FACES OF JAKARTA

Said Neleng (60)

December, 14th 2011 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 0

Saya menemui pemimpin grup 3 Bersaudara, grup kesenian musik tradisional tanji asal Betawi satu-satunya di Jakarta Selatan, di rumahnya di Jagakarsa. Diselingi menyantap sayur asem dan ayam goreng, inilah cerita seseorang yang konsisten menjaga warisan budaya Indonesia.

Mengapa Anda memilih kesenian musik tradisional tanji ini?
Semua berawal dari amanat orangtua untuk mempelajari dan menjaga kesenian asli Betawi. Peralatan musik yang saya punya juga peninggalan orangtua. Bisa dibilang turun-temurun lah.

Sejak kapan Anda menekuni tanji?
Sudah mulai maen sejak 1960, kemudian saya menjadi pimpinan grup ini pada 1973, setelah abang saya yang jadi pimpinan sebelumnya meninggal dunia. Asal muasal nama 3 Saudara, saya ambil dari jumlah saudara saya yang masih hidup. Gara-garanya, saya dapat ‘tanggapan’ dari Pemda tapi belum punya nama, dan orang dari Pemda itu nyuruh saya buat nama grup.

Anda khusus menjalani tanji saja?
Sekarang iya. Waktu almarhum abang saya yang mimpin, ada lenongnya juga. Namun sekarang sudah nggak ada karena temen-temen udah banyak yang meninggal. Jadi, saya ngejalanin tanji aja.

Saya lebih mengenal tanjidor dibanding tanji. Apa perbedaan di antara keduanya?
Tanji itu para pemainnya berjumlah 10 orang dan semua laki-laki, termasuk penyanyinya. Kalau tanjidor sudah kombinasi; ada unsur dangdut, jaipong, dan sindennya juga perempuan. Tapi sekarang saya fleksibel tergantung yang mau nanggep, mau tanji apa tanjidor.

Apa saja alat musik yang digunakan dalam tanji, dan apa spesialisasi alat musik yang Anda gunakan?
Plistone, suling, tenor, trombone, bass, klarinet, kendang, bedug, trumpet. Terus terang, saya nggak jago-jago amat, tapi sebagai pimpinan kudu bisa nguasain semua alat. Kalau suatu saat ada pemain saya yang berhalangan, saya yang ngisi. Bisa dibilang saya pemain cadangan aja. Ha-ha.

Saat ini, berapa anggota tetap dari kelompok 3 Bersaudara?
Semua 9 orang dan semua masih saudara, termasuk salah satunya anak saya.

Dalam sebulan, berapa kali mendapat order dan berapa biaya menyewa kelompok Anda?
Sebulan minimal 4 kali, kalau biaya sekali maen Rp3 juta.

Bagimana perhatian Pemerintah terhadap tanji?
Pemda biasanya kasih uang dan memberikan peralatan-peralatan baru tiap 5 tahun sekali. Hanya bass (alat tiup besar) yang nggak ada. Bass yang saya punya buatan 1894, tuaan dia dibanding saya. Ha-ha. Tapi perlu digiatin lebih gencar lagi supaya budaya Betawi nggak hilang.

Kebudayaan Betawi apa saja yang hampir hilang?
Gambang kromong, lenong, topeng, wayang kulit Betawi, romannya itu punah karena nggak ada yang nanggap.

Siapakah Gubernur Jakarta yang paling memperhatikan kebudayaan Betawi menurut Anda?
Soerjadi Soedirja dan Fauzi Bowo.

 

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.