A Doll's House, atau di Indonesia menjadi Rumah Boneka, merupakan karya sastra klasik karya Henrik Ibsen, dramawan penting dunia yang berasal dari Norwegia. Faiza Mardzoeki tertarik mengadaptasi, lalu mementaskannya.

Bersama Pentas Indonesia (rumah seni pertunjukan yang dibangun pada 2010) dan Institut Ungu (organisasi perempuan yang memperjuangkan HAM dan pembebasan perempuan melalui medium seni-budaya, serta didirikan pada 2002), Faiza Mardzoeki yang merupakan penggagas dan pendiri dua organisasi di atas mementaskan Rumah Boneka awal Desember 2011. Produksi ini lalu memakan waktu setahun. Proses menerjemahkan dan mengadaptasi naskah Ibsen memakan waktu tiga bulanan. Sisanya, proses pendalaman karakter, reading, hingga runing. Sampai akhirnya, Rumah Boneka dianggap siap pentas di GKJ pada 30 November-4 Desember 2011.

Rumah Boneka disutradarai oleh Wawan Sofwan, dengan para pelakon di antaranya double cast pemeran Nora, yaitu Maya Hasan dan Chantal Della Concetta; Ayu Dyah Pasha (Kristina Linda, sahabat Nora); Ayez Kassar (Tommy Herlambang, suami Nora); Teuku Rifnu Wikana (Togar, teman kuliah Tommy); Willem Bevers (Dokter Franky, sahabat keluarga); Pipien Putri (Bibi Heni, pengasuh keluarga); Aji Santosa (Ivan, anak pertama Nora berusia 7 tahun); dan Vanessa Berylia Nareswari (Emmy, anak kedua Nora berusia 5 tahun).

Menurut Faiza, Ibsen yang hidup di abad 19 dengan begitu telaten menuliskan persoalan individu sehari-hari dan masyarakatnya melalui drama, sehingga menimbulkan kontroversi dan kegelisahan orang-orang di zamannya. Dalam Rumah Boneka, ia mengemukakan persoalan hubungan antara suami dan istri, laki-laki dan perempuan.

***

Saya pergi ke Rumah Boneka Kamis, 1 Desember 2011. Banyak kursi terbiarkan kosong. Ini baru juga hari kedua pementasan. Padahal soal tiket, masih bisa dibilang seharga rata-rata; Rp75.000 (Balkon), Rp150.000 (Kelas I), dan Rp250.000 (VIP).

Gong ketiga sudah bergaung, tanda pementasan nyaris dimulai. Suara Chantal Della Concetta menggema di dalam ruang pertunjukan. Ia menyiarkan prolog pementasan, diakhiri salam standar "Selamat menyaksikan". Saya salah duga, sudah menjejal kepala dengan bayangan akan akting Chantal di atas panggung. Nyatanya, Chantal hanya menjadi announcer hari itu. Sementara, saya 'kebagian' Maya Hasan sebagai Nora.

***

Panggung menyala. Setting berbentuk ruang tamu sebuah rumah, dengan dua pintu kamar, dan tangga menuju lantai atas terlihat begitu light. Seisi ruang berdekorasi natal, dengan lampu-lampu, kado-kado, sampai pohon cemara berhias.

Kehidupan di dalam rumah tersebut berjalan sangat sempurna. Nora, Tommy Herlambang, dua anak mereka (Ivan dan Emmy), juga Bibi Heni menjadi menjalani hidup mereka tanpa ganjalan. Kabar bahagia muncul berturut-turut, selayaknya hidup dalam sebuah dongeng bahagia. Tom baru saja diangkat menjadi Direktur Bank Rekayasa Dana, Nora hidup berkecukupan meski sudah berhenti menari balet, Ivan dan Emmy punya keseharian yang menyenangkan di sekolah dan rumah.

"Memang paling menyenangkan kita bisa membeli apa yang kita inginkan," kata Nora.

Sesekali muncul pula Dr. Franky dan Kristina Linda. Keduanya adalah sahabat. Kerap mampir ke rumah Tom dan Nora, Dr. Frank dan Linda terlibat jauh dalam kehidupan rumah tangga Tom dan Nora. Dr. Frank jatuh cinta pada Nora. Dan Linda menjadi tempat curahan hati Nora, bahkan untuk rahasia tergelap yang semestinya Nora tidak ceritakan pada siapa pun juga. Kehidupan dalam rumah tersebut masih tenang, biarpun demikian.

Hingga Togar datang. Teman masa kuliah yang juga teman kantor Tom ini menurut kabar akan dipecat. Ini awal mula konflik menginfeksi Rumah Boneka. Nora berutang banyak pada Togar Rp300 juta saat ia butuh uang untuk berobat Tom yang sakit kanker getah bening, dan ketahuan, Nora telah memalsukan tanda tangan papanya yang sudah meninggal, untuk persetujuan surat utang. Pemalsuan tanda tangan berarti aib besar. Ini rahasia gelap yang tidak pernah diceritakan Nora pada siapa pun, kecuali pada Linda.

Kini, untuk menyelamatkan diri dari pemecatan Tom, Togar datang kepada Nora. Togar meminta Nora untuk membujuk Tom membatalkan pemecatan, atau ia akan membongkar rahasia Nora. Itu artinya, harga diri Tom akan terinjak-injak, walaupun Nora punya niatan baik.

Ke depannya, hari-hari menjelang natal menjadi hari-hari paling mencemaskan untuk Nora. Tom masih tidak tahu apa-apa. Sementara, Togar masih mengancam. Di sela itu, Nora masih harus memikirkan anak-anak dan latihan tari balet White Swan untuk pesta natal. Tari yang khusus ia tarikan untuk Tom. Tapi, kegelisahan Nora semakin membuncah hari demi hari. Bahkan untuk menari saja Nora tidak bisa.

Kebenaran toh akhirnya harus terungkap. Tom tahu semua rahasia Nora. Kemarahan membakar. Tapi tidak lama, karena toh ternyata Togar membatalkan tuntutannya terhadap Nora. Karena cinta, cintanya pada Linda--yang belakangan diketahui bahwa Togar adalah mantan pacar Linda, sebelum Linda menikah dengan lelaki kaya yang tidak dicintainya. Tom juga memaafkan Nora, karena cinta. Tapi, di sinilah titik di mana Nora sadar, apa itu cinta?

Selama tujuh tahun pernikahan mereka, Nora sadar bahwa Tom tidak pernah memberikannya kebebasan. Nora tidak pernah memutuskan sesuatu untuk hidupnya, melainkan Tom yang menjejalkan segala keputusannya untuk hidup Nora. Nora tidak punya suara. Hanya menjadi boneka Tom. Nora bahkan memiliki dua anak yang tidak Nora inginkan. Seisi rumah hanya menjadi mainan buat Tom, menurut Nora. Dan, Nora pergi dari Rumah Boneka, karena mempertanyakan cinta dan tidak mendapatkannya dari Tom.

***

Ini adalah sebuah pentas drama 3 babak selama 3 jam yang tidak diselingi interval. Setiap satu jam menjadi penanda berakhirnya satu babak. Dan setiap pergantian babak ditandai oleh lighting yang blackout sekitar 1 menit.

Setting yang realis dan bergaya modern itu tidak berubah sepanjang 3 jam. Hasil adaptasi yang dilakukan oleh Faiza pun sangat mengena untuk citarasa orang Indonesia. Ditambah dengan beberapa pemasukan unsur keindonesiaan yang dilakukan, salah satunya pemanggilan "mas" dari Nora kepada Tom.

Henrik Ibsen dikenal sebagai bapak drama modern. Karenanya, nama Ibsen tersebar luas di dunia dan menjadi tokoh panutan banyak orang. Pentas Indonesia mengantisipasi hal ini, dengan mencantumkan percakapan versi bahasa Inggris di sebuah big screen yang menggantung di kiri atas panggung. Ini semua agar pementasan ini bisa merangkul penonton tanpa pandang bangsa.

Pementasan yang minim musik ini beberapa kali membuyarkan konsentrasi menonton saya. Terutama karena Nora. Di awal bingkai adegan, dialog Nora dan Bibi Heni kerap bertabrakan. Nora terlalu bersemangat, bersemangat memotong kata-kata Bibi Heni. Tidak sampai di situ. Nora kerap terjungkal oleh kejelasan artikulasi. Belepotan. Ini jelas mengganggu.

Beruntung, para pelakon yang lain tidak begitu. Tom punya artikulasi sangat gagah, menunjukkan bahwa ia punya karakter yang mendominasi. Linda, Bibi Heni, dan Dr. Franky juga tidak punya cacat. Dan, Togar, berulang-ulang kali membangunkan penonton dari kantuk karena suaranya yang menggelar dan tensi tinggi yang disuntikkan dalam Rumah Boneka.

Tidak mudah menonton sebuah pementasan berdurasi 3 jam tanpa jeda istirahat. Tapi, Rumah Boneka patut diberi tepuk tangan gemuruh karena berhasil membuat saya tetap duduk di kursi saya sampai penghabisan. Bisa jadi, humor ringan yang diselipkan di beberapa bingkai adegan menyelamatkan pementasan ini terjaga kesegarannya.

***

Menembus jalanan Jakarta pasca Rumah Boneka, banyak persoalan yang muncul di kepala saya seputar rumah tangga. Bahwa di masanya (abad 19), Ibsen sudah mengemukakan perihal kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam ikatan perkawinan (rumah tangga).

Bukannya selesai, kini, permasalahan kesetaraan tersebut masih menjadi duri dalam banyak rumah tangga, dengan perempuan berada di posisi yang lebih rendah. Persoalan ini masih relevan di abad 21. Bisa dikatakan beruntung, perempuan yang sadar mengalami hal ini. Kita bisa memperbaiki, atau pergi dan mencari hidup yang lebih baik. Bagaimana jika kita adalah Nora?

 

Fast Track:
Informasi:
Pentas Indonesia: Sahat Tarida 0813 813 01315
tiketrumahboneka@gmail.com

Gedung Kesenian Jakarta:
Roelly: (021) 344 1892, 9669 3433, SMS: 0857 1591 1169
tiket@gedungkesenianjakarta.co.id

 

Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter