Komodo dan Ranger di Pulau Rinca
January, 23rd 2012 | by Astri Apriyani | Comments: 0
Pulau Rinca adalah satu dari dua pulau di Flores yang didiami komodo-komodo cantik nan purba. Rama, biasa setiap pagi, berdiam di pos atau di gerbang Loh Buaya, menunggu siapa saja yang datang.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Berkaus kuning menyala bertuliskan Ranger di punggungnya, Rama pada 27 Oktober 2011 menyambut rombongan dari sebuah komunitas travel asal Jakarta. Nama komunitas tersebut adalah KeluaRumah. Perjalanan ini didukung penuh oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dihitung-hitung, ada 5 perempuan dan 6 lelaki.
Rama melihat rombongan tersebut turun dari sebuah kapal kayu bernuansa warna coklat. Belakangan diketahui, nama kapal tersebut adalah Fadaelo. Itu istilah dalam bahasa Flores yang artinya "suka sama suka".
Saat itu masih pagi di Pulau Rinca, pulau di sebelah barat Flores. Kabut masih kentara di mana-mana. Tapi, Rama sudah biasa dengan keadaan ini. Ya, setidaknya sudah nyaris 4 bulan ia menjadi ranger di Taman Nasional Komodo. Dingin dan tanpa listrik menjadi lazim untuknya.
Rinca dari gerbang Loh Buaya terlihat hijau. Banyak pohon rindang. Airnya juga gelap kehijauan. Menurut survei di tahun 2010, Rinca jadi rumah untuk kurang lebih 1.300 komodo.
Rama siap untuk pengawalan hari ini. Ini termasuk grup besar, karena lebih dari 10 orang. Sesuai prosedur, ia mengantarkan grup ini ke pos jaga Loh Buaya Taman Nasional Komodo. Jaraknya hanya 10 menit jalan santai.
Rombongan ini berjalan dalam diam. Mereka melewati jalan setapak tanah merah, sedangkan di sisi kirinya bukit berbatu dan pepohonan hijau. Di tengah-tengah ladang tanah merah, ada teriakan-teriakan, "Ada komodo, ada komodo." Yang teriak bukan Rama, tapi satu ranger lainnya.
Setelahnya, muncul scene yang sering sekali Rama lihat. Semua orang sibuk dengan kamera-kamera mereka. Sebagian besar adalah kamera DSLR. Rama hanya diam; berjaga dan waspada.
Rombongan itu puas memotret setelah setengah jam. Rama lalu mengawal mereka kembali ke arah menuju pos. Dan, ada teriakan lain. Kali ini suara Rama. Ada komodo lain yang menampakkan diri. Letaknya sekitar 50 meter dari titik kemunculan komodo yang pertama.
Jika komodo pertama sama sekali diam--seperti sedang berjemur--, komodo kedua ini bergerak. Arahnya menuju pos jaga Loh Buaya. Diwanti-wanti jangan terlalu dekat, sebelas orang ini memotret dari jarak sekitar 10 meter, menyelaraskan langkah dengan langkah sang komodo.
Rama masih berpikir keadaan ini aman, dan memang, mereka sampai di pos dengan selamat. Di halaman pos jaga inilah, Rama memberikan briefing sederhana tapi informatif, sekaligus memperkenalkan diri secara resmi.
"Saya Rama. Saya yang akan menjadi guide kalian hari ini di Rinca."
Ia lalu melanjutkan, "Wisatawan mau lokal atau asing harus ditemani ranger. Selama di Rinca, nggak boleh merokok, bikin api, buang sampah sembarangan, berburu. Nggak boleh ambil apa pun dari sini, termasuk batu."
Rombongan KeluaRumah ini rupanya memilih rute medium track. Itu berarti, mereka akan menempuh jarak 3 km dan menghabiskan waktu 1,5 jam pulang dan pergi (short track: 30 menit, long track: 4 jam).
"Kita berhenti di hunting place. Kalau banyak air, biasanya banyak komodo di siang hari. Tapi, ini wildlife ya, bukan kebun binatang, tergantung keberuntungan." Rama menunjuk denah Loh Buaya berukuran besar.
Oke, tongkat pemandu sudah siap di tangan Rama. Ini adalah peralatan satu-satunya dan penting untuk dibawa seorang ranger. Bentuknya adalah kayu panjang, dengan ujung siku. Ini mirip bentuk ketapel versi besar. Sebatang kayu ini 'saja' bisa melindungi manusia dari komodo.
"Hidung komodo itu sensitif. Jika disundul dengan barang keras, seperti kayu, mereka kegelian dan lari."
Tracking dimulai. Selepas dari pos jaga, rombongan tadi beranjak menuju rumah-rumah panggung, tempat tinggal para penjaga Taman Nasional. Tepat di bawah rumah panggung yang ditandai dengan papan nama "Dapur", melela 6 komodo berukuran besar. Keenamnya terlihat tenang.
Sebelas orang tadi pun kembali sibuk dengan kamera masing-masing. Sesekali memotret, sesekali berbisik, ada pula yang diam saja bergeming menatap para komodo di depan mereka. Rama dan partner ranger-nya hanya berulang-ulang kali mengatakan, "Jangan membuat gerakan tiba-tiba."
Rama merasa, perjalanan mereka hari itu masih cukup panjang. Karena itu, Rama mengajak orang-orang ini segera kembali berjalan, untuk lebih dalam memasuki hutan.
Memasuki hutan Rinca, yang dominan ditemui adalah pohon-pohon berdaun jarang dan beranting banyak. Tapi, jalan setapak sudah tersedia. Sampai di tengah hutan, tepat di depan kita, ada seekor komodo besar berjalan pelan.
Rama yang menjadi leader berbisik, "Jangan panik. Jangan berisik. Jangan lari." Sementara, ranger yang seorang lagi berada di belakang, sebagai sweeper. Rama melihat wajah semua orang ini pias bersamaan. Tapi, kembali tenang beberapa menit setelahnya, setelah melihat sang komodo berbelok ke kanan, keluar dari jalan setapak dan menghampiri sebuah sarang.
Kepanikan menyerang lagi ketika komodo yang sama melangkah bergegas menjauh dari sarang. Rama sering melihat ini. Rupanya, komodo tersebut diusir oleh betina komodo si pemilik sarang. Rama kembali mengingatkan, masih sembari berbisik, "Tenang, jangan panik."
Setelah kepanikan mereda, sunyi muncul. Maka, Rama mulai bicara lagi ketika menemukan pohon aren. "Bunganya pohon ini bisa buat gula atau tuak. Tuak di Flores namanya sopi. Kandungan alkohol tergantung kelasnya. Ada yang 30%, sampai 60-70% alkohol. Kalau yang 60-70% itu ya, kalau si sopi ditumpahin ke meja, dia menyala."
Sunyi lagi. Rama membiarkan rombongan ini menikmati perjalanan menuju puncak bukit di Rinca. Selain aren, pohon lontar, bidara, jarak, sampai jamur di atas kotoran bisa dilihat sepanjang perjalanan.
Lumayan, ini bukan rombongan yang neko-neko dan rewel. Dari sudut mata Rama, kesebelas orang ini seperti berpengalaman untuk urusan tracking. Mereka tidak mau lepas dari kamera masing-masing. Rasa ingin tahunya juga besar. Banyak pertanyaan yang muncul. Salah seorang dari mereka malah mengulik soal dirinya.
"Sampai kapan pingin jadi ranger?" kata si perempuan berambut pendek dan berkacamata, yang Rama tidak tahu namanya.
"Di Komodo ini cuma sampai Januari 2012. Ini juga magang."
"Nggak mau jadi ranger terus-terusan?"
"Wah, nggak. Susah soalnya, nggak ada listrik, nggak ada sinyal."
"Cita-citanya apa, kalau gitu?"
"Masih nggak tau juga," Rama tersipu. Rombongan lalu kembali hening, menikmati tracking.
Ketika tiba di bukit Rinca, Rama melihat excitement besar di wajah grup dari Jakarta ini. Rama maklum, view dari puncak bukit ini memang cantik. Banyak pinus berdiri tegak. Di tanah, rumput-rumput yang mengering tumbuh tidak beraturan. Sejauh mata memandang, yang kelihatan adalah padang rumput coklat dengan langit yang sangat biru.
Rama kembali membiarkan anak-anak ini menelanjangi pemandangan bukit Rinca. Baru setelah puas--selang 30 menit setelahnya--Rama memandu mereka kembali ke pos jaga.
Perjalanan pulang mereka melewati jalur yang lebih teduh. Di beberapa bagian hutan, tumbuh pohon-pohon tinggi yang berdaun. Perjalanan pulang ini sepi, tanpa pertemuan dengan komodo. Baru setelah sampai di rumah panggung (lagi), kelihatan 8 komodo yang sedang diberi makan oleh petugas Taman Nasional. Liur mereka menetes-netes pelan. Ini dia yang mematikan dari komodo. Air liur ini mengandung 50-80 jenis bakteri yang menyebabkan infeksi dan bisa berujung kematian.
Rama, yang masih berstatus mahasiswa di Bandung ini, lalu terkesan pada perjalanan kali ini. Tumben, ada orang-orang yang tanya-tanya soal saya, biasanya kebanyakan orang-orang sibuk sama komodo, kata Rama sembari menunduk malu.
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter: @atre7


Comments
Be the first to comment.