Nia Dinata Arisan 2: Kangen dengan This Five Beloved Characters
November, 25th 2011 | by Hapis Sulaiman | Comments: 0
Di Hot Seat lalu, saya mendengar testimoni wajah-wajah baru yang hadir dalam Arisan! 2. Kali ini, saatnya yang empunya proyek film, Nia Dinata memaparkan cerita di balik gagasannya untuk menghadirkan sekuel film Arisan! yang sudah terjadwalkan rilis 1 Desember mendatang.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Kiranya perlu waktu kurang lebih 8 tahun bagi Nia Dinata untuk memutuskan membikin kelanjutan film Arisan! (2003) yang kala itu sukses bukan kepalang. Sampai akhirnya, jelang pengunjung 2011, Teh Nia hadir menggaungkan kembali nama Arisan! yang terlanjur diidentikkan dengan dirinya. Bertajuk Arisan! 2, Teh Nia yang mendaulat diri sebagai sutradara, produser, dan penulis naskah, kembali mengajak “anggota keluarga” yang dilahirkannya dalam Arisan!, Meimei (Cut Mini), Sakti (Tora Sudiro), Nino (Surya Saputra), Andien (Aida Nurmala), dan Lita (Rachel Maryam). Dengan segala lika-liku kehidupan metropolis yang menjadi ide film, cerita 5 bersahabat itu pun berlanjut. Garansinya, film ini akan menampilkan beragam kejutan. Cerita yang lebih segar dan lebih kompleks dari tokoh-tokohnya. Bagaimana ide Arisan! 2 ini tercetus? Pro-kontra apalagi yang dihadirkan? Kiranya hanya Teh Nia yang bisa menjawab semua itu.
Kenapa pada akhirnya muncul Arisan! 2? Apa pemicunya?
Jadi sebenarnya tidak pernah direncanakan untuk bikin sekuel. Lalu, setahun setelah rilis Arisan!, kira-kira Desember 2003, ada tawaran untuk bikin serialnya. Untuk serial, aku pikir mungkin tidak apa-apa, asal bisa syuting pakai film dan tetap dengan pemain yang sama. Rencananya akan dibuat 39 episode tapi karena masalah internal dari pihak stasiun televisi, mereka hanya menyanggupi 26 episode. Kemudian, setelah selesai syuting serial, para 5 pemain intinya mengajak saya untuk membuat sekuelnya. Secara bercanda memang sudah dicetuskan, tapi sempat terlupakan.
Lalu, bagaimana ceritanya hingga akhirnya ide tersebut diseriuskan?
Nah, di awal 2010, aku melihat kok belum ada film Indonesia untuk kategori mature audience, natural, but at the same time it has a message, enjoyable, bandel, ya all out, gitu, deh, tanpa memikirkan harus jadi film religi atau jadi film horor. Lalu, aku ada ide. Saat itu bukan Arisan!, tapi memang syutingnya ada yang di Amerika dan Indonesia. Trans Sumatra. Sudah jadi skripnya. Aku pun karena saat itu sedang dapat fellowship di Amerika Serikat jadi sekalian riset tentang imigran gelap di Amerika Serikat yang awalnya datang dengan visa turis sampai akhirnya berhasil sukses dan balik ke Jakarta. Pemainnya waktu itu Edward yang awalnya saya kenal di Cannes Film Festival. Sayangnya, semua tidak semudah itu karena kru inti yang aku bawa harus dicek secara ketat. Apalagi, karena di sana sedang krisis ekonomi, maka Union di sana menawarkan untuk memakai kru lokal sana. Setelah itu berlalu, untuk mengobati diri, aku langsung menulis sesuatu yang berbeda. Akhirnya, mulailah menulis dengan karakter-karakter yang ada di Arisan!, tapi 7 tahun kemudian. Setelah jadi, rough naskahnya, aku undang ‘the geng of five' (pemain utama) dan ngobrolin ide tersebut. Dan, mereka menyetujuinya. Tapi, karena ceritanya berkembang dan kami membutuhkan karakter-karakter baru, maka sejak akhir tahun lalu sampai Maret kami baru selesai casting. Kami reading bulan Mei dan pada waktu yang bersamaan juga syuting di Yogyakarta. Bukan hanya di Yogyakarta, kami juga syuting di Gili dan Lombok!
Apa alasan Anda menghadirkan nama-nama baru, ada Sarah Sechan, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, dan lain-lain?
Geng yang lama tetap jadi yang utama, tapi masing-masing sudah berinteraksi dengan karakter baru.
Apakah kali ini Anda menggandeng Joko Anwar lagi?
Kali ini aku menulis sendiri. Saat Arisan pertama aku juga sebenarnya juga menulis sendiri draftnya, tapi saat itu masih rough. Nah, karena saat Biola Tak Berdawai, Joko menjadi asisten sutradara, lalu saat Arisan, aku meminta dia untuk membaca naskah rough-nya dan mengajak Joko untuk work it out supaya jadi lebih unik. Akhirnya, jadi lebih seru menulis lanjutannya berdua. Tapi, untuk ide Arisan, waktu itu Joko saja baru datang dari Medan dan masih buta dengan dunia para socialite yang ada di film. Saat serial juga saya sama Melissa Karim dan Alin Subiyo. Sejujurnya, Arisan based on my real friendship. Terinspirasi dari sahabat-sahabatku, evolusi mereka, evolusi friendship-nya pun aku yang paling tahu, maka diwujudkanlah lewat Arisan! 2.
Untuk para pemain baru, apakah sejak awal Anda sudah membayangkan siapa akan jadi siapa?
Belum, tapi aku memang nggak mau kalau harus melakukan proses casting yang lama dan menyaring terlalu banyak orang. Kami pilih saja yang cocok jadi socialite baru. Saat itu aku hanya kepikiran Atiqah Hasiholan dan Laura Basuki. Lalu, untuk karakter si healer antara Rio Dewanto dan Edward hingga akhirnya terpilih Edward. Sementara, Rio menjadi the ‘it’ boy! Kalau untuk dokter kulit memang sudah ada di film, dan Sarah sudah 'meneror' dengan BBM, makanya dia menjadi si dokter kulit, he-he-he.
Kalau tidak salah, Sarah Sechan seharusnya sudah ada di Arisan pertama?
Iya. Tapi, dia sibuk sekali, suruh syuting aja nggak bisa, he-he-he! Sekarang di Arisan! 2 dia bisa ikut casting dan akhirnya bergabung, deh, ha-ha-ha!
Beberapa film yang dibuat sekuelnya di Indonesia kebanyakan tidak seberhasil yang pertama. Sebenarnya, seperti apa standar seorang Nia Dinata dalam membuat sekuel?
Sebelumnya, aku belum pernah bikin sekuel. Selain itu, banyak sekali yang kangen dengan this five beloved characters. So, I just want to give a chance untuk berinteraksi lewat film dengan kelima karakter gila itu, ha-ha-ha! Kalau ternyata mereka bisa dapat lebih dari interaksi dan having fun, that’s great!
Arisan! Kala itu mendapat banyak penghargaan, apakah lantas menjadi beban bagi Teh Nia dan Arisan! 2?
Ya, penghargaan itu bonus ya! Aku tidak pernah memikirkan penghargaan saat membuat film karena ya suka membuat film! That’s the most important thing! Kalau untuk festival Internasional, aku selalu berpartisipasi because I want Indonesia to be in the map of world. Kenapa? Sejak film Pertaruhan (2010) sampai Madame X, film Indonesia tidak ada yang ikut dalam festival luar negeri. Orang-orang yang sering berkecimpung di dunia festival film seperti John Badalu bahkan wartawan luar negeri juga menanyakan tentang eksistensi film Indonesia. Film Indonesia sudah lolos seleksi dalam kancah Internasional saja sudah prestasi, jadi, ya, yang penting ada di peta perfilman dunia.
Nia Dinata selalu mengangkat sebuah tema yang thought provoking. Sekarang, tema apalagi yang akan diangkat di Arisan! 2?
Sebenarnya tema yang thought provoking itu penting untuk ada dalam setiap film buat aku. It’s a statement from the film maker. Kalau untuk pesan moral kembali lagi kepada penonton ya, ada moralnya atau tidak menurut yang menonton. Mungkin agak berbeda dengan Arisan yang pertama! Kalau di Arisan pertama, kami benar-benar menyajikan cara how to be open supaya kita bisa less hypocrite from the society. Sementara, sekarang, kami ingin memberitahu bahwa this is a hypocritical society, it is the reality! How to win along in this hypocritical society dan pilihannya ada di kita!
Anda sudah siap untuk menuai reaksi dengan mengangkat lagi cerita tentang hubungan sesama jenis?
Sebenarnya, ceritanya bukan hanya tentang Sakti dan Nino, ada cerita yang lainnya juga kali, ha-ha-ha! Aku tidak memfokuskan pada sexual relationship, tapi lebih emotional relationship. Pada 2003, saat Lembaga Sensor Film masih dipegang dengan Ibu Titie Said, aku dipanggil, tapi akhirnya diloloskan. Semakin ke sini, makin kacau karena Arisan! dijadikan bahan perbandingan kelolosan untuk sejumlah film lain. Aku tidak pernah khawatir, tapi kemungkinan kontroversi selalu ada. Kalau tidak dari kelompok garis keras, pasti dari kelompok yang sedang ‘berkuasa’ di sebuah negara. Jadi, ya saya siap-siap saja. Yang bilang itu tidak tak hanya lembaga sensor, tapi sebuah ‘korporasi’ besar dan masyarakatnya sendiri. Kalau dilihat di forum-forum besar, banyak sekali komen yang miring. Tapi, ya sudahlah yang penting kami membuat itu accessible.
Kabarnya, Arisan sukses hanya di kota-kota besar, tidak di daerah-daerah.
Memang, Arisan memang tidak menggaet banyak penonton di daerah. Arisan banyak penonton di jakarta dan beberapa kota besar. Akhirnya aku juga paham bahwa film ini bisa diterima dan dimengerti orang-orang atau lapisan masyarakat tertentu yang sudah matang.
Menyoal produksi, ada cerita-cerita seru yang terjadi saat persiapan?
Waktu Arisan pertama, kami mau pinjam mobil, carter dari perusahaan-perusahaan mobil. Eh, pas tahu ada karakter Sakti yang gay, mereka membatalkan. “Aduh maaf deh mbak kita nggak jadi, brand kita nanti jadi lekat dengan itu kan’. Aku sampai heran. Nah, yang sekarang itu nggak. Justru sebaliknya, di Arisan kali ini mereka (pendukung dan sponsor) justru sangat terbuka dan membantu apa saja yang kami perlukan. Malahan, jadi heboh karena semua ingin ikut bantu di Arisan!2 ini. Sejatinya, kebanyakan dari mereka yang ikut membantu kami adalah mereka yang sudah mengerti.
Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow him on Twitter


Comments
Be the first to comment.