Djenar Maesa Ayu datang kembali dengan buku kumpulan cerpen bertajuk T(w)itit. Di salah satu sudut remang Coffewar, kafe di bilangan Kemang Timur, Jakarta Selatan,saya menemaninya bicara soal T(w)itit dan semua keluh-kesahnya soal perempuan.

Tak pernah habis membuat kejutan dan tak pernah berhenti menyuarakan perempuan. Itu yang saya kenal dengan Djenar Maesa Ayu. Sosok cantik yang sudah melahirnya Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002), Jangan Main-main Dengan Kelaminmu (2004), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek (2006), 1 Perempuan 14 Laki-laki (2011), dan satu novel berjudul Nayla (2005). Dipembukaan 2012, putri Bung Sjuman Jaya ini, hadir dengan T(w)itit yang masih kental dengan ciri dan pribadinya yang jujur dalam penulisan dan begitu peka dengan keperempuanan.

Kenapa menulis?

Karena butuh. Bukan karena senang, tapi butuh. Saya sebenarnya bukan tipe orang yang 'lisan'. Saya orang yang lebih tekstual. Mungkin saya tumbuh, sejak kecil, dari keluarga seniman, yang juga sudah berpisah. Kedua orang tua saya sebagai pekerja seni punya jadwal kerja yang berbeda dengan anak-anaknya. Saya bangun tidur, mereka baru pulang. Ketika saya pulang sekolah, mereka sedang bekerja. Jadi, saya lebih sering berkomunikasi pada saat itu lewat surat. Saya memang orang yang tekstual sekali. Sampai sekarang saya lebih suka ber-SMS ketimbang langsung telepon. Saya pikir menulis adalah kebutuhan, bukan sekadar senang.

Pemunculan Djenar pertama kali dengan kepolosan dalam penulisan hingga dicap vulgar?

Saya pikir ini bukan masalah polos atau vulgar. Ini adalah masalah gender. Ketika seorang perempuan seperti sekarang sudah berani mengatakan sesuatu, atau menulis satu kata, mereka lebih mudah dihakimi tanpa dilihat secara keseluruhan esensi dari apa yang ingin diceritakannya. Saya curiga banyak sekali orang, yang hanya karena rumor, lalu menghakimi hanya dari satu kata, misalnya, 'penis'.  Terus, mereka bilang saya sebagai penulis yang menulis tentang seks. Saya menulis tentang seksualitas, bukan aktivitas seksual. Saya menulis tentang tindak kekerasan pada anak-anak dan pelecehan seksual. 
Jadi, menurut saya pornografi itu punya niatan untuk perangsang. Jadi, jika mereka terangsang karena  saya menulis tentang pelecehan seksual pada anak di bawah usia 9 tahun, saya pikir orientasi seksual mereka yang harus dipertanyakan. Bukan saya, ha-ha-ha.

Saya merasa ini persoalan gender. Ketika saya menulis 'memek' itu menjadi heboh. Padahal, Beni Setia, seorang sastrawan besar dan karya-karyanya pernah masuk di Kompas dan pernah menjadi buku terbaik Kompas dengan tokoh bernama 'memek'; Putu Wijaya memakai judul puisinya 'memek'; Sutardji Calzoum Bachri menyatakan kerinduannya pada 'kontol yang panjang dari pulau ke pulau'; tidak pernah diributkan. Tapi, ketika seorang perempuan menuliskan 'memek', menjadi kontroversial. Jadi, sebetulnya saya pikir ini masalah ketimpangan gender. 

Itu yang membikin seorang Djenar gerah melihat pendapat-pendapat tersebut?

Saya sebagai perempuan, sampai sekarang saya masih hidup dan bisa menjadi diri sendiri. Sampai saat ini tidak ada sesuatu yang menyulitkan saya, instruksi sosial macam apapun. Tapi, bahwasannya ketika saya menjadi penulis, diskriminasi itu memang terasa sampai akhirnya muncul Sastra Wangi, hanya berdasarkan penampilan, semua yang mereka bicarakan di luar sastra. Kalau, toh, mengacu pada 'sastra wangi', kami tidak menuliskan sesuatu yang 'wangi'. Kalau mengacu pada fisik, saya bau ketek, kok. Siapa yang tahu saya bau ketek dan tidak wangi, he-he-he.

Seingat saya, istilah sastra wangi muncul sekitar 2000-an. Sampai sekarang masih terasa dampak pengelompokan Sastra Wangi?

Pada waktu itu, saat Ayu Utami, saya, dan Dewi 'Dee' Lestari, memang terasa. Sekarang memang sudah 'melemah'. Tapi, di luar penolakan pribadi saya terhadap label itu, sebetulnya saya merasa 'terangkat' dan akhirnya membuat saya laku, ha-ha-ha.

Lima kumpulan cerpen dan satu novel. Mana yang lebih nyaman untuk seorang Djenar?

Nggak ada yang nyaman, semua punya tingkat kesulitan yang sama. Sama-sama sulit. Novel bukanlah cerpen yang dipanjang-panjangkan dan cerpen bukanlah novel yang dipendek-pendekkan. Semuanya punya tingkat kesulitan masing-masing. Hanya saja menulis novel membutuhkan 'napas' yang lebih panjang. Mungkin, karena saya penulis impulsif. Saya tidak seperti kebanyakan penulis yang sudah punya konsep akan apa-apa yang akan ditulisnya. Karena keimpulsifan itu yang memudahkan saya adalah cerita pendek.

Makanya novel “Ranjang” ini sudah 6 tahun belum kelar. Napasnya kurang panjang, ha-ha-ha. Mungkin karena cara penulisan saya yang impulsif. Kalau “Ranjang”, memang direncanakan. Tapi, saat Nayla awalnya saya pikir itu akan menjadi cerpen. Tapi pada saat proses kreatifnya ada banyak desakan-desakan. Nayla sendiri sebagai sebuah novel, kata orang, cukup cepat ya, 4 bulan. Tapi “Ranjang” ini nggak tahu kenapa. Mungkin karena yang ini sudah lebih tua, he-he-he.

Bicara Djenar akhirnya bicara Syuman Djaja. Seperti sang ayah, Djenar terjun ke film dan meraup prestasi di situ. Apa memang akan menyeriusi film?

Saya menempatkan diri saya sebagai kreator atau berkarya, bukan karena saya ngoyo mau menjadi director atau saya ingin jadi penulis. Sekali lagi karena kebutuhan. Saya belum tahu nantinya, habis ini akan membuat film atau apa. Bahwasannya desakan itu ada, sekarang ada. Tapi, saat ini saya mau menyelesaikan “Ranjang” dulu dan rasanya sudah bisa dibendung lagi. Tahun depan. Harusnya saya sudah membuat film memang ada. Tapi, saya bukan orang yang ngoyo. Memang saya belum mendapatkan basic yang kuat. Saya pikir saya hanya bisa men-direct film yang saya tulis. Jadi, kalau saya belum bisa menulis script yang menurut saya baik, saya tidak akan membuat film. Sesederhana itu.

Ketika di film, merasa selalu disanding-sandingkan dengan nama Sjuman Jaya? Merasa terbebani?

Disanding-sandingkan pasti. Terbebani? Sama sekali tidak. Karena jelas zamannya sudah berbeda. Isu yang beliau angkat dengan saya juga berbeda. Gender kami juga berbeda. Mungkin kalau ibu saya yang membikin film, mungkin ada hal yang akan sama, keperempuanan.

Ada hal dari beliau yang menginspirasi Anda?

Pasti ada. Saya tahu persis beliau. Kejujurannya. Dia orang tidak mau dikontrol oleh executive producer, atau siapapun, sampai dia memproduseri sendiri. Maka itulah dia menulis sendiri. Saya pikir itulah yang saya ambil dari beliau.

Menyoal “T(w)itit”, dari 11 cerita, ada 1 cerita (“UGD”) yang ditulis agak jauh waktunya, September 2011. Sepuluh sisanya ditulis dari 23 Desember 2011- 02 Januari 2012. Hanya ada 2 hari alpa dari rentang Desember-Januari itu. Ada apa ini?

Saya memang berencana menerbitkan buku seperti biasa, pada setiap 14 Januari, tepat di hari ulang tahun saya. Di bulan sembilan itu, Mirna, editor saya, baru mulai main Twitter dan mem-follow saya. Dia bilang, “Bu, twit-twit-nya diterbitkan ya, bagus-bagus. Nanti saya yang sortir.” Lalu saya katakan, kalau itu sudah bisa diakses di social media, buat apa saya harus menjualnya. Orang harus susah payah membayar. Akhirnya muncul ide mengembangkan dari twit-twit itu. Akhirnya lahir pertama kali “UGD”, tapi setelah itu mandeg. Saya katakan pada Mirna, bahwa seperti tidak mungkin terbit pada 14 Januari. Akhirnya mundur menjadi 14 Februari.

Saya adalah orang yang tidak terlalu peduli pada tema, sebenarnya. Saya lebih peduli pada struktur. Pada akhirnya, itulah yang membedakan setiap kreator. Tema menurut saya sudah terlalu mapan. Cinta, pengkhianatan, politik, atau apapun, semuanya sudah pernah ada dari puluhan abad lalu. Jadi bagaimana kita menceritakan tema yang sudah mapan ini menjadi sesuatu yang baru.

Jadi sebenarnya itulah yang membuat mandeg di bulan sembilan itu, saya berpikir apa yang kira-kira bisa merangkum ini semua? Akhirnya muncul ide besarnya. Twitter itu adalah saya. Saya adalah riil, tapi apakah sesuatu yang saya posting adalah riil? Kan, nggak. Sebetulnya seperti itulah proses kreatif. Pembaca banyak menghubungkan karya dengan penulis. Menurut saya wajar. Bahkan seorang kreator memang tidak bisa terlepas dari pengalaman harafiahnya sendiri. Tapi, ketika itu sudah menjadi karya, ia bisa menjadi hiperbola, didramatisasi, atau bahkan diminimalisasi. Twitter pun demikian. Jadi sebetulnya, di buku ini saya bermain antara imajinasi dan realitas. Itulah yang saya tampilkan dalam sampul buku ini. Satu  riil, satu lagi imajiner (sketsa).

Kenapa memilih judul T(w)itit, bukan Nayla mengingat di dalam semuanya bercerita tentang Nayla?

Kan, sudah ada novelnya. Ooh, jadi “T(w)itit Nayla”, begitu? Ha-ha-ha.

Kenapa memilih nama tokoh Nayla lagi?

Aduh, saya malas cari nama. Saya bukan orang yang pintar cari nama. Nayla saja. Saya suka sekali tokoh Sukab dan Alina (nama-nama rekaan Seno Gumira Ajidarma yang kerap hadir dalam ceritanya). Ya, sudah saya Nayla saja.

Apa arti Twitter bagi Anda sebagai penulis?

Sebetulnya sosial media apapun adalah alat. Ia bisa menjadi alat untuk memperkenalkan diri kepada khalayak yang lebih luas. Dan, untuk itu harus lebih bijaksana menggunakannya. Jadi, ketika ada orang membuat sebuah pencitraan melalui alat itu, ya sah-sah aja. Kita tidak pernah tahu bila itu menjadi tujuannya. Untuk saya, Twitter sendiri menjadi alat untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Baik untuk promosi. Twitter itu menjawab lebih cepat daripada Tuhan.

Di akhir setiap cerita tertanda nama sebuah kafe. Coffeewar terbanyak, ada apa dengan tempat-tempat seperti ini?

Saya memang sudah tidak bisa lagi menulis di rumah. Untuk itu saya butuh tempat. Saya juga bukan orang yang senang menclak sana menclok sini. Kalau sudah suka satu, ya itu terus. Dan ini salah satu tempat yang comportable untuk saya menulis dan nongkrong.

Untuk saya, T(w)itit seperti tumpahan keluh-kesah Djenar atas fenomena perempuan melalui  Nayla dan tokoh perempuan lainnya. Sebaliknya, bagaimana Anda berpikir dan menulis cerita tentang laki-laki?

Saya tidak pernah memandang satu laki-laki. Saya pikir saya di sini memandang masyarakat terhadap perempuan, bukan laki-laki terhadap perempuan. Kalau laki-laki itu banyak dan bisa beragam. Dan seseorang itu bisa ada di sebuah tempat, atau dalam komunitas, yang menerima mereka. Itulah yang terjadi pada saya. Saya sudah memiliki komunitas yang membuat saya nyaman dan menjadi diri saya sendiri. Yang saya bicarakan adalah masyarakat yang lebih luas. Di situ ada tentang reaksi masyarakat terhadap rok mini yang menjadi sumber perkosaan, seperti itulah. Ini kaitannya dengan sampul buku ini, kenapa saya buat demikian. Bahwa tubuh perempuan menjadi akar dari apapun yang dipersalahkan dan akhirnya itu menjadi problem baik kepada laki-laki maupun perempuan. Kalau saya sih, laki-laki oke semua. Pilihan, dong, ha-ha-ha.

Untuk saya, T(w)itit seperti curhat atau tumpahan keluh-kesah Djenar atas fenomena perempuan...
Curhat itu sebetulnya menjadi kata lain dari rasa concern kita sebagai manusia. Kebetulan saya perempuan jadi saya menuliskan isu tentang perempuan. Saya tidak akan berpura-pura menuliskan isu laki-laki sebab saya tidak mengenal laki-laki. Saya tidak akan menulis tentang politik sebab saya tidak punya latar belakang politik sebab saya dari ekonomi. Saya lebih kenal perempuan. Saya ibu juga eyang putri dari cucu perempuan, ya saya memang punya pengalaman batin di mana masyarakat dan dunia ini tidak aman untuk perempuan.

Jadi sebaiknya perempuan seperti apa, mbak?

Jadi dirinya sendiri, tanpa ada tekanan dari siapapun atau dari manapun. Dan, itu harus dimulai. Mungkin saya memang bukan orang yang mampu melakukan hal yang besar. Tapi, setidaknya saya loner dan bisa menulis untuk membuka penyadaran.

Melihat Anda di beberapa kesempatan, Djenar selalu menenteng bir. Kenapa suka sekali bir?

Doyan aja. Di rumah nggak minum bir. Paling murah. Kalau minum yang lain, sudah penulis, kapan bisa kaya? Ha-ha-ha.

Pernah dikomentari orang lantaran pembawaan Anda yang cuek dan bebas ini?

Pasti, tapi biarkan sajalah. Pro dan kontra itu harus selalu ada sebab kita masyarakat majemuk. Kalau nggak, berarti ada yang salah. Kalau sampai semuanya harus seragam itu namanya Orba (Orde Baru).

Project apa yg selanjutnya dari Djenar? Buku atau film?

“Ranjang”. Ya, mudah-mudahan bisa bikin script dan film. Sementara itu yang terpikir di kepala. Apa yang terjadi nanti, let it flow saja.

Pencapaian puncak, target hidup seorang Djenar?

Jadi ibu yang baik untuk keturunan saya saja deh. Itu yang paling penting.

Saat pemunculan pertama kali, seorang Djenar kabarnya belajar dari seorang GM (Goenawan Mohamad)?

Itu salah orang, ha-ha-ha. Itu Ayu Utami. Saya banyak belajar dari Seno Gumira Ajidarma, Budi Dharma, dan Sutardji Calzoum Bachri. Saya tidak terlalu bisa mengapresiasi puisi. Saya suka Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. Sutardji sendiri saya suka justru saat dia menulis cerpen “Hujan Menulis Ayam”. Saya tahu beliau hebat sebagai presiden penyair, tapi saya tidak bisa mengapresiasi puisi.

Dari Seno sendiri?

Wow. Saya pikir orang yang paling inspiratif buat saya. Saat awal berkarya saya dihubung-hubungkan dengan Seno Gumira Ajidarma, keseno-senoan, he-he-he. Tapi saya pikir itu tidak masalah karena kita hidup berdasarkan referensi. Kita hidup, bersikap, dan berkaya, referensi selalu ada. Tapi, saya pikir Seno tidak bisa menulis seperti saya, he-he-he.

Kenapa tidak mencoba puisi?

Saya pikir puisi berkait erat dengan bahasa. Berarti yang harus digali adalah bagaimana menelurkan bahasa baru. Gilanya seorang Sutardji Chalzoum Bahri dia bisa menciptakan bahasanya sendiri, dia mampu mengubah puisi menjadi bahasa baru, menjadi mantra. Puisi menjadi mantra. Saya bisa menikmati puisinya saat mendengar, bukan membacanya.

Dengan penyuaraan fenomena perempuan, apakah Djenar seorang feminis?

Saya pikir saya humanis bukan feminis. Saya mau menjadi manusia punya hak untuk menjadi manusia. Saya juga tidak mau perempuan harus lebih tinggi dari laki-laki. Itu sudah keluar dari konteks saya sebagai makhluk hidup. Saya sebagai manusia. Karena saya perempuan dan banyak tekanan kepada perempuan, maka saya menyuarakan suara saya sebagai seorang perempuan. Saya tidak menyuarakan gender perempuan di atas laki-laki. Loe yang bisa hidup tanpa laki-laki. Sudah gila apa? ha-ha-ha.

Ketimbang mendekonstruksi pemahaman pada perempuan, kenapa tidak juga mendekonstruksi pemahaman pada laki-laki?

Tadinya saya pikir begitu. Berangkat dari penggambaran perempuan yang saya tahu saya pikir bisa membentuk dekonstruksi pemahaman atau pemikiran itu pada laki-laki. Tapi saya tidak tahu apakah pembaca saya laki-laki atau perempuan. Setahu saya lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang menyukai karya tulisan saya. Mungkin mereka buka tidak suka, tapi takut, dan merasa terintimidasi, ha-ha-ha. 




Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow him on Twitter: @hapissu