FROM OUR DESK

Luck Factor

November, 24th 2011 |  by  Bayu Maitra  | Comments: 0

Jika melihat dengan kasat mata, sulit memang untuk tidak mengindahkan peran 'keberuntungan', baik dalam kasus Simpson maupun tim Indonesia. Simpson beruntung tidak diterjang badai salju saat ia dalam titik mental terendahnya.

Tim Garuda Muda Indonesia (sumber: internet) Tim Garuda Muda Indonesia (sumber: internet)

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Joe Simpson seorang pendaki kawakan asal Inggris. Pada 1985, ia bersama rekannya, Simon Yates, mencoba mendaki gunung Siula Grande (6.344 mdpl), pegunungan Andes, melalui sisi barat. Waktu itu belum ada manusia yang melakukannya. 

Ada dua gaya pendakian gunung es, yaitu Himalayan style dan Alpine style. Gaya Himalaya adalah mendaki secara berkala. Naik sedikit demi sedikit, membangun camp kecil di beberapa titik. Pendakian cara ini lebih aman, namun membutuhkan waktu tempuh yang lama. 

Gaya Alpine lebih agresif. Dari base camp, pendaki akan ngebut ke puncak dan turun kembali. Prinsipnya adalah “go light”. Gaya ini memungkinkan pendaki untuk memangkas waktu tempuh, tapi ia membutuhkan stamina ekstra kuat dan 'keberuntungan' soal cuaca. Simpson dan Yates pakai Alpine style untuk menaklukan Siula Grande.

Saat itu Simpson dan Yates sudah cukup lama berada di base camp, mondar-mandir bukit setiap hari untuk aklimatisasi tubuh, sambil menunggu cuaca terbaik untuk melakukan summit attack. HIngga pada suatu saat, cuaca terlihat sangat cerah. Keduanya bergegas mendaki.

Pendakian menuju puncak adalah soal taktik. Simpson dan Yates memilah-milih jalur pendakian. Mereka mencari jalan landai, mencari lapisan es yang kokoh, mencari batuan yang kuat untuk menyematkan tali, juga mencari dinding besar untuk tempat istirahat. Taktik berjalan sukses, keduanya mencapai puncak.

Setelah puncak, pendakian jadi tak hanya soal taktik, tapi juga stamina. Mereka mesti menyadari bahwa ini baru setengah perjalanan, dan mesti menyadari bahwa arti sebuah keberhasilan adalah bisa sampai di bawah dengan selamat. Simpson terpeleset di tengah perjalanan turun. Kakinya patah. Semua pendaki tahu, bahwa dalam pendakian gunung es, ini artinya mati.

Yates masih berusaha menggiring Simpson turun gunung. Tapi, sampai pada sebuah titik yang paling berisiko, Yates memutuskan memotong tali yang mengikat mereka berdua. Simpson jatuh ke jurang. Yates berjuang turun gunung sendirian, dan mesti bergulat dengan rasa bersalah dan depresi ketika sampai di base camp.

Malam sudah larut ketika Yates mendengar sayup-sayup teriakan di tengah tidurnya. Ternyata, Simpson yang patah kaki 'beruntung' bisa turun sampai ke base camp. Ia mengalami hipotermia, tapi masih bisa diselamatkan. 

Kisah ini dibukukan oleh Simpson dengan judul "Touching the Void" (1988). Ia memenangkan penghargaan Boardman Tasker Prize for Mountain Literature (1988) dan NCR Book Award (1989).

Bermain sepakbola punya kesamaan dengan mendaki gunung. Pada 90 menit awal, pemain dituntut untuk adu taktik. Entah bermain bola-pola pendek, bermain lambat, atau mengincar serangan balik. Kecermatan taktik sangat menentukan hasil pertandingan.

Jika keadaan masih seimbang setelah 90 menit, maka peran stamina akan sangat besar pada 30 menit perpanjangan waktu. Di sini jangan terlalu mengharapkan permainan indah, karena untuk menjaga kontrol bola saja sudah sangat sulit. 

Pada akhirnya, jika adu stamina juga tidak memunculkan pemenang, pertandingan mesti diputuskan dengan adu penalti. Ini adu mental. Ketika fisik sudah kelelahan, maka mental yang menentukan. Kondisi mental akan berpengaruh pada daya konsentrasi, daya juang, daya nalar, juga ketenangan.

Dalam adu penalti di pertandingan final sepakbola Sea Games yang lalu, dua pemain Indonesia, Gunawan dan Ferdinand Sinaga, gagal menjebol gawang Malaysia. Hasilnya, Malaysia berhasil meraih medali emas.

Komentator bilang "dewi Fortuna" sedang berada di pihak Malaysia. Orang-orang sinis bilang Malaysia beruntung, karena faktanya pertandingan lebih banyak didominasi oleh tim Indonesia. Banyak juga orang yang mengutuk hasil pertandingan lewat tos-tos-an (ungkapan yang mengacu pada adu keberuntungan).

Begitulah, banyak yang menyalahkan keberuntungan. Pertanyaannya: apakah ada yang namanya keberuntungan?

Jika melihat dengan kasat mata, sulit memang untuk tidak mengindahkan peran ‘keberuntungan’, baik dalam kasus Simpson maupun tim Indonesia. Simpson beruntung tidak diterjang badai salju saat ia dalam titik mental terendahnya. Baddrol, penendang terakhir Malaysia, beruntung karena bola yang sudah dihalau kiper Indonesia tetap menggelincir masuk ke gawang. Lucky!

Tapi, menyebut ‘keberuntungan’ sebagai penyebab kekalahan tim Indonesia rasanya terlalu berlebihan. Orang sains mungkin menolaknya, karena mereka mengenal konsep "aksi-reaksi" dalam segala hal. Orang religius juga mungkin mementahkan itu, karena mereka punya konsep karma dengan kredo-nya yang terkenal, "apa yang kau tanam, itu yang kau tuai."

Ada atau tidaknya “luck factor” memang tak mungkin dipecahkan, dan tidak perlu pula diperdebatkan. Ia hanya untuk dipercaya atau disangkal sepenuhnya. Saya pilih menyangkal, dan memilih memasukkan unsur mental untuk pendekatan.

Joe Simpson sudah tidak punya kekuatan fisik setelah patah kaki. Ia juga terserang hipotermia. Staminanya sudah habis. Ia bahkan 'divonis' tidak terselamatkan oleh Yates. Nyatanya, ia bisa turun ke base camp dengan selamat.

Kekuatan mental akan menciptakan peluang, yang bisa mengarahkan orang pada ‘keberuntungan’.

 

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.