HOT SEAT

Iwet Ramadhan dan Maudy Koesnaedi

December, 12th 2011 |  by  Tim Redaksi Area  | Comments: 0

Kabaret Keroncong yang diproduseri Iwet ramdhan dan Maudy Koesnaedi sukses membuat orang terpukau. Inilah obrolan super seru penuh tawa area selama 74 menit dengan keduanya!

Photo by: Hery Ananta Photo by: Hery Ananta

Photo by: Hery Ananta Photo by: Hery Ananta

Photo by: Hery Ananta Photo by: Hery Ananta

Photo by: Hery Ananta Photo by: Hery Ananta

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Pada 17 November lalu, Kabaret Keroncong yang diproduseri oleh Iwet Ramadhan dan Maudy Koesnaedi sukses membuat banyak orang terpukau. Tak hanya penampilan, aksi nekat mereka mewujudkan sebuah pertunjukan hanya dalam waktu dua bulan dengan budget pas-pasan pun mengundang decak kagum!  Inilah obrolan super seru  dan penuh tawa area selama 74 menit dengan keduanya!

Bagaimana ceritanya hingga kalian berdua bisa terlibat dalam produksi Kabaret Keroncong?
Iwet: Maudy dan saya telah saling mengenal sejak lama. Suatu kali, saya bilang sama dia kalau Teater Abang None ada lagi, maka saya ingin terlibat. Nah, akhirnya sebelum bikin Sangkala dia menagih janji saya! Melihat cara kerja dan kecintaannya pada budaya, akhirnya saya kembali bergabung di proyek Kabaret Keroncong.


Kenapa memutuskan menggelar Kabaret Keroncong? Apa yang menjadi inspirasi dan motivasinya?
Kabaret Keroncong muncul sebagai salah satu bentuk kepedulian dan kecintaan kami terhadap kebudayaan. Ini juga menjadi aksi nyata dalam menyalurkan kepedulian kami terhadap para veteran perang.  Ide awalnya muncul dari Mas Oleg Sanchabaktiar (Penata Artistik) untuk melakukan sesuatu untuk para veteran. Kira-kira 5 hari sebelum Lebaran idenya tercetus dan setelah libur Lebaran baru terlaksana. Persiapan efektifnya dua bulan dimulai pada saat kami benar-benar akhirnya nekat memutuskan jalan dengan segala kesiapan secara moril karena saat itu materilnya belum ada.  


Dari sekian banyaknya kebudayaan dan jenis musik yang dapat diolah, kenapa akhirnya keroncong yang keluar menjadi juara?

Maudy: Karena kita ingin bikin sesuatu untuk orang tua, maka kita harus memikirkan apa yang mereka suka. Kalau orang tua dan veteran pasti sukanya dengan keroncong. Ini semua in line dan diamini oleh Mas Oleg. Saya pun tumbuh pada era-era lagu keroncong jadi saya pun sangat menikmati bukan hanya dipas-paskan dengan orang tua dan keroncong tapi tanpa latar belakang.
Iwet: Saya pun dibesarkan dengan musik keroncong, ha-ha-ha! Selain itu saya juga suka menggali mengenai suatu fakta dan sejarah keroncong sangat menarik! Bahkan fun facts tentang keroncong pun kita cantumkan juga pada buku acara. Oh ya, itu kita nyontek dari area, lho, ha-ha-ha! 

Bagaimana menyiasatinya mengingat kesibukan Anda berdua?
Maudy: Karena kami termasuk Mas Oleg Sanchabaktiar pada saat persiapan memiliki kegiatan yang padat, maka jalur shift pun ditempuh. Iwet shift pagi, sementara saya malam. Saya di bagian produksi dan Iwet menangani media dan klien. Setiap malam saya meneror Iwet dengan email dan sebaliknya ia pun memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan, ha-ha-ha!
Iwet: Prosesnya memang gila. Untungnya, Maudy sudah terbiasa menangani pertunjukkan dan ia termasuk orang yang kalau sudah terjun kepada sesuatu hal akan sampai ke akar-akarnya dan sangat detail sehingga saya benar-benar tenang dan bisa konsen ke klien, ha-ha-ha!

(Maudy) Anda telah berperan sebagai produser dalam beberapa gelaran, apakah ada pengalaman yang berbeda terutama antara Sangkala dan Kabaret Keroncong?
Meskipun waktu persiapannya lebih singkat, yaitu hanya dua bulan efektif tapi ini sangat menyenangkan. Apalagi, dengan adanya Iwet yang cengengesan, ha-ha-ha!

Kabarnya, Kabaret Keroncong mengalami kesulitan dalam pendanaan. Kira-kira apa yang membuat pementasan ini kurang mendapat respon?
Iwet: Awalnya, kami ingin proyek ini menjadi proyek idealis dan kita mau jual mahal bersih dari logo sponsor, tapi akhirnya dua minggu menjelang hari-H, kami langsung mematahkan idealisme, ha-ha-ha! Memang, ide kami ini dipandang sebagai sesuatu yang menarik, tapi saat beranjak ke soal sponsorhip, banyak hal mulai dipertanyakan dan tidak sedikit pula yang menyangsikan. Setelah menonton justru mereka baru mengakui bahwa Kabaret Keroncong memang oke.
Memang, ini bukan masalah komersil semata, tetapi ini adalah dedikasi kami terhadap para orang tua. Kepuasan dari para orang tua dan veteran yang menyaksikan Kabaret Keroncong dan yang terlibat dalam program 'Eyang Sayang' yang benar-benar berharga bagi kami. Kebahagiaan dari orang-orang benar-benar membayar jerih payah kami!
Maudy: Saya dan Iwet menjalani proses produksi kabaret yang membutuhkan biaya bahkan lebih besar dari Sangkala ini dengan modal nekat. Baru beberapa waktu setelah kami sebarkan broadcast message melalui BBM berbagai pihak menghubungi untuk mengutarakan ‘ketertarikannya’. Karena, keroncong sangat spesifik, sebelum kita broadcast info, H-14 dan Iwet masih hanya berpegang teguh pada niat baik kami untuk menyenangkan para orang  tua.

(Maudy) Bisa diceritakan tentang keterlibatan EKI Dance Company?
Banyak penyelenggara event tapi jarang yang khusus untuk pertunjukkan teater kecuali EKI! Memang ada Teater Koma, tapi dia adalah bisnis keluarga, akhirnya kami menggandeng EKI Dance Company.

Kabaret Keroncong memiliki tema yang segmented, lalu bagaimana cara Anda menyiasati hingga bisa diterima oleh semua kalangan mengingat adanya gap pemahaman atau cara  pandang antara orang tua dan anak muda?
Iwet: Nah, kalau soal itu, Mas Rusdy yang hebat! Mas Rusdy adalah orang yang memiliki ide brilian dan sangat perhatian hingga ke detail terkecil sekalipun seperti tingkat keterangan lampu. Adanya LMFAO yang dinyanyikan secara keroncong dan disusul dengan pertunjukan keroncong juga menjadi salah satu cara bagi kami untuk menjembatani jurang antara orang tua dan anak muda. Pokoknya yang ada dibalik konsep tersebut dia semua, deh!
Maudy: Kita belum pernah bekerja sama dalam sebuah proses produksi pertunjukan dengan EKI dalam waktu sesingkat ini. Untuk Mas Oni dan yang lainnya sudah pernah. Sebenarnya, masih ada jurang dengan EKI untuk cara pandang, cara kerja, dan lain sebagainya yang masih perlu diselaraskan dan dikomunikasikan.Tapi, dengan kondisi yang seperti itu saja hasilnya sudah JRENG! Bisa dibayangkan bagaimana kalau waktu lebih panjang dan chemistry sudah terbangun lama. 

Apa pengalaman paling berharga saat terlibat dalam produksi Kabaret Keroncong?
Iwet: Pengalaman paling membekas adalah pada bagian Program ‘Eyang Sayang’. Dalam program tersebut, kami ‘mentraktir’ ke-140 veteran untuk jalan-jalan keliling Jakarta, makan siang di Pala Lada Restaurant, dan ditutup dengan menyaksikan Kabaret Keroncong.  Senyum lebar dan kepuasan dari para veteran benar-benar membuat kami sangat bahagia. Bahkan, pada saat melihat reaksi dan kebahagiaan mereka, saya menangis, ha-ha-ha!
Maudy: Reaksi dari para veteran berupa senyuman dan momentum kebahagiaan mereka! 

Kenapa Anda berdua begitu peduli kepada kebudayaan Indonesia?
Iwet: Orang Indonesia terlalu kebarat-baratan dan tidak memegang akar budaya. Globalisasi setengah mati, tapi akar budaya tidak dipegang, ya, hasilnya ugal-ugalan! Semua ini adalah bentuk aksi nyata kami! Kalau orang-orang kebanyakan hanya berusaha memprovokasi padahal tidak melakukan aksi nyata, tetapi tidak demikian dengan kami. Dan, kami berdua senang mendalami kekayaan budaya dan berusaha mengedukasi.
Maudy: Saya sadar betul, Indonesia memiliki banyak masalah yang harus diperhatikan. Tapi, bukan berarti kebudayaan dapat diabaikan karena selain identitas, kebudayaan juga penyeimbang. Bali dan Jogja dengan segala modernisasi tetap memegang teguh kebudayaan mereka, kenapa Jakarta tidak? Ini adalah minat dan kecintaan aku! Anak-anak muda sekarang tuh kegiatannya hanya itu-itu saja, film udah gak ada, ngapain lagi mereka? Seharusnya bisa ikut melestarikan kebudayaan. Memang, yang terbayang dengan anak muda hanya yang dull, padahal sebenarnya tidak!

(Maudy) Apakah berarti, selama beberapa kali Anda membuat seni pertunjukan yang mengangkat tentang kebudayaan benturannya selalu sama?
Iya! Kalau soal kebudayaan, orang-orang memang selalu menutup mata pada awalnya. Banyak orang bperpendapat isu kebudayaan tidak menjual. Tapi, masih banyak juga pihak-pihak yang juga sama pedulinya dengan kami. Lalu, kalau untuk produksi ya sama saja dengan yang lainnya, tentu, materil pun tidak luput.

Apakah kalian berencana membuat Kabaret Keroncong lagi?
Iwet: Ya, kami akan membuatnya lagi. Thrill yang kami rasakan gila! Rasanya gak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, ini adalah pengalaman yang benar-benar berharga. Memang, niat awal kita Kabaret Keroncong akan menjadi brand dan akan menjadi serial. Ceritanya memang akan macam-macam tapi intinya tetap mengenai keroncong.
Maudy: Kami pada dasarnya siap! Apalagi kami bermisikan budaya, responnya pun sangat bagus jadi kami sangat percaya diri, tapi lagi-lagi kami tetap memerlukan dukungan materil.



Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.