ENTERTAINMENT

Rod Stewart in Jakarta: The Hits Concert

February, 1st 2012 |  by  Hapis Sulaiman  | Comments: 0

Sexy! Rod Stewart masih sanggup memukau seisi Plenary Hall Jakarta Convention Center, 31 Januari lalu. 

photo: Herry Ananta photo: Herry Ananta

photo: Herry Ananta photo: Herry Ananta

photo: Herry Ananta photo: Herry Ananta

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Dalam konser bertajuk Rod Stewart the Hits yang dimediasi Big Daddy Entertaiment, pemilik nama asli Roderick David Stewart ini memanjakan penggemarnya dengan vokal parau khas, kikuk gerak tubuh ekspresif, kepiawaian bermain bola, dan tentunya romantisme kejayaan musikalitasnya di era 80-an.

Apa yang saya tahu soal Rod Stewart? Alakadarnya saja, yaitu musisi yang menjelang kelegendarisannya dengan vokal parau dan gaya rambut yang acak-acakan. Lagu-lagunya? Sebatas “Talk About it” dan “Have I Told You”. Itu 'modal' saya berangkat 'menemui' Stewart malam itu. 

Kenyataannya, meski tak semua tembang yang dibawakannya saya hafal, dan kenyataan bahwa saya bukan fans sejati yang faham benar dengan pribadi dan musikalitasnya, setidaknya saya bisa dibikin kagum dengan aksi panggung Stewart malam itu. Saya tak sanksi dengan vokal dan musikalitasnya. Waktu dan perjalanan karier selama puluhan tahun telah membuktikan kualitasnya, yangsekarang menjelma sebagai salah satu musisi legendaris kelas dunia. Saya puas dengan cara Stewart menguasai panggung dengan canda dan gerak ekspresif layaknya rockstar

Saya juga puas dengan pengemasan panggung. Begitu romantis. Meski sederhana dengan dominasi warna putih, giant screen menjuntai di atas panggung, juga permainan visual di latar belakang panggung menjadi visualisasi lagu-lagu yang dilantunkan Rod. Kemasan panggung yang sederhana namun kuat memunculkan kesan elegan, seksi, dan romantis. Ini makin menguatkan image Stewart sebagai pelantun tembang-tembang pengoyak hati. Image yang seksi ini semakin kuat dengan tampilan sepasukan perempuan cantik berbalut mini dress merah muda, 3 penyanyi latar dan 3 perempuan yang memainkan masing-masing terompet, biola, dan saksofon. 

Menyaksikan Rod Stewart di panggung malam itu, saya disudutkan pada satu kesimpulan. Dengan gayanya yang santai, talkative, juga penuh canda, ia menjelma legenda yang terasah oleh waktu. Pada usianya yang sudah menginjak 67 tahun, Stewart tetap memikat, energik, dan mampu membawa seisi gedung konser meretas lagi kejayaan Stewart dengan tembang-tembangnya di era silam. Selama hampir 2 jam, para penonton yang kebanyakan dari kalangan usia 30 tahun ke atas—tak sungkan ber-sing along mengiringi. Tak sedikit pula yang berjingkrak memuaskan romantisme kenangannya di masa silam. 

Malam itu, Big Daddy menyengaja mempersembahkan penampilan Rod Stewart secara khusus. Tanpa mengikutsertakan musisi lain, tanpa opening act dari musisi lain. Lewat beberapa menit dari pukul 20.00 WIB, Rod tampil di panggung. Rod membuka konser dengan lagu berjudul “Love Train”. Bak tersihir dengan penampilan Rod dengan balutan jas dan dasi pink, penonton mulai semarak ikut bernyanyi. Siul dan teriak salut sesekali menimpali nyanyian Rod. Melihat antusiasme penonton, Stewart segera melanjutkan aksinya dengan tembang “Tonight the Night”, “Having a Party”, “It's a Heatrache” ,”Some Guys”, “First Cut”, dan “Baby Jane”.

Kaki-kaki Stewart nyatanya masih lincah mengikuti irama musik. Penampilan malam itu tidak bisa dibilang 'kering'. Stewart menyegarkannya dengan menari, meliuk-liuk, berjalan mengisi panggung, mencandai pemusik dan penyanyi latar, juga melakoni gerakan-gerakan atraktif lainnya yang malah terkesan konyol. Saya juga saksikan ia beberapa kali melakukan gerakan mengucek-ucek rambut untuk menjaga tampilan khasnya sebagai musisi dengan rambut acak-acakan. Ajaib. Penonton pun yang mulanya manis-manis di kursi masing-masing, mulai tersihir dan beberapa ikutan liar dengan menggerakkan badannya ikut irama. Stewart is magic! 

Seperti saya, histeria penonton tak terelakkan saat sang pujaan melantunkan hits “Talk About It”. Untuk memuaskan para penggemar, dia pun menyanyikan beberapa lagu seperti “Downtown Train”, “Have I Told You Lately”, “Reason To Believe”, “Rainy Nigt In Georgia”, dan “Ooh La La”. Malam itu, Stewart terlihat santai, dia berhasil membuktikan musikalitasnya selama konser. Berbagai genre musik, mulai dari musik pop romantis, rock n roll, country hingga blues mampu menghipnotis para penggemar.

Di panggung, saya melihat Stewart sebagai figur sahabat, ayah, bahkan kakek yang pandai memanjakan, dengan caranya menghangatkan suasana dan menciptakan keakraban bersama. Stewart bercanda dengan para pemain bandnya di atas panggung. Ia tak arogan, tak mau menikmati panggung itu sendiri. Selagi ia berganti pakaian—sedikitnya 3 kali Rod berganti pakaian malam itu—ia pun beberapa kali memberikan kesempatan kepada pengiring band dan backing vocal-nya unjuk kebolehan.

Lumayan segar saat Stewart tampil kembali dengan kemeja warna-warni dipadukan dengan jas corak (yang polanya mirip batik, tapi buat saya lebih terlihat seperti seragam matador) bewarna dasar biru dan sepatu Adidas warna silver. Apa akan ada kejutan?

Ia pun menyanyikan lagu “Sweet Rock & Roller”, “Proud Mary”, “Rhytm Of My Heart” dan “Twisting”. Memang usia Stewart tak muda lagi. Beberapa kali terlihat bagaimana 'usia senja' menggerogoti stamina pangung dan vokalnya, sampai-sampai untuk nada-nada tinggi ia harus mengambil 'kuda-kuda'. Tapi, ia tetap seksi. Tak salah bila ungkapan tua-tua keladi disandangkan untuknya. Makin tua makin jadi, makin tua makin seksi. Ia terlihat menari dengan semangat di atas panggung sambil mengikuti irama musik. Penonton pun hanyut ikut menggerakkan badan melihat semangatnya di atas panggung. 

Stewart tampil komunikatif, atraktif, terkonsep dan bersemangat selama konser yang berdurasi hampir 2 jam. Usai menyanyikan 'You're In My Heart', Stewart menampilkan beberapa koleksi foto pribadinya di The Celtic Football Club 1888, foto anak-anak dan cucunya, juga dalam balutan seragam tim Glasgow Celtic. Ia memang sempat bercita-cita menjadi menjadi pemain profesional. Dia pun mulai berkelakar lagi. Kali ini ia menampilkan dua koleksi foto saat mengenakan pakaian wanita lengkap dengan make up dan high heels yang membuat penonton tertawa. “Foto itu saat saya mabuk dan sangat mabuk.” 

Setelah ia selesai bercanda, kejutan pun muncul. Sambil melantunkan “Hot Legs”, Stewart memberi membagi-bagikan bola sepak yang sudah lengkap dengan tanda tangannya kepada para penonton. Lebih dari 30 bola ditendang Stewart dari panggung ke arah penonton. Great! Stewart sanggup menendang bola hingga ke balkon atas yang berjarak kira-kira 40-an meter dari panggung. Bola-bola itu seperti menjadi alasan Stewart dalam memamerkan keahliannya bermain bola. Rebutan bola dan riuh di antara penonton pun tak terelakkan. Meningkahi keriuhan, Stewart membawakan hits “Da Ya Think I'm Sexy” dengan iringan beat elektronik.

Nyatanya, ada pertemuan ada perpisahan. Kerinduan yang terlampiaskan harus disudahi demi kerinduan lainnya. Pukul 22 lewat, the show is over. Stewart dan tim pamit. Drama penutupan konser dengan teriakan “we want more”, pun dimulai. Dan, ini selalu berhasil. Stewart dan band-nya tampil lagi. Sebagai pamungkas, ia menutup 'malam temu kangen' dengan fansnya di Jakarta dengan “Sailing” dan “Shake Your Money Maker”.

 

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow @hapissu on Twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.