Bionarasi Tubuh Terbelah
December, 16th 2011 | by Astri Apriyani | Comments: 0
Termasuk dalam rangkaian acara Jakarta Biennale 2011 Maximum City: Survive or Escape, dua teater kampus berkolaborasi mementaskan lakon yang menggunakan material bambu.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Teater Studio Indonesia berkolaborasi dengan Teater Kafe Ide Untirta mementaskan Bionarasi Tubuh Terbelah. Pementasan yang disutradarai Nandang Aradea ini seluruhnya dikatakan menggunakan material bambu, mulai dari kostum, properti, juga setting, dengan penata artistik Otong Durachim.
Bionarasi Tubuh Terbelah memilih bambu sebagai materi utama bukan tanpa alasan. Bambu adalah sebuah tanaman yang kokoh. Otentisitas tubuh bambu enjadi metafora masa depan kondisi manusia yang diharapkan memiliki kekuatan dan kelebihan fisik, intelektual dan psikologis.
Teater ini menonjolkan sebuah narasi visual, didukung perkusi bambu yang ditata oleh Enry Johan Jaohari dan tembang oleh Ina Setiawati. Di luar itu, terlibat 12 pendukung pentas ini, yaitu Saly Al Faqir, Dindin Saprudin, Desi Indrayani, Akrom Lay, Imaf M. Liwa, Nandho Sumarna, Achu Syamsudin, Saduri Tebe Rahmat Darmawan, Safira Wiranda Maesaroh Atun, Vita Puspitasari, dan Devi), yang sudah melalui berbagai workshop selama 2 bulan.
Bionarasi Tubuh Terbelah ini sudah dipentaskan di halaman parkir Pusat Kegiatan Mahasiswa Untirta pada 12 Desember lalu. Mendatang, ia akan pentas di halaman Galeri Nasional Jakarta pada 16 Desember 2011, jam 20.00.
Fast Track:
Informasi: Selvi (085721941986)
E-mail: teaterstudio@yahoo.com
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter



Comments
Be the first to comment.