Tak sering lagi terlihat bersama skuatnya di SM*SH, Rangga Moela kembali berkarya melalui fashion line miliknya, Ed-jeh. Simak obrolan Dimaz Hendra bersama lelaki dengan segudang eksperimen gaya fashion di setiap penampilannya ini. 

Lama tak terlihat bersama boyband SM*SH, Anda kembali muncul sebagai desainer. Apa yang membuat Anda memutuskan untuk merambah fashion?
Sebenarnya ini adalah salah satu passion saya selain di dunia hiburan. Menyanyi, menari, acting, dan fashion sudah menjadi passion saya jauh sebelum saya bergabung dengan SM*SH. Dari awal berkuliah, saya ingin punya fashion line sendiri, bahkan ada kemauan untuk mengambil jurusan desain fashion, tetapi akhirnya saya malah lebih memilih untuk sekolah hukum. Banyak usaha yang saya lakukan untuk mewujudkannya, salah satunya adalah rencana kerja sama dengan teman kuliah. Sayang, ia harus ke luar negeri dan proyek fashion ini telantar. Di awal 2014, ketika SM*SH sudah bisa jalan sendiri-sendiri, saya memutuskan untuk mencoba menekuni secara serius bisnis fashion ini hingga sekarang. 

 

Apa arti fashion menurut Anda?
Fashion adalah identitas diri. Dalam dunia hiburan, people do judge by it’s cover. Apa yang mereka lihat, itu yang mereka nilai. Tak bisa dimungkiri, selain bakat, penampilan harus dimiliki seorang entertainer. Di situlah fashion penting untuk pekerja seni sebagai identitas diri yang mewakili diri kita ke masyarakat luas.

 

Apakah Anda memiliki latar belakang fashion sebelumnya?
Saya menjalankan bisnis fashion ini secara otodidak. Saya tidak pernah mengambil kursus atau sekolah khusus fashion meskipun memang pernah ada keinginan untuk itu. Sejauh ini, saya lebih sering bertanya ke teman-teman yang bersekolah fashion dan mendapat inspirasi dari majalah. 

 

Sejauh mana Anda terlibat di bisnis fashion Anda?
Saya menjalin kerja sama bersama sahabat saya. Saya mengurus desain, ia bagian produksi. Produksi dilakukan di Bandung sehingga tidak memungkinkan saya untuk pergi-pulang Jakarta—Bandung.

 

Ed-jeh menjadi nama fashion line Anda. Apa artinya?
Ed-jeh sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, dari kata edgy. Ed-jeh adalah slang word, seperti what’s up menjadi whaddup. Ed-jeh saya ambil agar terdengar lebih catchy dan orang bertanya-tanya. Formula ini berhasil karena kenyataannya memang banyak yang bertanya apa itu Ed-jeh. Ha-ha-ha. Edgy yang berarti unik atau berbeda muncul dalam koleksi Ed-jeh. Potongan yang unik dan berani hadir di koleksi Ed-jeh yang dibuat dengan konsep basic things switch a twist. Contohnya adalah kaus dengan ukuran oversized dan baseball jacket dengan lengan yang bisa pendek atau panjang. Satu barang dapat dipakai berkali-kali dengan berbagai gaya. Itulah yang menjadi ciri khas Ed-jeh. 

 

Dari mana ide awal Anda menciptakan Ed-jeh?
Dari dulu ingin memakai baju yang didesain dan dibuat sendiri. Dengan SM*SH, saya dikenal dengan baju yang unik. Waktu itu saya juga merancang sendiri bersama desainer fashion SM*SH. Banyak orang melihat bahwa saya memiliki sense of fashion dengan apa yang saya kenakan. Banyak teman bertanya mengapa saya tidak merancangnya sendiri. Dari situ, saya berpikir untuk membangun bisnis fashion dan terciptalah Ed-jeh.

 

Sebenarnya, konsep Ed-jeh lebih mengusung gaya Korean style atau Japanese streetwear? 
Saya menyebut konsep Ed-jeh itu high-streetwear. Kalau ditanya kiblatnya ke mana, sejauh ini saya kebanyakan melihat Tokyo, Jepang, bukan Korea. Itu mungkin karena image saya saat di SM*SH. Selain Jepang, saya juga melihat gaya streetwear London. Namun, image ini membuat orang-orang melihatnya tak lepas dari Asian looks apalagi jika potongannya “aneh”, berani, dan dipakai oleh orang Asia juga. Ha-ha-ha.

 

Koleksi terakhir yang Anda pamerkan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 adalah Japanese streetwear bertema “Jiyyu”. Bisa Anda ceritakan secara garis besar koleksi ini?
Sebenarnya, koleksi paling baru adalah “Unkokudzura” yang hadir di I Fashion Festival. Tema tersebut merupakan sekuel dari “Jiyyu”. Saat itu, “Unkokudzura” menampilkan capsule collection dan memiliki arti dark side. Filosofinya adalah ketika telah diberikan jiyyu (kebebasan), seseorang dapat memilih good or bad side lalu memilih dark side. Material yang lebih banyak digunakan adalah fur and leather yang lebih memunculkan sosok diva dan efek dark side. Kesan “Unkokudzura” lebih tinggi daripada “Jiyyu” yang merupakan streetwear. Koleksi “Jiyyu” di JFW 2016 waktu itu digandeng oleh salah satu majalah dengan tema urban Asian. Temanya diambil dari Jepang. Untuk JFW 2016, kami diminta menampilkan men’s collection meski sebenarnya Ed-jeh adalah merek untuk pakaian unisex. Tema “Jiyyu” menggambarkan era sekarang yang menampilkan keberanian pria untuk mengeksplorasi bidang fashion, tidak lagi terpatok aturan yang mengharuskan pria bergaya tertentu. Koleksi Ed-jeh saat itu muncul dengan desain yang berani, asimetris, oversized, dan ripped. 

 

Adakah signature dari setiap desain Ed-jeh yang ingin Anda tampilkan di setiap koleksi?
Sudah pasti monokrom karena itu adalah ciri khas Ed-jeh. Potongan oversized dan penggunaan ritsleting yang membuat desain baju Ed-jeh multifungsi juga menjadi signature merek ini. Inspirasi lebih banyak diambil dari gaya urban streetwear. Saya selalu melakukan riset, bukan mengikuti mentah-mentah. Saya tidak hanya menjadi follower, tetapi juga trendsetter.

 

Bagaimana dengan pemasaran Ed-jeh?
Untuk pemasarannya, Ed-jeh dijual secara offline dan online. Ed-jeh tersedia di tiga toko Bandung, yaitu Happy-Go-Lucky, Widely Project, dan Cartel. Tahun ini, kami berencana memasuki Jakarta, tepatnya di Kemang Iconic, dan Bali, di concept store baru yang berada di Denpasar. 

 

Apa yang membuat Anda berani untuk memutuskan membuat fashion line Anda sendiri ?
Dari kecil saya cukup familiar dengan dunia bisnis karena orangtua saya adalah wirausaha. Dari kecil, saya sudah suka berdagang kecil-kecilan. Keluarga juga punya usaha restoran Padang di Bandung. Ini yang membuat saya berani terjun untuk membuka usaha fashion, terlebih dengan saran mereka juga. Putaran dalam dunia hiburan begitu cepat. Setidaknya, saya punya back-up plan atau bisnis sendiri. Saya juga ingin punya usaha kuliner. Namun, usaha di bidang fashion ini yang lebih dulu saya jalankan. Selama di SM*SH, saya cukup membangun image fashion karena saya memiliki target untuk memiliki usaha ini. Image tersebut saya bangun agar orang-orang tidak terkejut saat saya memiliki fashion line sendiri.

 

Jika ada yang bilang ini aji mumpung, apakah Anda setuju?
Selama halal dan positif mengapa tidak? Keunggulan pebisnis yang juga menjadi figur publik adalah promosi. Itu yang saya rasakan. Semua proses jadi lebih mudah, seperti memasukkan Ed-jeh ke toko, membangun relasi, dan berjualan di media sosial.

 

Menurut Anda, bagaimana pasar Indonesia dengan adanya fashion line Ed-jeh?
Sejauh ini cukup bagus. Sudah berjalan selama dua tahun, Ed-jeh telah memiliki pelanggan tetap. Bahkan, teman-teman selebriti membelinya bukan karena saya endorse. Saya sengaja tidak mau meng-endorse karena saya ingin seseorang memakai Ed-jeh karena ia menghargai karya saya atau memang menyukainya. Koleksi Ed-jeh juga dipinjam oleh fashion stylist untuk pemotretan majalah dan shooting film Winter in Tokyo produksi Maxima. Brandon Salim yang mengenakannya. Respons yang diterima Ed-jeh dari kalangan fashion juga cukup baik. 

 

Apa tantangan terbesar Anda dalam mewujudkan Ed-jeh?
Produksi. Sampai sekarang, perihal produksi tetap menjadi tantangan bagi saya dan Ed-jeh. Terkadang, hasil jadinya berbeda dengan apa yang sudah didesain. Sampling bisa diulang berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Saya ingin menjual Ed-jeh dengan harga yang masuk akal serta kualitas yang sama dengan toko ritel luar negeri dari segi bahan, material, dan jahitan. Itu yang cukup susah. Saya harus menekan harga modal dan tetap mendapat untung dari penjualan, tetapi harganya tetap murah. 

 

Berapa kisaran harga koleksi Ed-jeh?
Harga dimulai dari Rp200.000,00, sedangkan koleksi runway Rp2 juta. Koleksi runway kebanyakan dibuat dengan sistem pre-order. Jadi, koleksi khusus ini memang tidak untuk digunakan sehari-hari.

 

Apa suka-duka Anda dalam membangun Ed-jeh ini?
Saya senang dapat bertemu orang baru di dunia fashion dan memperluas jaringan relasi bisnis. Kini, orang-orang tidak menganggap saya hanya sebagai penyanyi atau entertainer, tetapi juga desainer lewat karya saya di Ed-jeh. Dukanya saya temukan saat orang-orang mempertanyakan Ed-jeh. Saya membangun merek ini tidak main-main. Saya ingin Ed-jeh dinilai di luar SM*SH. Sejauh ini, banyak yang bertanya mengapa SM*SH tidak pernah menggunakan koleksi Ed-jeh. Saya ingin Ed-jeh dilihat sebagai karya Rangga Moela, bukan Rangga “SM*SH”.

 

Seperti apa apresiasi terbesar untuk Ed-jeh yang pernah Anda terima?
Diajak fashion show di JFW kemarin. Ambil bagian dalam fashion week terbesar di Indonesia untuk saat ini dan menjadi opening show itu sangat luar biasa, menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya. Banyak selebriti yang memiliki merek fashion. Namun, tidak semua orang bisa diajak membuat fashion show di JFW. Saya benar-benar senang, apalagi saat tahu harga satu selot untuk fashion show di JFW. Mereka melihat Ed-jeh berdasarkan rekam jejak, bukan asal pilih. 

 

Adakah inspirasi desainer yang memengaruhi desain Ed-jeh?
Tidak ada sepertinya. Ed-jeh mengambil gaya street-style luar negeri. Kalau ditanya siapa desainer yang saya suka, saya akan menyebut Riccardo Tisci, Jeremy Scott, dan Rick Owens. Mereka cukup eksentrik. Potongan baju yang mereka buat unik dan out of the box. Mungkin beberapa desain mereka couture, tetapi tetap wearable dan menyelipkan sisi artistik. 

 

Siapakah muse yang mewakili karakter Ed-jeh menurut Anda?
Saya ingin Ed-jeh bisa dikenakan oleh Rihanna. Kalau sosok dari dalam negeri, mungkin saya pilih Agnez Mo. Namun, ia sudah punya merek fashion sendiri. Ha-ha-ha!

 

Jika mendapat kesempatan berkolaborasi, dengan siapakah Anda ingin melakukannya?
Riccardo Tisci dan Jeremy Scott. Mungkin ini terdengar muluk, tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Ha-ha-ha. Dengan desainer dari dalam negeri, saya ingin berkolaborasi dengan Tex Saverio atau Patrick Owen. Karya-karya Tex Saverio yang couture dan rumit digabungkan dengan streetwear bisa menjadi sesuatu yang baru.

 

Apa harapan Anda untuk Ed-jeh ke depan?
Semoga Ed-jeh makin bisa diterima oleh kalangan fashion dan masyarakat luas, tidak hanya Indonesia, tetapi juga luar negeri. Untuk sekarang, banyak orang Malaysia dan Singapura yang tertarik. Saya juga berharap rencana untuk memasarkannya di Hong Kong dapat segera diwujudkan. 

 

Dapatkah Anda berbagi kiat-kiat fashion untuk pembaca area dan penggemar Ed-jeh?
Jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Fashion adalah urusan kenyamanan dan kepercayaan diri. Pakailah apa pun yang Anda suka. Jangan terlalu mendengar kata orang karena setiap orang pasti punya sisi pro dan kontra akan sesuatu. Santai dan jadilah diri sendiri.