Akmal N Basral: Disiplin Jurnalistik Sangat Membantu Saya
January, 17th 2012 | by Iwan Setiawan | Comments: 0
Mantan wartawan Tempo dan Gatra, belakangan menempuh karier ‘baru’ sebagai penulis cerita pendek dan novel
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Dalam waktu beberapa tahun, sejumlah novel berjudul Imperia, Sang Pencerah, dan Presiden Prawinegara cukup mewarnai dunia satra Indonesia. Salah satu cerpennya sempat masuk dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas. Karyanya selalu memiliki warna jurnalistik yang kuat, tapi tetap kaya dengan pengolahan kata yang matang, sehingga enak dibaca. Apa yang membuatnya pindah jalur?
Anda sempat jadi wartawan, sebelum kini menulis novel. Apa yang menjadi turning point Anda terhadap 'peralihan' ini?
Saya sempat menjalani profesi ganda sebagai wartawan dan novelis selama 5 tahun (2005-2010), setelah sempat 11 tahun sebelumnya (sejak 1994) hanya menjadi wartawan. Dalam masa 5 tahun "menimbang-nimbang" itulah akhirnya saya memutuskan untuk serius menjadi novelis (penulis fiksi) dan meninggalkan dunia jurnalistik pada awal 2010.
Bisa diceritakan perbedaan yang Anda rasakan, ketika tidak lagi menjadi wartawan, tapi menjadi full timer writer?
Secara kreatif, disiplin dunia jurnalistik dalam melakukan verifikasi sangat membantu saya sebagai penulis. Apalagi sebagai full time writer genre saya juga realisme yang membutuhkan banyak deskripsi.
Selain menulis novel, Anda juga menulis cerita pendek. Bisa ceritakan proses kreatif Anda dalam berkarya?
Dalam menulis cerita pendek, proses kreatif biasanya dimulai ketika di kepala saya terpantik sebuah embrio cerita yang penyebabnya bisa dari mana saja: kejadian yang saya alami, tayangan di televisi, berita di koran, syair lagu, atau setelah mengunjungi satu tempat tertentu. Tapi biasanya embrio itu mengendap selama beberapa waktu, tidak langsung saya tuangkan dalam bentuk cerita.
Ada beberapa karya Anda yang kemudian difilmkan, seperti Naga Bonar dan Sang Pencerah. Bagaimana ceritanya karya-karya tersebut bisa dipercayakan kepada Anda dan bagaimana menyikapi 'karya pesanan'?
Novel saya yang berkait dengan film ada 3: Nagabonar Jadi 2 (2007, sutradara: Deddy Mizwar), Sang Pencerah (2010, sutradara: Hanung Bramantyo), dan Batas (2011, sutradara: Rudi Soedjarwo). Dua novel pertama saya diminta langsung oleh sang sutradara, sedangkan untuk Batas, saya diminta menuliskan novelnya oleh Produser Eksekutif/pemeran utama wanita Marcella Zalianty. Cara menyikapinya sama saja dengan karya-karya saya yang lain: serius. He-he-he!
Bisa ceritakan keseharian Anda, jika sedang berkarya lalu mengalami writers block, apa yang dilakukan?
Kalau writers block terjadi late night, biasanya saya keluar rumah, duduk di teras menghadap taman, memandang kerlip bintang di langit. Kalau sudah total WB, pilih tidur. Kalau terjangkit WB siang hari bisa lebih gampang mengatasinya, dari baca buku (novel karya penulis lain), sampai keluar rumah (renang, gym), atau jemput anak-anak ke sekolah.
Ada karya terbaru yang bakal keluar di 2012? Bisa ceritakan tentang apa dan dari mana datangnya ide untuk karya tersebut?
Yang sudah siap edar ada 2. Pertama, Anak Sejuta Bintang, kisah tentang seorang anak (periode TK dan SR/SD) di Jakarta, awal tahun '50-an, dan persahabatannya dengan anak-anak lain dalam sebuah lembaga pendidikan yang dikelola para Republiken. Insya Allah novel ini rilis 28 Januari. Yang kedua adalah Napoleon dari Tanah Rencong, juga setting era '50-an, cuma menyangkut pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Aceh yang dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh. Karena kedua novel ini diterbitkan oleh dua penerbit berbeda, jadi mungkin saja jadwal rilis akan berdekatan.



Comments
Be the first to comment.