The Great Danau Toba Chapter One: Berastagi & Gunung Sibayak
February, 7th 2012 | by Putri Ningrum | Comments: 0
Beberapa waktu lalu, seorang teman menceritakan keindahan dan ‘kehebatan’ Danau Di Atas Danau yang terletak di Sumatra Utara. Saya dan Darwita Karin beruntung bisa menyaksikan sendiri betapa indah dan megahnya danau super besar itu!
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Tentu, danau yang kami maksud tak lain dan tak bukan adalah Danau Toba. Saat menerima undangan dari team Valadoo, kami benar-benar tidak berpikir dua kali meskipun saat itu sedang deadline! Apalagi, tak hanya menyusuri Danau Toba dan sekitarnya, Berastagi dan Medan pun akan kami jelajahi! Yay! Akhirnya, tak hanya melihatnya lewat layar ukuran 32 inci, kami bahkan bisa menghirup segarnya udara di sana!
Day 1
Kami tiba di Bandara Internasional Polonia, Medan tepat pukul 13.00 dan disambut dengan senyum lebar dari matahari yang kabarnya telah 3 hari digantikan oleh awan tebal. Wah, alam pun ikut mendukung kegiatan petualangan kami ini. To tell you the truth, perjalanan ini adalah misi saya untuk mendekatkan diri dengan alam.
Kota Medan adalah kota yang indah. Banyak bangunan lama, ada bagian-bagian yang membuat kami serasa sedang berada di Kota Toea, Jakarta. Betor (baca: becak motor) yang lalu lalang lah yang membedakannya. Kendaraan tersebut menjadi alternatif untuk mengelilingi kota selain mobil pribadi dan sudako (sebutan warga Medan bagi angkot).
Setelah makan siang, kami langsung digelandang menuju Berastagi. Daerah ini bagaikan Puncak, Jawa Barat. Tak hanya kontur tanahnya tetapi juga rimbunnya pohon yang menyelimuti hingga udaranya di malam hari! Dinginnya udara di malam hari benar-benar membuat gigi saya beradu semalaman hingga satu porsi besar nasi plus lauk pauk, teh panas, dan satu buah durian khas Berastagi mendarat di perut.
Lalu, berapa lama menuju kota yang menurut legenda dulunya adalah daerah yang langka beras ini? Tiga, dengan catatan tanpa mampir-mampir! Saran saya, sewalah mobil sekaligus dengan pengemudinya karena jalanannya yang berkelok-kelok.
Sebelum sampai di Berastagi, rombongan kami diajak mampir di Taman Alam Lumbini. Ini adalah tempat peribadatan umat Buddha. Dari jauh kami sudah takjub dengan kecantikan pura tersebut, saat mendekati ternyata terbukti benar. Apalagi, kebersihannya benar-benar terjaga. Sekilas, Anda pasti merasa sedang di Thailand!
Di dalamnya, Anda akan disambut empat Dewa-Dewi; Bhumiphassa Mudra, Dhammacakra Mudra, Varadra Mudra, dan Jhana Mudra. Sayang, kami tiba di sana mendekati waktu tutupnya, yaitu pukul 17.00 jadi wawancara dengan pihak manajemen pura yang terletak di Barus Jahe Jln. Tongkoh, Desa Dolat Rayat, Berastagi ini terpaksa ditangguhkan.
Sepulang dari Taman Alam Lumbini, kami menghangatkan diri dengan menikmati jagung bakar di pasar buah yang terletak di Gundaling Hill. Ah, buah yang ada di sana benar-benar segar! Rasanya, kalau tidak ingat harus kembali dengan pesawat terbang semua yang ada di situ akan saya untuk buah tangan.
Berastagi adalah daerah yang sangat subur sehingga buah-buahan seperti Jeruk, Mangga Udang, manggis, atau sayuran seperti wortel dan kembang kol pun tumbuh dengan suksesnya. Bahkan, menurut keterangan dari Pak Hendro, tour guide kami dari Narasindo Tour, sayuran Berastagi terkenal dan menjadi komoditi ekspor yang sangat banyak peminatnya karena tidak menggunakan pestisida.
Selain hamparan perkebunan sayuran yang menyegarkan mata, kami pun melihat beberapa makam-makan yang ada ditengah perkebunan. Jangan heran, memang itulah budaya orang Sumatra. Jika ada kerabat yang meninggal dunia, maka jasad akan dimakamkan di dekat rumah dan akan dibuatkan ‘rumah’ khusus untuk tulangnya di atas makam.
Pemandangan lain yang mencuri perhatian adalah kebiasaan wanita Batak yang nyirih. Dan, tidak hanya si opung, tapi wanita muda pun ikut ‘tren’ mengunyah sirih. Tapi, tenang, meski warna merah pada gigi dan bibir akibat mengunyah sirih membuat mereka terlihat lebih garang, ternyata mereka ramah-ramah!
Lanjut dari situ, kami langsung menuju Sinabung Resort. Ini adalah hotel paling besar di Berastagi. Setelah makan malam, akhirnya kami menuju ke pusat kota untuk menikmati durian. Berapa harga durian per buah di sana? Hanya Rp7.500! Mata Anda pasti langsung terbelalak kan mendengar harganya? So, did I! Bentuknya memang tidak besar-besar seperti Durian Monthong, tapi rasanya mantap! Legit, sedikit pahit, manis, dan memabukkan. Makanya, sang tour guide senantiasa mengingatkan kami untuk berhenti jika sudah terlalu banyak memakannya.
Ada apa lagi di Berastagi? Sayang, tidak banyak yang bisa dilihat, apalagi setelah jam 9 malam kebanyakan tempat yang tutup, penjual makanan di pinggir jalan pun jarang. Nah, yang menjadi tujuan utama di Berastagi memang bukan pusat kota tapi Gunung Sibayak. Dan, gunung itulah yang akan saya dan Dara tapaki! “Simple Trekking” adalah judul kegiatan yang akan kami lakukan keesokan harinya! Is it that simple? Ya! Menurut banyak orang, ini adalah jalur termudah. Kami menaiki puncak gunung yang masih aktif tersebut selama 1,5 jam.
Pemandangan menuju dan di atas gunung sangat indah. Saya tak berhenti mengucap “Subhanallah”! Selain indah, ini adalah perjalanan perdana saya naik gunung. Ah, seharusnya saya tulis: “Putri Ningrum was here!” di kawah dengan susunan bebatuan sebagai bukti keberhasilan mengalahkan rasa takut dan mulai 'bermain' dengan alam. Sembulan puncak Gunung Sinabung yang tahun lalu meletus dan sekarang masih berstatus sebagai gunung aktif adalah pemandangan yang kami nikmati di puncak gunung. Cantik! Selain itu suara desiran belerang dari dalam gunung, udara bersih, dan sejuk, serta awan-awan gendut yang memayungi kami membuat saya kian menyatu dengan alam.
Yay! Akhirnya kami berhasil sampai ke bawah dalam waktu 1,5 jam dan tanpa cedera sedikit pun meski celana dan sepatu kets sudah berubah rupa! Sejam kemudian, kami langsung menuju ke Danau Toba untuk menyeberang ke Pulau Samosir! Asiiik! Ini dia yang ditunggu-tunggu. Meskipun kami harus duduk selama 4 jam perjalanan dan melewati jalanan yang sepanjang pinggirannya ‘dihiasi’ tebing yang curam tapi sama sekali tidak terasa.
Ada apa saja di Pulau Samosir? Tunggu cerita seru kami di edisi berikutnya, ya!
Contact the writer at putri.ningrum@mediasatu.com
Follow her on Twitter: @PutriNH


Comments
Be the first to comment.