ART & CULTURE

RVM: Skate + Surf = Visual

January, 24th 2012 |  by  Rully Annash  | Comments: 0

Suka skating atau surfing? Biasanya kalau loe mau nyolong ilmu dari pemain idola, terutama dari luar negeri, loe harus beli DVD dengan harga lumayan mahal, kan? Nah, daripada beli mahal-mahal, mending support scene skater lokal.

Sekarang, loe bisa lihat aksi beberapa skater lokal di Singapura dan KL (Malaysia) yang bisa dijadikan bahan contekan untuk meng-up-grade skill dalam sebuah DVD persembahan RVM (Royale Video Magazine). Apa itu? Baca ini, deh.

Ceritain sedikit, dong, bagaimana RVM terbentuk!
Bima G:
Awal 2009, ada satu omongan yang kami bahas tentang kurangnya media video di scene skateboard. Karena menurut gue, orang lebih bisa menerima kalau skateboard itu digambarkan melalui audio visual. Jadilah gue, Boris, Myrza, dan Rico mencoba untuk membuat satu media yang kami beri nama Royale Video Magazine (RVM).
Boris: Creator awalnya, ya, gue, Bima, Desla, Carlo, dan Arya Subyakto sebagai supervisor.

Dari awal memang sudah dikonsep bakal merilis sesuatu dengan media DVD atau bagaimana?
Bima G:
Dari awal, kami memang membuat konsep DVD dengan berisikan beberapa segmen yang berhubungan dengan komunitas atau orang-orang di bidang skateboard, mencakup para riders, industri, toko, dan yang lainnya. Ada kemungkinan juga, ke depannya kami mengubah format tapi konten tetap skateboard.
Boris: Kami ingin meng-establish bahwa kami yang pertama di Indonesia serta Asia sebagai media action sport dalam bentuk visual. Kami juga banyak lihat Transworld dan 411 as our model.

Tahun kemarin kalian sempat bikin dokumenter RVM KL-SING TOUR 2011. Dapat ide dari mana?
Bima G:
Setelah brainstorming, kami pengen banget bikin semi doc tentang tur ke luar negeri karena belum pernah ada di Indonesia. Dan lagi, setiap gue nonton video skate tour dari luar negeri, kayaknya menyenangkan banget. Jadilah kami berangkat, 9 skater dan 4 skate filmer. And it was really fun!
Boris: Kami sempat berpikir kalau skateboarder di Asia memerlukan sebuah media yang bisa mempersatukan mereka.

Soal riders, kalian yang memilih sendiri?
Bima G:
Kami kirim proposal ke beberapa brand yang punya riders untuk join tur ini. Ada juga skater-nya sendiri yang mau ikut tanpa embel-embel sponsor karena dia ikut tur dengan biaya sendiri. Dan, itu yang bikin gue senang karena keinginan dia untuk ikut sama kami sangat besar. Riders yang kami bawa ada sembilan: Anjar Pratama, Reno Pratama, Fathin, Norman Genta, Indra Domdom, Firman Boesly, Ariyoshi, Absar Lebeh, dan Pevi Permana.

Apa kendala paling ngehek yang kalian rasakan waktu bikin film ini?
Bima G:
Kalau di KL, kendala kami lebih di transportasi, dikarenakan jarak yang cukup jauh dari hotel ke spot satu dan yang lainnya. Untungnya, banyak anak-anak lokal KL yang sangat membantu. Kalau di Singapura, lebih ke security (polisi) dan harga ini-itu yang lebih mahal. Ha-ha-ha.
Boris: Pas di KL, kami sempat distop dan diperiksa polisi preman sana. Kayaknya hal itu yang paling ngehek buat gue selama tur ini.

Ada rencana bikin lanjutan dokumenter ini nggak? Negara mana yang loe incar?
Bima G:
Untuk waktu dekat ini, kami akan tur ke Bangkok, Thailand.
Boris: Yoi, next kami ke Thailand.

Lebih keren The Search for Animal Chin atau This Is Skateboarding from Emerica?
Bima G:
Dua-duanya beda style, sih, tapi Search of Animal Chin juara. Old skool. Ha-ha-ha.
Boris: The Search for Animal Chin-lah. Film itu benar-benar bisa bikin kami fun!

 

Sumber: JUICE
Foto: RVM
W: www.royalevideomagazine.com

 

Contact the writer at rully.annash@mediasatu.com
Follow him on Twitter: @RullyAnnash

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.