Saat kesepuluh sutradara muda dan berbakat mengangkat 10 cerita berbeda dengan bertemakan LGBT dan cinta,seperti apakah jadinya? Putri Ningrum & Hanindyo Suropati sangat bersemangat saat akan bertemu orang-orang dibalik Sanubari Jakarta.

Lesbian, Gay, Bisexual, & Transgender (LGBT) adalah isu yang sensitif. Kenyataannya, kaum itu memang hidup di dalam masyarakat tetapi masih belum bisa diterima sepenuhnya. Saat kesepuluh sutradara muda dan berbakat mengangkat 10 cerita berbeda dengan bertemakan LGBT dan cinta, seperti apakah jadinya? Putri Ningrum & Hanindyo Suropati sangat bersemangat saat akan bertemu orang-orang dibalik Sanubari. Lola Amaria (produser), Aline Jusria (sutradara ‘Kentang’), Sim F (sutradara ‘Kotak Cokelat’), Haffes (pemain ’Kentang’), Dimas Hary CSP (pemain ‘Malam Aku Cantik’), Laila Nurazizah (script writer), dan Adriyanto Waskito Dewo (sutradara ‘Menunggu Warna’) rela berkumpul di tengah hiruk pikuk persiapan premiere Sanubari Jakarta. Simak celotehan mereka.

Kenapa pilih tema LGBT?
Lola:  Sebenarnya, berawal dari tahun lalu saat saya mau mentoring Dinda Kanya saat mau bikin film pendek yang bertema transgender. Filmnya Dinda menurut saya bagus dan sangat sayang kalau tidak bisa dinikmati oleh banyak orang karena durasinya yang terlalu pendek. Akhirnya, saya berinisiatif untuk mengajak 9 orang yang lainnya untuk membuat film pendek dan menjadikannya omnibus. Nah, karena pertama nya sudah transgender, maka diangkat tema besar tentang LGBT dan di Jakarta.

Lalu, kenapa omnibus bukan antologi atau malah dijadikan sebuah film?
Lola:  Supaya akhirnya bisa dapat100 menit dan bisa diputar di bioskop dan festival-festival. Kenapa juga akhirnya diseriusin karena ini local content tetapi international issue. Semua yang diangkat itu adalah based on true events. Jadi ini semuanya ceritanya nyambung satu sama lain. Kalau dianalogikan seperti sedang keliling pakai ‘kendaraan’ di Jakarta.

Bagaimana mencari 9 sutradara lainnya?
Lola:  Saya melobi dan meminta mulai dari Aline, Tike kecuali Adri dia memang minta sendiri, ha-ha-ha! Sim adalah orang terakhir karena trans seksual yang male to female belum ada dan saya dengar dia tertarik untuk bikin film akhirnya saya ajak dia.

Total keseluruhan prosesnya berapa lama?
Lola: Setahun sampai akhirnya jadi! Paling lama Adri, padahal dia skrip-nya sudah jadi duluan, tapi selesai paling lama.
Adri: Karena saya masih harus menunggu dananya terkumpul.

Film ini berangkat dari permasalah yang ada setiap level masyarakat. Apakah ada alasan tertentu?
Lola: Jakarta sangat besar dan lengkap. Ini adalah isu yang paling dasar di Jakarta, yaitu LGBT dan cinta. Kenapa cinta? Karena lebih universal.

Dari trailernya saja sudah terlihat ekstrim. Apakah tidak ada ketakutan mendapat kecaman dari pihak-pihak tertentu?
Lola: Sebenernya bukan soal takut, tapi ini adalah realita di masyarakat bukan bias dan bukan sesuatu yang dipaksain tapi memang realitanya seperti itu.

Lalu, bagaimana dengan proses sensor?
Lola: Sudah selesai kok dan untungnya tidak banyak dipotong.
Aline: Thank god! Bisa abis film gue kalo dipotong banyak-banyak, ha-ha-ha!

Terdapat nama Kresna Duta Foundation. Apa hubungannya dengan Sanubari dan apakah fungsinya?
Lola: Setelah filmnya Dinda, kita membutuhkan suatu pondasi yang kuat, lalu terbentuklah Kresna Duta Foundation. Yayasan adalah yang paling tepat karena ini adalah isu sosial dan non profit. Sebenarnya, anggotanya hanya saya, Harris, dan Fira.

Untuk masing-masing sutradara, bagaimana proses risetnya?
Sim F: Sebenarnya, gak lama. Saya mulai riset November, lalu ternyata narasumber saya tidak punya masalah dan kisah percintaannya lancar-lancar saja. Setelah itu baru saya pusing mencari solusi, yaitu masalah yang lebih global.
Lele: Jadi lebih ke bagaimana ‘cinta’ itu memenangkan segala hal termasuk menerima orang yang transeksual. Kita dan orang-orang mungkin sudah capai fokus hanya di masalah ‘transeksual’ hingga akhirnya kami angkat dari sisi lainnya.
Lola: Karena kita benar-benar film indie dan tidak ada support dari mana pun, maka yang menjadi kendala dan membuat lama adalah soal biaya. Tapi masing-masing beragam waktunya. Dan kita sama sekali tidak pernah ada intervensi satu dengan yang lain.

Lalu, batasannya sejauh mana?
Hary: Batasannya sih sebenarnya sederhana. saya dan agustine berdua adalah aktivis. Kami berpikir bahwa stigmatisasi tentang LGBT dikurangin, misalnya drama tentang pembunuhan, dan lain-lain. Walaupun sebenarnya kalau tentang drama ya selalu ada. Wong, dalam kehidupan kaum LGBT drama selalu ada tetapi tak sebrutal itu. Ini adalah advokasi audio visual.
Lola: Sebenarnya, kami melalui film ini tidak bermaksud untuk membela ataupun menjudge kaum LGBT tapi lebih ke sisi kemanusiaannya. Ini adalah realita. Contohnya, dunia fashion Indonesia juga tidak akan sebesar ini kalau bukan karena mereka. Bunda Dorce pun yang telah melakukan transgender, ada kok ditengah-tengah kita. Jadi, kita harus menerima mereka. Pokoknya kita mengangkat hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.

Film ini akan dibukukan juga?
Lele : Sekarang sedang dalam proses pencetakan dan akan diusahakan akan keluar bareng dengan premiere-nya, yaitu 9 April. Pihak Gramedia sedang melakukan proses editing. Kalau ternyata selesainya tidak bareng, maka kami tetap akan meluncurkannya meskipun berbeda waktu.

Apa yang paling berkesan tentang proses pembuat film ini?
Hary: Yang membuat saya salut dengan tim film ini adalah friendship antara satu dengan yang lain. Semua orang willing to try to do anything. Misalnya Dinda dan Haffez yang heteroseksual dan mereka mau melakukan adegan seksual sesama jenis, ha-ha-ha!

(Haffes) Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mendalami peran sebagai gay?
Haffes: Hari Rabu ditawarin, tes, dikasih waktu sehari, dan Jumat pagi kita sudah mulai selesai syuting.
Harry: Saat proses pendalaman saya ada disitu dan akhirnya saya kasih kisi-kisi bagaimana agar bisa lancar dan trik dengan membayangkannya lawan akting sebagai perempuan hingga bisa memperlakukannya seperti memperlakukan wanita. Akhirnya, dia bisa juga, ha-ha-ha!

(Aline) Kenapa akhirnya terpilih Haffez dan tampak seperti dipaksakan karena waktunya yang sudah mepet?
Aline: Untuk kasus Haffez tadinya akan diperankan oleh Vinno G. Bastian tapi terbentur dengan jadwal. Nah, untuk ceritaku tuh sangat vulgar jadi agak susah mencarinya. Akhirnya, aku minta tolong untuk dicariin siapa saja yang mau dan bisa akting. Film saya adalah tentang percakapan dua orang yang harus menampilkan emosi.

Selain ide, biaya, apakah pemain dan kru dari masing-masing film juga pilihan masing-masing sutradara?
Lola: Kalau saya dealnya antar director saja karena saya juga tidak bisa memaksakan mereka cocok dan nyamannya dengan siapa.
Hambatan dari masing-masing?
Duiit!! (jawab semuanya secara serempak)
Adri: Kalau riset tidak terlalu ribet karena kita memposisikan di luar kaum LGBT.
Bagaimana menentukan urutan pemutaran film?
Lola: Penentuan ini seperti main puzzle jadi diputer terus sampai sempurna. Susah sekali untuk menentukan hingga akhirnya final.

Apa harapan kalian untuk selanjutnya setelah masyarakat menyaksikan film ini?
Aline: Kalau aku  berharap bisa berhasil mengajak penonton lebih dewasa.
Adri: Kita disini dari sudut pandang yang berbeda—ada yang pemuat film, editor, dan pemain, dan perbedaan tersebut lah yang lahir disini.
Lola: Aku berharap penonton bisa menerima perbedaan dan Sanubari bisa mengedukasi. Harapan lain yang paling besar buat kita semua adalah penonton yang sebanyak-banyaknya.
Haffes: Ini memang film indie tapi jangan dipandang sebelah mata karena kualitasnya bagus dan tidak kalah meskipun disejajarkan dengan film yang berbudget milyaran.
Ada program-program lain untuk mengedukasi masyarakat sekaligus sebagai ajang promosi?
Hary: Selain di bioskop kita juga ada roadshow. Nah, roadshow-nya sendiri nanti kami akan lebih membidik komunitas dan universitas.