Train, Save Me San Fransisco Tour
December, 7th 2011 | by Nevy Elysa | Comments: 0
Tepat di 5 Desember pukul 21.30 WIB, ‘Kereta’ asal San Fransisco ini berangkat. Tiga orang masinisnya; Patrick Mohanan (vokal), Jimmy Stafford (gitar, vokal), Scott Underwood (drum) melaju penuh kejutan.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Tepat di 5 Desember pukul 21.30 WIB, ‘Kereta’ asal San Fransisco ini berangkat. Tiga orang masinisnya; Patrick Mohanan (vokal), Jimmy Stafford (gitar, vokal), Scott Underwood (drum) melaju penuh kejutan. Walhasil penumpang di dalam gerbong Atrium Epicentrum Walk dibawa larut dalam perjalanan penuh keriaan.
Aditya tampil sebagai pembuka. Meski di depan barisan penonton terlihat rapat, tapi tidak di bagian belakang. Tempatnya terlihat lengang dan banyak yang memilih duduk sambil melihat penampilan Aditya lewat dua layar besar di sisi kanan dan kiri panggung. Total tujuh lagu dibawakan. Dua lagu terakhir –‘Be Mine’ dan lagu lama milik Chrisye,’ Juwita’, cukup akrab di telinga penonton. Kontan mereka ikut nyanyi bareng Aditya.
Menjelang Train naik panggung, penonton terus berdatangan. Atrium mulai terasa sesak dan hawanya mulai panas. Meski diletakkan beberapa kipas angin besar yang menyemburkan air, tak mampu menyejukkan venue.
Suara kereta jadi latar pembuka konser Train yang bertajuk “Save Me, San Fransisco”. Trio ini menghadirkan ‘Parachute’ yang ngerock sebagai lagu pembuka. Selanjutnya, lantai Atrium terus dibuat bergetar dengan musik-musik keras Train dan hentakan penonton.
Lagu ke empat, ‘Don’t Stop Believing’ jadi pembuka keriaan perjalanan malam itu. Sang vokalis, Patrick Mohanan (Pat), mengajak seorang penggemar perempuan naik ke panggung dan duet dengannya. Meski hanya berbagi mic di setengah lagu, penampilan keduanya dapat sambutan dari penonton.
Keriaan terus berlanjut karena Train berubah jadi Sinterklas. Sambil membawakan lagu ‘She’s on Fire’ yang diaransemen ala lagu country, Pat mengenakan topi jerami. Nah, begitu lagu selesai dinyanyikan, ia menerbangkan si topi ke arah penonton. Tak hanya topi, tapi juga gitar akustik lengkap dengan tanda tangan sang vokalis jadi hadiah istimewa untuk penonton di barisan depan.
Jeda menjelang lagu ke delapan, Pat meminta belasan penonton perempuan naik ke atas panggung. Mereka dihadiahi kaos putih dengan aksen merah dibagian tangan, bertuliskan ‘Trainers’, sebutan untuk fans Train. Selanjutnya mereka diajak joged dan nyanyi penggalan refrain lagu ‘Soul Sister’. Pat hanya bisa geleng kepala dan tertawa melihat aksi perempuan-perempuan ini diatas panggung.
Selesai bagi-bagi hadiah, di lagu ‘Marry Me’ Pat bikin aksi. Dia turun panggung dan menghampiri penonton di barisan depan. Sambil bernyanyi, Pat mengambil kamera atau handphone penonton dan memotret dirinya diantara kerumunan penonton. Usai lagu, ia kembali ke panggung dan berteriak “We’re married, Jakarta”.
Intro “Soul Sister” dimainkan, langsung dapat respon histeris. Semuanya ikut sing a long dari awal hingga akhir lagu. Tampaknya ini klimaks dari konser yang sukses di saksikan kurang lebih 1.500 penonton. Usai itu Train langsung menghilang dan sebagian penonton memilih keluar. Tapi tidak dengan mereka yang berdiri di depan. Mereka kompak jadi paduan suara memanggil Train. Tak seperti aksi menghilang sejenak di kebanyakan konser yang jeda waktunya kadang-kadang cukup lama, Train hanya hilang satu menit. Train langsung memainkan “Words” dan “Drops” sebagai encore. Menutup perjalanan berkereta malam itu, Pat mengucapkan “See you soon, Jakarta”, sambil meninggalkan panggung.
Contact the writer at nevy.elysa@mediasatu.com
Follow her on Twitter


Comments
Be the first to comment.