FROM OUR DESK

Jalan Raya Milik Siapa?

February, 7th 2012 |  by  Ferry Ardiansyah  | Comments: 0

Jalan-jalan raya di berbagai kota besar, termasuk di Indonesia, banyak yang didesain untuk memenuhi pergerakan mobil. Badan jalan dibuat lebar, sedangkan jalur bagi pejalan kaki sempit, bahkan ti

Foto: pedestrian jakarta/teguhgigoaryanto.wordpress Foto: pedestrian jakarta/teguhgigoaryanto.wordpress

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Tragedi Xenia Maut! Demikian tagline beragam surat kabar yang entah mengapa justru memberikan vonis “maut”-nya kepada mobil keluaran Daihatsu tersebut. Adalah sang pengemudi, Afriyani, belakangan diketahui berada di bawah pengaruh narkoba sehingga hilang kesadaran dan tak melihat ada pejalan kaki di trotoar, lalu menghantamnya. Sembilan orang meninggal. 

Tak lama berselang, masih di bulan Januari 2012, pengemudi Honda Jazz bernomor polisi DD 175 UG di Makassar, diduga dalam keadaan mabuk, menabrak 15 orang yang ada di pinggir jalan. Ironis, mereka yang menjadi korban tengah berada di trotoar, tempat yang seharusnya aman dari laju kendaraan.

Kondisi ini diperparah dengan berubahnya fungsi trotoar menjadi lahan untuk mencari uang oleh para pedagang kaki lima. Atau, trotoar kerap menjadi jalan darurat bagi kendaraan bermotor yang tak mau ambil pusing menghadapi kemacetan.

Penyalahgunaan trotoar ini lalu menyebabkan kekesalan para pejalan kaki memuncak. Di beberapa jejaring sosial, beredar ajakan kepada para pejalan kaki atau pesepeda untuk memblokade para pengendara sepeda motor yang melewati trotoar.

"Hak pejalan kaki di trotoar sering dirampas secara paksa oleh para pengendara sepeda motor. Sayangnya, pihak kepolisian tidak mencermati hal tersebut," ujar Anthony Ladjar dari Koalisi Pejalan Kaki dalam undangannya di berbagai milis, termasuk milis Bike to Work Indonesia.

Apakah tindakan itu membuahkan hasil? Masih diragukan, tapi setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian warga sudah merasa gerah akan semrawutnya kondisi jalan raya di Jakarta.

"Kalau saya Presiden, saya akan keluarkan Aturan Pembatasan Kendaraan," demikian solusi singkat dari Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Vivanews.com edisi 23 Januari 2012. 

Lain dengan Robert Cervero, pakar tata kota dari Universitas California Berkley, yang berpendapat bahwa perubahan tata penggunaan lahan kota harus diikuti dengan perubahan prasarana transportasi.

Jalan-jalan raya di berbagai kota besar, termasuk di Indonesia, banyak yang didesain untuk memenuhi pergerakan mobil. Badan jalan dibuat lebar, sedangkan jalur bagi pejalan kaki sempit, bahkan tidak ada. Kondisi ini harus diubah. Jalur pejalan kaki dan jalur sepeda harus dilebarkan.

Dhyana Quintanar, Koordinator Strategi Mobilitas Sepeda Mexico City, mengatakan, jika lebih mengutamakan lalu lintas kendaraan bermotor, jalanan kota besar menjadi tempat yang penuh teror. Selain menghasilkan polusi asap yang menyebabkan pemanasan global dan memicu kanker paru-paru. Kendaraan bermotor juga sering memicu kecelakaan yang menewaskan ratusan sampai ribuan orang setiap tahun.

"Kota didesain untuk mobil atau manusia? Jika untuk manusia, pergerakan manusia tanpa mobil harus diutamakan. Ketergantungan warga Mexico City pada mobil bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga membuat banyak dari pengguna menderita obesitas karena jarang bergerak," kata Quintanar.

Berkaca dari Meksiko City yang pernah menjadi kota dengan kemacetan terburuk di dunia, kini Jakarta sedang berusaha memperbaiki tata kota dan sistem transportasinya. Namun apa lacur, sebagus apapun sistem dan transportasi yang ada, keselamatan di jalan tak akan tercapai  jika tidak disertai kesadaran dari para pengguna jalan.

Semua pengguna jalan pasti sepakat dan ingin lalu lintas jalan yang aman dan nyaman. Karena itu, lumrah jika ada harapan dari masyarakat bahwa pemerintah tak hanya bicara pembatasan kendaraan, melainkan juga gencar menciptakan transportasi massal hingga sarana publik yang memadai. Kalau itu terwujud, rasanya hidup warga kota bisa lebih sejahtera. Tak perlu was-was terjerembab dalam insiden kecelakaan lalu lintas jalan.

 

Sumber:
www.kompas.com
www.vivanews.com

 

Contact the writer at ferry.ardiansyah@mediasatu.com
Follow him on Twitter: @Ferryta

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.