Martin Johnindra, Putri Ningrum, dan Kishi Ereny berkesempatan berbincang dengan sutradara, produser, serta pemain dari film yang disebut-sebut memiliki ide dan jalan cerita yang gila, 'Modus Anomali'.
Sebelum tayang serentak di Indonesia, Modus Anomali sudah lebih dahulu berhasil menarik atensi pecinta dan pelaku film dunia di ajang Soutwest Film Festival, Amerika Serikat. Martin Johnindra, Putri Ningrum, dan Kishi Ereny berkesempatan berbincang dengan sutradara, produser, serta pemain dari film yang disebut-sebut memiliki ide dan jalan cerita yang gila.
Modus Anomali itu sebenarnya tentang apa?
Joko: Modus Anomali itu film thriller yang dalam pembuatan sinopsisnya memang sangat tricky. Kebanyakan film butuhkan beberapa menit pertama untuk establishing karakter, seperti background dan sifat karakternya. Namun, dalam Modus Anomali begitu film dimulai, cerita langsung berjalan. Si karakter utama ini mencari tahu siapa dirinya sepanjang film. Dan, film ini sangat straight forward, mungkin bisa dibilang nggak ada twist-nya dan bukan psychological thriller. Just thriller, misteri, dan drama. Basically tentang seorang laki-laki yang sedang berlibur ke hutan bersama keluarganya dan tiba-tiba menemukan keluarganya hilang dan ia harus mencari mereka.
Kenapa memilih bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar yang dominan dalam film?
Joko: That’s one million dollar question! Jawaban singkatnya adalah karena ceritanya bukan di Indonesia. Ceritanya, mereka berlibur ke suatu tempat yang tidak kita sebutkan di negara mana. Jadi, tidak di Indonesia, karena di sini tidak ada sejenis kabin di hutan. Selain itu gue ingin membenturkan boundaries di film-film gue, seperti boundaries soal Barat dan Timur, past and future. Seperti contohnya di film Kala, ceritanya lebih ke Jawa, tapi look-nya Amerika tahun 40-an. Selain itu, kalau orang Indonesia melihat film kita berbahasa Inggris mereka selalu bertanya, “Kok, pake bahasa Inggris, sih?’. Orang bule saja makan nasi goreng, mereka pada tepuk tangan. Di sini kita seperti memiliki sindrom inferiority complex. Kadang-kadang kita merasa lebih ‘di bawah’ dibandingkan orang-orang Barat. Di sini, gue mau mengatakan kalau ‘we are all the same. It’s just language’.
Lala: Kami dan production house juga tidak menjadikan masalah begitu tahu bahwa Joko akan menggunakan bahasa Inggris. Buat saya, ide seni itu bisa datang dari mana saja dan kita juga tidak membatasi kreativitas Joko. Di dunia global begini kayaknya sudah nggak ada batas lagi. Karena Joko juga bilang, setting filmnya bukanlah di Indonesia, tapi dia tidak sebut di Amerika atau di Inggris. Oleh sebab itu, kita juga tidak memberikan akses tertentu pada bahasa Inggrisnya. Kalau dilihat ceritanya ada orang liburan ke tengah hutan, ada vila juga. Kalau kita pakai bahasa Indonesia orang pasti bilang, “Mana ada orang sini liburan ke tengah hutan seperti itu. Mungkin pembunuhnya bukan orang yang ngejar anak-anak, tapi malah nyamuk malaria, hahaha.”
Di Kala dan Pintu Terlarang juga tidak ada penjelasan tertentu seperti kapan atau di mana. Apakah itu sengaja sebagai ciri khas?
Joko: Gue berpikir bahwa film itu bisa lebih timeless kalau latar waktunya nggak bisa dikasih stamp. Kalau misalnya gue bikin film tema tahun 2012 nanti orang-orang yang menonton film gue pada tahun 2030, pasti komentar, “ini filmnya tahun 2012 banget deh.” Nah, begitu gue benturkan latar waktunya, nggak jelas kapan, nanti orang bisa nonton untuk mengikuti jalan ceritanya. Untuk ciri khas, I don’t know. Mungkin aja next time bisa jadi lebih ngaco.
Dari mana ide awalnya membikin Modus Anomali?
Joko: Dari toilet! Gue kalau biasanya dengerin lagu atau orang segala macam pasti langsung keluar karakter-karakter gitu. Nah, karakter-karakter inilah yang gue gabungkan dalam suatu cerita. Biasanya kalau gue lagi 'boker' lebih gampang dapet ceritanya karena sangat quiet, tenang, dan nggak mikir apa-apa.
Mengapa memilih Rio Dewanto sebagai pemeran utama?
Joko: kalau saya memilih peran, simply yang paling cocok dan yang paling bagus untuk perannya. Dan, mereka semua ini di-casting, audisi, dan telah mengalahkan sekitar 530-an calon pemain baik dari social media seperti Twitter dan Facebook maupun regular channel kayak manager dan agency. Masing-masing mereka memang yang terbaik untuk perannya. Untuk Sadha contohnya, dia sudah pernah main film sebelumnya, tapi dia juga apply lewat Twitter. Jose Gamo, kami dulu susah banget nyari pemeran untuk karakternya dan akhirnya menemukan dia ketika perform di sekolahnya. Izzi kami dapatkan dari Twitter juga. Surya Saputra ini adalah one of the best actors in Indonesia karena sangat hardworking dan sangat berdedikasi. Dia juga telah melewati banyak proses dan mengalahkan kandidat-kandidat. Hana Al Rasyid saya sudah kenal dia ketika kami sama-sama dulu waitress di London, ha-ha-ha. Walaupun kami kenal, tapi dia juga apply lewat Facebook. Ini merupakan film pertamanya untuk film bioskop dan ia juga telah mengalahkan banyak kandidat lain. Untuk Rio Dewanto, obviously mengalahkan banyak sekali, karena ini film dimainkan oleh figur tunggal dalam waktu yang sangat panjang. Dan, itu adalah pekerjaan yang sangat nggak mungkin. Dan, Rio berhasil carry that gigantic task. Aridh Tritama ini awalnya gue dan Lala sudah hampir menyerah. Sampai akhirnya ketemu karena dia tinggal hanya tiga rumah dari sini. Marsha Timothy sendiri gue sudah pernah berkerjasama sebelumnya di Pintu Terlarang. She is one of the best actresses yang gue tahu. Tadinya, gue yang mau main jadi pemeran utamanya, tapi ternyata banyak adegan lari, jadi nggak mungkin, ha-ha-ha.
Bagaimana kesan dan pengalamannya selama menjalani proses syuting?
Izzi: Pas syuting seru banget, sih. Cuma memang capek karena harus kejar-kejaran sama jadwal sekolah. Tapi dibawa seru aja. Aku kira awalnya bakal tegang karena baru pertama kali . Ternyata, orangnya kocak-kocak, makanya aku jadi nggak tegang. Bang Joko (Joko Anwar) juga seru banget. Orangnya serius, tapi nggak serius.
Aridh: Saat syuting seru, soalnya ini pengalaman pertama kali ke hutan. Yang benar-benar terus teringat pas syuting itu ada satu hari gue pulang gara-gara ada try out matematika. Sampai rumah jam 6, tidur 15 menit, terus berangkat lagi.
Sadha: Pas syuting, tuh, seru banget. Rasanya nggak kaya kerja, ya. Kerja sama Bang Joko itu kayak main-main aja di lokasi, its nothing like work at all. Selama syuting, it’s a fun experience, flow-nya memang enak banget. Tapi, secara pribadi gue agak stres karena selama proses, mulai dari reading sampai syuting itu pas gue lagi ujian di kampus. Tapi, untungnya stres di kampus hilang dengan fun-nya di lokasi syuting.
Jose: It was a lot of fun like we had a lot of good time together. In terms of the whole process I got school stuffs at the same time and it made me a little bit stressful. But its actually a nice thing to gather here.
Surya: Kalo ditanya kondisi syuting, itu sebenernya kontradiktif banget sama ceritanya. Karena walau jalan cerita filmnya tegang, tapi kondisi syuting dari awal sampai abis itu ketawa terus. Ini juga pengalaman pertama beberapa pemain menggunakan darah buatan atau segala macem. Dan, itu sesuatu yang menarik. Overall, pengalaman syutingnya amazing banget. Yang menarik juga, yaitu pas proses reading. Kami ada beberapa cara reading yang di luar dari kebiasaan yang membuat kami saling mengenal karakter satu sama lain dan chemistry-nya terbentuk di situ.
Hana: Kalau proses syutingnya sama seperti yang lain, seru banget. Sebenarnya ada tegang juga, sih, karena it’s my first film. Jadi, saya berusaha sangat serius. Seperti pas casting, saya sudah berusaha serius, eh, nggak tahunya malah banyak yang ketawa-ketawa. Proses syutingnya saja, yang saya pikir serius dan berpikir “gue harus total, nih”, ternyata ketawa melulu! Tapi, yang paling berkesan pas syuting adalah how family-like we are. Jadi, ketika kami ada adegan yang berat, especially for me dengan peran ibu hamil, saya sempat merasa drop banget setelah scene yang agak berat, biasanya ada Mbak Lala sendiri yang as like a mom selalu mengangkat moral aku dan yang lainnya. Mbak Lala membantu saya untuk get back to the real me. Dengan itu, saya merasa ini bukan cuma sekadar kerja, tapi memang bener-bener keluarga. Itulah yang membuat proses syutingnya so lovely. Jadi, selama sebelum syuting, selama sebulan, aku coba pakai baby bump. Aku melakukan segala kegiatan dengan mengenakan itu dan it made me kind of ‘crazy’ karena gue jadi ngerasa sakit setiap kali mengenakannya. Emotionally depressed. Tapi, pas syuting I had the family that got my back and looked after me.
Rio: Seneng banget, sih, pas syuting karena gue excited banget pas keterima bermain di film ini. Setiap Abang (Joko Anwar) buka casting, seperti Onrop atau segala macam, gue selalu datang. Pernah juga di Pintu Terlarang untuk satu scene. Dan, di sini gue bener-bener ngerasain di-direct sama Abang langsung, dapet porsi yang lumayan banyak, tanggung jawab yang besar juga. Pas menjalani syuting, sih, deg-degan juga karena ada perasaan kayak, “Wah gue harus main bagus, gue harus ini-itu.” Tapi, semua beban itu jadi nggak terasa sebab Abang men-direct-nya dengan enak, orangnya fun, dan semuanya udah kayak keluarga. Cuma yang serunya waktu proses reading, gue dipisahin dari casts lain. Tapi, seru aja bagaimana Abang bisa membangun gue menjadi karakter si ‘pria’ ini, yang menurut gue susah karena jauh banget dari kehidupan gue yang asli. Abang memang brilian karena dia bisa bikin kami semua merasa nyaman dengan situasi selama syuting.
Surya: Yang bisa gue tambahin adalah kami di sini bangga banget bisa dapet cerita yang bagus, ketemu kru, mulai dari produser, sound, cameramen, hinggs lighting, dan semuanya sangat profesional di bidang masing-masing. Bekerja sama dengan mereka semua membuat semuanya jadi menyenangkan. Pokoknya semua kru know what they’re doing and they’re professional in doing that.
Lala: Dan, setiap kali break makan, kami tidak ada membeda-bedakan antara casts atau kru. Karena di hutan nggak ada kursi, kami sama-sama duduk di bawah, makan bersama. Senangnya kalau kerja sama Joko itu, kami semua ngerasa film Modus Anomali ini punya kita semua.
Sejak awal banget hingga jadi, butuh berapa bulan waktu produksinya?
Lala: Kalau dari pra-produksi sampai benar-benar jadi, sih, 9 bulan lebih, ya. Sebelum masuk pra-produksi pun saya bersama Joko sudah 'tek-tokan' lama dan membentuk kru kecil. Dan, karena produksinya kami hanya mau 10 hari, di luar, outdoor, dan nggak bisa lebih dari itu karena waktu itu pas November sudah mulai musim hujan. Jadi, tahap pra-produksi selama 6 bulan itu semua sudah benar-benar dilatih. Bahkan Rio sudah dilatih gerakannya seperti apa dengan kamera-kamera. Sampai masalah katering, misalnya, kami sudah tentuin scene ini lokasi kateringnya di sini, karena kontur geografi hutan yang naik-turun naik-turun, kami nggak bisa membiarkan si runner untuk jalan terlalu jauh atau kru buang waktu untuk makan ke sana. Itu pun sudah ditentuin. Begitu juga lighting, diesel, tenda yang dipakai, sampai sedetail itu ada selama 6 bulan pre produksi itu. Jadi, bukan hanya pas syutingnya aja. Ini tentu saja berkat dukungan-dukungan yang lain. Kalau nggak, rasanya nggak mungkin 10 hari, pasti lebih.
Modus Anomali ini sudah world premiered di Amerika dan ternyata memperoleh tanggapan yang mengejutkan dari orang-orang sana, bahkan harus nonton dua kali dulu baru mengerti. Kira-kira apa yang diharapkan dari tanggapan orang Indonesia sendiri?
Lala: sebenarnya untuk dua kali nonton bukan untuk bisa mengerti, tapi tipe film Joko memang selalu begitu. Kenapa saya tertarik ikut di film Pintu Terlarang juga demikian. Joko punya style yang bagaikan bermain puzzle. Dia selalu meninggalkan clue di sana-sini. Pertama kita nonton kita pikir begini, tapi ketika kita nonton untuk kedua kali kita lebih detil memperhatikan, ceritanya sambung-menyambung lagi. Bahkan, untuk gerakan pohon atau Rio mendengarkan lagu itu bisa mengubah pikiran kita lagi. Apalagi jika kita menonton dua kali atau tiga kali ceritanya bisa berkembang lagi. Itu yang membuat saya tertarik dengan Modus Anomali. Untuk tanggapan dari orang Indonesia sendiri, ketika kemarin kami mengadakan nonton bareng untuk pertama kali, nggak ada yang memberi komentar jelek. Kami memang sempat kekurangan biaya promosi, tapi kami sudah membangun ini dari Juni kemarin pas menang di Puchon Award untuk skripnya. Jadi, sekarang hype-nya juga makin naik. Mulai dari billboard, Twitter, dan sekarang sudah mulai press conference. Apalagi, setelah diputar di Southwest Film Festival, ini menjadi semacam pembuktian bahwa film ini punya ‘CV’ karena untuk masuk Southwest itu luar biasa susahnya. Southwest Film Festival sendiri merupakan festival film terbesar kedua di Amerika setelah Sundance. Dari ratuan ribu film di dunia, Modus Anomali masuk di kelompok Midnighters yang hanya diikuti 11 film dan kami satu-satunya dari Asia. Itu, kan, sudah membuktikan adanya saringan-saringan dan nggak gampang masuk situ. Kami nggak cuma omong kosong dan bilang kalau film ini bagus, tapi memang ada pembuktian.
Kalo dari Joko sendiri apakah harapannya sudah tercapai melihat dari reaksi orang-orang yang sudah menonton film ini?
Joko: Harapannya mereka nggak nonton 2 kali, tapi 5 kali ha-ha-ha. Kalau gue, sih, bikin film ingin supaya film itu bisa memberi inspirasi. Hidup gue juga terinspirasi oleh film-film yang gue tonton. Cuma untuk menjadi sebuah film yang berhasil memberi inspirasi, kalau menurut gue jangan mencoba untuk membuat film yang menginspirasi. Tidak mencoba untuk menjadi film yang mengedukasi, berceramah, atau menceritakan ke orang jalan mana yang benar dan jalan yang buruk, melainkan telling stories through characters. Dan, dari situ orang-orang bisa terhubung, apakah mereka merasa mirip dengan karakter itu atau malah merasa “this man is shit, I don’t want to be like that!” Gue pengen bikin film untuk bercerita ke orang sebuah cerita yang layak untuk diceritakan dan bonusnya adalah bisa menginspirasi mereka untuk menjadi a better person to a better life, tapi melalui sesuatu yang very entertaining. Dan, gue nggak setuju adanya perbedaan antara art atau main stream. Good film is good film, bad film is bad film. Dan, good film is film which tells interesting stories juga interesting characters.







Write a comment
Be the first to comment.