Bara's Pots And Pans

Resto Mislek

July, 27th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Saya adalah tipe yang bersedia bayar mahal untuk satu hidangan yang mengesankan.

img

Dimasakin orang lain memang menyenangkan. Kita tinggal duduk, semua sudah disiapkan, disuguhkan, dan kita tidak usah cuci piring pula. Saya bicara tentang makan di restoran. Enak, ‘kan? Selesai menikmati hidangan, kita tinggal bayar, berdiri, lalu pulang. Apalagi, kalau hidangan yang disiapkan si chef memberi kesan yang membuat kita hmm!

Seperti saya juga. Walau sangat suka berada di dapur sendiri dan meracik berbagai bahan dan bumbu sendiri, kadang-kadang ada saatnya saya hanya ingin duduk dan dilayani. Seperti minggu lalu, misalnya. Karena jadwal yang luar biasa padat, sesampai di rumah selesai masak di depan kamera atau demo off-air di berbagai tempat, saya ingin mengambil time-off dulu dari dapur rumah dan memenuhi kebutuhan primer perut yang membuat saya bisa tinggal duduk anteng tanpa memikirkan bawang putih yang harus dikupas dan diiris atau daging yang harus direndam berbagai bumbu biar sedap pas dimasak. Dan, saya adalah tipe yang bersedia bayar mahal untuk satu hidangan yang mengesankan. Well, barangkali tidak usah sampai memorable, tapi paling sedikit enak dan disiapkan dengan sempurna. Sayangnya, kesan memorable ini tidak terjadi dengan saya minggu lalu di sebuah restoran.

Selesai syuting sebelum pulang, saya pergi mengunjungi sebuah tempat makan di Mal Pondok Indah. Restorannya terkenal, franchise dari luar negeri, dan memiliki beberapa cabang di Jakarta. Karena lapar, saya memesan hidangan pembuka, hidangan utama, hidangan pencuci mulut, dan tentu saja segelas minuman. Saya tidak tahu apakah saya salah order atau memang kualitas makanannya memang seperti itu. Parah! Parahnya bukan “parah enak”, tapi “parah kacau”. Dessert-nya sih enak, karena memang tempat ini terkenal dengan aneka jenis cake yang yang sedep-sedep! Hidangan appetizer yang saya pilih adalah Soba Noodle Salad dengan semacam dressing dari campuran minyak dan japanese soya sauce. Saya nggak mengerti apakah minyaknya ketumpahan atau memang standar ukuran resepnya demikian, tapi bakmi soba saya seperti berenang gaya bebas dalam minyak yang membuat bibir dan wajah saya belepotan. Sebab, setiap kali saya mau hap soba, minyaknya bercipratan di sekitaran mulut saya. Yang ada, tisu di meja habis karena saya terus-menerus membersihkan bibir dari minyak berlebih.

Tadi itu hidangan pembuka. Main course-nya lain lagi. Pesanan saya adalah semacam chicken kebab, yaitu potongan ayam yang ditusuk dengan tusukan sate. Ada tiga kata yang saya bisa katakan tentang hidangan ini: kering, kering, dan kering! Ya ampun, diapain sih potongan daging ayam ini? Karena saya memiliki lumayan banyak pengalaman memasak, saya agak bisa menebak apa yang terjadi. Ayam saya sudah dimasak beberapa hari sebelumnya, disimpan dalam kulkas atau freezer, kemudian pas di-order baru dikeluarkan dari lemari pendingin, dimasukan ke dalam microwave, dipanaskan dengan kekuatan maksimal dan tiiiiing…sesudah kurang lebih 2–3 menit ayam dikeluarkan, susun di piring, beri seiris tomat, selembar daun selada setengah layu, dan sepucuk kecil daun parsley. Voila! Yang ada, si ayam kering kerontang. Dikunyah susah, apalagi ditelan.

Cerita belum selesai sampai di situ. Minuman saya juga gatot alias gagal total. Dan, hebatnya yang saya pesan adalah sesuatu yang sederhana. Iced Tea. Untuk membuat cerita ini singkat, segelas air dengan es batu tiba di meja saya, lalu kantung teh dicelupkan ke dalamnya. Bisa tebak, kan, apa yang terjadi? Coba, deh, sejak kapan ada kantung teh dicemplungin ke dalam air es? Yang ada, saya bukan minum iced tea, tapi air putih dingin dengan sedikit nuansa teh. Hey you guys at this restaurant..what’s going on here?

Tidak semua restoran yang saya kunjungi begitu, sih. Keesokan malamnya, sebelum menonton film Knight & Day (Tom Cruise bersama Cameron Diaz) bersama teman-teman, saya mampir di tempat makan yang tersohor dengan hidangan bebeknya. Semua yang kita pesan oke dan enak. Kulit bebek garing, dagingnya empuk, moist, juicy, yummy deh pokoknya. Tapi ya itu, ada satu hal yang agak gengges a.k.a. ganggu. Biasa lah, jebakan batman. Pas kami duduk, langsung dihidangkan di depan kami semacam acar timun dengan saus kacang dalam piring super kecil. Piring itu, lho, yang biasanya untuk saus sambal, yang memuat paling 8 potong (kecil-kecil juga potongannya) mentimun dan wortel. Semacam appetizer ‘iseng’ menurut saya, karena dalam waktu 10 detik semuanya habis. Anyway, waktu bayar di bon tertera: acar ketimun Rp6.000. Yuuk, pesan nggak, langsung disuguhi, jadi kami pikir gratis dong. No way, kata si restoran. You eat, you pay! Kami sedikit matematika, deh. Kalau tamu yang datang mengisi 200 meja, misalnya, (dan saya yakin lebih dari itu) 200 x 6000 = Rp1,2 juta/hari. Lalu, sebulan kali 30 hari jadi Rp36 juta. Hanya untuk potongan mentimun yang satu kilonya paling Rp1.000. Untung makanannya enak.

 

Follow the writer on Twitter

The Balance Of Life

June, 25th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Saya makan bisa sampai enam kali sehari. Makan pagi, makan sebelum siang, makan siang, makan sore, makan malam, dan makan midnight.

img

Saya baru kembali dari Singapura. Ada urusan kerjaan dan sekaligus diselipi senang-senang. Kalau kerjaannya untuk urusan masak-memasak, saya (seperti biasalah) hore-horenya adalah shopping (terutama karena sedang berlangsung Singapore Great Sale), makan (wajib hukumnya untuk saya coba ini-itu). Urusan kerjaan berjalan mulus dan lancar. Semua yang harus dikerjakan beres. Kalau belanjanya, well, karena saya bukan seorang shophaholic, itu juga terjadi masih dalam batas wajar dan normal. Maksud saya, kartu kredit nggak jebol dan pulang-pulang, saya masih membawa sejumlah lembaran dolar Singapura, tidak menghabiskannya sampai titik darah penghabisan.

Nah, kalau makannya memang agak heboh. Saya cuma pergi empat hari, tapi kok yang bilang “loe menggendut, ya?” ada cukup banyak orang. Ya gimana, dong? Sejak mendarat sampai siap-siap boarding di Changi untuk pulang ke Jakarta, saya kerjanya makan terus. Dan, semuanya tanpa diimbangi nge-gym. Di hotel sih ada fasilitas fitness dengan peralatannya yang lengkap. Tapi, selama di kota Merlion itu, saya sama sekali tidak merasa guilty dengan tidak mengunjungi atau bercengkerama bersama dumbell dan barbell.

Kalau wajarnya orang makan tiga kali sehari; makan pagi, siang, dan malam; maka saya makan bisa sampai enam kali sehari. Makan pagi, makan sebelum siang, makan siang, makan sore, makan malam, dan makan midnight. Semua tempat yang saya belum pernah coba saya singgahi. Ada juga, sih, beberapa restoran yang selalu saya kunjungi di Singapura, seperti nasi ayam Hainan di Hainanese Delight, Stamford Road. Kalau untuk midnight food, saya menikmatinya di kawasan Little India, seberang toko raksasa 24 jam Mustafa, tempat saya akan nongkrong di sebuah tempat makan India sambil mengunyah garlic naan, cheese naan, roti prata butter, yellow basmati rice, black pepper mutton, dan chicken tandoori sambil minum ice cold chai. Makanan lain yang saya icip? Ada semacam kafe yang hanya menyuguhkan salad dengan 15 aneka salad yang diracik di depan kita dan sebuah counter dengan 10 macam brownies yang chewy and yummy (keduanya di Raffles City Mall).

Karena satu hari saya ingin sekali makan nasi lemak, maka sebelum jalan dari hotel, saya online dan log-in dulu di akun Twitter. Saya langsung menulis, “@PakBondan help..dimana saya bisa makan nasi lemak yang the best in town, ya?” Bapak Maknyus yang memang pakar icip-icip ini langsung memberikan respon “@BaraTheCook Jauh. Di Changi Village International Nasi Lemak” Thank God for Twitter! Memang jauh dari hotel tempat menginap, tapi saya tidak peduli. Saya harus pergi ke sana. Habis perkara. Dan untung saya ke sana, karena nasi lemaknya juara! Hari terakhir sebelum pulang, saya menyempatkan diri mengunjungi Asian Civilisation Museum yang kebetulan sedang berlangsung sebuah pameran khusus koleksi perhiasan para Maharaja dari Dinasti Moghul, yang di antaranya adalah Shah Jahan yang terkenal membuat Taj Mahal. Selama satu jam lebih saya terkesima melihat berbagai kilauan berlian, jamrud, dan batu mirah berbentuk cincin, kalung, gelang sarung pedang, hiasan sorban, dan lainnya. Ternyata, menikmati batu-batuan itu ada efeknya juga di perut. Saya jadi lapar. Alasan yang dicari cari? Tentu saja. Karena pas keluar museum, ada seorang bapak yang menjual es potong (es krim yang dipotong dan dilapis roti). Tidak mungkin saya tidak beli. Sambil duduk di bawah patung Sir Thomas Stamford Raffles sambil makan es, saya merasa puas karena telah mengimbangi kerjaan dengan shopping, dengan makan, dan dengan seni. The balance of life. Lovely! 

 

Es Potong

Kita bisa buat sendiri es potong di rumah dengan sedikit kreativitas. Beli 1 liter es krim rasa apa saja, simpan dahulu dalam freezer. Siapkan loyang kotak atau persegi panjang, lapisi dengan plastik hingga plastik melebihi ukuran loyang, sisihkan. Lelehkan 2 genggam coklat pekat dengan cara di-tim atau dengan microwave hingga meleleh, kemudian masukan kacang kesukaan; kacang tanah, kacang mede, atau kenari. Supaya garing, matangkan kacang dahulu secara disangrai atau di-oven. Aduk coklat leleh dengan kacang hingga tercampur. Ratakan coklat kacang di loyang yang telah diolesi sedikit minyak, kemudian keraskan dalam kulkas. Cacah kasar coklat kacang. Keluarkan es krim, tuang dalam mangkuk dan masukkan coklat kacang. Aduk rata, lalu masukkan es krim ke loyang yang telah disiapkan, ratakan bagian atasnya lalu keraskan lagi dalam kulkas semalaman. Lepas es krim dari loyang dengan menarik plastik yang melebihi loyang, kemudian potong setebal kurang lebih 2 cm lalu taruh di antara selembar atau 2 lembar roti.

 

Follow the writer on Twitter

Sekali Manado Tetap Manado!

May, 13th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Sebelumnya, saya sempat grogi dan senewen. Bagaimana tidak? Orang Manado terkenal dengan keahlian mereka mengolah bahan dan bumbu makanan di dapur.

img

Seperti biasa, deadline saya mengisi rubrik di majalah area selalu bertepatan dengan kegiatan masak-memasak. Kali ini, aktivitas kompor membawa saya ke Manado untuk mendemokan beberapa masakan untuk ibu-ibu dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh perusahaan bank terkemuka. Manado adalah tujuan yang sangat menyenangkan bagi saya. Pertama, karena dalam tubuh saya mengalir ¾ darah nyong Minahasa (yang berarti saya pulang kampung). Kedua, karena kuliner Manado masuk dalam daftar Makanan Favorit Bara Pattiradjawane Sepanjang Masa.

Acara diadakan di Bumi Beringin, sebuah restoran di kawasan perbukitan cantik Manado dengan pemandangan ibukota Sulawesi Utara dengan pantainya. Bumi Beringin sendiri merupakan bagian dari grup restoran Kembang Goela, Bunga Rampai dan Merah Delima di Jakarta dan selalu menyajikan hidangan dengan akar dan tradisi masakan Indonesia. Event demo masak berjalan sangat lancar dan sukses diiringi antusiasme para nyonya Manado yang tinggi.

Sebelumnya, saya sempat grogi dan senewen. Bagaimana tidak? Orang Manado terkenal dengan keahlian mereka mengolah bahan dan bumbu makanan di dapur. Sebelum berangkat, di Jakarta, saya sempat berpikir keras mengatur menu yang akan saya tampilkan. Yang pasti, hidangan khas Manado tidak akan saya tampilkan, secara yang menonton pasti jago masak semua. Saya merasa harus tetap memberikan hidangan-hidangan yang berjiwa tradisional Indonesia. Dan, ada satu hal lagi. Orang Manado (termasuk saya) terkenal dengan lidahnya yang 'totok'. Artinya, kalau makanan yang dihidangkan melenceng jauh dari ragam bumbu khas kuliner Minahasa, biasanya santapan yang disajikan akan kurang dihargai. Saya mulai dengan mengurai bumbu yang lazim diolah dalam makanan Manado. Bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, sereh, dan jeruk purut. Oh, ya, jangan lupa cabenya, yang banyak banyak pula. Lebih banyak lebih baik. Kalau tidak pedas, bukan makanan manado namanya.

So, akhirnya saya menentukan untuk mempresentasikan hidangan rumpun Manado yang saya twist dengan beberapa unsur kuliner internasional. Untuk appetizer, saya membuat Tahu Souffle dengan bumbu khas yang saya haluskan dan dipanggang dengan teknik kuliner Prancis menggunakan putih telur kocok hingga mendapatkan efek mengembang tinggi. Untuk hidangan utama, saya mengolah pasta Italia, fettucine, yang saya masak dengan kunyit sehingga berwarna kuning dan saya hidangkan dengan ikan salmon panggang. Topping ikan salmon saya beri sambal rica-rica dan dicampur potongan anggur (mengambil ide dari salsa Meksiko) yang kemudian ditaburi kacang kenari sangrai. Respons dari yang hadir membuat hati girang. Ternyata, saya berhasil memberikan inspirasi baru untuk hidangan tradisional Manado tanpa mengubah citarasanya jadi terlalu melenceng.   

Selesai acara, saya dan tim diajak makan malam oleh Ibu Lily yang empunya restoran Bumi Beringin. Beliau sempat bercerita betapa sulitnya memang menyenangkan hati the Manadonese dalam hal makanan. Pada awalnya, Bumi Beringin menghidangkan konsep makanan nusantara non-Manado.Tapi, seperti tadi saya bilang, orang Manado akan selalu jadi orang Manado. Kalau tidak ada hidangan dengan bumbu woku atau rica-rica, menu akan dilihat hanya dengan sebelah mata. So, komandan dapur Bumi Beringin, Chef Ferry, yang notabene orang Betawi asli, akhirnya mendapatkan tugas untuk menerapkan menu lokal tradisional. Kita akhirnya bersantap malam dengan nasi tus-tus (mirip hidangan nasi bibimbap Korea), ayam woku di belanga, perkedel jagung, sayur bunga pisang, tumis pakis, dan masih banyak hidangan Manado lainnya. Semua pedas-segar-menggemaskan dengan rasa nikmat amat sangat. Seperti Ibu Lily bilang, "Orang Manado kalau makan harus nano-nano." Maksudnya, rasa di lidah harus pedas, asin, asam, manis, pahit, segar. Pokoknya rame rasanya.

Sebelum pulang, seperti biasa harus ada oleh-oleh yang wajib dibawa. Saya membeli lalampa (lemper bakar Manado), bagea, kenari panggang, ikan cakalang, dan sambal roa. Ini saja saya sudah merasa agak banyak. Manajer saya jauh lebih kalap. Selain seperti yang saya beli, ada juga klappertaart, sirup pala, terasi khas Manado bakasang, dan banyak lagi. Kami seperti membawa sedikit Manado kembali ke kehidupan kami di Jakarta. Just lovely!

 

Spaghetti Cakalang Rabe

Chef Ferry dari Bumi Beringin mempersiapkan sebuah sajian dengan spaghetti yang diolah dengan ikan cakalang khas Manado. Spaghetti yang al-dente dengan rasa super pedas ini membuat saya ketagihan. Rabe dalam bahasa setempat artinya robek atau suwir.

 

Bahan & Cara Membuat:

1. Ikan cakalang (atau tuna kalau tidak bisa mendapatkan ikan cakalang asli Manado), lalu suwir-suwir halus.

2. Siapkan jenis pasta menurut selera (saya sarankan spaghetti, fettucine, atau linguine), kemudian rebus hingga al-dente dengan mengikuti petunjuk pada kemasan.

3. Haluskan bawang merah, bawang putih, cabe merah & cabe rawit (harus banyak cabenya), jahe, sedikit asam jawa, garam, dan sedikit gula. Kemudian, tumis hingga harum dengan sedikit minyak. Terakhir, kucurkan sedikit jeruk nipis (kalau orang Manado pakai yang namanya lemon cuwi).

4. Campur cakalang rabe dengan bumbu dan pasta. Aduk rata dan berikan daun kemangi. Hidangkan panas-panas. Jangan lupa siapkan minuman karena pedasnya aduhai.

Kalau agak malas membuatnya, cepat pergi ke lapangan terbang Soekarno-Hatta di Cengkareng, naik pesawat ke Manado, mendarat langsung ke Bumi Beringin, dan minta Chef Ferry menyiapkannya. Oh ya, sampaikan salam saya untuknya juga, ya.

 

Follow the writer on Twitter

 

 

Apotek Dapur

April, 26th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Jeruk nipis juga memiliki khasiat untuk melancarkan sumbatan akibat dahak pada tenggorokan yang mengakibatkan batuk.

img

Sewaktu saya menelepon teman beberapa hari lalu, dari suaranya saya bisa mendeteksi kalau ada sesuatu yang salah. "Loe sakit, ya?" saya tanya. "Iya, gue kayaknya kena flu, nih; kepala puyeng, hidung mampet, bersin-bersin, mulai batuk dan tubuh meriang." Saya langsung deja vu. Beberapa waktu sebelumnya saya juga mengalami apa yang sedang dihadapi teman saya. Iklim di Jakarta akhir-akhir ini memang lagi edan. Mendadak panas, mendadak hujan dengan cuaca naik-turun macam yo-yo. Enggak heran lah kalau berbagai kuman bebas merebak menclok kesana kemari. Waktu saya mulai sakit (dengan kondisi persis seperti teman saya tadi) saya sedang harus terbang ke Bali untuk sebuah acara off-air. Mau mundur sudah tidak mungkin karena sudah kontrak, mau dijalanin kok ya badan tidak sehat bersahabat begini. Mau ke dokter antara kepengen dan enggak. Kepengennya supaya dikasih obat terus cepet sembuh, enggak kepengennya karena saya lagi agak kurang suka mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan farmasi yang kadang saya sendiri kurang jelas formulasinya apa dan efek-efek sampingnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif alami dengan berselancar di internet untuk mengumpulkan info-info tentang obat-obatan herbal. Setelah hampir 2 jam buka sana, buka sini saya menemukan beberapa resep tradisional dengan bahan-bahan alami untuk menyembuhkan gejala flu saya. Ada satu website (jujur saya lupa alamat website-nya yang mana) yang memberikan resep menyembuhkan flu dengan campuran bawang merah, bawang putih dan jahe. Hmm... saya pikir lucu juga untuk dicoba, hanya saya menambahkan kayumanis di dalam ramuan tersebut. Kemudian ada lagi resep untuk meringankan batuk, yang memang sebelum saya baca di internet sudah sering saya dengar keampuhannya, yaitu campuran jeruk nipis dan kecap manis, tapi belum pernah saya coba khasiatnya.

Anyway, saya akhirnya mencoba kedua resep tersebut 2 hari sebelum saya harus terbang ke Bali. Kedua resep herbal diatas saya konsumsi 4 kali sehari. Selain itu, saya juga meneguk madu murni. Hasilnya? Luar biasa! Pada hari saya menuju ke lapangan udara, badan saya sudah mulai berasa enteng, walau masih belum 100% pulih. Sesampainya di Bali terapi ramuan tradisionil ini saya rajin terapkan dan pada saat harus tampil di acara off-air, saya sudah lupa sama sekali kalau saya sedang flu. Bekerjanya ampuh sekali. Walau flu sudah sangat reda dan batuk berkurang, terapi minum 'jamu' ini saya teruskan sampai beberapa hari dan yang ada sekembalinya ke Jakarta (setelah liburan beberapa hari di Ubud) si flu yang menjengkelkan itu sudah entah pergi kemana.

Saya akhirnya menyarankan teman saya untuk mencoba terapi yang saya jalankan. "Rasanya seperti apa?" tanyanya dengan sedikit protes. "Ya kayak minum sup bawang lah" saya mencoba meyakinkan. Kita berdua sempet berdebat kecil (iya, sakit-sakit teman saya masih bisa debat) karena menurut dia obat dari apotik jauh lebih praktis, karena tinggal disobek bungkusnya dan di-glek dengan segelas air. Dengan semangat dan antusiasme super tinggi saya terus memberikan berbagai alasan mengapa mencoba ramuan tradisionil ini bisa sangat membantu. Antara lain, satu, karena bahan-bahannya alami dan semuanya ada di dapur, dua, kan ada pembantu yang bias diminta tolong kupas bawang dan mengirisnya dan tiga,tidak ada salahnya mencoba, kan? Saya sampai bilang "gue bikinin deh untuk elo, nanti asisten gue anterin ke rumah elo empat kali sehari." Saya menang. Teman saya akhirnya mau mencoba. Apa yang terjadi pasti sudah bisa ditebak. Dia sms menulis "my God, it really works, flu gue bener2 reda, thx dear!" Saya berasa seperti seorang dokter yang berhasil menyembuhkan salah satu pasiennya. Setelah saya melakukan sedikit penelitian (di internet juga) memang saya baca kalau bawang merah memiliki khasiat sebagai anti radang, menurunkan deman, mengencerkan dahak dan membunuh bakteri. Kalau bawang putih memiliki salah satu bahan kimia yang mampu membunuh bakteri dan virus dan memiliki efek menenangkan agar kita bisa tidur istirahat dengan enak. Jeruk nipis juga memiliki khasiat untuk melancarkan sumbatan akibat dahak pada tenggorokan yang mengakibatkan batuk. Sedangkan jahe, baik untuk menghangatkan tubuh. 

Contoh saya diatas adalah dari bahan-bahan yang sangat sepele, bawang merah, bawang putih, jahe, jeruk nipis, tetapi sebenarnya, alam kita memiliki banyak sekali tanaman dan tumbuhan lainnya yang bisa berkhasiat untuk berbagai macam hal, jadi kelestariannya memang harus menjadi tanggung jawab kita semua. 

Lets keep our environment clean for a healthy planet earth.

Resep Tradisional Untuk Flu

Iris tipis, 3 siung bawang putih, 3 siung bawang merah dan 1 ruas jempol jahe. Taruh dalam gelas, tambahkan 1 tangkai kayumanis. Didihkan air di panci, tuang dalam gelas, tutup gelas selama 15 menit, kemudian minum panas-panas, lanjutkan dengan meneguk 1 sdm madu murni.

Resep Tradisionil Untuk Batuk

Peras 2 buah jeruk nipis dalam gelas kecil. Tambahkan 2 sdm kecap manis, aduk rata lalu langsung ditenggak. Jangan diminum dengan perut kosong, karena bagi yang memiliki lambung yang sensitif bisa membuat nyeri perut.

Minum resep flu dan batuk ini 4 kali sehari. Resep diatas saya berikan hanya sebagai panduan penyembuhan secara alternative yang saya dapatkan melalui internet. Kegunaannya tolong menjadi tanggung jawab masing-masing yang ingin mencobanya ya.

 

Follow the writer on Twitter

 

I Love My Job

April, 8th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Tahu apa? Semua yang keluar dari dapur Resto Mumbul ini sedap luar biasa!

img

I love my job. I seriously love my job so much. Bagaimana tidak? Pekerjaan saya benar-benar membawa saya melanglang buana ke berbagai tempat menarik. Tulisan saya kali ini saya siapkan sambil duduk di vila tempat saya menginap di Ubud, Bali, dengan pemandangan sawah hijau (di sebelah kiri) dan kolam renang bergaya etnik Bali (di sebelah kanan) sambil menikmati iced rosella tea yang dicampur daun sereh dan mint.

Di Ubud, saya sedang menambah beberapa hari untuk liburan, setelah dua hari sebelumnya bekerja jadi pendemo masak untuk grup karyawan sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang makanan dan mengadakan outing di Bali. Demo masak off-air-nya diadakan di kawasan Jimbaran, di resort mewah berbintang 5, tempat saya dan kru menginap. Saya harus akui, resort yang memang sebuah rantai hotel jaringan internasional itu terlihat mewah dengan menempati lokasi super luas, seperti yang lazim ditemui di Bali. Resort itu sendiri terbagi dalam 5 kompleks penginapan mengelilingi beberapa kolam renang dan tempat bersantap di pinggir pantai. Bicara mengenai pantai, saya harus akui kalau Pantai Jimbaran memang bagus dan bersih dibanding pantai tetangganya, yaitu Kuta.

Anyway, saya mau cerita sedikit tentang makanan yang dihidangkan di resort bintang 5 ini. Pada malam terakhir, saya memutuskan mencoba salah satu restoran hotel yang berlokasi di pinggir pantai itu. Biasanya, saya lebih memilih keluar dari kawasan hotel untuk explore daerah sekitarnya dan mencicipi makanan lokal yang disediakan. Tapi, saat itu, badan terasa agak capek dan untuk praktisnya, saya makan di hotel saja. Ditemani asisten, saya mempelajari menu yang disodorkan. Ada serentetan hidangan khas Bali tentu saja, dan beberapa pilihan hidangan internasional. Kami pun memesan Salad Organic Daun Nasturtium Organic yang kami share. Lalu, asisten saya yang sedang sok diet (karena bercita-cita memiliki perut ramping trepes) hanya menyantap semangkuk kecil sup ikan. Saya sendiri melahap grilled chicken dengan mashed potato dan sepotong kecil brokoli. Minumnya iced tea dua gelas.

Selesai dinner, saya bermaksud segera kembali ke kamar karena mata mulai sayu karena ngantuk. Bon makanan diminta, dan dalam sekejap saya langsung melek lagi dan ngantuk hilang mendadak karena mata kaget melihat angka-angka yang tertera. Totalnya Rp578.380 untuk hidangan seumprit dan rasa so-so tadi. Oke, hidangan makan malam ini tidak keluar dari dompet saya sendiri memang—ditanggung organizer. Tapi, ya, tetep aja deh sedikit tercengang. Sudah sebegitu mahalnyakah Bali? Barangkali untuk turis asing, harga tersebut biasa saja. Tapi untuk saya kok rada overpriced, ya?

Selesai urusan di Jimbaran, saya langsung meluncur ke Ubud untuk beberapa hari rest & relax sebelum balik ke Jakarta. Hujan deras sempat membuat saya bingung arah dan sedikit nyasar (saya menyewa dan menyetir mobil sendiri) sehingga tiba di Ubud baru pukul 22.00. Setelah check-in di vila yang cantik dan lucu ini, saya (yang masih ditemani asisten) mulai kelaparan dan langsung ke tengah Ubud yang memang terkenal dengan macam-macam restoran dan kafe di sepanjang jalan. Karena sudah agak malam, sudah banyak restoran yang tutup. Pilihan pun jatuh ke sebuah tempat bernama Mumbul. Kombinasi antara lapar dan ademnya hawa di Ubud membuat saya sedikit kalap memesan (asisten saya sudah pasrah dan membiarkan saya yang order). Daftar pesanan saya seperti ini: Vietnamese Springrolls (lumpia Vietnam basah yang dibungkus lembaran kulit yang terbuat dari beras), Samosas (snack khas India dari sayur-sayuran), Chicken Salad with Avocado & Grilled Pineapple, dan untuk main course-nya, Daging Sapi Saus Merah (pedas) dan Chicken Kebab. Minumnya, milk shake. Si ibu pelayan sempat nyeletuk, "Laper, Pak?" "Banget," saya bilang. Tahu apa? Semua yang keluar dari dapur Resto Mumbul ini sedap luar biasa! Semua hidangan yang dihidangkan di depan kami habis ludes. Lapar iya, tapi enaknya juga iya. Plus, presentasinya sangat oke, mencerminkan chef yang sangat berpengalaman dalam menyuguhkan hidangan. Nah, yang oke banget juga adalah ending-nya. Sewaktu bon disodorkan, angka-angka yang tercantum adalah Rp274.800 untuk makanan seabrek dan se-yummy tadi. I love Ubud!

 

Daging Kecap Bumbu Bali

Resep ini saya demokan pada acara off-air di Jimbaran.

Potong dadu 500 gram daging has dalam (tenderloin) kemudian campur dengan 1 sdm maizena dan ½ sdt kaldu bubuk rasa daging sapi atau ayam, aduk rata. Lelehkan 2 sdm minyak dengan 1 sdm margarin kemudian goreng dengan api sangat panas hingga daging kecokelatan (tidak usah sampai matang). Sisihkan.

Haluskan 12 cabai keriting, 8 bawang merah, 4 siung bawang putih, 6 kemiri dengan ulekan atau chopper. Tumis bumbu yang telah dihaluskan dengan 1 sdm minyak dan setangkai daun sereh yang telah digeprek dan 4 lembar daun jeruk purut hingga matang dan harum. Masukkan kembali daging, masak terus hingga daging matang. Terakhir, tambahkan 2-3 sdm kecap manis dan ½ sdt kaldu bubuk rasa daging sapi atau ayam. Aduk rata lalu hidangkan dengan nasi putih hangat. 

p.s.: Kalau bermaksud menjual hidangan resep ini di sebuah restoran, jangan mahal-mahal, ya. Nanti yang makan kaget seperti saya.

 

Follow the writer on Twitter

Problem Hidup 30.000 Kaki di Atas Laut

February, 25th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 1

Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan.

img

Tulisan Bara’s Pots & Pans kali ini berencana saya tulis sambil menonton film James Bond, Quantum of Solace, di layar TV plasma di tengah bandara Kuala Lumpur Interational Airport (KLIA). Adegan seru kebut-kebutan oleh Daniel Craig & Olga Kurylenko membuat saya sedikit tidak fokus menulis artikel ini. Mata sebentar-sebentar ngintip ke TV. Saya memang sedang transit di lapangan udara Ibukota Malaysia ini untuk mengambil koneksi penerbangan ke Amsterdam. Jadi, sambil menunggu flight tengah malam tersebut, saya coba menuangkan huruf-huruf untuk menjadi tulisan. Waktu transit ada tiga jam. Jadi, saya pikir bisa selesai lah sebuah artikel. Tapi, ya itu, film di depan saya benar-benar membuat buyar semua konsentrasi. Dan, memang pemenangnya adalah James Bond (Craig) dan Camille Montes (Kurylenko). Saya jadi keasyikan nonton dan lupa tentang tulisan area. Repotnya lagi, selesai film, mbak-mbak di public announcement (PA) bandara dengan suara merdu kengantuk-ngantukan (hampir pukul 00.00 soalnya) mengumumkan untuk penumpang pesawat ke Amsterdam segera menuju ruang tunggu, persiapan boarding. Halah, gagal deh menulis!

Setelah duduk nyaman dan pesawat lepas landas, saya pun mulai lagi membuka notebook untuk meneruskan artikel. Tapi, kok, mendadak perut kriuk-kriuk. Pertanda, perut agak sedikit kosong dan minta diisi. Sewaktu menu dibagikan, tertera bahwa hidangan malam (well, tengah malam tepatnya) berupa Garoupa Fish Cooked in Butter with Baby Potato, Chicken Curry with Rice and Sauteed Beans dan Penne Tricolore in Creamy Tomato Sauce. Sekali lagi, notebook saya tutup dan makan dulu. Chicken Curry pun saya nikmati dengan segelas white wine Australia sambil menonton film lain lagi di layar pribadi kursi saya, yaitu Confessions Of A Shopaholic. Beres mengisi perut, notebook ternganga lagi di depan mata. Tapi, kok ngantuk, ya? Selain itu, agak tanggung, film belum selesai. Tutup lagi, deh, notebook-nya. Lalu, saya membuat rencana kecil, yaitu selesai film, buka notebook, tulis artikel, beres deh—secara perjalanan lumayan panjang, hampir 14 jam. Eh, malah yang ada, di tengah-tengah film saya ketiduran. Film nggak selesai ditonton, artikel juga nggak kelar ditulis.

Bangun dari tidur yang setengah-setengah itu—karena kombinasi dingin kabin pesawat, bunyi mesin jet, dan tidur setengah duduk—membuat saya merasa lebih lelah dibanding segar. Yuk mari, notebook dibuka lagi untuk usaha yang kesekian kalinya menulis. Yang ada, layar hanya saya pelototin, keyboard tidak disentuh. Sambil mendengarkan lagu kali, ya? Sok, saya pasang headphone pesawat dan memilih Mariah Carey di hiburan pribadi kursi saya. Apa yang terjadi? Bobo lagi! Pas terbangun karena lengkingan-lengkingan Mariah, saya baru sadar kalau notebook dari tadi menyala dan power-nya down alias baterainya entek! Ooh, problem hidup 30.000 kaki di atas permukaan bumi.

Dari total perjalanan yang hampir 18 jam sejak meninggalkan Jakarta, tidak ada satu kata pun yang tertera di layar notebook. Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan. Apalagi, saya di Belanda untuk urusan keluarga yang penting. Malamnya, dengan kelelahan yang menumpuk, saya tertidur pulas tanpa teringat bahwa punya tanggung jawab menulis. Dua jam yang lalu saya bangun, melihat keluar di mana matahari baru saja mengintip dan menemukan pemandangan yang menakjubkan. Salju turun, walau tipis-tipis, tapi semua di luar jendela saya berwarna putih bersih. Cantik luar biasa! Akhirnya, saya ambil sofa, memposisikannya di depan jendela, mencolok kabel notebook dan mulai menulis tentang upaya dan usaha saya memberikan cerita untuk area sejak berangkat hampir dua hari lalu. This was my story on how to write this story.

 

Chicken Curry

Cuci bersih, keringkan, dan potong dada ayam atau paha ayam tanpa tulang (500 gr) menjadi kotak-kotak kecil dadu. Panaskan minyak (4 sdm) untuk menumis, kemudian goreng ayam dengan api besar hingga ayam kecokelatan (tapi belum matang). Turunkan api jadi sedang, lalu masukkan irisan bawang merah (4 siung), bawang putih (2 siung), dan bubuk kari (1 sdt), masak terus sambil diaduk hingga harum. Tuang kaldu yang dibuat dari campuran air (400 ml atau 2 cangkir) dan kaldu ayam instan (2 blok kecil) lalu campur dengan santan siap pakai (kurang lebih 150 ml) sambil terus diaduk hingga kuah mendidih. Kecilkan api, dan masak hingga ayam matang. Terakhir, tambahkan merica, garam (bila perlu), dan taburi irisan cabe, dan daun ketumbar. Suguhkan dengan nasi hangat.

 

Follow him on Twitter

« previous 1 2 next »