ART & CULTURE

Potret Jejak Tionghoa dalam Pameran

February, 9th 2012 |  by  Hapis Sulaiman  | Comments: 0

Pameran bertema seni-budaya Tionghoa Peranakan ini merupakan kali kedua diselenggarakan BBJ. Selasa, 7 Februari, usai meeting editorial, saya dan Astri Apriyani meluncur ke BBJ.

Koleksi keramik-keramik Koleksi keramik-keramik

Koleksi kain-kain Hartono Sumarsono Koleksi kain-kain Hartono Sumarsono

Kain sulam khas Cina Kain sulam khas Cina

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Sebenarnya, gelaran Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Indonesia ini sudah kami tahu sejak beberapa hari silam. Seorang kenalan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) sudah meworo-woro adanya gelaran itu via e-mail. Bahkan, kami diundang hadir saat pembukaan pada 6 Februari silam. Lantaran sibuk, kami baru bisa singgah ke BBJ, Palmerah Selatan, Jakarta Barat, guna mengunjungi pameran ini keesokan harinya, hari pertama pameran.

Pameran bertema seni-budaya Tionghoa Peranakan ini merupakan kali kedua diselenggarakan BBJ. Jauh sebelumnya, pada 15-25 Januari 2009, BBJ sempat menghadirkan Pameran Warisan Budaya Tionghoa Peranakan: Sebuah Perjalanan Budaya. Selasa siang, 7 Februari, usai meeting editorial, saya dan Astri Apriyani meluncur ke BBJ.

Pameran ini dibagi-bagi ke dalam tiga section yang berada di tiga bangunan terpisah. Menapak gedung pameran utama yang berada persis di belakang rumah Joglo—ikon BBJ—, mata kami dipenuhi pemandangan benda-benda dan pajangan berukir warna kuning, emas, dan merah. Buat saya, memasuki areal pameran ini diibaratkan mengunjungi sebuah toko furnitur.

Koleksi paling dominan adalah ukiran-ukiran kayu berwarna merah-emas. Mulai dari koleksi kereta kuda yang dibuat dan digunakan pertama kali pada abad ke-19 dengan motif dan ukiran tipikal Cina peranakan Jawa, payung megah bernuansa merah-emas yang merupakan payung sulaman dari Jawa Tengah (1956/1957), tempat manisan, lemari-lemari dan tempat cuci muka berukir prada tipe Sumatra. Ini belum termasuk perangkat meja-kursi dari marmer, kursi-kursi kayu, perhiasan emas dan perak, serta gamelan-gamelan yang turut dipajang.

Menarik adalah ketika kita melihat usia tiap koleksi dengan seksama. Begitu tua, begitu klasik. Di tiap-tiap benda, tercantum keterangan yang menjelaskan asal, usia, hingga kegunaannya. Meskipun, di antaranya, ada beberapa koleksi yang kelihatan 'segar', karena ia hanya merupakan replika.

Menyaksikan ini, saya seperti memandang sebuah catatan panjang mengenai proses migrasi orang-orang Tionghoa dari tanah asal mereka, hingga akhirnya menetap di Nusantara. Dengan berbagai alasan, cara, dan tujuan mereka tiba, dan hidup di sini. Dalam kurun waktu yang panjang, kegiatan interaksi mereka di tempat baru pada akhirnya mewujudkan sebuah peradaban dan tatanan kehidupan baru dalam sejarah kehidupan mereka.

Masih ada dua bangunan lagi tersisa, yang memuat dua koleksi berbeda. Kami lebih dahulu melangkahkan kaki ke arah kanan dari pintu keluar bangunan utama. Sepanjang perjalanan menuju bangunan kedua, hujan deras mengantar. Tidak sampai 100 meter, kami tiba di seksi kedua Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Indonesia. Di sini, mata kami tidak lagi silau oleh dominasi merah-emas. Ruang ini kelihatan lebih clean, dengan cat dinding putih dan koleksi-koleksi kain serta kebaya dari Hartono Sumarsono.

Hartono Sumarsono adalah pendiri toko Batik Kencana Ungu dan Batik Citra Lawas, dan kolektor kain batik langka kelahiran 1953. Keinginannya untuk mengoleksi kain-kain batik kuno Nusantara ini muncul dari keprihatinan, ketika tahu batik-batik tersebut diboyong ke luar Indonesia oleh kolektor-kolektor asing. Ia mulai mengoleksi batik sejak 1986. Kini, ia sudah memiliki koleksi kain-kain kuno dan langka hingga mencapai 600-an, seperti batik dengan ragam hias Von Franquemont, batik dongeng dari Metzelaar, batik Van Zuylen, dan Padmo Soediro—bangsawan Jawa yang menjadi kepala urusan rumah tangga Lies van Zuylen.

Beberapa koleksinya—kain-kain (kain panjang dan sarung) serta kebaya—dipamerkan di bangunan kedua yang saya datangi. Salah satunya kain sarung motif Buket Latar Banji dari Pekalongan yang dibuat tahun 1920. Semua koleksi dijaga ketat. Berada di balik pagar pembatas, dan tidak boleh disentuh. Peringatan yang wajar mengingat ini adalah koleksi langka yang punya nilai jual tinggi.

Entah karena ini hari pertama pameran atau memang pameran ini cukup menarik minat banyak orang, pengunjung pameran hari itu ramai. Mereka berlalu lalang. Yang memotret, yang meliput, dan yang hanya sekadar menyodorkan kepala sangat dekat, mengamati koleksi-koleksi yang ada. Sebagian besar adalah pengunjung beretnis Tionghoa. Hujan seolah tidak jadi hambatan.

Ruang pamer terakhir, yang letaknya di sebelah kiri rumah Joglo, jadi tujuan kami berikutnya. Hujan mulai reda kala itu. Dan, di sini, koleksi-koleksi yang dipamerkan berkisar keramik-keramik berbagai jenis, bentuk, dan fungsi, serta kain-kain sulaman Cina. Termasuk dalam koleksi keramik di sana, ada Nonya Ware. Ini adalah jambangan yang sebagian besar dipesan khusus oleh nyonya-nyonya peranakan yang kaya-raya dan dipakai untuk acara-acara resmi, seperti pernikahan, tahun baru, ulang tahun, musim dingin. Atau, Cizhou Ware yang dibuat pada abad 14-16 (Dinasti Ming) dan berfungsi untuk wadah arak. Di luar itu, ada beraneka piring keramik, pot keramik untuk tempat payung yang merupakan produk Jepang dan dibuat akhir abad 19 atau awal 20, martavan, jambangan, hingga kendi set keramik.

 

Fast Track:
Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Indonesia
Pameran: 7-12 Februari 2012, jam 10.00-18.00
Bentara Budaya Jakarta
Jln. Palmerah Selatan 17, Jakarta Barat
Gratis
Website: www.bentarabudaya.com
E-mail: bbj@bentarabudaya.com

 

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow him on Twitter: @hapissu

Photo: Hapis Sulaiman dan Astri Apriyani

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.