HOT SEAT

Melissa Karim & Lasja F. Susatyo

November, 14th 2011 |  by  Tim Redaksi Area  | Comments: 0

Film baru Kalyana Shira Film dan Blue Caterpillar Films, Langit Biru, mengangkat isu popular, bullying, sebagai tema. Dengan konsep musikal, film yang mengajak anak-anak untuk berkawan bukan mencari lawan ini didukung oleh orang-orang hebat.

Caption Caption

Caption Caption

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Bullying mungkin bukan masalah baru, ia adalah pemain lama yang diendapkan begitu saja serta secara sengaja sekaligus tidak ‘dibudayakan’ oleh para pelaku dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Melalui film baru garapan Kalyana Shira Film dan Blue Caterpillar Films, Langit Biru, isu popular ini diangkat menjadi tema utama. Dengan konsep musikal, film yang mengajak anak-anak untuk berkawan bukan mencari lawan ini didukung oleh orang-orang hebat di belakangnya.

Kamis, 1 November lalu, Hapis Sulaiman dan Putri Ningrum berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Melissa Karim (penulis naskah) dan Lasja F. Susatyo (Sutradara) di Anomali Café, Senopati.  Bagaimana ide awal, pengembangan, dan apa pesan yang ingin mereka sampaikan melalui Langit Biru?

Dari mana ide Langit Biru, yaitu bullying, berasal?

 Awalnya saya berniat untuk membuat film tentang drama keluarga. But as the script is developing, akhirnya tema bullying datang dari Teh Nia terinspirasi dari cerita anaknya yang ternyata adalah korban bullying. Melalui film ini kita berusaha meng-acknowledge tentang isu tersebut, memberitahu masyarakat tentang realita bullying yang terjadi, dan berusaha menghentikannya.

Apa saja pendalaman yang Anda lakukan saat menulis naskah Langit Biru?

 MK: Saya mengobrol dengan para korban dan pelaku. Baik itu yang masih anak-anak atau mereka yang sudah dewasa. Selain itu, saya juga berdiskusi dengan para orang tua.

Untuk ide konsep musikalnya sendiri lahir dari siapa?

 MK: Idenya muncul dari kita semua. Jadi, produsernya ada dua, yaitu  Nia Dinata dan Hanna Carol. Dari awal, Hanna memang ingin membuat film musikal.
Lasja : Musik memang bersifat universal. Apalagi untuk anak-anak musik terdengar lebih catchy. Jadi, untuk menyampaikan sesuatu yang berat, musik terasa lebih tepat.

Langit Biru agak terlihat serupa dengan Petualangan Sherina, bagaimana menurut Anda berdua?

 MK: Untuk jenis film musikal anak-anak sampai saat ini memang baru Petualangan Sherina. Tapi, but I’m not lying kalau sebenarnya saya belum nonton film tersebut. dan, sampai sekarang pun belum sempat nonton, ha-ha-ha!

Lasja: Jujur, saya agak deg-deg-an tentang pengaitan Langit Biru dengan Petualangan Sherina. Di awal saya sama sekali tidak ingat dengan Petualangan Sherina, hingga pada saat ketemu dengan Mira Lesmana dan saya ditanya sedang mengerjakan proyek apa. Ketika saya menceritakan tentang proyek film yang akan dibintangi dengan anak-anak kecil dengan segala keribetannya dan Mba Mira meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja karena Petualangan Sherina juga akhirnya berhasil menuai sukses, maka saat itulah saya baru ingat.

Saya saat itu memang terlibat dalam Petualangan Sherina sebagai asisten sutradara, tapi saat penggarapan Langit Biru saya sama sekali tidak memikirkan tentang film tersebut. Lebih baik kita menciptakan yang baru daripada daur ulang. Tapi, kalau at the end setelah menonton Langit Biru, banyak yang mengaitkannya kepada Petualangan Sherina, ya, mungkin tidak akan dapat dihindari karena film tersebut sejenis dan Petualangan Sherina sampai sebelum Langit Biru keluar adalah yang pertama dan satu-satunya.

Untuk pemilihan pemain, apakah melalui proses casting regular karena ternyata anak dari Donna Harun juga menjadi salah satu pemain?

 Lasja: Proses casting memakan waktu yang cukup lama. Karena, para pemain juga harus memiliki chemistry dengan pemain lainnya. Saya sendiri memiliki misi untuk menampilkan anak Indonesia yang berkarakter. Sebab, jujur, Indonesia bukan tergolong bangsa yang berkarakter, jadi melalui karakter utama di film ini saya juga ingin mengajak anak-anak menjadi anak yang berkarakter.
Proses akhirnya, saya mengumpulkan anak-anak yang terpilih supaya terlihat benar siapa cocok dengan siapa. Nah, si Jeje (anaknya Donna) memang sudah terlihat paling adorable dan ia cocok dengan karakter yang ia mainkan, yaitu special needs kids yang lamban namun menggemaskan. Selain itu, awalnya, baik dari pihak Kalyana Shira dan Donna Harun pun tidak tahu kalau anaknya terlibat.
Langit Biru bukanlah big production, semua juga based on pertemanan. Jadi, memang mencari dari orang-orang terdekat yang sudah kenal satu sama lain untuk memudahkan seluruh proses produksi.

MK: Amazingly, menurut pengakuan ibunya, sejak ikut terlibat dalam Langit Biru, Jeje jadi banyak improvements!

Apakah banyak tuntutan dari Melissa Karim saat naskahnya Anda garap?

 Lasja: Ya ampun, Melissa tuh manis sekali! Sebenarnya, runutannya kan Melissa dan Teh Nia terlebih dahulu, lalu baru kami bertemu. Justru, karena kami bertemu saat dia lagi hamil, jadi dia tidak banyak menuntut hanya mengetik.

MK: Padahal saat itu dalam hati saya berpikir: “enak juga ya, gue gak perlu mikir lagi!”, ha-ha-ha!

Pada saat naskah Anda dikerjakan oleh Lasja, apakah kesan yang didapat?

 MK: Di dictionary Lasja, mungkin ‘manis’ is because I’m willing to do anything karena beberapa script writer idealis dan tidak mau merubah naskah mereka sama sekali. Meskipun saya penulis, tapi yang menghidupkan naskah adalah sutradara dan berbagai pihak lain. Saya bermain dengan kata-kata dan mereka bermain melalui frame. Jadi, kalau ada masukan ya saya tidak keberatan sama sekali.

Banyak film Indonesia yang sangat disayangkan tidak didukung dengan naskah yang bagus. Menurut Anda seperti apa kriteria naskah yang bermutu?

 MK: Tergantung, dilihat dari sisi penonton atau produser. Kalau dari produser, naskah yang baik adalah yang irit lokasi but still captivating. Sebenarnya, saya juga suka yang seperti itu. Bagi saya film yang bagus adalah yang irit lokasi dan membicarakan hal-hal yang tidak terlalu berat but could glued me for 1,5 hours.

 Lasja: naskah yang bagus itu jelas tidak dapat yang sembarangan karena script itu bagaikan blue print sebuah film. Kalau berdasarkan saya pribadi akan merasa sangat beruntung jika dapat terlibat dalam sebuah film yang member keleluasaan dalam proses pengembangan naskah. Sebab, ketika kita nonton suatu film yang menghadirkan gambar yang oke tapi naskahnya meaningless, sangat disayangkan. Menurut saya yang terpenting adalah alurnya dan akan menjadi plus ketika ada message yang terkandung di dalamnya. Film popular tetapi memiliki pesan moral yang baik untuk dikampanyekan. Dan, di Langit Biru saya mendapatkan hal itu.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam mengarap Langit Biru dengan segala keribetannya?

 Waktu yang diberikan memang hanya 3 minggu dan kami menyelesaikannya tepat waktu. Meskipun permasalahannya adalah kita tidak dapat terlalu menekan para pemain karena mereka adalah anak-anak.

Film ini juga merupakan kampanye anti bullying, pesan apa yang ingin kalian sampaikan?

 Lasja: Ini adalah kampanye yang sangat baik dihadirkan dengan setting anak-anak urban. Cara menghadapinya dengan positif adalah yang kami harapkan setelah film ini disaksikan. Kalau sudah telanjur di-bully atau mem-bully jadi mereka yang terlibat atau berada di tengah-tengah tahu bagaimana harus bersikap.
Kabarnya, film ini juga akan dikampanyekan ke sekolah-sekolah, mulai kapan dan apa alasannya?

Kabarnya film ini juga akan dikampanyekan ke sekolah-sekolah, mulai kapan dan apa alasannya?

MK : Instead of doing road show, maka sekarang produsernya bersama dengan seorang psikolog sedang mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengkampanyekan tentang pesan yang terkandung dalam Langit Biru, yaitu bullying.

Lasja: melalui kampanye ini, selain mengedukasi juga kami bermaksud untuk mengajak orang-orang untuk bisa lebih speak up. Kalau hingga dewasa mereka menjadi orang yang menerima dan diam-diam saja akan tindakan apapun yang dilakukan orang lain kepadanya, maka bangsa ini mau jadi seperti apa? Jadi, kami juga ingin orang-orang ikut menyuarakan mana yang benar dan salah.

Tapi, Anda berdua sama sekali tidak pernah jadi pelaku atau korban bullying?

MK: Dulu saat di sekolah saya selalu di-bully karena saya yang paling pendek. Dan, kalau di lingkungan rumah saya di-bully karena saya cina, ha-ha-ha!

Lalu, proyek apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

MK: We didn’t plan to do this, jadi ya sambil jalan saja lah, tapi pasti ada lah..he-he-he!

 

Contact the writer at
hapis.sulaiman@mediasatu.com
putri.ningrum@mediasatu.com

 

 

 

 

 

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.