Menemui Maera di kantornya di bilangan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Hapis Sulaiman, Kishi Ereny,  dan Herry Ananta dibuat takjub. Mea berkisah banyak tentang diri dan kesibukannya.

Lumayan gentar begitu tahu bahwa Maera ini adalah putri dari tokoh pengusaha kenamaan tanah air, Arifin Panigoro. Dalam benak, kami membayangkan wawancara akan berjalan dengan penuh kesungkanan. Well, nyatanya kami salah. Maera justru hadir memperkenalkan dirinya sebagai sosok yang riang, bersahaja, dan tak membikin jarak. Mea justru menyesalkan kenapa media selalu mengkaitkan dirinya dengan sang bapak. Makanya, perempuan Aries kelahiran Bandung inipun minta kali ini namanya ditulis Maera saja. Alhasil, tak berasa 60 menit lebih kami lewatkan bercakap-cakap di salah satu ruang kantornya, akrab dan penuh gelak. Mea tak sedikitpun sungkan membeberkan 'luar-dalam' soal dirinya. Ajaib. Jadi, area perkenalkan, sosok yang penuh cerita dan riuh tawa, Maera!  

Kenapa memilih menerjunkan diri ke dunia seni dan budaya?
Kalau mau boleh jujur banget, karena ada kesempatan saja, sih. Memang dari dulu banyak unsur seni di dalam hidup saya. Saya sudah diperkenalkan dengan banyak kesenian sejak kecil baik itu kesenian lokal maupun luar. Rupanya menjadi sebuah passion akhirnya, dari yang tadinya diperkenalkan, terus menjadi hobi lalu menjadi passion.

Bagaimana Gita Cinta dan Ali Topan itu lahir?
Prosesnya itu adalah saya kebetulan bersahabat dengan Ari Tulang. Dan lalu saya dipertemukan dengan ibu Dian HP oleh Sulung Handung. Saya kebetulan sahabatan Sulung Handung  dan banyak pekerjaan yang melibatkan ibu Dian pada waktu itu. Akhirnya kita jadi dekat. Terus, ngobrol-ngobrol, kok kami merasa interest-nya sama ya? Terus saya pernah nyeplos “sayang, ya, musikal disini tidak seperti Broadway”. Belum ada pertunjukkan musikal yang seperti broadway di Indonesia. Banyak pertunjukkan musikal. Saya nggak bisa klaim saya orang pertama yang membuat pertunjukan musikal di Indonesia. Bahkan kesenian tradisional kita pun mengandung banyak cikal bakal musikal. Musikal itu kan ada tiga: menari, menyanyi, dan akting. Ludruk dan Ketoprak sebenarnya sudah mengandung unsur musikal, tapi yang ala Broadway dan western,  belum pernah saya lihat disini. Jadi, waktu itu, saya, bu Dian dan Angkari berpikir, “iya ya lucu juga  kalau kita bikin seperi itu”. Melanglanglah kita studi banding ke London. Di London kita lihat beberapa play West End. Saat itu kami melihat yang klasik-klasik, seperti Phantom of The Opera, Mamamia  juga Lion King. Kami banyak belajar dan melihat teknik pembuatan. Di kesempatan yang berbeda saya juga sempat bertemu produser West End. Jadi, pulang dari London, kami sudah dengan berbagai ide di kepala. Dari ide menjadi konsep, lalu lahirlah Gita Cinta.

Tantangan yang dihadapi dalam pengerjaan project musikal saat itu?
Oh banyak. Karena,  waktu itu, saya baru pertama kali membuat sesuatu yang besar. Jadi, agak mau 'tenggelam' rasanya. Untungnya, waktu itu, saya dibantu banyak orang yang  sudah  berpengalaman di bidangnya masing-masing. Meski,  pada waktu itu, mereka belum pernah membuat musikal ala Broadway. Tapi, kemampuan mereka untuk teknis panggung sudah  bagus. Saat Gita Cinta, project officer-nya adalah ibu Andriani yang sudah berpengalaman di panggung. Saya belajar banyak  dari beliau. Challenge pertama adalah memperkenalkan  musical itu sendiri. Jangankan dari produksi, untuk memperkenalkan supaya dapat sponsor itu susah sekali. Sebab mereka nggak ngerti apa itu musikal. Jadi, agak susah mengemasnya karena kita gak punya reference, video, dan gak punya bahan untuk memperkenalkan seperti apakah musikal tersebut. Alhamdulillah, orang-orang ini percaya dan menyerahkan semuanya pada saya. Mungkin, ini juga karena saya membawa nama besar Ari Tulang dan ibu Dian HP. Challenge pertama adalah meyakinkan investor bahwa it’s another form of entertainment yang bisa dinikmati berbagai orang. Dari produksi, kami memiliki kesulitan mengenai  gedung. Saat ke West End, saya melihat  gedung pertunjukkan musikal disana. Dan, memang ada standarnya.  Sayang di Indonesia tidak ada, setidaknya di Jakarta. Yang paling mendekati waktu itu adalah Graha Bakti Budaya. Saya pikir, untuk standard internasional Graha Bakti Budaya terbilang lumayan. Akhirnya saya pilih disitu dengan segala kekurangannya. Ari tulang sebagai director dan kreatif sudah punya banyak ide namun pada akhirnya tidak bisa terealisasi karena venue yang tidak menunjang. Banyak ide kreatif yang  akhirnya harus di-cut dan kami kompromikan. Seharusnya, dengan gedung yang memadai akan jauh lebih kreatif. Lalu, soal talent. Salah satu alasan saya mau membuat proyek itu karena melihat grup Interlude, berisi  4 orang yang membawakan lagu-lagu Broadway dan bagus. Saya sampai bilang, "Gila, bisa juga ya, orang Indonesia membawakan lagu-lagu Broadway sudah dengan agak akting pula”. Saya  ngobrol banyak dengan mereka dan akhirnya tahu ada Jakarta Broadway Singer. Dari situ saya berpikir bahwa mereka pasti punya banyak talent, hanya saja belum pernah di ekspos.

Apakah di sini ada musikal yang sudah mendekati standar Broadway?
Menurut saya kalau kita tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi, drama musikal disini sudah sangat mendekati. Terutama laskar pelangi yang menurut saya sudah dibungkus dengan sangat musikal. Idealnya sebuah play itu bermain untuk jangka waktu yang panjang, bertahun-tahun, ya seperti  Wayang Orang Bharata. Mereka main di Pasar Senen setiap hari, harga tiketnya Rp5000. Mau yang nonton 100 orang atau 2 orang, mereka tetap main. Walau bentuknya bukan musikal Broadway, dari beberapa unsur sebenarnya kita sudah cukup mendekati.

Begitu paham dengan dunia seni-budaya, memang ada latar pendidikan kesenian?
Nggak sama sekali. Ini karena pengalaman setelah bikin dua musikal kemarin. Juga karena memang ingin tahu apa yang terjadi di belakang panggung dan juga diatas panggung, j Saya Executive Producer yang sangat 'nyebelin' karena ingin tahu apa saja. Saya memang beruntung bekerjasama dengan orang-orang yang professional di bidangnya. Tapi, tetap saja masih banyak yang harus dipelajari.

Ada rencana membuat musikal lagi?
Tahun ini kita vakum karena banyak sekali musikal yang akan hadir, seperti Semut Merah Semut Hitam dan Bawang Merah Bawang Putih. Belum lagi produksi yang kecil-kecil. Ini memang industri baru, jadi  marketnya masih kecil. Lain dari itu, banyak artis luar juga  yang mau datang dengan harga tiket yang tidak murah. Jadi, saya  tidak mau memaksakan diri untuk mengadakan pentas.  Tapi, untuk 2012 ini, kami sudah audisi untuk pentas pada 2013. Kali ini kita membuat cerita baru dan tidak mengadaptasi lagi dari novel lama. Pemain sudah kami audisi dan skrip juga sudah on the way. Mudah-mudahan kalau tidak tahun depan, ya 2014. Ada kemungkinan juga kita akan re-run Gita Cinta juga tahun depan.

Kenapa  memberanikan diri menjadi penyanyi dan menelurkan album?
Saya aneh ya, ha-ha-ha. orang biasanya dari depan panggung dulu jadi ujung tombak, lalu kebelakang layar. Nah,saya sebaliknya, di belakang layar dulu baru berani maju. Teorinya, setelah tahu apa yang terjadi di belakang,  baru berani maju ke depan. Kesempatan dan keberaniannya juga baru ada. Saya ingin nyanyi yang bisa dijual dan diterima publik. Itu yang jadi tanda tanya. Yang paling mempengaruhi itu kak Ubiet. Saya dapat banyak masukan dari dia. Saya memang dari kecil itu kerjaannya menyanyi. Kalau lagi kumpul dengan keluarga, saya selalu diminta nyanyi. Sejak kecil,saya dikenalkan dengan Sound of Music, Singing in the Rain, dan The Beatles. Memutuskan untuk bikin album itu merupakan salah satu bentuk ekspresi saja. Tidak mengharapkan apa-apa, I wanna do it, ada orang2 yang kebetulan mau membantu, dan kesempatan ada.  jadi, deh, lagunya.

Ada Tohpati, Rika Roeslan, Bemby Noer, juga Pongky. Bagaimana bisa bekerja sama dengan nama-nama besar di album ini?
Saya pernah bilang ke Chandra Satria bahwa saya ingin nyanyi. Dia bilang, "Dengan suara seperti itu, kenapa enggak?". Akhirnya, saya dapat referensi Tohpati dari dia. Kebetulan memang waktu itu kita ada rencana kerjaan dengan Tohpati. Lalu kami bertemu dan ngobrol dengan Mas Bontot. Konsepnya adalah lirik semuanya dari saya, Mas Bontot yang akan memilih siapa yang akan menulis lagunya yang sesuai karakter suara saya. Setelah itu baru di-rearrange oleh dia, dan kami rekaman.

Menyoal musik Anda, sengaja tampil dalam genre jazz?

Nah, ini yang membingungkan. Ini salah satu pokok bahasan antara saya dan Mas Bontot. Paling enak, dibilangnya pop, ya. Genre musik itu banyak banget, ya saya terserah orang saja. Music is universal, you can call it whatever you want, it doesn’t really matter what genre it is as long as you like it. Buat saya nggak terlalu penting genrenya.  Memang karena mungkin karakter suara saya, orang suka berpendapat itu jazz.

Industri musik Indonesia tengah berkembang; banyak artis baru. Alasan apa yang mendorong Anda berani membuat album?
Saya bilang ke Mas Bontot, “Pengen ngeluarin  aja, nih, yang dari dalem sini”. Dia bilang, untuk sekarang kalau mau cari duit dari musik nggak bakalan balik. Saya juga bukan mau cari tenar. Jadi inilah idealism aku. Tidak mengikuti selera pasar sama sekali. Apa yang menurut saya enak, itu yang saya kerjakan. Kalau ini bisa diterima oleh masyarakat, itu merupakan bonus.

Judul 'Aku'?
Judul albumnya ‘Aku’ karena memang album ini cerita tentang saya sendiri. Banyak yang relate dengan pengalaman pribadisaya.

Tentu tak ingin aji mumpung atau one hit wonder, apa rencana setelah satu album ini?
Saya akan tetap rekaman regardless itu laku atau enggak. Selama saya bisa merasa itu sebagai tempat untuk menyalurkan apa yang ada di dalam sini. Event musikal adalah cara untuk menyalurkan apa yang ada di kepala saya. Jadi, kira-kira sama, hanya medianya beda. Saya rasa selama  masih memerlukan itu saya nggak akan kemana-mana.

Ada yang unik dengan cover CD-nya.
CD case-nya semua dari kulit. Jadi saya itu ‘penyampah' di Twitter dan banyak mem-follow musisi. Saya melihat betapa mereka berperang melawan pembajakan; berusaha supaya orang beli secara legal. Jadi, waktu itu, idenya adalah bikin packagingnya yang tidak setengah-setengah. Ada apresiasi di dalam situ juga. Kami lumayan setengah mati membuatnya karena sudah pernah ada di luar negeri. Tapi disini, saya belum pernah lihat. Sulit mencari orang yg bisa bikin. Ini tidak bisa dikerjakan dengan mesin,  harus dijahit manual. Jadi kita men-treat  collector’s item. Setiap case diberi nomor. Orang bisa pesan nomor sendiri di CD case-nya. Dan, itu sangat personal. When you want someone to appreciate you, you have to give something juga. Ini memerlukan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit, so we put so much effort into this. There’s a price that you have to pay. Tapi, saya menikmati seluruh proses pengerjaannya.

Terbebani mengemban nama 'Arifin Panigoro'?
Setiap hal dalam hidup kan ada dua sisi, positif dan negatif. Tergantung bagaimana dilihatnya saja, mau secara positif atau negatif. Saya tidak mau bilang itu berat karena nama bapak itu luar biasa menurut saya. Saya tidak bisa melihat secara negatif. Beliau memberikan banyak ajaran hidup yang aku pegang banget sampai hari ini. Memang sangat sulit memisahkan nama seorang Maera dari Arifin Panigoro. Tapi, ya, mau bagaimana, memang sudah anaknya. That is something that I have to live with for the rest of my life. Take it as a blessing saja.

Apa filosofi hidup Anda?
Hidup itu harus bahagia. Untuk bahagia,  harus ikhlas. Dan, itu sulitnya setengah mati. Setahu aku yang bisa gitu hanyalah Siddharta Gautama. Kita hidup bagai setengah dewa.

Adakah rencana untuk membuat film?
Sangat. Waktu itu Lala Timothy dan Joko Anwar sempat membuat fisfic. Mereka meminta masyarakat untuk menyerahkan cerita pendek bergenre sci-fi, horor, atau thriller.  Cerita-cerita pendek itu lalu disaring untuk diikutkan dalam  omnibus berjudul ‘Takut’. Nah salah satu dari film pendek itu,saya membantu sebagai executive producer. Kebetulan, si sutradara adalah penulis naskah Gita Cinta. Ternyata sangat menarik pembuatan film pendek. Ternyata sangat menarik membuat film pendek, very low budget. Sudah on the way jalan ceritanya. Ini proyek pertama kami untuk membuat film pendek. Saya ingin sekali mencoba segala macam bentuk seni.

Tiga kata untuk mendeskripsikan Anda?
Impulsive, passionate, moody.

Makanan favorit?
Gendar. Kerupuk, tepatnya. Waktu itu, kami sedang latihan Gita Cinta. Lalu ada yang membawa sekaleng kerupuk. Langsung saya umpetin; nggak ada yang boleh minta, ha-ha-ha.

Visi misi Artswara?
Sebenarnya, awal kehadiran Artswara karena pembuatan Gita Cinta. Visinya adalah memberikan kesempatan buat talenta yang ada di Indonesia dalam bentuk yang lain. Of course, menurut saya, setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang berubah, seiring perkembangan jaman. Tapi yang pasti, harus ada dasarnya. Sebetulnya, yang paling mendasar adalah segala bentuk kesenian yang kita buat, harus dikerjakan dengan hati. Saya capek setiap mendengar misi budaya keluar negeri untuk diperkenalkan seni budaya Nusantara. Sampai di luar negeri, yang nonton cuma orang kedutaan besar atau masyarakat Indonesia yang ada di sana. Misinya jadi nggak kesampaian, dong. Singkatnya, kalau orang-orang luar negeri itu mau nonton Kecak, Ramayana, Musikal Laskar Pelangi, atau Gita Cinta, ya mereka harus datang ke Indonesia. Bukan kita yang harus repot-repot bawa ke sana. Itu misi saya. Kalian mau tau kebudayaan kami, ya, kalian datang ke sini! Ini yang membuat saya marah. Kenapa buang-buang uang untuk mengirim orang keluar negeri, tapi kebudayaan dalam negeri saja tidak didukung dan bantu?  Saya pernah dapat kesempatan untuk membantu Kelompok Wayang Orang Bharata. Saya melihat kehidupan mereka. Mereka tiap hari pentas. Regardless berapapun orang yang nonton, mereka tetap main maksima Walau hanya dibayar Rp15000. Mereka tetap hidup dari generasi ke generasi.  Orang-orang se-passionate itu, sangat total akan apa yang mereka kerjakan. Sayangnya mereka malah tidak diperhatikan.

Punya berapa tato? Yang terbaru?
Ada 11. Tapi kan kecil-kecil. Tato ambigram bertuliskan MAERA yang juga logo album saya. Ini kado ulan tahun saya kemarin.

Buku terakhir yang dibaca?

The Buddha in the Attic dan No One Belongs Here More Than You. Saya dapat rekomendasi dari John Badalu.

Anda percaya reinkarnasi?

Banget. Saya percaya bahwa soul itu tidak pernah mati walau orangnya sudah meninggal dunia.