Kehidupan sosial kerap menjadi tema besar dalam filmnya. Kali ini, disabilitas menjadi sorotannya dan diangkat lewat film kelimanya berjudul Jingga. Simak obrolan santai Dimaz Hendra dengan artis sekaligus sutradara penggemar Sumandjaja ini. 

Film Jingga mengangkat tema disabilitas, khususnya tunanetra. Apa yang melatarbelakangi Anda mengangkat tema ini? 

Dua tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk melakukan riset tentang kasus disabilitas di Indonesia, termasuk tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunawicara, tunadaksa, tunalaras, dan penyandang autisme. Setelah selesai melakukan riset, saya mencoba membuat cerita kecil. Ternyata cerita yang paling menarik adalah tentang tunanetra. Saat itu riset dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bandung dan Jakarta. Saya mengira semua penyandang disabilitas menjadi satu saat berada dalam kelas. Ternyata, metode pembelajaran masing-masing disabilitas berbeda dan yang paling menarik adalah tunanetra. Menariknya, kekurangan yang dimiliki menjadikan indra perasa mereka lebih peka. Mereka dapat mengenali sesorang melalui sentuhan, suara, bahkan langkah kaki. Latar belakang mereka menjadi tunanetra juga berbeda-beda. Ada yang menderita sejak lahir karena ibunya waktu mengandung terkena virus tokso dan rubella. Ada juga yang punya kecenderungan low vision dari awal dan tinggal di pemukiman dengan air yang memiliki kandungan merkuri tinggi. Ada juga faktor kecelakaan. Mereka semua seperti orang awas, jalan dengan tongkat. Saya pun ingin tahu bagaimana mereka belajar dengan guru dan orangtua mereka. Ternyata, banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana menangani anak disabilitas, terutama tunanetra. Ada yang malu memasukkan anaknya ke SLB karena tidak terima kenyataan. Bahkan, ada yang membiarkan si anak karena orangtuanya tidak tahu sama sekali. 

 

Lokasi mana yang menjadi latar film Jingga ini?

Film ini mengambil latar Bandung. Awalnya, kami memilih Rumah Sakit Mata Cicendo yang paling terkenal untuk masalah mata. Bandung juga merupakan kota yang ramah untuk orang-orang tunanetra. Di sana kita banyak melihat penderita tunanetra berjalan menggunakan tongkat. Terlebih, banyak jalur khusus yang disediakan bagi penyandang tunanetra. 

 

Bisa Anda ceritakan film Jingga secara singkat?

Film ini bercerita tentang Jingga dengan keluarga yang mapan. Kondisinya yang low vision sejak kecil diperparah dengan insiden yang mengakibatkan dirinya buta total. Sang ayah tidak pernah menerima, tetapi sang ibu terus membesarkan hati Jingga. Berbagai rasa sesal yang dialami Jingga setalah vonis buta diterimanya menyebabkan kondisinya terpuruk. Perjuangan sang ibu untuk tetap “mengangkat” Jingga berhasil membuat Jingga berdamai dengan kondisinya dan memutuskan bersekolah di SLB. Di sekolah inilah Jingga bertemu teman-teman dengan kondisi sama. Kemahirannya bermain musik membawa Jingga bertemu Marun, Nila, dan Magenta. Akhirnya, mereka membentuk sebuah grup band. Ada rasa cemburu, cinta, persahabatan ala anak SMA. Berbagai peristiwa yang dialami Jingga akhirnya mampu menyibak kegelapan di sekitarnya. Jingga adalah warna matahari terbit dan terbitnya matahari menyinari banyak elemen. Filosofi inilah yang ada pada tokoh Jingga yang mampu memberi inspirasi pada banyak orang.

 

Apakah cerita Jingga berdasarkan kisah nyata?

Ya. Semua adalah kumpulan peristiwa yang saya lihat, rangkum, dan masukkan dengan campuran fiksi. Kasus yang ada di film sama seperti yang saya lihat saat riset. Penyebab kebutaannya, penyangkalan sang ayah, keterpurukannya, semuanya benar-benar terjadi. 

 

Isu-isu sosial sekitar selalu menjadi tema film yang Anda buat. Adakah alasan atau maksud tertentu?

Saya tidak pernah untuk menjuruskan diri untuk membuat tema sosial. Namun, secara tidak langsung tema-tema seperti ini menarik minat saya. Di film-film sebelumnya, saya mengangkat kematian ibu di Flores, buruh TKI Hong Kong, politik, dan LGBT. Untuk mengatasinya, ada banyak hal yang harus dilakukan, seperti riset mendalam semacam disertasi. Namun, saya melakukannya melalui film.

 

Mengapa Anda tertarik pada sisi tunanetra untuk diangkat ke film?

Tidak ada spesifikasi tertentu karena ketika saya sudah suka, saya larut saja. Bidang saya adalah film dan muncullah film Jingga. Banyak orang yang tidak tahu masalah kebutaan secara mendalam. Paling tidak, film ini membuka mata penonton bahwa kasus tunanetra di Indonesia seperti ini adanya.

 

Apakah Anda melakukan riset untuk film Jingga?

Setahun, saya pulang-pergi Jakarta—Bandung. Riset itu dimulai dari saya mengobrol dengan penyandang tunanetra dari SD, SMP, hingga SMA. Saya juga menggali kisah cinta mereka setelah lulus SMA, apa saja yang mereka lakukan ketika mereka jatuh cinta, serta bagaimana interaksi mereka dengan teman, orangtua, dan guru. Saya juga mewawancarai guru dan orangtua, mendatangi rumah mereka, lalu mengamati aktivitas mereka.

 

Adakah sesuatu yang menarik yang Anda dapat dari riset tersebut?

Pertama adalah penyebab kebutaan itu sendiri yang banyak sekali. Kedua adalah cara mengajari mereka melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengambil air dalam gelas hingga penuh. Mereka harus menggunakan jari untuk mengatur apakah air telah penuh. Bunyinya berbeda dengan gelas kosong. Saya juga tertarik dengan cara mereka mengenali orang, yaitu dengan meraba, terkadang memukul. Mereka sangat memperhatikan suara langkah kaki. Bagaimana seseorang yang normal mendeskripsikan sebuah benda yang belum pernah diketahui penyandang tunanetra sangatlah berharga. 

 

Siapa saja aktor yang terlibat dalam film Jingga?

Ada empat pemain baru yang terlibat di film Jingga. Saya memilih pemain baru agar penonton aware bahwa mereka benar-benar penyandang tunanetra walaupun sebenarnya bukan. Penonton akan menyangka tokoh-tokoh ini diperankan penyandang disabilitas yang dapat bermain musik. Saya casting mencari empat anak, yaitu Hifzane Bob, Hany Valery, Qausar HY, dan Aufa Assegaf. Selama hampir sebulan lebih, mereka berkontemplasi dan belajar untuk menjadi penyandang tunanetra, bermain musik, dan membuat lagu. Ada dua lagu yang mereka buat dan menjadi lagu tema Jingga. 

 

Seperti apa karakter para tokoh dalam film ini?

Jingga adalah tokoh utama yang memiliki low vision dari kecil. Karakternya adalah riang, suka bermain drum, dan selalu berseberangan dengan ayahnya. Bersama teman-temannya di SLB, ia mulai membuka dunianya. Nila memiliki karakter periang, buta sejak kecil karena sang ibu terkena virus. Ia adalah satu-satunya perempuan di antara teman kelompoknya. Ia juga memiliki suara indah. Marun adalah anak yang mellow dan introvert. Sifatnya ini yang menimbulkan perselihan di antara sesama teman. Ia buta karena seluruh keluarganya buta, kecuali ayahnya. Sedangkan, Magenta buta karena kondisi tempat tinggalnya yang kurang memadai. Ia dititipkan di asrama untuk bersekolah dan bergaul. 

 

Di film Jingga, Anda bertindak sebagai produser, penulis skenario, dan sutradara. Adakah kesulitan menjalani tiga peran dalam satu produksi film?

Kesulitan pertama ada di penulisan karena saya tidak memiliki referensi film tentang anak-anak buta. At First Sight yang dibintangi Val Kilmer memang film tentang tunanetra, tetapi lebih banyak membahas persoalan cinta dewasa. Saya tidak menemukan referensi film yang membahas cara menangani anak-anak tunanetra secara menyeluruh. Saya harus membuat film yang orang-orang dapat mengerti, ringan, dan paham akan masalah ini. Bedah naskah dengan Gunawan Raharja pun lumayan lama. Sampai draft akhir, saya merasa belum puas sehingga saya rombak sendiri sampai menemukan formula yang pas. Itu pun harus dibahas kembali bersama satu tim produksi.

 

Berapa lama proses produksi Jingga?

Syuting dilakukan selama Mei—Juni 2015. Sebelumnya, pada Februari—April, kami melakukan casting, menyusun skenario, dan menjalani proses reading. Kami melakukan riset sejak 2014. Total 21 hari syuting dilakukan di Bandung. Dari Juli hingga Desember, kami berada dalam masa pascaproduksi. Terus terang, saya tidak mau mengejar apa-apa. Kami takut kalau terburu-buru. Minggu ini kami melakukan mastering dan promosi sampai saatnya film ini dirilis pada 25 Februari 2016.

 

Empat aktor utama di film Jingga bukan penyandang tunanetra. Bagaimana Anda mengarahkan mereka memerankan sosok tunanetra?

Sebelum syuting, saya sengaja memberikan mereka pelatihan. Saya panggil guru Braille yang menyandang tunanetra. Ia membagi pengalaman ke empat anak ini. Empat sekawan ini saya bawa ke Bandung untuk melihat bagaimana orang-orang tunanetra bermain musik, berinteraksi, bergerak, berjalan dengan tongkat, dan lain-lain. Hal ini saya lakukan agar orang-orang percaya bahwa mereka tunanetra. Saya keras sekali kepada mereka. Saya tidak memanjakan mereka. Saya bilang, jangan takut terlihat jelek sebab hasilnya untuk mereka sendiri. Saya selalu berpesan untuk menunjukkan yang terbaik. 

 

Apa saja kendala dan tantangan yang Anda hadapi selama produksi berlangsung?

Cukup banyak kendala pada pemain. Sulit meyakinkan mereka bahwa semua yang dilakukan butuh proses, seperti jadwal syuting. Setidaknya, banyak pengalaman yang didapat selama awal hingga akhir produksi ini. 

 

Empat dari lima film Anda berbicara tentang kehidupan sosial yang jarang menjadi tema besar dalam ranah perfilman. Sebenarnya, apa tujuan Anda saat memutuskan membuat sebuah produksi film?

Tidak ada tujuan dan niat tertentu. Tema ini menarik untuk diangkat. Penonton akan mengetahui sendiri melalui penggambaran dalam film saya, seperti halnya fasilitas umum bagi tunanetra yang kurang tersedia di Indonesia.

 

Apakah film Anda memang dikaitkan dengan isu-isu yang sedang terjadi?

Sepertinya begitu. Saat saya membuat film TKI Hong-Kong, saya merasa suasana Hong Kong seperti Madiun. Itu menarik minat saya untuk mengulik itu. Buruh perempuan yang pada saat itu sering melakukan demonstrasi yang tidak selesai. Isu lain, LGBT menjadi masalah yang rumit dikaitkan dengan budaya. Politik, kekuasaan, seks, dan korupsi juga saya angkat saat kasus PKS. Semua itu saya wujudkan menjadi sebuah film.

 

Idealisme apa yang ingin Anda wujudkan dalam setiap film Anda, termasuk Jingga?

Tidak ada. Satu hal yang saya suka saya kerjakan. Saya senang bekerja dengan hati, mengajak teman-teman yang sesuai dengan visi dan apa yang saya pikirkan. Paling penting adalah ketika keluar bioskop, penonton banyak menemukan hal baru yang mereka tidak tahu.  Itu membuktikan sisi komunikatif film saya. Mereka harus mendapat efek pada diri mereka setelah menonton dan membayar tiket bioskop. Membuat film menjadi pengalaman lebih untuk saya. Saya tidak akan tahu bagaimana cara menangani orang buta jika tidak ada film ini. Mungkin lima atau 10 tahun lagi, ada banyak orang yang membutuhkan film tentang disabilitas. Film ini akan berguna, seperti arsip, timeless. 

 

Sekarang Anda lebih banyak berkecimpung di belakang layar ketimbang berperan. Manakah yang lebih Anda nikmati?

Saya tidak meninggalkan seni peran, tetapi mungkin agak memilih. Saya menunggu sampai mendapat peran yang bagus. 

 

Apakah Jingga akan diikutsertakan dalam festival internasional?

Saya tidak pernah ngotot untuk ikut festival karena film punya nasib sendiri. Artinya, santai saja. Jika ada yang meminta, kami lakukan. Kalau masuk, kami senang. Kalau tidak, ya, sudah. Pemutaran secara roadshow juga menjadi target karena kami membidik yayasan disabilitas yang tersebar di Indonesia. Saya berharap film ini bisa menjadi penyuluhan bagi masyarakat umum.

 

Siapakah sosok sutradara yang memberi Anda pengaruh?

Banyak. Di Indonesia, saya suka Sumandjaja dibanding Teguh Karya karena ia mengangkat kasus bukan dari teknik film yang tinggi atau keindahan shot. Saya berkiblat pada kasus-kasus yang diangkat di film-film karya Sumandjaja. Memang Teguh Karya adalah penata artistik. Filmnya cantik, indah, dan teatrikal secara set dan pemain. Namun, saya lebih memilih Sumandjaja. Kalau dari luar negeri, saya suka Zhang Yimou dari Tiongkok. 

 

Apa harapan Anda untuk film Jingga?

Saya harap film ini ditonton banyak orang. Tidak sekadar menonton sampai selesai, tetapi mereka juga merenung dari diri sendiri bagaimana cara melihat orang-orang yang berbeda. Mereka pun tidak diskriminasi dan mulai paham akan “kelebihan” penyandang disabilitas. Kami juga menyasar tiga kementerian yang terkait. Pertama adalah Kementerian Sosial untuk tidak korupsi uang yang seharusnya ditujukan untuk mereka. Kedua adalah Kementerian Pendidikan untuk senantiasa memberikan fasilitas kepada mereka karena mereka pintar. Jangan biarkan mereka hanya menjadi tukang pijat, tidak jelas. Terakhir adalah Kementerian Kesehatan untuk mengedukasi ibu hamil akan pentingnya kesehatan diri dan bayi.