Piala Citra sebagai “Sutradara Terbaik” diraih lewat film terbarunya. Sebelum film ini dirilis di Indonesia, Joko Anwar telah berkeliling dunia membawa karyanya ini ke berbagai festival film dunia. Dimaz Hendra berkesempatan berbincang dengan sosok sutradara cerdas,

A Copy of My Mind memiliki plot yang sederhana, tetapi memadukan dua konflik yang unik, yaitu cinta dan politik. Dari mana inspirasi itu datang kepada Anda?

Sebenarnya, ini pertanyaan susah. Misalkan Anda membuat lagu, novel, atau film. Dari mana inspirasinya? Hal itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja. Bercerita merupakan proses panjang, kristalisasi dari pemikiran-pemikiran. Kalau ditelusuri, film ini berasal dari hidup Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya merasakan bagaimana tinggal di sini dengan segala aspek sosial-budaya dan politik. Namun, saya menggambarkannya lewat kisah percintaan dengan sudut pandang dua orang biasa yang mewakili apa yang dirasakan oleh kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Indonesia.




Tokoh utama di film ini berasal dari kelas menengah ke bawah yang mungkin tak pernah disangka dapat masuk ke pusaran politik. Ada maksud tertentukah Anda mengambil dua elemen tersebut?

Dalam membuat film, memilih karakter itu bukan strategi. Tidak ada alasan mengapa memilih peran seperti itu. Hal itu secara organik datang ketika inspirasi cerita tersebut masuk ke kepala, tidak ada usaha untuk mencoba mencari-cari. Ini berbeda dengan membuat konsep marketing. Sisi politik di film ini tidak membawa maksud tertentu. Kita tidak bisa lepas dari politik, ‘kan? Bahkan, kita yang tidak ada hubungan dengan politik tetap saja terkena imbasnya. So, it’s not about politics. Film tentang bagaimana hidup di Indonesia.




Dapat Anda ceritakan secara singkat tentang A Copy of My Mind?

Seorang perempuan yang bekerja di salon murah bertemu dengan laki-laki pembuat subtitle VCD bajakan. Keduanya memiliki hubungan percintaan, tetapi harus menerima nasib bahwa keberadaan cinta mereka terancam karena situasi politik Indonesia yang bergejolak.  




Mengapa Anda menjadikan A Copy of My Mind drama yang humanis dan riil, tanpa efek fantastik seperti film-film Anda sebelumnya?   

Semua film saya sudah direncanakan, mulai dari film pertama hingga ke-17. Sebelum saya membuat film, sekitar 2002—2003, saat mulai menulis Arisan!, saya sudah membuat rencana akan membuat film apa saja. Dalam film pertama, Janji Joni, ada petunjuk tentang film kedua saya lewat dialog yang mengisahkan Kala. Di film Kala, terdapat nomor telepon untuk film Pintu Terlarang. Di Pintu Terlarang, ada sebuah jalan bernama Modus Anomali. A Copy of My Mind adalah sebuah cerita radio dalam Modus Anomali. Petunjuk ini akan selalu ada. Jadi, semua memang sudah direncanakan.




Saya membaca sebuah tulisan bahwa penggambaran kehidupan pemeran utama begitu membosankan (lama), sama “bosannya” dengan yang dirasakan penonton. Menurut saya, hal itu menjadi suatu keberhasilan karena penonton larut dengan film ini. Bagaimana tanggapan Anda?

Penulis review film atau wartawan film harus mempunyai referensi yang luas. Misalnya, jika membandingkan film A Copy of My Mind dengan film komersial di Indonesia, kita akan melihat perbedaan besar dari segi penceritaan. Susah jika kita memandang semua film itu sama. Namun, jika Anda melihat film dari luar negeri, misalnya Iran atau Amerika, yang tidak bercerita secara mainstream, hal itu akan menjadi biasa saja, bukan membosankan atau tanpa konflik. Pendekatan pada film ini realis. Jadi, tidak apa-apa jika orang berpendapat seperti itu. Setiap orang punya pendapat, ada yang suka dan tidak. Menonton film ibarat perjalanan spiritual. 




A Copy of My Mind diproduksi dari hasil kemenangan Anda saat pitching forum Asian Project Market (APM) di Busan International Film Festival. Bisa Anda ceritakan?

Pembuat film di luar arus utama biasanya mencari dana tidak hanya ke private investors, tetapi juga ke pitching market atau pitching forum di festival-festival film. Salah satu cara kami adalah pergi ke project market di Busan dan memenangkan salah satu hadiah dari APM 2014. Hadiahnya adalah uang tunai sebesar US$10,000 yang kami gunakan untuk pengambilan gambar.




Jika demikian, bisa dikatakan film ini dibuat dengan biaya dari negara lain, bukan Indonesia. Apresiasi justru didapat dari luar Indonesia atas lahirnya film ini. Bagaimana tanggapan Anda?

It’s happens a lot, bukan hanya di Indonesia. Film-film yang tidak mengusung tema mainstream, seperti SITI, Babi Buta yang Ingin Terbang, Postcard from the Zoo, What They Don't Talk About When They Talk About Love, dan film-film Amerika, mendapat dana bukan dari negara mereka, melainkan dari festival film. Festival film memiliki kepentingan untuk memajukan film-film yang berbau budaya. Menurut saya, it’s happens, it’s a regular practice. Di Indonesia, tidak ada institusi pemerintah yang membiayai film, begitu juga dengan swasta. Jika ingin membuat film, kita harus melalui private investors. Ini berbeda dengan Amerika, Thailand, atau Malaysia yang memiliki sistem studio yang memberi dana produksi pada para pembuat film. Film-film itu akan didistribusikan oleh mereka, seperti Warner Bros atau Astro Malaysia.  




Berapa lama total pengerjaan film ini?

Dari praproduksi hingga selesai, total kami menghabiskan 13 bulan untuk pengerjaan A Copy of My Mind. Untuk pengambilan gambar, kami melewati delapan hari, ditambah dua hari untuk shooting footage. 




Persiapan apa saja yang dilakukan untuk produksi film ini? 

Di masa praproduksi, selain menyiapkan naskah, kami juga mencari dana, termasuk ke APM. Kami pun melakukan casting yang dilanjutkan dengan perekrutan kru dan workshop. 

 

 

Apa alasan Anda memilih Tara Basro dan Chicco Jerikho sebagai Sari dan Alek? 

Tidak ada. Mereka terpilih karena cocok saat casting, bukan karena nama mereka sedang naik daun. Saat itu saja Chicco Jerikho baru bermain untuk film Cahaya dari Timur: Beta Maluku.




Tokoh yang mencuri perhatian adalah Nyonya Mirna dan Bandi. Bagaimana Anda menciptakan dua tokoh tersebut?

Dalam film ini, uniknya tidak ada karakter yang hitam-putih. Meski dikatakan sebagai orang baik, Sari mencuri. Begitu juga dengan Alek yang memiliki pekerjaan ilegal. Hitman—diperankan oleh Aryo Bayu—menculik dan memukuli orang, tetapi ia berusaha menghidupi keluarganya. These people want to get by, just want to live their life dan mendapat kehidupan yang layak. Ini seperti yang Anda tanyakan di awal tentang inspirasi datang dari mana. Inspirasinya panjang, salah satunya ketika 1998. Saat itu saya masih menjadi mahasiswa dan pergerakan mahasiswa sedang gencar. Bentrok dengan polisi tak jarang diakhiri dengan gas air mata dan peluru karet. 

Saat demonstrasi usai dan kami kembali ke kampus, salah satu polisi datang ke arah gerbang. Saya bertanya kepadanya. Ternyata, ia mencari jam tangannya yang mungkin terjatuh. Saya pun menangis. Kami bentrok untuk mewakili dua kepentingan yang berbeda, tetapi ternyata dua-duanya hanya memerankan peran sebagai pion di sebuah permainan yang dimainkan orang lain. We think that we are doing it because it is the best for us. Dalam A Copy of My Mind, tidak ada karakter antagonis atau protagonis. Bahkan, lokasinya, Jakarta, adalah karakter protagonis, other symptom antagonis. Sama halnya dengan karakter utama dan pendukungnya. Dalam dunia nyata, tidak ada orang yang selalu jahat dan selalu baik. Ada beberapa momentum ia berbuat baik, they could be angels in some people’s eyes. Jadi, itulah A Copy of My Mind, salinan yang ada di benak saya. Saya berpikir bahwa di Indonesia setiap orang memainkan bagian mereka. 




Seperti apa gaya penyutradaraan untuk film ini?

Semua film saya dilakukan dengan tidak dipaksakan. Saya tidak suka bekerja dalam situasi yang tegang atau tidak hangat. Syarat bekerja di produksi saya adalah don’t raise your voice. Saya tidak suka bekerja dalam keadaan orang-orang tidak merasa nyaman. Setiap orang harus memperlakukan orang lain dengan respek. Saya berusaha menciptakan lingkungan kondusif sehingga semua orang bisa memberikan yang terbaik. Secara estetika, gaya penyutradaraan saya bergantung pada filmnya. Misal, cara bercerita dalam Modus Anomali dan A Copy of My Mind hampir sama. Kamera sebagai pengamat, hadir sebagai karakter. Kamera seperti perwakilan dari penonton, penonton berada di tengah-tengah adegan. Lain hal dengan Kala dan Pintu Terlarang. Kamera berperan sebagai jendela. Penonton tidak berada di adegan ini, melihat melalui jendela.




Apa saja yang Anda lakukan untuk menyiapkan kelayakan sebagai seorang sutradara? 

Seperti profesi lain, menjadi sutradara memiliki teknik. Teknik tersebut bisa didapat dari sekolah, pelatihan, atau otodidak. Langkah kedua ialah memperkaya estetika. Sebagai pembuat film, kita harus mempunyai estetika yang tinggi dengan mengekspos diri kita ke dalam berbagai seni: mendengarkan musik, mengunjungi tempat bersifat seni, dan terpenting adalah estetika paling besar, yaitu kehidupan. You have to live the life. Kita harus merasakan hidup dan bergaul dengan orang sebanyak-banyaknya dari segala lapisan. 




Apa saja tantangan dan kendala saat menggarap A Copy of My Mind? 

Kami harus membuat film dengan keterbatasan sumber daya, finansial, dan waktu, tetapi tetap menghasilkan karya dengan nilai produksi yang tinggi. Ada film murah dengan proses seperlunya saja. Kami berusaha untuk menjadikannya seperti “mahal”. Keterbatasan finansial kami atasi dengan mencari lokasi yang hanya memerlukan izin, tanpa bayar. Kami menemukan kendala saat tidak mendapatkan lokasi yang dibutuhkan sesuai dengan naskah. Kami menyaisatinya dengan mencari tempat yang mirip atau memindahkan adegan. Ini terjadi di adegan “Salon”. Tadinya, kami ingin mencari salon yang bagus. Namun, saat mengetahui ada adegan pemilik salon memukul karyawannya, pihak salon akhirnya membatalkan. Kami pun harus mencari tempat lain. Memusingkan, tetapi sejujurnya proses shooting menjadi menarik setiap menitnya. 




Apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan lewat A Copy of My Mind yang menjadi sebuah kapsul waktu kehidupan Jakarta? 

Saat membuat Janji Joni, saya ingin mengatakan, “Hey, pekerjaan yang paling bagi Anda adalah pekerjaan yang bisa Anda nikmati dan berguna untuk orang lain!” Di A Copy of My Mind, saya hanya ingin mengisahkan cerita yang telah dibuat di film tersebut tanpa harus berpropaganda.




Bersama dua film lain, A Copy of My Soul dan A Copy of My Heart, A Copy of My Mind melengkapi rangkaian tiga cerita. Bisa Anda ceritakan tentang trilogi ini? 

Trilogi A Copy merupakan surat cinta saya untuk Indonesia. Dalam A Copy of My Mind, apa yang saya pikirkan tentang Indonesia pada saat ini bahwa be Indonesian. Most people want to get by, want to live their life, tetapi orang-orang yang punya kekuasaan sering kali merusak itu. A Copy of My Soul adalah apa yang saya anggap sebagai jiwa dari Indonesia, Jakarta. Terakhir, A Copy of My Heart, adalah hatinya Jakarta atau Indonesia seperti apa. A Copy of My Soul akan shooting pada Juni 2016 dan tayang akhir tahun. Sedangkan, A Copy of My Heart shooting awal tahun depan dan tayang tahun depan juga. 




Bagaimana menurut Anda dengan industri perfilman Indonesia saat ini?

Perfilman Indonesia membutuhkan investasi asing karena sumber investasi Indonesia tidak cukup. Sebagian pekerja film ingin kebijakan investasi asing dibuka dan bioskop bisa lebih banyak. Sekarang, hanya tersedia 1.117 layar bioskop untuk 250 juta rakyat Indonesia. Ini sedikit sekali jika dibandingkan dengan negara lain. Investasi lokal pun tidak dapat menjangkaunya. Maka, investasi asing jadi dibutuhkan.  




Bagaimana menurut Anda tentang pembuat film yang dituntut untuk memiliki tanggung jawab moral pada karyanya?

It doesn’t exist. Kecuali, dalam suatu negara, film hanya ada satu dan dianggap sebagai suatu hal yang berpengaruh besar untuk hidup masyarakat. Itu mungkin memiliki tanggung jawab besar. Di era modern dengan banyak jenis film, tidak diperlukan tanggung jawabnya sebesar itu. Itu tidak relevan, mungkin kapan pun tidak pernah relevan. Bahkan, film yang pertama dibuat di dunia tidak berdampak sebesar itu. 




Adakah pengaruh film atau sutradara tertentu saat proses menggarap A Copy of My Mind? 

Mungkin secara tidak sadar, ada. Saya tidak tahu siapa, ha-ha-ha. Namun, secara langsung, tidak ada. 




Apa harapan Anda untuk A Copy of Mind untuk Indonesia?

Saya harap film ini ditonton oleh banyak orang serta membuat bangga pemain dan kru. Akan lebih membanggakan lagi jika film ini bisa membuat bangga penontonnya.