FACES OF JAKARTA

Maman A.S (59)

December, 21st 2011 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 0

Satu lagi sebuah profesi unik dan vital tapi keberadaannya hampir tidak dikenal luas, perawat bayi satwa. Pria ini telah menjalani profesinya selama 26 tahun.

Pria tua eksentrik dengan pembawaan santai dan apa adanya ini menyambut  kami di ‘markas’ sekaligus rumah keduanya di Kebun Binatang Ragunan. Kebun binatang ini dipenuhi berbagai macam satwa yang sudah dianggap anak-anaknya sendiri.

Bagaimana awalnya Anda  bisa menjadi perawat bayi satwa?
Saya memang cinta binatang. Ketika kuliah, saya suka membawa musang ke kampus, sampai akhirnya Dekan menawarkan untuk bergabung dengan Ragunan dan saya menyetujuinya.

Kuliah di mana?
Universitas Indonesia Fakultas Sastra Jurusan Sejarah angkatan '74. Tapi tidak lulus karena memilih masuk Ragunan untuk mengurus satwa.

Hewan apa yang pertama kali Anda urus?
Kuda Nil pada 11 Maret 1983. Saya memulainya dari nol karena biasa merawat burung dan musang, setelah itu mulailah merawat harimau, macan tutul, gajah, beruang. Saya mempelajarinya secara otodidak (baca buku dan menonton video cara merawat satwa).

Apa saja hewan rawatan Anda saat ini?
Kakaktua dan Bayan, berang-berang, trenggiling, kukang, singa, harimau dan macan tutul.

Status Anda bekerja di Kebun Binatang Ragunan sebagai PNS?
Saya pegawai honorer dari 1983 hingga pensiun 2009, sekarang harian lepas. Saya tidak mempermasalahkan materi yang penting hobi tersalurkan. Kenapa hingga kini masih getol di Ragunan? Karena banyak ‘anak-anak’ saya di sini.

Pasti banyak pertanyaan mengapa Anda menjalani profesi ini?
Banyak banget. Jawaban saya, "Saya hanya mewakili orang-orang yang tidak sempat merawat satwa, karena satwa juga merupakan bagian dari bumi." Hidup mati saya untuk satwa.

Adakah cara tersendiri agar hewan yang Anda rawat patuh pada Anda?
Kita harus mempelajari karakter binatang, memperhatikan waktunya bermain, makan, istirahat dan mengajaknya ngobrol. Apabila ada yang lagi marah, kita ajak bicara dengan nada yang lembut, hewan itu lama-lama akan turun emosinya. Sama seperti memperlakukan manusia kok. Bedanya hewan itu mengenali tuannya itu dari suara kemudian baunya.

Pekerjaan Anda bisa dibilang berisiko, apakah Anda memiliki ‘pegangan’?
Ha-ha, nggak ada sama sekali, percayakan saja sama Tuhan.

Apa perbedaan profesi Anda dengan pawang?
Bedalah, kalo pawang itu ada ilmu yang harus dipelajari, bacaannya dan pasti berguru, kalo saya berdasarkan pengalaman saja.

Sejauh mana perhatian Pemerintah terhadap pemeliharaan satwa?
Kurang sekali. Seperti di Kalimantan, Pemerintah itu kok lebih memberi kesempatan kepada pihak-pihak yang membuka lahan kelapa sawit hingga banyak dibantainya orangutan.

Adakah hewan yang Anda takuti?
Ada. Ular sama ulat bulu.

 

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.