Save Sharks, Go Blue!

Keinginan Anissa Sadino untuk berbincang seputar kampanye “#SaveSharks” yang diprakarsai oleh Riyanni Djangkaru akhirnya tercapai. Di kamar apartemennya, aktivis sekaligus penyelam yang satu ini bercerita panjang lebar akan kampanyenya dalam melindungi alpha predator yang hidup di laut Indonesia.


Bagaimana cerita awal terbentuknya kampanye “#SaveSharks”?


Saya suka menyelam, terutama di Bali, Raja Ampat, Nusa Penida, dan Lembongan. Saya juga suka mendaki gunung dan melakukan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan alam. Hingga 2005, saya mengalami cedera lumayan parah di lutut dan tulang punggung. Dokter bilang, lebih baik untuk sementara waktu saya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan air saja. Badan dan jiwa saya pun memilih laut karena laut lebih dinamis. Kegiatan saya berhubungan dengan alam, jadi saya banyak memiliki teman yang berasal dari non-governmental organization (NGO) dan ilmuwan. Saya pun diajak untuk mengikuti berbagai kegiatan kampanye, mulai dari kampanye hutan hingga kampanye kelautan. Dulu, undangan-undangan mengenai isu lingkungan kebanyakan dari luar negeri. Lalu, saya menerima undangan untuk mendatangi Thailand. Saat itu, sekitar 6—7 tahun lalu, isu terbesar adalah tentang hiu dan terumbu karang. Namun, perwakilan Indonesia yang independent, warga yang bukan NGO, hanya saya. Aneh, bukan? Saya jadi berpikir, “Mengapa orang Indonesia tidak peduli dengan isu ini? Padahal, negara kita adalah salah satu dari lima negara penghasil sirip hiu terbesar di dunia.” Di sana, saya sempat ditanya mengenai gerakan “#SaveSharks” di Indonesia. Saya bilang, “Saya tidak tahu. Sepertinya tidak ada.” Kok, konyol, ya? Mungkin orang-orang berpikir bahwa kampanye edukasi yang berhubungan dengan alam cukup orang lain saja yang mengerjakan dan mereferensi sebuah nama rasanya sudah cukup. Kembali ke Indonesia, saat itu sedang seru-serunya tayangan kuliner ekstrem di TV dan makanannya adalah sirip hiu. Saya pun berpikir untuk menggerakkan kampanye “#SaveShark”. Toh, media sosial sedang marak saat itu. Setelah membuat majalah diving bernama Divemag pada 2010, kami segera membuat gerakan. Berhubung ini majalah saya, gerakannya ya, kumaha aing. Ha-ha-ha. Meski majalahnya sedang diberhentikan untuk sementara waktu, gerakannya masih ada. Kami memberikan edukasi ke konsumen serta memiliki tokoh, platform, dan informasi yang masyarakat bisa kembangkan sendiri. Pada kampanye ini, kami memiliki kegiatan luring (offline) utama, yaitu mengunjungi sekolah dan komunitas. Kami menyambangi komunitas-komunitas, travelers, penyelam, anak-anak pendaki gunung, tempat wisata kuliner, ibu rumah tangga, dan lain-lain. Menurut kami, edukasi kelautan ini berguna untuk semua lapisan dengan memberi tahu mereka akan masalah kelautan yang bukan hanya soal sehari-hari.

 

 

 

Apakah rasa kagum Anda pada hiu merupakan alasan utama membentuk kampanye ini?


Saat itu, saya memilih isu yang paling sedikit orang sentuh. Meski tidak populer, isu ini penting untuk ditanggapi. Di saat yang sama, ada gerakan makan ikan. Padahal, hiu adalah top predator di laut untuk menjaga variasi spesies ikan. Ditambah lagi, akses edukasi begitu minim. Kebanyakan data dari ilmuwan berkutat di mereka saja atau ketika sampai di tangan pemerintah, mentok diedukasikan hanya pada nelayan. Ketika data disampaikan kepada wartawan, wartawan belum tentu paham dan mampu menerjemahkannya agar santai untuk dibaca. Kami pun mengisi kekosongan tersebut. Kami memiliki banyak akses ke beberapa ilmuwan. Mereka setor data pada kami dan kami menerjemahkannya ke bahasa yang mudah dipahami.

 

 

 

Seperti apa perkembangan spesies hiu di Indonesia sekarang?


Di seluruh dunia, spesies hiu sudah menurun hingga 90% dalam 30 tahun terakhir. Menariknya, dari sekian ratus spesies, kurang dari 10 jenis yang buas dan mereka hidup di lautan subtropis. Di laut Indonesia, ada hiu-hiu karang yang tidak seagresif hiu putih besar. Karena makanannya tersedia di sekitar, mereka tidak repot untuk berburu mangsa. Sebagian besar spesies hiu di Indonesia adalah hiu karang, white tip shark, dan black tip shark. Spesies lainnya adalah whale shark yang dilindungi penuh oleh pemerintah. Namun, dengan masuknya industri, ceritanya pun berbeda. Di Indonesia, penjagaan batas wilayah kelautan kita kurang personal. Belum lagi masalah sosial-ekonomi.

 

 

 

Seperti apa masalah tersebut bila dijabarkan?


Hiu merupakan tangkapan tradisional negara kita. Atas nama itu, masuklah industri dan tidak ada pagar atau peraturan perlindungannya. Sementara itu, hiu merupakan salah satu komoditas ikan kering yang paling mahal di dunia. Pemerintah mengatakan bahwa hiu adalah sumber pendapatan masyarakat lokal, jadi tidak bisa membuat regulasi pelarangan. Nah, kalau hiu dikatakan sebagai sumber pendapatan, mengapa pemerintah tidak mengatur jenis dan ukuran hiu yang boleh ditangkap? Umur hiu dewasa adalah 2—12 tahun dan tidak setiap tahun hiu-hiu dewasa tersebut bertelur dan beranak. Ironisnya, data ekspor-impor di Amerika memperlihatkan jumlah ekspor sirip hiu dari Indonesia. Singapura juga mengekspor sirip hiu. Lucunya,  jumlahnya 10 kali lebih banyak daripada Indonesia. Ada di sebelah mana laut mereka? Itu terjadi karena sirip hiu yang diekspor dikumpulkan lebih dulu di Surabaya. Lalu, Singapura mengekspor sirip hiu itu ke mana-mana. Ini tidak logis, bukan? Seharusnya, ada pengaturan mengenai penangkapan hiu kalau berhubungan dengan masalah sosial-ekonomi. Di tempat landing ikan, hiu ditulis sebagai jenis “ikan lain-lain”. Pajaknya tidak ada, tetapi penangkapannya sekian ratus kilo per kapal dan pendapatannya miliaran. Kalau hiu masuk jenis “ikan lain-lain”, pajaknya berapa persen, sih? Ke mana keuntungan besar atas penjualan hiu tersebut? Di daerah penangkapan hiu yang makmur dan saja, akses infrastrukturnya tidak berkembang. Puskesmas susah, sekolah bagus susah. Ini bisa dilihat di Tanjung Luar, Lombok. Begitu juga di Aceh, Lhoksimawe, Banyuwangi, dan Indramayu. Kita mau eskpor tuna, kerapu, dan kakap? Kalau hiu sebagai top predator yang menjaga spesies ikan di laut tidak ada, bagaimana kita mau ekspor ikan-ikan untuk dikonsumsi? Ada juga kebijakan free visa yang berpengaruh hingga membuat kepala saya pusing. Bukannya saya rasis, namun ini kenyataan. Dulu, Indonesia susah shipping ke Tiongkok, sekarang pasarnya didatangkan ke sini. Dengan adanya free visa dari Tiongkok ke Indonesia, langsung saja sirip hiu digilai. Orang-orang Tiongkok langsung beli sirip hiu kering langsung ke nelayan. Anehnya, kok, hal ini diloloskan? Nilai politis sirip hiu kering tinggi. Hiu seperti tuna yang memiliki lintas kepentingan karena mereka bermigrasi. Peraturannya tidak bisa ada di satu negara saja dan harus sama.

 

 

 

Bagaimana legalitas penjualan sirip hiu?


Legal atau tidak legal, itu menarik. Kalau menurut peraturan Pemerintah Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2012, larangan tangkapnya ada. Kalau tertangkap, ikan tersebut jangan dijual. Namun, bagaimana dengan penegakan hukumnya? Misalnya, penangkapan penyu jelas-jelas dilarang di Undang-undang Nomor 5 Tahun 1910. Namun, estetika tidak dipandang sebagai dosa, melainkan seni. Peraturan pun diterobos begitu saja. Itu ilegal, tindak pidana. Mungkin, karena beberapa dari kita tidak suka dengan hukum yang berlaku, hukum apa pun itu meski hal dasar, kita cenderung lupa, termasuk dengan sanksi yang berlaku.

 

 

 

Seperti apa bentuk edukasi yang dikampanyekan “#SaveSharks”?


Ada banyak cara. Kami pernah bekerja sama dengan teman-teman dari Greenpeace untuk melakukan kampanye di restoran-restoran yang menjual sirip hiu. Kami pesan, kami bayar, kami booking table, dan kami datang sebagai pembeli. Setelah memberikan kode, kami berkeliaran di dalam restoran tersebut mengampanyekan “#SaveSharks”. Pendekatan kami tidak selalu seperti itu. Kami mengusung prinsip orang Timur, yakni dengan mengopi dan mengobrol. Ketika mengedukasi konsumen, kami mengobrol 1 on 1 per komunitas dalam suasana santai. Terus terang, nelayan bukan fokus utama kami karena mereka bukan penjahat. Mereka hanya alat, menangkap apa yang diminta pasar. Pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku bisnis dan konsumen. Konsumen juga dibodoh-bodohi oleh pelaku bisnis. Dulu, nelayan banyak yang mengeluh bahwa mereka menangkap hiu untuk turis. Akhirnya, mereka mengantar turis untuk berenang bersama hiu. Oh, ya, sirip hiu juga dikatakan sebagai obat kanker, begitu juga dengan insang manta ray. Di penelitian, tidak ada hal itu.

 

 

 

Apakah Anda pernah melihat hiu yang sudah dipotong siripnya di laut?


Saya pernah melihatnya sekitar 2010. Setelah dipotong, mereka dibuang ke laut dalam keadaan hidup. Mereka bisa hidup dengan keadaan mengerikan itu selama berhari-berhari. Akhirnya, kami bunuh daripada ia hidup dalam keadaan mengenaskan. Kasihan, ‘kan? Saya sedih, tetapi lebih memikirkan sisi edukasinya. Kok, edukasinya tidak sampai, ya? Kok, ada ya, orang yang memikirkan dirinya sendiri melalui gaya hidup yang kurang bertanggung jawab? Mirisnya campur aduk. Saya kepikiran terus, bagaimana cara mengaturnya agar para nelayan tetap mendapat pendapatan dan hiu-hiu di laut Indonesia tetap terlindungi dengan baik? Kadang saya frustrasi, namun hal tersebut memberi semangat. Memberi edukasi itu sifatnya berulang-ulang dan saya tidak boleh lelah. Dengan adanya free visa, kami mulai mendayung sampan lagi.

 

 

 

Apakah komunitas ini anti terhadap pemerintah?


Tentu saja tidak. Kami mendukung sekali dan tidak anti pada siapa pun. Kami mendukung pemerintah yang beberapa tahun terakhir ini mengeluarkan regulasi nasional tentang hiu melalui peraturan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, yakni larangan penangkapan terhadap hiu tikus Nomor 12 Tahun 2012, larangan penangkapan hiu hamil dan hiu juvenile, serta perlindungan penuh untuk manta ray dan whale shark. Kadang-kadang, kami pikir lebih baik memiliki gerakan dan menjalankannya sendiri daripada menunggu pemerintah. Menunggu proyek itu merepotkan. Lebih baik kami kerjakan sendiri menggunakan media sosial.

 

 

 

Ada berapa orang yang aktif pada komunitas sekaligus kampanye “#SaveSharks”?


Ada 10 orang yang masing-masing memiliki jaringan tersendiri. Dua tahun terakhir, kami menggerakkan teman-teman di Yogyakarta dan Semarang untuk melakukan acara, pada saat car free day misalnya. Kami menggunakan networking. Kami pernah sampai harus pergi ke Makassar. Kami, ‘kan, rata-rata memiliki pekerjaan. Jadi, uang yang kami dapat dari pekerjaan itu disisihkan untuk ongkos. Jangan biasakan menjadi volunteer untuk dibayar. Teman-teman di komunitas kami bekerja sebagai pegawai bank, pejalan, guru sekolah, wartawan, public relation, penulis skenario, dan lain-lain. Kami memiliki visi dan misi sama untuk menyelamatkan spesies hiu di Indonesia. Kalau Anda ingin bergabung, kami terbuka. Kami bukan organisasi terstruktur yang memiliki RUPS, ha-ha-ha. Anda bisa mengecek laman Twitter kami, @itong_hiu. Rata-rata, teman-teman di komunitas kami suka jalan-jalan. Pikiran mereka terbuka untuk membela hiu. Kekuatan gerakan kami bisa dilihat dari keragaman orang-orang di dalamnya. “#SaveSharks” adalah rumah bagi kami.

 

 

 

Selama mengampanyekan “#SaveSharks”, apa pencapaian terbesar yang sudah Anda dapat?


Kami sudah lima tahun jalan. Ada yang bilang, pencapaian kami dilihat dari dukungan kami di beberapa regulasi dan acara-acara, mulai di Makassar hingga Thailand dan Amerika. Menurut saya, pencapaian terbesar adalah ketika orang-orang yang dulu meremehkan kami sekarang menjadi responsif. Banyak orang melaporkan penangkapan hiu di berbagai tempat dan menolak sup sirip hiu sebagai hidangan. Itu adalah pencapaian. Beberapa konsumen yang awalnya tak peduli menjadi peduli dan menyuarakan itu ke penjual dan para pelaku bisnis. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat memiliki dampak terhadap harga sirip hiu. Kendalanya tentu ada di pemerintah. Daripada menunggu pemerintah, kami memilih untuk mengunjungi sekolah-sekolah untuk membicarakan edukasi maritim. Dulu kami memang mendatangi sekolah-sekolah, sekarang pihak sekolah minta didatangi. Begitu juga kampus-kampus. Kami juga suka mendatangi pelaku pariwisata, terutama kampus pariwisata yang awalnya saya kira paham akan edukasi maritim. Percaya atau tidak, mereka tidak paham. Waktu itu, saya pernah menjadi dosen tamu di salah satu kampus pariwisata. Ternyata, kebanyakan dari mereka mempertanyakan apa hubungan lingkungan dengan pariwisata. Hal yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya make money dari pariwisata. Padahal, ‘kan, semua hal punya hitungan. Kita tidak bisa main timbun atau reklamasi. Akhirnya, ketika kami melempar data pada mereka, mereka baru berpikir. Harus ada keseimbangan antara penggunaan dan pengembalian.

 

 

 

Apakah Anda melihat adanya kenaikan pada gerakan ini selama 2015 dibandingkan tahun sebelumnya?


Alhamdullilah, gerakan ini masih steady walaupun tidak ter-cover oleh media. Beberapa waktu lalu, kami cukup aktif di Bali, Jawa, dan Makassar. Sekarang, kami sedang melakukan pendekatan untuk masyarakat lokal yang lebih terjangkau. Kami mau engage lagi dengan Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Orang-orang tentu bosan kalau pendekatan dilakukan oleh orang yang sama. Jadi, kami lagi menguatkan regenerasi untuk mentoring dan lain-lain. Untuk saya, orang yang pola pikirnya skeptis lebih menarik. Hal itu cukup menantang. Kalau semua orang mudah setuju dengan pendekatan kami, mungkin cara kami kurang berkembang.

 

 

 

Apakah kampanye “#SaveSharks” mengubah hidup Anda?


Saya tidak percaya orang berubah. Orang beradaptasi. Pengalaman yang membentuk dan kita yang memilih jalur hidup ke mana. Sebenarnya, sedari kecil saya sudah terbayang menjadi pembicara tentang, alam, serta flora dan fauna, ha-ha-ha. Kampanye ini mengenai penyelamatan hiu, tetapi isu ini melebar dan akan memiliki pengaruh lebih besar yang berujung pada kesadaran maritim.

 

 

 

Anda mengatakan bahwa “#SaveSharks” memiliki tokoh. Siapa dia?


Di www.savesharksindonesia.org, Anda bisa melihat seekor hiu tonggos dengan behel dan mata berkaca-kaca. Namanya Itong, singkatan dari hiu tonggos. Kami menggambarkan ia dengan behel karena gigi hiu gampang tanggal dan tumbuh lagi. Mengapa matanya berkaca-kaca? Spesiesnya banyak diburu dan si pemburu tidak paham apa fungsi mereka. Sosoknya kami ambil dari hiu karang yang juga menunjukkan masyarakat tentang kawasan yang kaya akan terumbu karang di Indonesia.

 

 

 

Pada tahun depan, gerakan apa lagi yang akan dilakukan oleh “#SaveSharks”?


Tetap mengulang. Kami tidak mungkin membuat kampanye atau gerakan baru. Mungkin, orang-orang yang dulu kami edukasikan telah lupa dan sekarang menjadi pribadi yang berbeda. Indonesia adalah salah satu negara dengan angka tinggi di dunia untuk penjualan hewan liar. Indonesia saja pernah berada di urutan pertama pada 2012 untuk penjualan sirip hiu. Jadi, kami akan selalu mengingatkan dengan terus memberi edukasi.

 

 

 

Harapan Anda melalui kampanye ini?


Mudah-mudahan, “#SaveSharks” menjadi gerakan untuk semua orang. Ketika masyarakat Indonesia memahami bahwa pengetahuan mengenai kelautan merupakan bagian dari gaya hidup, itulah harapan yang sesungguhnya. Saya harap kita sadar bahwa laut juga perlu kita urus, tidak hanya tanah. Ada “Go Green”, ada “Go Blue”.