NEWS FLASH

Taman Atap: "Paru-paru" Baru di Atas Hunian

December, 7th 2011 |  by    | Comments: 0

Bukan hal baru kalau kita lihat ada beberapa rumah yang kini memiliki Taman Atap. Ya, area hijau yang dipenuhi berbagai jenis tanaman dan terletak di bagian atas. Ini jadi metode baru menyiasati miskinnya lahan kosong di bawah yang padat bangunan.

Photo by: http://sustainablesupportivehousingnetwork.files.wordpress.com Photo by: http://sustainablesupportivehousingnetwork.files.wordpress.com

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Pemerintah Kota DKI Jakarta sempat mengimbau kapada para pemilik gedung perkantoran, hotel, maupun rumah huni, agar membuat taman atap. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ruang terbuka yang hijau, dan diharapkan bisa mengurangi emisi tar dan karbon dari asap polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Namun ternyata hal itu tidak mudah dilaksanakan. Karena biaya untuk membuat taman atap tidaklah murah. Baik untuk kelas bangunan besar seperti gedung perkantoran ataupun komplek perumahan.

Membuat taman atap tidak seperti menanam di tanah. Media tanah relatif jauh lebih mudah untuk ditanami, dan kita pun bebas untuk memilih jenis tanaman yang kita suka. Namun membuat taman atap harus memperhatikan struktur dan konstruksi atap yang spesifik. Bahkan menurut arsitektur dan desainer interior ternama, Taka Wong, untuk hasil yang optimal konstruksi atap untuk dirubah menjadi taman harus didesain sejak awal. Dengan kata lain sebelum bangunan itu didirikan. Namun diluar itu semua, kebutuhan akan keberadaan taman atap jauh lebih penting. Selain menambah keteduhan, taman atap juga bisa dimanfaatkan untuk menyerap gas-gas beracun yang ada di sekitar hunian kita.

Menurut arsitek Irfan Hidayat, salah satu tahap awal membuat taman atap ialah memastikan atap dak beton dalam kondisi baik, serta siap diberi beban tambahan berupa tanah, kerikil, ataupun pasir. Lalu tambahkan lapisan waterproofing untuk menghindari kebocoran pada atap beton. Selanjutnya kita bisa menggunakan batu bata, dan menyusunnya secara berderet dengan jarak antar bata, sekitar 3 sentimeter. Fungsi jarak antar bata ini akan menjaga agar saat musim hujan tiba, air yang mengalir tidak tersendat sampai ke saluran pembuangan.

Tahap berikutnya kita bisa memasang sub base, atau lapisan tambahan yang merupakan campuran dari batu dan bahan ijuk. Tebalnya kira-kira 5 sentimeter. Campuran ini berfungsi untuk menyaring tanah agar tak ikut masuk ke saluran pembuangan ketika terbawa air hujan. Setelah lapisan sub base, Anda bisa menambahnya lagi dengan pasir yang akan membantu melancarkan fungsi sistem drainase. Sesudah lapisan pasir rata, tambahkan campuran tanah merah dan kompos dengan ketebalan 7-10 sentimeter. Ketebalan tanah diukur dari jenis tanaman apa yang akan anda tanam di atap. Pilihlah tanaman yang kuat dengan pancaran sinar matahari, tahan terhadap pasokan air yang jarang, juga tak banyak akarnya.

Salah satu tanaman yang mudah dipelihara adalah bambu atau palem. Dua jenis tumbuhan ini bisa menyerap gas formalin dan uap yang dihasilkan bahan bakar seperti bensin ataupun solar. Tanaman bakung juga layak untuk dipelihara, ia juga mampu menetralkan gas formalin dari bahan bakar bensin dan menyerap alkohol dan aseton dari hasil penggunaan cat dan aseton.

Memperhatikan konstruksi atap bangunan menjadi hal yang perlu diperhatikan lagi di sini. Kita harus tahu betul kondisinya, apakah mendukung untuk beban media tanam berupa tanah dan pepohonan atau tidak. Karena pada dasarnya taman atap harus didukung oleh struktur dan konstruksi atap yang kuat. Timbunan tanah dan tanaman akan menambah beban mati, beban angin, dan tambahan air pada atap bangunan.

Jika yang akan ditanam adalah jenis tanaman perdu (tanaman semak) seperti agave, bougainville, kacapiring, Anda harus memperhitungkan beban yang akan bertambah sekitar 650 kilogram setiap meter perseginya. Ditambah lagi untuk beban hidup sesuai aktivitas pada taman atap itu. Misalnya, 400 kilogram per meter persegi untuk area olah raga, 500 kilogram untuk kegiatan pesta kebun, serta 250 kilogram per meter persegi untuk restoran.

Jika Anda ingin menanam pohon berukuran besar, plat lantai lokasi harus didukung kolom struktural agar tidak runtuk. Selain itu perlu juga dibuat dinding penahan tanah, karena pohon memerlukan ketebalan tanah yang cukup, atau akan membuat lubang pada atap bangunan di bawah pohon tersebut.

Untuk media tanam, formulanya juga harus ringan namun memiliki kemampuan menyediakan zat hara dan kelembaban. Misalnya dengan mencampurkan pasir dan serutan kayu, ditambah lapisan kulit pinus serta pupuk. Kedalaman media tanam untuk rumput membutuhkan 20 sampai 30 sentimeter, sementara semak dan pohon kecil membutuhkan kedalaman 60 – 105 sentimeter.

Secara umum membuat taman atap memang terkesan susah, namun sangat layak untuk dicoba. Karena keberadaannya selalu membawa penyegaran udara, bukan hanya bagi para penghuni  kediaman, tapi juga lingkungan di sekitar kita.

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.