ART & CULTURE

Monolog-monolog di Hari Ibu

December, 21st 2011 |  by  Astri Apriyani  | Comments: 0

PKJ-Taman Ismail Marzuki merayakan Hari Ibu dengan pentas tiga monolog.

Pentas monolog ini bakal digelar pada 23 Desember 2011, sebagai peringatan Hari Ibu yang dirayakan sehari sebelumnya. Memilih venue di Graha Bakti Budaya, pentas ini menghadirkan tiga monolog yang dibawakan oleh Putu Wijaya, Liza Syahtiani, dan Herlina Syarifudin. Dengan tiket seharga Rp50.000 dan Rp30.000, silakan saja datang ke gedung pertunjukan pada jam 20.00.

Dalam pentas monolog ini, tiap pemonolog membawakan naskah berbeda-beda. Putu Wijaya memilih membawakan Pesan Ibu Lelaki Sejati. Ini adalah sebuah naskah yang terinspirasi oleh surat liar di e-mail. Putu kemudian membuat cerpen darinya. Naskah ini memaparkan berbagai pertanyaan seorang perempuan muda kepada ibunya. Seperti sang perempuan itu bertanya, seperti apa lelaki sejati itu, dan di mana bisa ditemukan lelaki sejati. Pun ketika sang ibu mengatakan, lelaki sejati di dunia ini sudah habis, ibu merasa perlu mengatakan, dunia tidak kemudian jadi segelap yang disangka sang perempuan.

Monolog kedua, oleh Liza Syahtiani, berjudul Sybil, terinspirasi dari novel karangan Flora Rheta Schreiber. Kisahnya sama seperti yang sudah kita kenal. Menceritakan Sybil, seorang anak yang memiliki kepribadian banyak. Ini semua terjadi karena sejak kecil ia mendapat perlakuan buruk dari ibunya, seorang pengidap schizoprenia. Perlakuan buruk ini menyebabkan Sybil tidak mampu mengungkapkan kemarahan, kesedihan dan emosinya, lalu memicu munculnya personal-personal lain dalam dirinya.

Monolog ketiga, yaitu Tumbal Dewi Cokek, yang dibawakan oleh Herlina Syarifudin. Yang terakhir ini mengisahkan Romlah, anak penjual minuman di warung bawah banner TIM, yang mimpi bertemu penari cokek tua. Penari itu bilang, Romlah adalah titisan terakhir Dewi Cokek yang harus menemani 2012 tamu dalam waktu 12 bulan untuk mencapai tingkat kesempurnaan sejatinya tari cokek. Kita mengenal cokek tidak cuma sekadar tarian, tapi juga sebuah jalan keluar untuk mengembalikan syahwat para lelaki yang suka 'jajan' agar kembali mesra dengan istri. Jika tidak memenuhi target, sang leluhur akan meminta tumbal sejumlah 21 wanita malam sebagai hukuman bagi Dewi Cokek, yang salah satunya adalah ibu kandung Dewi Cokek. Tidak berjalan mulus, usaha Romlah mendapat perlawanan dari Kyai Cikini yang tidak setuju akan keberadaan tari Cokek.

Tiga monolog ini akan dikemas dalam satu pertunjukan di GBB nanti. Masing-masing naskah akan membuka mata kita terhadap perspektif dan sudut pandang sebuah posisi bernama "ibu". Selamat menikmati.

 

Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.