA selama 8 tahun dan seterusnya. Selamat Ulang Tahun AREA!!! (Hauritsa, 2011)

 

 

Lala Bohang: “Bikin Karya yang Jakarta Banget”

Komentar mengenai senirupa Jakarta?
Jujur, atmosfer keseharian Jakarta jauh dari atmosfer Bandung yang sejuk, dan asri (dari SMA sampai kuliah saya di Bandung dan jatuh cinta dengan kota ini) atau Yogyakarta yang sangat ‘nyeni’ dengan atmosfer berkesenian yang sangat kuat, tidak heran dua kota tersebut adalah yang teratas dalam mencetak seniman-seniman andal yang karyanya GILA. Jakarta lebih identik sebagai kota buat ‘nyari duit’ sehingga segala sesuatu jatuhnya komersil dan kejar-kejaran “hits.” But of course we have to embrace our city, kita harus bikin karya yang Jakarta banget lengkap dengan hits-nya, hectic-nya, macetnya, error-nya  dan lain-lain- menjadi karya-karya seni yang GILA dengan caranya sendiri. I proudly say I love this city.

Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi terhadap senirupa dan seniman muda?
Apresiasi masyarakat menurut saya keren, terlihat dari movement seni dan kreatif baik online maupun offline yang kuat. Mungkin ada baiknya pemerintah kita cuek bebek, karena jadinya kita giat bergerak sendiri.


Pentingkah organisasi atau kelompok dalam mewadahi seniman muda?
Satu batang lidi akan mudah patah tetapi bila digabung akan menjadi kokoh. Itu pun berlaku bagi seniman-seniman, wadah seniman Jakarta sudah mulai kuat tinggal diperluas lagi cakupannya biar orangnya nggak itu-itu aja dan tidak ada pengotakan. The more always the merrier!

Komentar mengenai keberadaan galeri dan dukungan terhadap seniman muda?
Galeri sudah banyak banget! Yang kurang adalah seniman Jakarta yang berhasil masuk galeri dan menggelar pameran yang noticeable. Mungkin karena sibuk multitasking dan multijob khas pelaku seni di Jakarta. Kalau soal dukungan, menurut saya galeri dapat memberikan lebih banyak pancingan dan pintu kepada yang muda-muda. Setidaknya kami tahu mesti ke mana dan memulai dari mana. Young artist search atau sejenisnya akan sangat membantu.

Perlu pendidikan formal bagi calon seniman?
Perlu tidak perlu. Untuk yang masih muda dan yakin ingin menekuni dunia seni, PR pertamanya adalah  meyakinkan orang tua untuk mengizinkan berkecimpung di dunia seni. Jangan lelah dan bosan berkarya, karena berkarya tanpa kepastian itu memang perasaan yang tidak enak.

Bio!
Name: Lala Bohang
Nickname: Lala, Boh, Bohang
Born: Makassar, 9 Maret 1985

Creative!
the Reason: Keharusan mengeluarkan khayalan yang berseliweran di kepala agar bisa segera mengisinya dengan khayalan-khayalan baru yang biasanya jauh lebih menarik
the Begining: Taman Kanak-kanak
the Style:Sungguh tidak paham menjelaskan aliran. Kontemporer?
the Tools:Tinta Cina dan apapun yang berwarna hitam
the Objects: Perempuan, mahluk kompleks yang tidak pernah membosankan untuk dituangkan menjadi karya gambar motif polkadot dan garis-garis, pohon todak berdaun, ikan, dan objek yang melayang tanpa arah.
the Idols: Imajinasi Whimsical Tim Walker, cara berpakaian Catherine Baba, lukisan jujur Frida Kahlo, dongeng naif Brothers Grimm, dan ledakan emosi ala Affandi.

“Talk To Your Friend, Not Your Smartphone” (Ink on paper)

Abstraksi:
“Just be yourself no matter how shitty you are” adalah prinsip @iamshopper @angrygirl @sexytwofaces @tweetorDIE yang sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun ke-8 area. Mereka berempat adalah spesies penduduk Jakarta yang tersebar di sudut kota dan berani menunjukkan personalitas mereka dengan jujur tanpa embel-embel pencitraan. (Lala Bohang, Oktobert 2011, Special for area!)

 

 

Marishka Soekarna: “Pendidikan Formal Hanya Sebagai Rangsangan Estetis”

Ada kritik untuk pemerintah soal dukungan terhadap senirupa?
Fiuhhh, fiuhhhh (menirukan suara angin).

Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi terhadap senirupa dan seniman muda?
Seniman dan masyarakat saling apresiatif.

Pentingkah adanya organisasi atau kelompok yang mewadahi seniman muda?
Penting dan sama pentingnya untuk seniman itu sendiri mewadahi ide-idenya dengan karya-karya yang tersuntik dari ide-idenya.

Komentar mengenai galeri seni, sudah cukup jumlah dan dukungannya terhadap seniman muda?
Keberadaan kolektor dan dukungannya terhadap seniman-seniman muda belia yang kayaknya malah kurang nih, he-he-he.

Perlu-tidaknya pendidikan formal bagi calon seniman?

Kayaknya enggak. Pendidikan formal menurut pengalaman saya hanya sebagai rangsangan estetis.

Bio!
Name: Marishka Soekarna
Nickname: Nyonyah
Born: Bandung, 12 Januari 1983

Creative!
the Reason: Biar awet muda
the Begining: 25 Juni 1994
the Style: Ilustratif, Barisan Garis Jujur
the Tools: Found objects
the Objects: Error-ism, Human error dan sesuatu yang ada di sekitar
the Idols: Banyak sekali yang hebat-hebat
the Link: www.marimerupa.blogspot.com

“Ten Without 2 Fingers”
(Digital art, mix media)

Abstraksi:
Hadiah ulang tahun buat ulang tahun ke-8 area yang disitu mengharuskan adanya gambaran tentang Jakarta dan adanya angka 8. Terima kasih area atas kesempatannya dilibatkan di hari ulang tahunnya yang ke-8. Jaya selalu area! (Marishka Soekarna, Oktober 2011)

 

 

Mendiola Budi Wiryawan : “Yang Penting Exposure-nya Ditambah”

Apa tantangan saat berkarya dan apa tolok ukur keberhasilan Anda?
Tantangannya adalah menjaga konsistensi energi. Soal tolok ukur, you know when you’re orgasm.
Kritik untuk pemerintah untuk memajukan senirupa dan seniman?
Mungkin bantu lebih perbanyak exposure seni rupa Indonesia saja dulu.
Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi terhadap senirupa dan seniman?
Makin lama makin bagus. Yang penting exposure-nya ditambah dan konsisten.
Komentar mengenai galeri, sudah cukup jumlah dan dukungan terhadap seniman muda?
Kalau dilihat dari size negara Indonesia yang besar, ya tentu kurang.
Perlu atau tidak pendidikan formal bagi calon seniman?
Antara perlu dan tidak. Tergantung tujuannya apa.


Bio!
Name: Mendiola Budi Wiryawan
Nickname: Mendiola
Born: Jakarta, 22 Januari 1977

Creative!
the Reason:Takdir
the Beginning: Sejak kecil, lupa mulai persisnya
the Style: Neosurealisme
the Tools: mix media
the Objects: Human interest
the Idols: Banyak sih, tapi nggak ada yang digandrungi banget
the Link: www.mendioladesign.com

“Akrobatavia Paradoxia” (Digital)

Abstraksi:

Jakarta sebagai kota metropolitan dipenuhi orang-orang yang mengadu nasib dengan berbagai cara. Bahkan, kadang untuk mencari nafkah hal yang membahayakan nyawa (seperti naik motor tanpa helm sambil membawa bayi sampai spekulan-spekulan tingkat tinggi) diabaikan dan sudah jadi hal yang biasa untuk jadi tontonan sehari hari. Orang-orang Jakarta berusaha tampil sebagai ‘orang kota’ dengan segala atributnya baik yang nyata (seperti fashion dan gadget) juga yang tidak nyata seperti jabatan, pangkat, dan sebagainya. Sementara di media kita disuguhkan ‘hiburan’ badut dan joker yang membuat kita menghadapi paradoxia antara lucu, menakutkan, dan menyedihkan. Tapi itulah realita kota kita tercinta. (Mendiola Budi Wiryawan, 2011)
 
 

 

Ricky Janitra: “Seniman itu harus pintar”

Kritik untuk pemerintah untuk memajukan dunia senirupa?
Saya sendiri tidak tahu,mereka menyukai seni atau tidak, hehehe. Jadi, no comment lah

Komentar mengenai galeri-galeri dan dukungan terhadap seniman-seniman muda?

Banyak galeri di Jakarta. Tapi sayang tidak banyak seniman muda yang bisa pameran di galeri-galari Jakarta, baik untuk kelompok maupun tunggal. Kalau bisa lebih mendukung lagi, tidak hanya sekedar ‘cukup’.

Pentingkah sebuah wadah, organisasi, kelompok, atau yayasan dalam mewadahi seniman-seniman muda?
Penting, Biasanya kita lebih produktif ketika sudah ada wadah atau bergerak secara kelompok

Tolok ukur keberhasilan atau kepuasan dalam bidang senirupa?
Saya tidak pernah puas dalam berkarya dan selalu bereksperimen. Tolok ukurnya adalah dimana audience berhasil merasakan apa yang disampaikan oleh karya saya.

Apa tantangan saat menggarap sebuah project atau karya?
Tantangan selalu ada ketika bereksperimen dalam membuat sebuah karya maupun sebuah project.

Perlukah pendidikan formal bagi calon seniman?
Menurut saya calon seniman itu harus pintar. Jadi, perlulah pendidikan formal.


Bio!
Name: Ricky Janitra
Nickname: Babay
Born: Bogor, 18 Januari 1985

Creative!
the Reason: Karena masuk ke sebuah institusi seni: Institut Kesenian Jakarta
the Begining: 2003
the Idols:
Andy Warhol,Julian Opie,Banksy,Basquiat,Keith haring
the Style:
Pop Art
Favorite Tools:Kayu
Favorite Object:Kota dan anak muda 

 

 

Yfana Khadija Amelz: "Semakin Berani Bermain"

Komentar mengenai dunia senirupa Jakarta dengan artis muda dan bentuk-bentuk seni yang unik?
Semakin berani bermain.

Kritik untuk pemerintah untuk memajukan dunia senirupa dan memediasi semangat seniman-seniman muda? 
Sebenarnya ini sebuah aset yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Negara luar saja sudah sangat aware dengan perkembangan seni di Indonesia, dan menyediakan berbagai cara untuk membawa dan memperlihatkan karya-karya dari Indonesia ke negrinya. Tinggal tindakan lebih dari pemerintah kita sendiri sekarang.

Komentar mengenai masyarakat dan apresiasi mereka terhadap perkembangan dunia senirupa dan seniman-seniman muda?
Sepertinya saat ini sudah semakin bagus apresiasinya dan minatnya. Dengan semakin sering diadakannya event-event yang mendukung dunia seni rupa Indonesia, di dalam ataupun di luar negri. Sudah seharusnya tidak lagi dipandang sebelah mata.

Pentingkah sebuah wadah, organisasi, kelompok, atau yayasan dalam mewadahi seniman-seniman muda? Bentuk sebuah dukungan itu tidak pernah tidak penting.

Komentar mengenai keberadaan galeri-galeri, apakah sudah cukup dari segi jumlah dan dukungan terhadap seniman-seniman muda?
Saat ini sudah semakin banyak galeri dan organisasi seni di berbagai kota di Indonesia. Menurut pandangan saya secara personal, sebagai seseorang yang tidak punya background pendidikan seni, dukungan yang diberikan sangat berpengaruh dan tidak ternilai harganya.

Kapan pertama kali menjajal dunia kreatif senirupa?
Saya mulai bekerja sebagai seorang ilustrator semenjak tahun 2008. Kalau mulai menekuninya dari usia 3 tahun, saat pertama kalinya saya menggambar di bidang besar… di sofa ibu saya.

Perlukah pendidikan formal bagi calon seniman?
Saya sendiri sebetulnya sih ingin sekali mengambil pendidikan formal. Ingin bisa lebih mengerti teknik-teknik dan media lain. Tapi jika memang ada niatnya, seharusnya bisa belajar dari mana pun. Sumber informasi sekarang sudah semakin banyak kok.

Bio!
Nama: Yfana Khadija Amelz
Nick: Ykha
Born: Jakarta, 12 Mei 1983

Creative!
the Reason: Ilustrasi adalah minat sejak kecil
thee Beginning: 2008
the Style: Ilustrasi
Tools: Kertas dan pensil  graphite
the Link: www.ykhakha.deviantart.com

 


      

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.