FROM OUR DESK

Di Hari Anti Korupsi

December, 9th 2011 |  by  Bayu Maitra  | Comments: 0

Korupsi adalah serapan dari kata dalam bahasa latin, corruptio, dari kata kerja corrumpere. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia berasal dari kata “korup”, yang artinya busuk, rusak, buruk. Kata ini gencar sekali dieksploitasi di Indonesia.

Sumber ilustrasi: diandono.blogdetik.com Sumber ilustrasi: diandono.blogdetik.com

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Korupsi adalah serapan dari kata dalam bahasa latin, corruptio, dari kata kerja corrumpere. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia berasal dari kata “korup”, yang artinya busuk, rusak, buruk. Kata ini gencar sekali dieksploitasi di Indonesia. Orang pasti tahu bahwa konotasi “korupsi” itu negatif, meski belum tentu tahu arti katanya.

Hari ini, 9 Desember, dicanangkan sebagai hari anti korupsi internasional. Media ramai memberitakan kembali kasus-kasus korupsi yang belum selesai di negeri ini. Ada yang meledek koruptor dengan penggunaan “isme”, misalnya “Gayusisme”. Ini ditujukan oleh orang-orang yang, seperti Gayus, berani melawan hukum dan bisa main kucing-kucingan dengan aparat. Gayus bisa nonton tenis dan jalan-jalan ke Singapura selagi menjalani hukuman penjara. Pertanyaan: yang korup siapa?

Menarik juga melihat talkshow pagi ini di Kompas TV. Mereka mengutip data Survei Integritas Sektor Publik Indonesia 2011 dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal lembaga dengan tingkat kerawanan korupsi paling tinggi. Hasilnya, peringkat pertama adalah Kementerian Agama. Penyebab utamanya diduga karena penyelewengan dana haji.

Kementerian Agama semestinya diisi oleh orang-orang terbaik dari seluruh republik. Sungguh mengerikan jika membayangkan anggaran yang berjumlah 37,3 triliun—nomor dua terbesar setelah Kementerian Pertahanan yang berjumlah 64,4 triliun—berada di tangan lembaga dengan tingkat kerawanan korupsi paling tinggi. 

Buat saya, adalah ironis melihat Kementerian Agama yang seperti ini. Yang lebih rumit adalah, kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang seperti religius. Konsekuensinya, ia menempatkan agama pada tempat yang sulit dijangkau, bahkan oleh tangan keadilan sekalipun.

Seorang teman bilang, “life is an irony in most cases.” Ia mungkin benar. Pun begitu, tidak ada gunanya berputus asa. Karena, bagaimana pun, kita telah maju selangkah. Animo anti korupsi yang terasa hari ini adalah buktinya.

Edmund Burke, negarawan asal Irlandia pernah bilang, “Among a people generally corrupt, liberty cannot long exist.” Saya pikir semua orang mesti sadar ini.

 

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.