FROM OUR DESK

The Next Bali?

November, 14th 2011 |  by  Bayu Maitra  | Comments: 0

Popularitas yang tinggi bisa mendatangkan devisa yang besar di setiap tahun. Dana bisa digunakan untuk penelitian dan pengembangan situs, sekaligus meningkatkan ekonomi rakyat lokal yang mayoritas nelayan.

Komodo, calon pahlawan devisa negara Komodo, calon pahlawan devisa negara

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Taman Nasional Komodo terpilih sebagai pemenang sementara untuk Tujuh Keajaiban Dunia yang baru. Hasil voting sedang dalam tahap penghitungan. Ia harus melalui proses verifikasi independen, sebelum diresmikan pada awal 2012.

Hal ini membuat banyak warga Indonesia gembira. Varanus Komodoensis, kadal purba berukuran raksasa yang terancam punah ini berhasil mengangkat kembali pariwisata Indonesia di mata dunia. 

Ada optimisme yang muncul di masyarakat, bahwa ini waktunya pariwisata Indonesia bangkit. Bona Rumat, Kepala Seksi Sarana Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT berkata pada Media Indonesia, “Saatnya kita songsong era baru pariwisata NTT. Karena itu, Gubernur memerintahkan semua kabupaten kota membenahi objek wisata." Ia mengacu pada perintah Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, untuk membenahi infrastruktur di tempat wisata, termasuk sumber daya manusia dan akomodasi. 

Di situs jejaring sosial, banyak yang mengharapkan NTT bisa seperti Bali di kemudian hari.

Tentu menarik jika membayangkan kawasan Taman Nasional Komodo menjadi seperti Bali. Popularitas yang tinggi bisa mendatangkan devisa yang besar di setiap tahun. Dana bisa digunakan untuk penelitian dan pengembangan situs, sekaligus meningkatkan ekonomi rakyat lokal yang mayoritas nelayan.

Tapi ada juga yang mengerikan dalam bayangan itu. Misalnya, laut berair keruh yang bikin gatal, pantai penuh sampah, selokan mampet, kesulitan air bersih, hingga jalanan macet. 

Andrew Marshall dari majalah Time kritis menyoroti Bali sebagai lokasi pariwisata. Menurutnya, pembangunan di Bali terlalu cepat dan tanpa mengindahkan sarana yang menjadi pendukung. Dengan jutaan turis yang datang setiap tahunnya (ada 1,3 juta turis asing pada 2001, meningkat hampir dua kali lipat 10 tahun kemudian dan belum termasuk turis lokal.), Bali jelas bermasalah. Marshall menyebutnya “overburdened island”. Kita tentu tidak menginginkan ini pada Taman Nasional Komodo. 

Banyak hal mesti dipelajari dari Bali. Ini bukan cuma soal bagaimana berbisnis dengan menjual potensi alam, tapi juga bagaimana menjaga dan melestarikan. Perlu diingat bahwa kekayaan alam adalah ‘titipan’ yang akan berpindah tangan dari generasi ke generasi. Semoga keindahan Taman Nasional Komodo tidak menjadi monopoli generasi kita.

 

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.