FROM OUR DESK

Dilema MRT di Jakarta

December, 21st 2011 |  by  Martin Johnindra  | Comments: 0

Kamis lalu, Singapura mengalami ‘bencana nasional’. Beberapa jalur MRT mendadak tak beroperasi. Kejadian ini pun berulang dua hari kemudian. Siapkah Jakarta menghadapi kejadian serupa?

MRT North South Line tak beroperasi pada Kamis (15/12) MRT North South Line tak beroperasi pada Kamis (15/12)

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Singapura, yang berdiri sejak 9 Agustus 1965, merupakan sebuah negara dengan luas sekitar 700 km2. Area yang tak besar ini membuat para perencana kota, di tahun 1967, memutuskan untuk membangun sistem transportasi massal yang berkesinambungan, yang salah satunya adalah Mass Rapid Transport (MRT).

Perencanaan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. MRT pertama resmi beroperasi pada 1987 dengan jalur North-South Line. Pemilihan jalur ini didahulukan karena melalui kawasan pusat kota yang memang memiliki kebutuhan tinggi akan transportasi publik. Sejak saat itu, MRT Singapura berkembang terus hingga saat ini. Circle Line, yang melingkar mulai dari daerah pelabuhan hingga pemukiman di kawasan tengah Singapura, resmi beroperasi mulai 8 Oktober 2011.

Perjalanan panjang yang berbuah keberhasilan Singapura dalam mengembangkan dan mengelola sarana MRT ini kemudian menjadi primadona. Ia bahkan menjadi acuan bagi pemerintah negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Indonesia adalah salah satunya. Namun, keberhasilan ini pada akhirnya menemukan masalah.

Pada Kamis (15/12) sekitar pukul 18.00, MRT North South Line mendadak berhenti beroperasi. Singapura mendadak ‘lumpuh’. Mengapa lumpuh? Karena, MRT ini melintasi kawasan bisnis juga perdagangan utama Singapura. Sekitar 127.000 kaum komuter terkena dampaknya dalam waktu hampir bersamaan. Ini terjadi ‘hanya’ karena masalah rel yang berakibat tak teralirkannya arus listrik guna menggerakkan kereta.   

Kejadian terburuk selama 24 tahun MRT beroperasi di Singapura ini langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah. Terlebih dengan kembali tak beroperasinya MRT North South Line yang kemudian disusul East West Line beberapa hari kemudian. Sabtu (17/12), sekitar 97.000 kaum komuter kembali menjadi korban. Berbagai bis tambahan langsung dikerahkan ke segala penjuru yang terkena imbas MRT tak beroperasi. Di jalur MRT lain, penambahan kereta langsung dilakukan. Taksi pun hari itu sulit didapat.
 
Tak beroperasinya MRT di Singapura ini, bagi masyarakat Jakarta, mungkin tak terbayangkan baik suasana maupun dampaknya. Ya, MRT di Jakarta masih sebatas wacana. Tapi, paling tidak kita bisa melihat kondisi transportasi kita sendiri.

Berbagai sarana transportasi di Jakarta hampir setiap hari dipenuhi masalah. Kereta Jabodetabek selalu penuh sesak, tanpa ada penambahan kereta. Bis kota dan angkutan kota masih dalam kondisi tak manusiawi. Pelayanan Transjakarta juga semakin menurun kualitasnya. Kesemuanya ini adalah gambaran nyata dari wajah transportasi umum di Jakarta. 

Singapura, yang terkenal dengan perencanaan matang dalam segala lini plus pengawasan ketat saja, bisa mengalami kelumpuhan. Bayangkan jika hal serupa terjadi pada kereta di Jakarta. 

Sudah waktunya pembenahan transportasi umum di Jakarta menjadi prioritas utama.

 


Contact the writer at martin.johnindra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.