Seperti menjadi kebiasaan, setiap April menjadi absah bila mengetengahkan topik soal perempuan, kebangkitan perempuan, dan mengapresiasi kembali kiprah RA Kartini. Yep, April selalu menjadi momentum yang bagus untuk bicara soal perempuan.

Soal perempuan, ulasan mengenai kiprah RA Kartini, kesetaraan asasi, emansipasi, dan masih kentalnya stigma kasur-dapur-sumur pada perempuan di dalam masyarakat, selalu menjadi topik yang menyeruak ke permukaan setiap kali bicara perempuan. Sejumlah majalah dan terbitan media massa ramai memunculkan profil-profil perempuan inspiratif yang bisa disejajarkan sebagai Kartini Masa Kini. Agak membosankan? Sepertinya demikian. Tapi kami bukan bermaksud mengingkari kenyataan masih adanya ketimpangan gender di masyarakat kita.

Nah, makanya, agar sedikit berbeda, daripada lagi-lagi menampilkan profil-profil perempuan yang berujung pada subjektivitas, kami biarkan perempuan-perempuan ini bicara soal mereka sendiri. Perempuan bicara perempuan. Di edisi ini kami memberikan kebebasan sepenuhnya kepada perempuan untuk mengungkapkan ekspresi mereka soal kaumnya. Dalam feature ini kami datang dan bertanya pada sejumlah perempuan, juga menampung beragam komentar mereka tentang perikehidupan perempuan saat ini, kiprah perempuan kini, halangan-halangan yang menjadi aral kesamaan harkat dan emansipasi perempuan, cara menggalakkan semangat emansipasi, serta menilai siapa figur inspiratif pengusung semangat RA Kartini.

Selamat Hari Kartini dan dengarkan perempuan-perempuan ini bicara! 


Reda Gaudiamo


“Pilihan itu Ada di Tangan Perempuan”

Dalam opini Anda, bagaimana situasi/kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Dari pengamatan sendiri, atas berbagai sumber, tampaknya perempuan sekarang bisa melakukan apa saja. Baik itu menyangkut kebebasan aktivitas, berekspresi maupun menyampaikan pendapat.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Perempuan Indonesia harus kuat, pandai dan tahu bagaimana memanfaatkan kehebatannya: buat diri sendiri, keluarga dan bangsa. Perempuan Indonesia harus tahu dan sepenuhnya sadar, bahwa segala sesuatu yang terjadi atas bangsa ini di masa depan, tergantung pada dirinya. Kalau perempuan memilih sehat, maka sehatlah seluruh keluarga dan lingkungannya. Kalau ia memilih maju, berani, jujur,  menghormati orang lain, maka generasi macam itulah yang akan lahir darinya. Kalau perempuan memilih mundur, diam, maka ia akan menghasilkan anak-anak yang mundur, diam dan tak berkembang. Kalau perempuan memilih melanggar peraturan, tak jujur, melihat perbedaan sebagai masalah, maka anak-anak seperti itulah yang akan ia besarkan dan kelak membangun negeri ini. Pilihan itu ada di tangan perempuan.


Tindakan apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia atas pentingnya peran mereka?

Belajar, membaca, mendengar, mencerna dengan baik. Memilih untuk jadi orang benar. Memilih untuk mengasihi ketimbang membenci. Memilih untuk berbagi, ketimbang merebut. Tidak ikut-ikutan karena orang lain bilang begitu atau begini. Perempuan harus menjadikan dirinya cerdas. Menjadikan dirinya pasangan pria, dan bukan penguasa, dan bukan yang dikuasai. Menjadikan dirinya ibu yang mengajarkan kebenaran kepada anak dan memastikan suami juga melakukan yang sama.

Menurut Anda, adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Perempuan-perempuan dari keluarga Gus Dur. Istri dan anak-anaknya.


Ary Kirana
“We Gotta Have Brain and Knowledge”

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, terkait kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Selama ini saya sudah bisa mengatakan apa yang ingin saya katakan, dan melakukan apa yang ingin saya lakukan. Tapi, itu mungkin salah satu keuntungan tinggal di kota besar, dan dibesarkan di lingkungan yang cukup liberal.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Yes, contohnya: dengan ada kejadian pemerkosaan dan 'meng-highlight' pakaian perempuan sebagai alasan utama terjadinya pemerkosaan, adalah salah satu hal yang membatasi 'gerak' perempuan. Ini bukan berarti perempuan mau berpakaian terbuka ke mana-mana, tapi sudut pandang yang salah tentang perempuan yang membuat kita suka serba-salah. We are more than a flesh.

Seperti apa baiknya perempuan Indonesia saat ini?
We set our own standard. Jika tidak ingin dipandang rendah, we gotta have brain and knowledge.

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan indonesia?
Nggak usah ribet-ribet, kalau sudah bisa berguna untuk keluarga, pasangan, pertemanan, dan lingkungan kerja sudah cukup.

Adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Ibu saya, Sriwulan Hapsari dan juga Jajang C. Noer, tapi kalau mau yang lebih modern alias terkini lagi saya pilih Ria Warna. Kenapa saya pilih Ria Warna? Berarti harus ada wawancara terpisah, he-he-he. Tapi, pendeknya: she has a heart for poor people, the forgotten people.

Tifanny Raytama, News Anchor

Ada batasan yang merintangi perempuan Indonesia?
Perempuan yang masih 'terjebak' dalam aktivitas minoritas seperti itu lebih dikarenakan ketidakberanian beraspirasi atau bisa jadi ketakutan keluar dari 'comfort zone'. Yang perlu disadari, menjadi Merdeka bukan berarti melupakan kodrat. Perempuan juga harus tetap sadar akan kewajiban dan tanggungjawabnya. Itu kenapa perempuan punya kelebihan dibandingkan laki-laki, karena perempuan bisa menjadi dua pribadi berbeda dalam satu waktu. Perempuan bisa menjadi seorang profesional dalam pekerjaannya, namun naluri kewanitaannya sebagai sosok di keluarga juga terpenuhi.

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia agar sadar dengan peran sertanya membangun?
Terlepas dari keinginan, yang harus ditanamkan terlebih dahulu adalah pola pikir. Jangan hanya terkonsentrasi melihat dirinya adalah pekerjaan rumah,tapi buka mata, bergerak keluar. Dunia juga membutuhkan tangan-tangan lentik ini,untuk mengubah dunia. Bisa Dimulai dari membaca dan mencari berita.
 


Yacko Oktaviana
“Semua Perempuan Adalah Kartini Modern”

Bagaimana Anda melihat kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Kemajuan teknologi, jurnal-jurnal perempuan, serta semakin banyaknya tokoh perempuan yang muncul, membuat perempuan Indonesia sekarang lebih bebas berekspresi dan menyampaikan pendapat. Kemajuan teknologi seperti maraknya social media seperti Twitter, blog, atau Facebook, membuat siapapun dapat beropini, bahkan tak jarang untuk beradu argumen dengan siapapun. Memang mungkin banyak yang kemudian berkata bahwa “Ah, ini kan cuma Twitter. Tidak usah ditanggapi,” tapi menurut saya, twitter itu sangat subyektif, yang isinya bisa berasal dari kata hati yang paling dalam dan bisa menjadi sarana untuk belajar memberi opini dan mengerti opini orang lain. Adanya situs-situs perempuan dan jurnal perempuan juga dapat meningkatkan awareness perempuan Indonesia akan pemberdayaan dan penegakan hak-hak perempuan serta memberikan ruang bagi mereka yang ingin menyuarakan pendapat. Munculnya tokoh-tokoh perempuan seperti Sri Mulyani, Rieke Dyah Pitaloka, dan lainnya di berbagai bidang, yang sering diangkat oleh media massa, juga dapat meningkatkan confidence perempuan Indonesia untuk menyampaikan suaranya.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Sayangnya iya, stereotipe yang ada di masyarakat tentang perempuan dijajah pria sejak dulu dan perempuan lemah itu kadang mematahkan semangat perempuan Indonesia. Selain itu, perempuan hanya dilihat sebagai objek seks juga masih muncul di pemikiran masyarakat kita. Contohnya, yang baru-baru ini saja, rok harus di bawah lutut. Pola persepsi seperti itu sangatlah dangkal, melihat segala sesuatunya dari cara berpakaian. Kalau memang rok di atas lutut, tapi masih dalam batas sopan dan didampingi dengan perilaku yang santun, bagaimana? Pornografi bukan dilihat dari panjang pendek rok, tapi dari eksploitasi seksual. Yang musti diarahkan itu, ya, pikiran pervert orang-orang saja. Selain itu, pendapat saya di pertanyaan sebelum ini, sayangnya mungkin masih terjadi di lingkungan perkotaaan dan kabupaten. Di tingkat kampung masih banyak terjadi diskriminasi pada perempuan adat. Di tingkat kampung, sesuai kebanyakan hukum adat, peran kaum perempuan dan lelaki sudah digariskan. Peran perempuan terkait dengan kerja-kerja reproduksi (seperti mengambil air, melahirkan anak dan mengurusi rumah tangga), sementara lelaki memiliki lebih banyak peran dominan seperti membuat keputusan politik baik di rumah tangga maupun urusan kampung. Hal ini membuat banyak hak-hak perempuan menjadi terkesampingkan, salah satunya masalah pendidikan dan kesehatan. Dianggap tidak perlu menuntut pendidikan yang tinggi dan kurangnya pengetahuan tentang kontrasepsi yang akhirnya berakibat pada tingginya angka kematian ibu saat melahirkan anak untuk yang kesekian kalinya.

Idealnya, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Yang utama adalah perempuan Indonesia harus mendapatkan tingkat pendidikan yang cukup. Pendidikan di sini adalah tidak hanya hard competency seperti technical skill, tapi juga soft competency (kemampuan menyelesaikan masalah, leadership, communication, dan mandiri). Selain itu, melek teknologi dan informasi. Bukan menjadi perempuan budak teknologi dan produk, tapi lebih kepada mampu meng-update kemampuan diri di berbagai bidang sesuai tempat dia berada tanpa perlu harus melecehkan kaum lelaki dan memilih produk yang membuatnya nyaman.

Tindakan apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan indonesia untuk sadar dengan pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Untuk daerah pedesaan, peran sosialisasi sangat penting dalam hal ini. Pemerintah harus mendukung program-program kesetaraan gender dan mensosialisikannya sampai ke kampung-kampung. Kalaupun pemerintah kita kurang tanggap masalah ini, harus ada paling tidak satu orang yang bersikap optimis dan menjadi pencetus organisasi perempuan di desa. Tidak harus sampai bikin proposal atau berbudget tinggi. Tapi dengan program simple seperti film Pay it Forward, program tersebut sudah bisa berjalan. Seperti yang dilakukan salah satu organisasi perempuan di Sumenep, Madura. Mereka punya gerakan 'Jempitan', anggota yang terlibat sepakat untuk menyisihkan 1 sendok beras sebelum memasak. Jika dalam 1 hari para ibu memasak 3 kali, maka para ibu menyisihkan 3 sendok ke dalam kotak yang sudah disediakan oleh organisasi perempuan tersebut. Lalu setiap minggu hasil 'Jempitan' bersama-sama itu  dikumpulkan dan diserahkan oleh koordinatornya kepada panitia di tingkat kecamatan. Seluruh hasil 'Jempitan' yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan organisasi perempuan di tingkat kecamatan atau desa, disalurkan kepada warga miskin, dan sebagiannya lagi di-saving untuk membangun Balai Kesehatan Ibu-Anak (BKIA). Dengan demikian, perempuan-perempuan tersebut telah membantu mengentaskan kemiskinan. Nah siapa yang bisa jadi pencetus gerakan ini, bisa didukung dengan peran aktif mahasiswa-mahasiswa kita, yang terjun ke masyarakat langsung saat KKN. Bukannya mengikuti apa yang sudah ada di desa tersebut, tapi mereka harus bisa membuat sesuatu. Itu pentingnya KKN.

Adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Banyak sekali yang bisa di tulis disini yang mungkin belum banyak terdengar. Ada satu yang pernah saya baca, yaitu perempuan kembar yang punya panggilan Ibu Kembar, namanya Sri Irianingsih dan Sri Rossiati. Mereka punya sekolah darurat 'Kartini', khusus bagi anak-anak putus sekolah yang hidup di kolong tol. Selain mengajar langsung, mereka juga dibantu tenaga profesional lainnya. Menurut saya mereka adalah figur Kartini Modern karena mampu melakukan perubahan yang positif. Tapi at the end, saya percaya semua perempuan adalah Kartini Modern yang memiliki kelebihan di dalam bidangnya masing-masing.


Jana Parengkuan
“Emansipasi dengan Terbukanya Media”

Menurut Anda masih ada perlakuan yang salah dengan perempuan Indonesia, semisal pembatasan kerja, aktivitas sosial masyarakat, rumah tangga, dan lain-lain?
Tidak ada yang salah, emansipasi sudah setara dengan kaum pria, banyak posisi yang dulu hanya didominasi kaum pria sekarang tidak. Dalam rumah tangga juga sudah seimbang, banyak perempuan bekerja dan suamipun sudah banyak memberikan andilnya dalam rumah tangga. Salah satu yang membuka emansipasi ini adalah dengan terbukanya media, di mana akses luas dapat di peroleh siapa saja.

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia akan pentingnya peran serta mereka?
Keikutsertaan perempuan sangat penting karena perempuan adalah penentu keluarga terutama dalam membesarkan anak-anak, karena mereka adalah cikal-bakal masyarakat. Hendaknya para perempuan Indonesia menyadari peran utama ini. Membuat anak-anak tumbuh dengan tata krama dan kedisplinan tinggi serta moral yang baik, berempati, dan tentu bangga akan jati dirinya.

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini? Dan, bagaimana yang Anda harapkan dapat terlaksana?
Bila di kota besar tentu semua serba-maju, perempuan pekerja juga sudah dapat menyeimbangi perannya sebagai ibu, tapi tidak dengan mereka di daerah, karena minimnya pengetahuan dan akses, sehingga banyak yang masih terbelenggu dan menjadi tantangan besar bila mereka tidak mengetahui apa yang saat ini terjadi di luaran sana.

Adakah figur perempuan yg layak disandingkan sebagai Kartini modern yang inspiratif saat ini menurut Anda?
Jujur saya tidak mempunyai figur idola perempuan Kartini, karena menurut saya siapapun para ibu yang dengan jerih payahnya membangun keluarga, dunia pekerjaannya dan pengorbanannya adalah perempuan idola saya. Mereka yang pantang menyerah, tidak kenal takut, terus berkembang adalah Kartini modern versi saya.

Lola Amaria
“Secara Tidak Langsung Terbatasi”

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Perempuan indonesia saat ini sudah sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu karena banyak yang mandiri dan multitasking. Bsa menyesuaikan dengan kondisi. Misalnya, yang berkeluarga sudah bisa memilih antara skala prioritas dan kegiatannya.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Kalau dari sisi peraturan, antar-manusia, masih ada. Contohnya, banyak anggapan perempuan jangan pulang malam mengingat perkosaan, kesan negatif yang menempel pada perempuan yang pulang malam. Banyak perempuan yang sebenarnya tidak ingin dibatasi, tapi secara tidak langsung terbatasi.

Idealnya, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Seperti perempuan seharusnya yang nyaman dengan dirinya, pilihannya, yang tidak terganggu dengan peraturan dan bisa menentukan sikap dimana ia seharusnya berada, tanpa merasa terbebani.

Tindakan apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan indonesia utk sadar dengan pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Dengan menjadi diri sendiri dan yakin dengan apa yang dipilih. Otomatis dengan skill yang dimiliki, ia akan dicari, misalnya dokter anak perempuan atau polisi. Meskipun bagi saya perempuan jadi polisi agak absurd, tapi dengan adanya perempuan jadi lebih adem.

Menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Sebenarnya ada banyak, Ibu Mutia Hatta, Sri Mulyani, Ibu Musda Mulia, dan Rosiana Silalahi.

 

Ridha Febriani, Government Employee

Masih ada pembatasan pada perempuan Indonesia, semisal pembatasan pekerjaan, aktivitas sosial masyarakat, rumah tangga, dan lain-lain?
Saya rasa tidak juga, sudah tidak begitu tampak pembatasan pembatasan tersebut. karena hampir di segala bidang, terdapat keterwakilan perempuan. Walaupun akan tetap ada perbedaan yang tidak bisa dihilangkan karena kodratnya sendiri.

Adakah figur perempuan yang layak disandingkan sebagai "Kartini Modern" yang inspiratif saat ini menurut Anda?
Semua perempuan yang cerdas, gigih, ulet, tetapi tidak lupa akan kodratnya sebagai perempuan.

 

Baby Jim Aditya
“Mendekonstruksi Akar Budaya Patriarki”

Masih adakah pembatasan-pembatasan gerak perempuan? Bilapun masih ada apa sebabnya? Apa memang akar budaya patriarki menjadi titik lemahnya? Tapi apakah itu tidak bisa diubah?
Akar budaya itulah yang membuat semua aturan, tingkah laku, sikap, dan semua aturan formal. Secara tidak langsung, akar budaya itu kemudian menjadi sistem yang makro yang memperngaruhi cara kita berpikir, bersikap, bertindak, memutuskan, dan bertingkah sehari-hari. Harus diakui bahwa itulah tantangan terberat untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi, yang membuat komplain-komplain kita tentang perempuan akan bermuara ke sana. Karena kita adalah produk budaya patriarki, baik kita-laki-laki maupun perempuan. Kita sama-sama menerima sosialisasi itu secara turun-temurun tanpa ada upaya-upaya koreksi berarti. Makanya seperti apa yang dikatakan Albert Einsteins, jika kita melakukan suatu cara yang sama secara berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda, itu kegilaan namanya (insanity). Jadi, kalau kita mau hasil yang berbeda, tentu caranya harus dilakukan perubahan, secara perlahan yang memakan waktu lama dan harus signifikan. Dan dimulai dalam unit masyarakat yang paling kecil, yaitu keluarga. Itupun dengan catatan orang tuanya harus punya cara berpikir yang terbuka, mau keluar dari comfort zone, dan mau bertindak bukan hanya demi pengakuan sosial. Kebanyakan dari kita hidup bukan untuk diri, tapi untuk memuaskan harapan sosial. Nah itulah yang kemudian yang menyulitkan perempuan untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Karena seringkali keputusan untuk si perempuan itu tidak sepenuhnya diambil berdasarkan otoritas si perempuan sendiri, terutama terhadap tubuh dan seksualitas. Dan, lebih sering ditentukan laki-laki, sebagai pasangannya. Soal seksualitas laki-laki cenderung lebih dominan dan perempuan kerap menjadi 'korban' yang berbuah sanksi sosial dari masyarakat, mulai dari hamil di luar pernikahan, bayi tanpa ayah, aborsi, hinga infeksi HIV dan penyakit kelamin lainnya. Menurut saya harus ada kesadaran dari kita semua untuk mengubah ini semua, di mulai dari rumah, pada anak-anak kita sejak dini. Si laki-laki—dalam sistem masyarakat patriarki—harus berani keluar dari comfort zone-nya sebagai pemegang sistem kemasyarakatan.

Apa memang stereotipe negatif perempuan harus diakui?

Perempuan dibesarkan dengan nilai-nilai stereotif yang secara tidak langsung membuatnya lemah. Laki-laki dan perempuan dibedakan dengan kontradiksi karakter yang sangat berbeda. Laki-laki itu harus kuat, menjadi pemimpin, agresif atau tampil sebagai makhluk rasional. Perempuan diajar untuk pasrah, setia, nrimo, lemah, dan hidup dalam bayang-bayang laki-laki. Perempuan dikonstruksikan secara tidak sengaja dan selama beribu-ribu tahun, yang akhirnya terekonstruksi dari kecil harus menjadi makhluk sabar, nrimo, memaafkan, pasrah, dan lain-lain. Akhirnya, secara tidak sadar itu menjadi pola yang yang menetap di kepala perempuan dan tidak memungkinkan mereka memiliki cara pandang lain. Ironisnya, ketika perempuan menerima perlakukan kekerasan, bahkan dari sang suami atau pasangannya, itu diterima sebagai pelajaran untuk sabar dan pasrah.

Lantas ketika berbicara kesetaraan gender dan peran, menempatkan perempuan dalam kemerdekaan, sejauh mana kebebasan tersebut diberikan?
Yang paling mendasar, adalah pemahaman bahwa satu-satunya yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah semata-mata organ reproduksi. Organ reproduksi yang berbeda itu membawa konsekuensi yang terkait fungsi, tugas, dan proses reproduksi yang berbeda, itu saja. Tidak ada kaitannya dengan pembagian peran dan tugas domestik dan publik. Tugas rumah tangga tidak berdasarkan jenis kelamin.

Jadi, apa yang harus dilakukan untuk kesetaraan gender?
Mengajarkan peran gender yang imbang perlu diajarkan sejak kecil. Tapi, percayalah orang tua kita pasti menjadi musuh kita saat melihat kita mengajarkan sederet nilai-nilai baru yang melawan nilai-nilai tradisi (comfort zone). Maukah kita sebagai orang tua, merendahkan diri untuk menghancurkan lebih dulu nilai-nilai yang salah tersebut di kepala kita, dan merekonstruksi nilai-nilai baru.

 

Gemala ‘Al’ Hanafiah
“Masih Ada Pembatasan dari Segi Kultural”


Dalam opini Anda, bagaimana situasi/kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat dan lain-lain?

Saat ini kami dalam kondisi sebebas-bebasnya untuk beropini, bertindak, dan sebagainya. Tinggal kaminya saja yang bisa memanfaatkan atau tidak, dengan cara penyampaian yang enak sesuai dengan kaidah, akan membuat perempuan Indonesia lebih stand out.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Di beberapa daerah memang masih ada pembatasan-pembatasan dari segi kultural, tapi hal itu sebaiknya nggak membuat perempuan Indonesia lantas membatasi gerak dan karyanya, pasti ada jalan.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Berani ambil bagian dan berani menciptakan perubahan.

Menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini modern?
Riyanni Djangkaru, karena dia berani bermimpi dan membuat perubahan dengan membuat DiveMag dan gerakan #saveshark.

 

Sianny Widyasari, Fotografer

Seharusnya seperti apa perempuan Indonesia?
Perempuan yang nggak takut mewujudkan mimpi dan cita citanya tanpa batasan gender.

Masih ada pembatasan pada perempuan Indonesia, semisal pekerjaan, aktivitas sosial masyarakat, rumah tangga, dan lain-lain?

Gue rasa, sih, saat ini perempuan Indonesia sudah banyak berperan di semua bidang pekerjaan, aktif di berbagai komunitas, pendidikan yang bagus, punya daya juang yang tinggi, dan lain-lain terutama di kota kota besar. Permasalahan, sih, masih ada apalagi di kota kota kecil seperti adanya perdagangan perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, tapi ini permasalahan global, bukan cuma di Indonesia.

Adakah figur perempuan yang layak disandingkan sebagai "Kartini Modern" yang inspiratif saat ini menurut Anda?
Wuih banyak, mulai dari Sri Mulyani yang di kancah Internasional sampai dengan perempuan yang menjadi supir becak, supir truk, dan lain-lain demi menyekolahkan anaknya untuk pendidikan yang lebih baik.
 

Sheila Timothy
“Perempuan adalah kunci keberhasilan suatu bangsa”

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Saya rasa perempuan Indonesia sudah sangat maju sekarang, terutama di daerah perkotaan, makin banyak perempuan berprestasi di berbagai macam bidang. Kesetaraan gender secara mayoritas sudah baik. Namun, ketidakadilan perempuan di daerah rural masih perlu diperjuangkan. Masalah2 sosial lain seperti KDRT, keadilan bagi TKW dan kriminalitas terhadap perempuan masih terus harus diperjuangkan.

Masih ada aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Ada beberapa yang masih berpikiran kolot yang masih meragukan kemampuan perempuan. Tapi sekali lagi untuk daerah perkotaan, perempuan mandiri dan berprestasi terus bermunculan dan mematahkan anggapan tersebut.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Perempuan adalah kunci keberhasilan suatu bangsa, karena nature perempuan sebagai ibu yang bertanggung jawab atas anak2nya. Dari Ibu yang baik dan berpendidikan akan lahir anak2 generasi bangsa yang tangguh. Perempuan Indonesia harus terus tangguh dalam menghadapi cobaan, terus meningkatkan pendidikan dan berpengetahuan luas. Percaya diri dan mandiri bahwa dia mampu berkarya.

Tindakan apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan indonesia utk sadar dengan pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Pendidikan adalah salah satu kunci penting. Perempuan yang mempunyai pendidikan yang baik akan mampu mandiri dan percaya diri.

Jika berkenan menyebut nama, menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Ibu Robin Lim, salah satu CNN Heroes, salah satu dari sekian perempuan yang saya hormati dan sangat salut dengan perjuangannya. Dan kerendahan hatinya.

Aline Jusria
“Menjadi Inspirasi untuk Perempuan Lainnya”


Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain? Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Buat saya perempuan Indonesia sekarang sudah lebih maju, baik kemajuan secara fisik maupun cara berpikir dan bersikap. Menurut saya, sudah tidak ada lagi batasan-batasan atau halangan untuk perempuan Indonesia berkarya. Mereka bisa dengan bebas bisa berekspresi. Dan, yang lebih membanggakan dengan kebebasan tadi tidak membuat perempuan melupakan kodratnya, misalnya banyak perempuan bekerja yang tetap mendahulukan keluarga, melakukan tugasnya sebagai ibu dengan baik.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Jadi diri sendiri. Di mana pun perempuan tetaplah perempuan. Entah itu di Indonesia atau negara manapun. Perempuan punya kodratnya sendiri. Dan, hal terbaik untuk perempuan adalah jadi dirinya sendiri, bersikap, dan bertindak sesuai keinginan dan kepribadiannya. Dan, melakukan semua yang terbaik untuk dirinya dan sekitarnya.

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia untuk sadar dengan pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Dengan cara berkarya sebaik-baiknya. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk perempuan lainnya.

Menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai kartini modern?

Sri Mulyani. I’m a big fans!


Hessy Kameron, Editor

Seharusnya seperti apa perempuan Indonesia?
Dia harus bisa hebat di setiap aspek kehidupannya. Bekerja keras dan mampu berdikari, tapi juga sukses membentuk keluarganya. Berkarakter dan memiliki prinsip yang elegan, namun juga paham akan kodratnya. Living life in style!

Bagamaiana situasi atau kondisi perempuan Indonesia saat ini?
Sangat beragam, dan tidak dapat disamaratakan. Perempuan di Jakarta Selatan mungkin berbeda dengan perempuan Jakarta Utara. Apalagi kalau dibandingkan dengan perempuan di kepulauan terpencil Kalimantan. Pertanyaan ini mungin bisa di jawab dengan lima buku tebal.

 

Wanda Hamidah
“Perempuan Juga Bisa Bekerja Lebih Keras”

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini? Masih banyak keterkekangan yang membatasi ruang gerak perempuan dalam bekerja, berpendapat, dan beraktivitas?

Saya merasa di dunia yang saya geluti tidak ada diskriminasi gender karena saya dibesarkan dari keluarga yang tidak membeda-bedakan perempuan dan laki-laki. Orang tua saya selalu memotivasi anak-anaknya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Saya bersyukur saya dididik dan dibesarkan dalam keluarga yang demokratis dan memiliki kesetaraan gender. Kemudian di dunia politk sendiri kalaupun ada ‘intimidasi-intimidasi’ politik itupun lebih berdasarkan karena ideologi partai, kepentingan-kepentingan kelompok, dan lain-lain. Jadi, bukan karena permasalahan perempuan. Intinya selalu ada intrik-intrik politik, tapi itu bukan karena based on gender saja. Saya juga lahir dan besar di kota Jakarta, kota yang cukup terbuka dan kesempatan perempuan untuk mandiri dan berkarier untuk maju itu juga besar. Saya melihat pada umumnya, akibat ketidakadilan yang dijalankan sistem pemerintahan yang kurang pro-rakyat sebetulnya banyak menelan korban perempuan dan anak-anak. Anggaran yang tidak pro-rakyat pada bidang kesehatan dan pendidikan, misalnya mengakibatkan sulitnya mendapatkan akses kepada fasilitas rumah sakit dan infrastruktur fasilitas pendidikan. Anak-anak terlantar karena tidak ada akses untuk menempuh pendidikan dan kesehatan. Banyak kematian ibu tinggi karena tidak ditolong oleh bidan atau dokter, atau puskesmas yang cuma ada di kecamatan. Sementara akses ke kecamatannya sulit juga infrastruktur belum terbangun. Di daerah-daerah terpencil, perempuan banyak ditempatkan sebagai warga kelas dua. Di daerah, perempuan nggak duduk di depan, mereka mendengarkan dari belakang, di dapur sambil bikin pisang goreng dan kopi. Jadi hak mereka untuk memberikan aspirasi dan mengemukakan pendapat masih sangat minim karena sistim patriarki.

Apakah perempuan sudah cukup diterima di kancah politik dan berpolitik?
Ruang untuk berpolitik sudah cukup luas ya, artinya pemerintah mengakomodasi perempuan sudah cukup banyak. Sebetulnya harus ada kesadaran pribadi bahwa perempuannya mau memanfaatkan ini. Karena saya bersyukur lahir dan besar di kota besar ya.

Mengajak perempuan untuk bangkit atau mengajak laki-laki untuk sadar bahwa perempuan juga punya peran. Mana yang lebih sulit?
Dua-duanya. Di dalam arti perempuan juga harus sering bersosialisasi bahwa sekarang perempuan  hanya mengetahui kewajibannya saja. ”Saya sekolah sampai SMP/SMA cukup, toh nanti akan dikawinin dan akan mengabdi pada keluarga.” Pengabdian itu pasti dilakoni, tapi saya percaya juga Allah memberikan perempuan dengan porsi yang lebih. Perempuan juga punya kemampuan lain, potensi lain, dalam arti ‘bukan mengecilkan sebagai ibu rumah tangga’. Saya melihat bahwa di banyak kebudayaan di Indonesia, perempuan masuk dalam kelas pekerja. Kita lihat di Jawa, perempuan itu di pasar sejak jam 3 pagi. Dan, situasi ini ada jauh sebelum era Kartini, lho. Di Bali, banyak kuli angkat batu perempuan. Bahwa perempuan punya kemampuan dan potensi menggerakkan ekonomi keluarga, tak hanya di era modern seperti sekarang.  

Apa yang sebaiknya dilakukan laki-laki?
Hargailah apa yang menjadi potensi perempuan. Kami mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Laki-laki punya hak dan kewajiban, perempuan juga, tanpa menihilkan atau mengecilkan kelebihan yang ada pada diri perempuan itu sendiri. Ini adalah pilihan perempuan untuk bekerja atau tinggal di rumah, bukan karena paksaan. Bahwanya perempuan juga butuh ruang berimprovisasi dan beraspirasi, nggak hanya untuk mengejar kepentingan ekonomi ,tapi juga mengaktualisasikan dirinya. Itu harus dihargai juga.

Ketika seorang Wanda Hamidah masuk ke politik dan pemerintahan, menjadi seorang pemimpin, apakah pernah merasakan adanya keraguan dari masyarakat?
Saya rasa siapapun akan dipilih oleh masyarakat selama dia mau ‘bekerja’ untuk masyarakat. Aktifitas mereka terlihat dan hasil perjuangannya dapat dirasakan bagi pemanfaatan masyarakat. Itu yang utama. Sebetulnya, saya tidak melihat keraguan tersebut di tataran akar rumput. Bahwasannya, misalnya ketidakterpilihan saya sebagai calon di Pilkada, lebih pada tataran idealisme yang mungkin mereka pahami bahwa saya tidak bisa diajak untuk berkompromi. Perempuan juga bisa bekerja lebih keras dan tidak mudah tergiur pada hal-hal yang bersifat materialistik. Dari sananya, perempuan bekerja untuk mengadbikan hidupnya bagi keluarga dan lingkungannya. Sayangnya, banyak masyarakat umum terutama tradisional, perempuan hanya berhak mengetahui kewajiban mereka: ketika bersama orang tua dia hanya tahu kewajiban berbakti kepada orang tua. Ketika bersama suami ia hanya tahu kewajiban berbakti kepada suami. Mereka tidak “ngeh” bahwa perempuan juga punya hak. Hak untuk mendapatkan perlindungan secara fisik, mental, batik, hak untuk mengaktualisasi dirinya. Itu mungkin yang tidak disadari perempuan.

Untuk menyadarkannya apa sih, cara yang paling efektif?
Yang pertama sih pendidikan. Akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya, pemerintah harus membuka ruang pendidikan gratis dan mudah diakses. Yang kedua mungkin mindset orang tua, kalau kita tidak bisa berharap pada orang tua mungkin kita bisa berharap pada diri kita sekarang seperti untuk anak kita nanti. Ada orang tua sekarang yang beranggapan, “sudah, kamu SMA saja, buang-buang duit kuliah nanti juga putus sekolah lalu kawin.” Mindset itulah yang harus dibuang jauh-jauh, dan didukung oleh akses pemerintah. Dua-duanya harus menopang. Jadi keluarga mendukung dan pemerintah membuka akses itu.


Citraprima (parapsikolog)
“Harus Tegas, Tenang, dan Tak Emosional”


Dalam opini Anda, bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?

Perempuan saat ini sudah memiliki kemerdekaan di atas rata-rata secara sosial. Mereka mampu mengimbangi beberapa hal yang biasa dilakukan laki-laki. Dari segi intelegensia, waktu dan perekonomian. Sisi feminitas pun menjadi poin lebih pada hal-hal yang dilakukannya. Karena wanita cenderung lebih detil dan telaten. Sisi ekspresif dikarenakan sisi akademik mampu menunjang cara perempuan untuk menyampaikan pendapat. Jika mereka memiliki fondasi yang solid maka mereka mampu merubah hal yang kurang sempurna menjadi lebih baik. Tapi kembali lagi semua harus dilakukan dengan sikap tegas sekaligus tenang, tidak mudah emosional.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan? 
Ada dan selalu pasti ada. Secara internal perempuan tetap mempunyai batasan etika ada hal-hal yang memang jika perempuan lakukan sering dianggap "nyentrik" hanya dikarenakan pekerjaan/profesi yang dilakukan sudah menjadi dunianya laki-laki. Misal, yang harus bekerja shift malam seperti supir taxi, security ataupun broadcast. Perempuan yang bekerja hingga dinihariatau menjelang subuh seringkali dianggap kurang baik oleh sbagian orang. Kembali lagi dari sini perempuan harus mampu membatasi dirinya sendiri dengan menghormati dirinya misalnya pakaian yang dikenakan tidak mengundang syahwat. Lebih baik lagi jika memiliki pertahanan diri seperti ilmu bela diri mengingat tingkat kriminalitas yang tinggi. Secara eksternal batasannya karena hukum alam dan gender. Hukum alam, datang bulan secara periodik. Perempuan memiliki antibodi yang berbeda, ada yang tidak merasa sakit tapi ada yang menjadi lemah. Secara gender mungkin laki-laki merasa perempuan tidak pantas malam-malam keluyuran, istilahnya. Tapi, kembali lagi untuk apa ia bekerja mungkin saja ia memang tulang punggung keluarga dan rejeki datang kepadanya.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Baiknya tetap mengingat akar leluhur dan budaya darimana ia berasal. Sama saja seperti pohon. Sebesar apapun dan sebanyak apapun buah yang ia hasilkan sewaktu-waktu bisa tumbang jika terkena badai. Akarnyalah yang harus kuat.

Tindakan apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia untuk sadar atas pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Tindakan seperti memfilterisasi segala tekhnologi yang masuk. Seperti misal facebook, twitter, dan lain-lain dalah wadah kebebasan berekspresi. Perempuan itu adalah gambaran rahimnya. Apa yang ia ucapkan, lakukan, pikiran adalah penggambaran bagaimana kelak generasi keturunannya kelak. Tindakan dan perilaku perempuan yang menjadi ibu, adalah doa untuk anaknya. Sebenarnya memang perlu diadakan sebuah organisasi, kegiatan atau pelatihan  yang mungkin setiap bulannya mengumpulkan perempuan yang aktif untuk selalu bisa mengingat akarnya sebagai fondasi.

Jika berkenan menyebut nama, menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini modern?
Banyak jika disebut satu persatu. Kadang-kadang justru yang sangat memberikan manfaat perubahan bagi banyak orang seringkali tersisihkan hanya karena kurang publisitas. Padahal pekerjaannya bisa saja lebih hebat dibandingkan yang sering masuk ke dalam media. Jika ada pilihan nama mungkin saya bisa memberi pilihan.


Isabelle Patrice
“Perempuan Mesti Pintar...”

 

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Situasi aman terkendali, ha-ha-ha. Perempuan Indonesia yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Perempuan yang berpendidikan atau punya pekerjaan sehingga mereka jauh lebih mandiri sudah sangat paham dengan arti kebebasan beraktivitas, berpendapat, atau berekpresi. Dan, mereka sangat menggunakan bentuk kebebasan tersebut.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?
Banyak. Perempuan mesti pintar dalam mengatasi aral melintang tersebut apapun bentuknya.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Perempuan Indonesia layaknya perempuan-perempuan lain di dunia ini seiring perkembangan jaman, ya, pertahankan hak dan juga martabat atau nama baiknya, paling tidak. Bisa menjaga itu sudah cukup baik. Apalagi punya prestasi. Wuih!

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia untuk sadar dengan pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Kayaknya perempuan Indonesia sudah cukup sadar dengan pentingnya peranan perempuan dalam pembangunan. Banyak, kok, figur yang sudah menjadi pelopor kebangkitan wanita. Dengan caranya masing-masing, yang bisa dijadikan inspirasi.


Lia Amril, Model

Seharusnya seperti apa perempuan Indonesia?

Perempuan itu harus tegar dan tegas. Di jaman seperti ini perempuan harus punya power, maksudnya harus bisa bekerja segiat laki-laki, nggak pakai 'menye-menye', dan  produktif. Sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk kegiatan poaitif.

Bagamaiana situasi atau kondisi perempuan Indonesia saat ini?
Sebenarnya sekarang sudah lebih maju daripada dulu. Tinggal ditingkatnya saja kemauan dan tanggung jawab atas pekerjaan.


Orchida Ramadhania
“Kenali Hak dan Kewajiban Sebagai Perempuan”


Opini situasi kondisi perempuan Indonesia saat ini?

Dibandingkan dengan kurun waktu ketika jaman Ibu saya dibesarkan, tentu perempuan jaman sekarang memiliki lebih banyak pilihan. Keran kebebasan telah dibuka sangat lebar. Ada banyak aspek yang mengalami perbaikan dalam upaya memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, tapi ada juga yang mengalami kemunduran. Yang baik misalnya; sejarah mencatat Indonesia pernah punya satu presiden perempuan (yang Amerika pun belum pernah punya), kita punya Komisi Nasional untuk Perempuan dan Anak yang dulu tidak ada, adanya aturan yang mensyaratkan 1/3 dari anggota DPR haruslah perempuan, akses perempuan terhadap pendidikan yang baik telah lebih setara, dll. Tapi yang memburuk juga ada; Dulu kita punya PP yang melarang PNS berpoligami tapi sekarang sudah dicabut, dan juga soal DPR yang mengatur pemakaian rok pendek, misalnya. Atau beberapa waktu yang lalu pernah ada kebijakan bahwa siswi SMP perlu melewati pemeriksaan keperawanan untuk menjaga moralitas sekolah. Itu bentuk-bentuk kemunduran berpikir yang luar biasa.

Aral yang membatasi gerak perempuan?
Paradigma.  Meskipun kesempatan untuk laki-laki dan perempuan telah dibuka lebar agar setara, namun kemudian dalam menggunakan kesempatan itu, perempuan masih dihalangi oleh paradigma diskriminatif tertentu yang telah lama melekat di masyarakat. Misalnya; perempuan itu kodratnya mengurus rumah tangga,  tidak perlu sekolah terlalu tinggi nanti laki-laki jadi minder, seret jodoh dan toh ujung-ujungnya cuma akan mengasuh anak di rumah. Lho, mengasuh anak kok CUMA? Itu kan generasi penerus bangsa. Tentu harus jadi tanggungjawab bersama. It takes a village to raise a child, kalau kata Hillary Clinton.  Di ranah publik, paradigmanya masih senang menjadikan tubuh perempuan sebagai objek. Dalam kasus pemerkosaan yang kemarin marak, yang ditanya adalah ‘pakai baju apa perempuan itu sebelumnya?’. Miskonsepsi primitif semacam inilah yang masih membatasi gerak perempuan saat ini. Masih ada beberapa lagi contohnya. Dan sampai hari ini masih direplikasi, baik oleh laki-laki ataupun oleh sesama perempuan juga.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa perempuan Indonesia seharusnya?
Ini adalah sebuah jaman di mana perempuan bisa berkiprah di dunia ranah, domestik ataupun publik. Mau memilih untuk tinggal dan berkarya dari rumah atau berkarier, kesempatannya ada. Tapi perempuan jaman sekarang juga katanya punya tingkat stres begitu tinggi karena akhirnya mereka harus bisa juggling dengan dua peran tersebut sekaligus. Jadi mungkin idealnya, kita harus lebih santai dan damai dengan diri sendiri. Kita harus bisa mengenali sepenuhnya hak-hak dan kewajiban kita sebagai perempuan.

Tindakan yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan Indonesia atas pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Kesadaran atas pentingnya peran perempuan dalam membangun bangsa tidak cukup hanya dipromosikan pada perempuan itu, tapi juga pada laki-laki, tua, muda, negara, perusahaan, media, dan siapa saja. Karena bukan hanya di Indonesia, secara universal, dunia ini telah menjadi begitu macho. Kita selalu mau ‘membangun’ dan memanipulasi alam, bukan mendengarkan. Kita selalu ingin berkuasa atas manusia lain, dan bukan memahami atau bekerja sama. Kita selalu banci tampil di panggung sejarah, dan melupakan yang marjinal. Jiwa feminin dapat menyeimbangkan nilai-nilai yang semacam itu. Kita perlu mempertanyakan dan mendefinisikan ulang nilai-nilai etis yang kita anut selama ini. Kalau mau lebih popnya, saya percaya dengan yang disampaikan Beyonce ‘Your Persuassion can Build a nation. Who Run the World? Girls!’ :D

Nama figur perempuan Indonesia kini yang kiprahnya bisa disebut Kartini Modern?
Banyak sekali perempuan jaman sekarang yang mengusung spirit Kartini. Kartini menjadi legendaris karena Pemikiran. Pemikiran yang dituliskan dan dibagi lewat surat-suratnya untuk sahabat di Belanda itulah kemudian yang menjadikannya legendaris. Ia tidak berniat untuk menjadi revolusioner. Ia hanya perlu memaknai kehidupannya dengan jujur lantas menyuarakannya. Sesederhana apapun bentuknya, ia tuliskan sebuah cerita. Cerita yang kelak akan melampaui jaman itu sendiri, yang mungkin orang lain juga ingin bagikan, namun tidak berani. Secara pribadi, saya sangat kagum pada ibu Tri Mumpuni. Perempuan sederhana yang menyalakan listrik di desa-desa terpencil dengan kedua tangannya sendiri.


Titien Wattimena
“Perempuan Jagoan yang Berjuang Karena Murni Cinta”

Dalam opini Anda, bagaimana kondisi perempuan Indonesia saat ini, menyangkut kebebasan beraktivitas, berekspresi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain?
Masih banyak yang harus dilakukan agar perempuan Indonesia bisa lebih diakui. Karena pertanyaannya menyebut kata Indonesia, berarti nggak cuma kota besar kan? Kota kecil, daerah, desa, kampung juga Indonesia kan? Di kota besar, mungkin kebebasan beraktivitas dan berekspresi perempuan Indonesia sudah cukup maju dan terlihat baik-baik saja. Tapi, di banyak daerah, perempuan masih mengalami diskriminasi bahkan kekerasan. Menjadi aktif, ekpresif, dan menyatakan pendapat masih dianggap wilayah laki-laki. Dan, guess what, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada perempuan perempuan kota besar. Di daerah, akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak juga sulit. Dampaknya ke perempuan, ya, angka kematian ibu melahirkan masih tinggi. Kalian yang hidup di kota besar tah, nggak? Hehe. Kalau tahu, terus peduli, nggak? Ada juga namanya diskriminasi soal pakai baju. Perempuan melulu yang diatur pakai baju apa. Kalau kebijakan semacam ini kemudian dibakukan dalam peraturan, well, there's no such thing as kesetaraan gender di Indonesia.

Masih adakah aral yang membatasi 'gerak' perempuan?

Aral mungkin tidak banyak terasa di saya, karena itu, saya produk kota besar. Tapi kalau kita melihat potret seperti yang saya sebut di atas, masih banyak tugas yang perlu dilakukan. Akses kesehatan belum memadai untuk perempuan. Pemahaman perempuan atas kesehatan reproduksi juga belum maksimal, perempuan masih didiskriminasi dengan pengaturan jam kerja, dan again pengaturan pakaian, he-he-he. Dan, pendidikan tinggi yang dianggap belum penting untuk kaum perempuan terutama di daerah.

Idealnya, menyikapi perkembangan zaman, seperti apa baiknya perempuan Indonesia?
Idealnya adalah saat perempuan dan laki-laki memiliki akses yang sama untuk pendidikan, kesehatan, dan akses ekonomi untuk memperbaiki kesejahteraan hidup. Idealnya juga, pandangan soal membesarkan anak, mengurus keluarga, itu dilakukan secara gembira oleh kedua pihak orang tua. Bapak dan ibu. Bukan cuma ibu saja. Idealnya, akses yang kita dapat di kota besar juga dimiliki daerah daerah.

Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan perempuan indonesia atas pentingnya peran serta mereka dalam membangun bangsa ini?
Pengadaan akses itulah. Saat manusia diberi akses untuk memperbaiki kehidupan, maka akan banyak yang bisa dia lakukan. Demikian juga dengan perempuan. Saat perempuan diberi akses yang bagus untuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi maka banyak hal positif yang dapat terjadi. Bener, deh.

Menurut Anda adakah figur perempuan Indonesia kini yang dengan kiprahnya layak didaulat sebagai Kartini Modern?
Susah kalau ini. Apalagi kalau nyebut nama, karena sebagian besar yang punya "nama" biasanya pro-pasar banget. Ha-ha-ha. Kartini-Kartini modern yang punya 'nama' perjuangan utamanya, ya, dapat gelar itu. Nggak asyik. Hehe. Tapi, banyak perempuan yang sekarang berjuang untuk banyak perempuan lainnya. Mereka mungkin nggak 'beken', tapi mereka adalah Kartini-Kartini sejati. Banyak, kok, perempuan jagoan yang berjuang karena murni cinta. Bidan di tempat terpencil, guru, sampai pejuang-pejuang 'kecil' hak perempuan. Banyak. Tak beken. Tak bernama tapi berjasa. Kalau pun saya disuruh sebut nama, saya akan nyebut nama temen saya. Shita Laksmi. Pada nggak tahu, kan? Googling saja. Dia produk kota besar, tapi selalu berusaha untuk bekerja di bidang yang dia cinta dan percaya, yang mudah-mudahan bisa membantu hidup banyak orang lain. Mungkin tidak secara langsung, tapi bisa kontribusi ke kehidupan yang lebih baik. Mungkin naif, but I think she really would like to make something for Indonesia. Dan, setiap saat temen saya ini juga juggling between kerja dan rumah tangga. Membesarkan dua anak kecil plus suami sensitif gender (ini istilah dia ha-ha-ha), di mana semua beban rumah tangga selalu harus bisa dibagi dan terus didiskusikan bersama. That's one of Kartini Modern among the other hundreds.