HOT SEAT

Hilbram Dunar, Ngoceh dari Radio sampai Buku

January, 31st 2012 |  by  Hapis Sulaiman  | Comments: 0

Saya menemui Hilbram Dunar. Lebih kurang 2 jam, hari itu ia memaparkan semua cerita soal dirinya, dari soal band, kuliah teknik, karier presenter, sampai bukunya.

Caption Caption

Caption Caption

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Tak sulit untuk menemukan sosok yang satu ini. Sebagai presenter, wajahnya kerap menghias layar televisi. Sebagai radio announcer, canda dan cuap-cuapnya juga dengan mudah didengar. Berkat kemampuannya, pemilik nama Hilbram Dunar ini memang kepalang popular di dunia presenter dan public speaking. Tak puas dengan radio dan televisi, ia pun memperluas medium ngocehnya ke dalam tulisan. Jelang akhir 2011 silam, ia meluncurkan buku kumpulan cerita karyanya, Plastic Heaven (2011, Gramedia Pustaka Utama). 

Perjalanan karier seorang Hilbram Dunar. Apa dan bagaimana?

Mulainya di awal 2000-an, di Hard Rock FM. Baru di situ mulai merambat ke televisi. Sampai akhirnya sempat vakum di radio. Gue di Hard Rock terakhir Februari 2004. Gue inget banget, pas berhenti siaran, anak pertama lahir. Pusing gue, duit dari mana, ya? Hehehe. Mulai 2004 gue di televisi. Mulai dari presenter sampai jadi creative director. Bikin beberapa program. Dulu juga sempat punya PH. Di televisi, gue pernah gabung dengan Farhan di acara “Lepas Malam” (Trans TV) dan “Oom Farhan” (ANteve). Sama Mas Helmy Yahya juga sempat bikin beberapa reality show. Habis itu, gue fokus juga di public speaking, ngajar sendiri di mana-mana, dari perusahaan-perusahaan sampai sekolah-sekolah. Sampai pernah diminta bantuan Helmy Yahya untuk bikin modul Helmy Yahya Broadcasting Academy, khusus public speaking-nya di Jakarta,  Bandung, dan Surabaya. Sama Becky Tumewu (Talk Inc.) dan lain-lain juga sempat bantu-bantu. Pas 2009 kemarin, gue memutuskan untuk kembali ke radio, di Motion Radio 97.5FM. Kenapa gue balik lagi? Karena tawarannya menarik, hahaha. Dan, sebagai radio yang baru 2 tahun usainya, gue melihat Motion Radio 97.5FM punya semangat yang sama ketika gue pertama kali di radio. Jadilah, sampai sekarang gue siaran di radio lagi. Untuk televisi masih jalan. Sekarang di Barclays Premier League (Global TV) dan bersama Mario Teguh (Metro TV). Dari situ, akhirnya bikin buku, deh.

Membawakan tayangan F1 sudah tidak lagi?

F1 sudah nggak lagi. Musim lalu Global TV mencoba me-refreshing. Gue diminta fokus di bola. Ya, kalau di 2012 ini ada yang minta gue untuk balik membawakan F1 lagi, gue jawab, “we’ll see”. Tergantung penawaran dari stasiun tivi manapun yang akan menayangkan nanti.

Oh ya, mengenai F1, memang loe mendalami dunia otomotif?
Semuanya pekerjaan yang dipelajari. Gue begitu orangnya, setiap acara yang gue bawain, gue ikuti dan gue pelajari. Lama-lama kalau kita kenal, suka, dan sayang dengan pekerjaan kita. Gue sudah membawakan acara F1 sejak awal-awal tampil di televisi. F1 is my baby. Jadi, kalau ada yang bertanya lebih enak membawakan acara bola atau F1, gue balikin, “loe enakan main sama anak pertama apa anak kedua?” Ya, sama saja. Itu anak-anak kita juga. Pokoknya setiap show yang pernah gue bawain adalah ‘anak’ gue.

Memang sejak awal ada pengalaman di bidang broadcasting?
Ooh, awalnya banget, di kampus, di Trisakti. Kampus itu, memang terkenal sebagai kampus anak-anak borju, sedangkan gue nggak bisa seperti mereka. Nggak punya duit. Nggak mungkin gue minta sama nyokap gue yang cuma pensiunan pegawai negeri. Nah, akhirnya gue putusin untuk kerja. Nah, di situ ada radio namanya MS Tri. Akhirnya gue coba melamar jadi reporter. Ternyata yang ada malah penyiar. Saat itu gue nggak mau. Gue bilang cowok nggak jadi penyiar. Gue anak band, metal. Gengsi kalau jadi penyiar. Tapi, ya sudahlah daripada nggak punya duit. Gue ambil. Akhirnya keterusan.

Nge-band juga?
Sempat lama, dari SMP sampai kuliah, tapi nggak pernah tampil di tivi. Paling-paling di pensi-pensi. Nama band-nya juga lupa, Lemon apa gitu. Ha-ha-ha.

Lantas sampai akhirnya membikin buku? Anya Dwinov saat acara peluncuran buku ini bilang bahwa ini adalah cita-cita yang tidak pernah dicita-citakan seorang hilbram. Ada motivasi apa?
Nggak tahu tuh, Anya nemu aja kata-kata itu. Ha-ha-ha. Soal menulis, tulisan pertama gue baru kira-kira 3 tahun yang lalu. Itu juga iseng. Pas munculnya Facebook. Pas di Hard Rock, teman-teman suka minta gue untuk menulis dan ditaruh di notes-nya Facebook. Ya sudah gue coba, ah. Ternyata ada responsnya. Ada yang suka. Akhirnya ya biasa menulis, meskipun sambil lalu, kadang nulis, kadang nggak. Sampai pernah ada yang menawarkan niat untuk mengumpulkan tulisan-tulisan gue dan menerbitkannya dalam buku. Ketemu juga yang menawarkan self-publishing. Pernah juga ketemu penerbit ‘beneran’, tapi menurut dia (mungkin) tulisan gue nggak pantas diterbitkan, kurang panjang, harus dibikin bab, dan lain sebagainya. Nah, gue nggak mengerti itu semua. Akhirnya hilang. Tapi sebagai proses kreatif akhirnya gue teruskan menulis. Sampai akhirnya gue paham ternyata menulis bisa membuat perempuan tergila-gila. Ahaa, so I’m writing for you girls! Ha-ha-ha.    Setelah sekian lama niatan itu akhirnya hilang. Nah, sampai pada suatu hari di Motion Radio, pas datang mau siaran. Program director assistance gue nyeletuk ke orang Gramedia yang datang hari itu. “Tuh, Hilbram  mau bikin buku juga,” celetuknya. Ternyata si orang Gramedia itu menanggapi serius, sedangkan gue cuma cengengesan sambil lalu saja. Setelah itu gue lanjut siaran dan lupa. Ternyata, besoknya berlanjut. Ketemuan di Gramedia, bikin konsep, dan lain-lain. Gue sendiri kaget. Gramedia pula. Ya, bismillah aja, deh. Percaya nggak percaya. Akhirnya jadi.
 
Setelah kesepatakan penerbitan buku itu tercapai, ada tulisan-tulisan baru yang masuk di buku itu?
Setelah kesepakatan itu ada beberapa tulisan yang baru gue bikin. Tapi intinya semua tulisan itu gue rapih-rapihin lagi. Gue ubah-ubah sedikit. Tentu saja dengan bantuan editor gue, Mirna Yulistiani. Dia adalah orang yang sangat berjasa membuat ini terjadi.

Soal sampul buku ini, dibikin sama Mirna juga atau ide sendiri?
waktu itu yang gue mau adalah kecantikan orang yang terlihat seperti plastik. Tadinya mau tempat, tapi kalau bicara soal heaven agak susah dimunculkan. Tadinya juga mau orang yang mukanya diplastikin jadi seperti manekin. Tiba-tiba Mirna ketemu foto yang sempurna, bagus, cantik, and that’s life, karena hidup juga seperti itu kan. Banyak orang yang terlihat sempurna, bagus dilihat tapi nggak nyata.

Sub-judul “Bukan Cinta Jika Tak Meneteskan Air Mata”, siapa yang buat?
Itu dapet waktu lagi di kamar mandi.

Bukunya lumayan tebal juga, ya?
Gue juga kaget bisa jadi setebal itu. Padahal master copy-nya masih dibilang kurang, kurang. Mungkin karena tulisan gue pendek-pendek, tapi waktu digabungin malah setebal itu.

Usai buku satu ini dan makin ‘pede’, berencana bikin buku lagi, dengan cerita yang lebih panjang. Novel, mungkin?
Novel? Bicara mungkin, sih, novel mungkin saja. Tapi sebenarnya, snapshoot pikiran gue bukan novel. Mulanya, gue belajar atau membaca sebuah karya tulisan lebih banyak lewat lirik lagu—dulu suka bikin lirik lagi. Pendek. Jadi gue banyak melihat cerita kehidupan dalam bentuk sketsa-sketsa. Tapi, nggak tahu ke depannya nanti. Mungkin saja gue akan bikin novel. Mungkin bisa. Tapi saat ini gue lebih menyukai bentuk cerita pendek. Karena ada banyak hal yang ingin gue capture dan gue tuangkan dalam bentuk tulisan dan bisa dinikmati semua orang.

Saat peluncuran buku, Anda mengaku bahwa Anda terinspirasi oleh salah satu buku karya Djenar Maesa Ayu. Saat itupun Djenar Maesa Ayu hadir dalam peluncuran buku Anda. Seperti apa Anda sendiri melihat Djenar secara pribadi dan karyanya?
Sinting, ha-ha-ha. Tulisan Djenar buat gue banyak mengena dengan apa yang gue rasa. Gue suka. Tapi, untuk mencoba mengikuti dia, rasanya terlalu jauh untuk gue, ha-ha-ha. Dia sangat berani dan sangat senior sehingga pola pikirnya bisa sangat berbeda. Gue sebenarnya tidak mengikuti tulisan-tulisan Djenar. Tapi, pada masanya suatu ketika gue baca bukunya itu, gue berpikir, anj**t, tulisannya bisa begini, ya? Akhirnya gue termotivasi untuk menulis. Tapi akhirnya gue muncul dengan gaya gue sendiri.

Secara pribadi memang sudah kenal lama?
Secara pribadi sih, tidak. Kami kenal karena memang beberapa kali bertemu dalam acara talkshow. Makanya ketika bertemu lagi setelah gue dapat kepastian untuk bikin buku ini, gue nggak bilang sama dia. Nah, kebetulan Mirna juga menjadi editor buku terbaru Djenar. Makanya saat meminta Djenar untuk menulis komentar di back cover buku ini, gue senang banget.

Plastic Heaven. Inspirasinya ceritanya dari mana? Hal apa yang membikin Anda terinspirasi untuk menulis?
Sebenarnya inspirasi tulisan gue dalam buku ini banyak di dapat dari 3 hal, yaitu dari cerita orang, film, dan lagu. Untuk cerita orang, memang ada beberapa cerita curhatan teman tentang beragam hal, tapi gue nggak mungkin menuturkan itu semuanya begitu saja. Potongan-potongan cerita itulah yang gue ambil.  Nah, kalau dari lagi, misalnya “Someone Like You” milik Adele. Menurut gue, kalau didengarkan serius, berulang-ulang, bisa menjadi inspirasi beberapa cerita berbeda. Bagaimana gue menampilkannya? Setelah gue pikir-pikir, selama ini ternyata banyak yang menceritakan curhatan hatinya seputar permasalahan cintanya ke gue. Nggak tahu kenapa? I’ve tune love goes up, I’ve tune love goes down. Bring everybody up, bring everybody down. Ketika gue mau menulis. Ternyata yang keluar adalah kata-kata yang secara nggak sadar terekam di kepala sepurat cinta. bahwa ternyata ‘love’ itu macam-macam, ya.

Di dalamnya banyak cerita soal cinta sejati, perselingkuhan, cemburu, dan lain-lain. Kebanyakan main dalam hubungan heteroseks. Tidak terlalu terlalu berminat pada cerita gay-lesbian?

Cerita soal lesbian, kalau tak salah ada 2 cerita. Tapi sebenarnya itu gue takut-takut. Sampai saat-saat terakhir buku ini akan dicetak, gue berpikir keras: muat atau nggak? muat atau nggak? Karena gue nggak tahu hasilnya akan seperti apa di luar nanti. Gue nggak tahu apa yang boleh ditulis- apa yang nggak boleh ditulis. Gue nggak tahu. Gue cuma menulis untuk gue. Sampai akhirnya gue berpikir ya sudahlah, sudah gue tulis dan sudah terbit juga, ha-ha-ha. Kalau soal cerita cinta gay, nggak kepikiran ya. Ya memang ada banyak cerita cinta di kalangan gay di kiri-kanan kita. Tapi kok, hmm, nggak kepikir kok, ya. Menurut gue kalau cerita cinta soal lesbian masih ada seru-serunya ya, ha-ha-ha. Jadi berbagai cerita soal cinta itu yang gue rangkum menjadi berbagai bentuk cinta.

Sebenarnya Anda tidak mencoba mendefinisikan cinta, kan?
Tidak. Pastinya semua orang punya definisi sendiri-sendiri soal cinta. Kalau gue membahas semua cinta, akan terlalu luas. Bisa termasuk cinta kepada Tuhan. Menurut gue itu bukan bagian gue saat ini. Nggak tahu yah kalau nanti gue sudah menua dan mengarah ke sana.

Apa yang menarik dari dunia presenting-presenter?

Tujuan gue terjun ke dunia presenter, pingin semua orang senang dan mendapatkan sesuatu. Dengan cara menghibur dan menginformasikan. Salah satu jalannya adalah dengan menjadi presenditer. Ada suatu kenyaman buat gue kalau acaranyaditonton orang dandapet  sesuatu, pengetahuan atau hiburan. Sehingga menurut gue, presenter menjadi ‘kepanjangan tangan’ Tuhan yang memberikan sesuatu ke orang-orang lain di dunia entertainment. Hanya saja memang banyak acara dan pembawa acara yang sekadar acara dan pembawa acara. Semata-mata lucu. Ada masanya memang gue berusaha menjadi seperti itu. Tapi nggak tau kenapa kalau akhirnya gue ternyata lebih banyak terlibat dalam acara-acara yang formal atau serius. Kalau toh memang gue dianggap nggak lucu dan lebih cocok dengan acara-acara serius, tapi selama bisa menyentuh dan bermanfaat untuk banyak orang, gue tetap terima, ha-ha-ha. Tapi unik memang. Acara gue di radio juga nggak serius-serius amat. Buku gue juga bukan buku yang serius.

Mungkin itu yang membedakan Hilbram di radio dan televisi?

Yang membedakan sebenarnya acaranya. Kalau gue dikasih acara seperti yang di radio, gue pasti bisa sangat bebas. Tapi kalau gue dikasih acara seperti bersama Pak Mario Teguh (The Golden Ways, Metro TV)  gue nggak mungkin bisa ‘ngaco’. Apalagi, kalau sama Pak Quraish Shihab (Tafsir Al Misbach, Metro TV), lebih nggak bisa macam-macam lagi. Tapi memang seperti berperan. Kalau memang tuntutannya harus seperti itu ya harus dilakoni.

Tantangan 2012?

The book. Gue pingin fokus di buku. Gue nggak kepingin cuma bisa mumpung nongol.

Usai buku perdana, ada tuntutan sekaligus beban untuk  buku selanjutnya?

Dua-duanya. Tantangan yang menjadi beban, tapi tidak terbebani. Jadi kemarin gue mencoba menulis lagi. Dan, Alhamdulillah bisa. Gue takut begitu selesai gue nggak bisa menulis lagi. Sebab beberapa kali mencoba menulis tapi terhalangi, ah nanti aja, ah nanti aja. Akhirnya gue paksain. Dan ternyata gue bisa.

Berapa lama biasanya butuh waktu untuk menulis satu cerita?
Sehari, sih, biasanya. Gue biasanya begitu tulisan jadi, gue akan baca lagi, bolak-balik, dan edit lagi. Prinsip gue nggak boleh berhenti sebelum jadi. Kalau berhenti sebelum jadi hasilnya akan beda. Makanya begitu jadi, gue edit, gue tambah-tambahin segala macam, tambah situasi, tambah karakter, tambah tokoh, dan lain-lain. Dan begitu selesai baru gue mulai yang baru. Kalau gue tunda sampe besok, mood dan emosinya pasti akan beda. Gue berusaha menulis cerita ketika emosinya masih ada. Atau, cerita itu belum gue selesaikan dan marahnya masih gue simpan jadi besok gue harus masuk ke emosi itu lagi.

Kemampuan presenter itu as a talent atau memang bisa diajarkan?
Bisa diajarkan. Karena gue dulu I don’t think I have that talent at the beginning. Saat siaran, banyak orang dulu berpikir bahwa gue nggak berhasil dalam bidang ini. Gue juga berpikir kayaknya gue nggak  berhasil di sini. Tapi, memang gue adalah orang yang tidak mudah menyerah dan tidak suka kalah. Gue nggak punya latar belakang pendidikan broadcasting. Gue kuliah Teknik Mesin Trisakti. Sebenarnya saat lulus SMA gue pinginnya masuk Psikologi UI, tapi ragu-ragu. Dulu gue berpikir psikolog adalah pekerjaan cewek, ha-ha-ha. Nyokap memang membebaskan gue untuk sekolah apa saja. Ternyata, saat mencoba UMPTN dua kali gagal terus. Sampai akhirnya memilih masuk Teknik Mesin Trisakti. Sialnya saat kuliah Teknik Mesin, gue merasa asing dengan bidang kuliah ini. Gue nggak berminat dengan bidang ini. Gue nggak suka dan gue nggak bisa. Nggak ada satupun rumus yang gue ingat. Satu-satunya pelajaran yang gue kuasai saat itu adalah mata kuliah yang berkaitan dengan manusia. Kenapa gue bisa lulus? Modal gue adalah belajar. Setiap ujian gue belajar dan nggak mau kalah. Bersyukur begitu lulus gue sudah di industri radio dan nggak pernah sempat bekerja sesuai latar belakang pendidikan gue, hehehe.
Nah, soal bisa diajarkan, ketika di radio yang pertama, gue termasuk yang nilai siarannya jelek menurut bos gue. Di Hard Rock pun gue punya kesulitan untuk bisa berkembang dalam kemampuan. Permasalahannya menurut gue, pada saat itu gue terlalu kaku sebagai cowok. Kenyataannya,di dunia siaran kita dituntut fleksibel. Loe nggak bisa kaku dan datar. Sebenarnya yang seperti itu bisa, tapi enggan sebegitunya. Sebenarnya gue punya kemampuan untuk berkembang. Makanya begitu disadarkan, gue belajar. Sejak itu gue berubah. Lebih menjadi diri gue yang dimaui oleh pendengarnya. Gue berubah, lebih loose dan lebih bermain. Dan, gue berhasil. Gue sendiri nggak kebayang kalau gue akan menjadi seperti ini sekarang, ha-ha-ha.

 

Contact the writer at nevy.elysa@mediasatu.com
Follow @hapissu on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.