Antara Imlek, Hujan, dan Traveling
January, 17th 2012 | by Astri Apriyani | Comments: 0
Imlek sudah kita kenal sebagai salah satu perayaan tahun baru paling meriah di Indonesia; selain Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi. Yang ini, milik orang Tionghoa.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Perayaan ini dimulai di hari pertama bulan pertama (zheng yue) di penanggalan Tionghoa dan puncaknya adalah di tanggal kelima belas (saat purnama)--yang kita kenal dengan nama perayaan Cap Go Meh.
Imlek milik semua warga etnis Tionghoa; di China, Korea, Mongolia, Nepa, Bhutan, Vietnam, Jepang, Hongkong, Macau, Taiwan, Singapura, dan negara-negara lain dengan populasi Tionghoa yang signifikan, termasuk Indonesia. Semua perayaan tidak pernah jauh dari tema umum, seperti perjamuan makan malam, kembang api, barongsai, lilin-lilin, lampion, dan segala dekorasi serba merah. Merah dianggap warna keberuntungan.
Di Indonesia, warga keturunan Tionghoa punya catatan kelam yang panjang, sebelum akhirnya mulai bebas berekspresi dan bersuara di zaman Gus Dur sebagai presiden. Kali Angke (Angke artinya "merah") jadi saksi bagaimana warga keturunan Tionghoa dibunuh oleh kolonial Belanda pada 1740 ke kali di utara Jakarta. Dua abad setelahnya mereka bungkam. Hingga datang Orde Lama (1955-1965) dan Soekarno memberi warga Tionghoa tempat yang baik di negara ini. Beberapa keturunan Tionghoa bahkan menjadi menteri. Dan, lewat poros Jakarta-Peking, hubungan Indonesia-China sungguh dekat.
Ketika Orde Lama berakhir, artinya seakan kembali ke titik nadir bagi warga etnis Tionghoa. Era Orde Baru (1965-1997) hanya memberi sedikit ruang bagi mereka, hanya di sektor bisnis perdagangan. Dan, tiba kita pada sejarah 1998, menjelang lahirnya era reformasi. Orang-orang Indonesia--entah Indonesia yang mana--berubah bengis. Banyak perempuan keturunan Tionghoa jadi korban kekerasan, bahkan pembunuhan. Sementara, tidak sedikit pula keluarga keturunan yang rumah atau tokonya dijarah lalu dibakar. Orde Baru lalu betul runtuh setelah 32 tahun. Berganti era reformasi, yang (dijanjikan) lebih berpihak pada rakyat.
Kemerdekaan (kembali) bagi warga keturunan Tionghoa mungkin ditandai ketika pada 2000, presiden saat itu, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mencabut Inpres No. 14/1967 yang melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga. Oleh Gus Dur pula, dikeluarkan Keppres No. 19/2001 pada 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fluktuatif (hanya berlaku bagi yang merayakan). Megawati, presiden selanjutnya, lalu mengeluarkan Keppres No. 19/2002 yang meresmikan Tahun Baru Cina sebagai hari libur nasional. Sampai kini, kemeriahan Imlek tidak cuma milik warga keturunan Tionghoa, tapi juga seluruh warga Indonesia. Perayaannya kentara di seluruh pelosok negeri; di klenteng-klenteng, di jalanan, hingga di mal.
***
Tahun ini, Imlek jatuh di tanggal 23 Januari 2012. Ini adalah tahun baru perhitungan Tionghoa yang ke-2563. Tahun Naga Air, katanya. Menurut kepercayaan Tionghoa, shio naga itu mencerminkan idealisme, perfeksionisme, infleksibel, dan agresif. Shio ini juga disebut-sebut sebagai salah satu shio terkuat dan beruntung dalam astrologi China.
Lazimnya sebuah awal yang baru, muncullah berbagai prediksi atau ramalan berkaitan dengan Tahun Naga Air ini. Seperti apa yang dibicarakan Yohanes Cokrowibowo (konsulan Fengshui) yang dikutip dari detikFinance. Bahwa Tahun Naga Air adalah tahun yang sulit diprediksi, tahun yang polanya abu-abu sehingga tidak bisa diraba terlalu banyak. Menurutnya, tahun ini adalah tahun munculnya kepala naga air. Kalau tahun ini ekonomi bagus, tahun selanjutnya akan bagus. Kalau tahun ini jelek, 11 tahun ke depan akan jelek. Tapi, sekali lagi, ini prediksi. Anda boleh percaya, boleh tidak.
Soal kepercayaan, yang pasti, ada hal-hal yang warga Tionghoa yakini tidak boleh dilakukan di setiap Imlek. Kembang api dan petasan dipercaya akan menakut-nakuti roh jahat dan menarik dewa kekayaan ke depan pintu rumah. Sementara, amplop merah berisi uang tunai yang disembunyikan di bawah bantal pada malam Tahun Baru Imlek diyakini menangkal nasib jahat dan buruk. Jumlah uangnya pun mesti mengandung angka delapan. Delapan adalah angka keberuntungan bagi orang Tionghoa, karena "delapan" dalam bahasa Tionghoa terdengar seperti ungkapan "menjadi kaya".
Yang paling populer adalah bahwa Imlek identik dengan hujan. Hujan pertanda rezeki, mereka percaya. Konon, hujan membawa berkah untuk kehidupan setahun mendatang. Sebaliknya, jika tidak hujan, mereka percaya ini isyarat bahwa kehidupan di tahun depan akan banyak cobaan. Atau, sebetulnya sesederhana ini: Imlek jatuh selalu di musim penghujan?
***
Imlek tahun ini artinya long weekend. Imlek setiap tahun juga artinya mudik. Jadi silakan nikmati hari libur Anda. Dan, meriahkan Tahun Baru China kali ini.
Bagi pencinta traveling, setidaknya ada beberapa klenteng di Indonesia yang bisa jadi destinasi wisata Imlek Anda. Klenteng Pasar Petak Sembilan di Jakarta mesti masuk di daftar pertama. Selebihnya, ada Klenteng Boen Tek Bio, klenteng bersejarah di Tangerang juga boleh masuk list; Kota Seribu Klenteng di Singkawang, Kalimantan Barat; Klenteng Sampo Kong, Semarang, bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana China Cheng Ho (Sam Po Tay Djien); atau klenteng berusia 300-an tahun, Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal? Silakan pilih.
Selamat Tahun Baru Imlek. Xin Nian Kuai Le. Mari packing! :)
Sumber:
Wikipedia
www.menjelma.com
www.sosbud.kompasiana.com
www.mediaindonesia.com
www.tuanmudakhasan.blogspot.com
www.finance.detik.com
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter: @atre7


Comments
Be the first to comment.