Sejauh mata memandang, rimbun dan indah menjadi dua kesan yang tertangkap. Pulau ini tampak seperti hutan belantara, terlebih jika dilihat dari menara pengamatan yang terletak di tengah pulau.

Bedanya, tak ada suara singa mengaum di sini. Tak ada pula lolongan serigala. Tidak, Anda tak akan menemukan segala sesuatu yang membuat bulu roma bergidik. Hanya ada kedamaian dan ketenangan. Tentu saja, rasa takjub menyaksikan banyaknya burung turut melengkapi pengalaman berharga menyambangi Pulau Rambut.

 

Tak mengherankan bila pulau ini dijuluki sebagai “Pulau Kerajaan Burung”. Ada sekitar 50.000 burung berhabitat di Pulau Rambut. Pemerintah Hindia-Belanda memelopori pulau ini—Pulau Middbur namanya saat itu—menjadi cagar alam untuk penelitian dan pengamatan. Seiring waktu berjalan, Pemerintah Republik Indonesia mencetuskan Pulau Rambut sebagai suaka margasatwa pada 1999.

 

Tak hanya burung yang menjadi daya tarik pulau ini. Pulau Rambut hanya memiliki luas 45 hektar. Keberadaannya pun terancam ‘punah’ oleh abrasi akibat terjangan ombak. Sebagai pencegahan, hutan mangrove turut dilestarikan di Pulau Rambut. Sebagian dari hutan mangrove yang menjangkau hampir setengah pulau ini sebenarnya telah lama tumbuh alami. Namun, ada juga pohon-pohon yang sengaja ditanam. Pemecah ombak pun dipasang demi melindungi tanaman-tanaman mangrove yang masih muda dari terpaan air laut. Perawatan dengan penuh perhatian dilakukan agar tanaman-tanaman mangrove ini dapat tumbuh maksimal dan menjadi ekosistem hutan yang kekal untuk surga bagi para burung ini.

 

Kegiatan penanaman mangrove juga kerap dilakukan di Pulau Untung Jawa. Pulau berpenghuni yang juga menjadi destinasi wisata pantai dan laut ini memiliki hutan mangrove yang terawat serta bisa dikunjungi. Di satu sisi pulau, Anda bisa menemukan kegiatan penanaman mangrove, mulai dari pembibitan tanaman yang masih kecil, penyemaian mangrove yang sudah mencapai usia satu tahun, hingga perawatan. Warga luar pulau pun sering mendatangi pulau ini untuk turut menanam mangrove.

 

Kegiatan menanam mangrove kerap dilakukan di bawah bimbingan Muhammad Buang. Ia adalah seorang warga sekaligus pengelola mangrove di Pulau Untung Jawa. Karena kontribusinya terhadap upaya pelestarian lingkungan sejak lama, ia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Kalpataru pada 2004 kategori “Pengabdi Lingkungan” dari Presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Menurut pria yang mulai menyemai dan menanam mangrove pada 1985 tersebut, penanaman dan perawatan bukanlah hal mudah. Tanaman harus dipantau setiap hari. Proses penyemaian juga penting dilakukan agar mangrove mampu bertahan hidup usai ditanam.

 

Mangrove punya beragam manfaat. Selain bisa menahan laju ombak dah mencegah abrasi, mangrove juga mampu menetralisasi logam berat, mengendapkan polutan yang melaluinya, serta menahan pencemaran air tawar di daratan dari air laut. Tidak ketinggalan, bagian atas hutan mangrove bisa menjadi habitat bagi para burung, sedangkan bagian bawahnya yang berupa rawa berair payau menjadi tempat berkembang biota laut. Ekosistem mangrove juga mampu mendorong perekonomian masyarakat sekitar karena memberikan lahan pekerjaan dan bisa digunakan sebagai sarana rekreasi.

 

Mangrove memang membawa beragam kegunaan bagi alam dan bagi manusia. Namun, bukan berarti langkah untuk melestarikan lingkungan berhenti di situ. Menjelajahi hutan mangrove di Pulau Untung Jawa, Anda akan menemukan banyak sampah tersangkut di bagian bawahnya. Usut punya usut, sampah-sampah ini dibawa oleh ombak yang datang dari arah Jakarta. Begitu banyak rupanya yang menjadikan air sebagai sarana membuang sampah. Padahal, air memiliki peranan besar bagi kehidupan. Keindahan bawah laut yang memesona di balik jernihnya air di sekeliling pulau ini adalah satu dari sekian banyak buktinya.

 

Bagi penduduk Pulau Untung Jawa, air laut tidak hanya bermanfaat sebagai sarana rekreasi, tetapi juga kerap digunakan untuk keperluan sehari-hari. Melalui pemanfaatan instalasi pengelolaan air reverse osmosis (IPA-RO), air laut dijernihkan sehingga bisa digunakan sebagai air bersih. Teknologi ini juga diaplikasikan di pulau-pulau berpenghuni lainnya di kawasan Kepulauan Seribu. Dengan demikian, penduduk tidak lagi bergantung pada air tanah yang semakin hari semakin berkurang kualitas dan kuantitasnya. Tentu saja penggunaan air harus diiringi dengan kebijakan individu agar masalah kekurangan air bersih tidak perlu terjadi.