Bara's Pots And Pans

Problem Hidup 30.000 Kaki di Atas Laut

February, 25th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 1

Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan.

img

Tulisan Bara’s Pots & Pans kali ini berencana saya tulis sambil menonton film James Bond, Quantum of Solace, di layar TV plasma di tengah bandara Kuala Lumpur Interational Airport (KLIA). Adegan seru kebut-kebutan oleh Daniel Craig & Olga Kurylenko membuat saya sedikit tidak fokus menulis artikel ini. Mata sebentar-sebentar ngintip ke TV. Saya memang sedang transit di lapangan udara Ibukota Malaysia ini untuk mengambil koneksi penerbangan ke Amsterdam. Jadi, sambil menunggu flight tengah malam tersebut, saya coba menuangkan huruf-huruf untuk menjadi tulisan. Waktu transit ada tiga jam. Jadi, saya pikir bisa selesai lah sebuah artikel. Tapi, ya itu, film di depan saya benar-benar membuat buyar semua konsentrasi. Dan, memang pemenangnya adalah James Bond (Craig) dan Camille Montes (Kurylenko). Saya jadi keasyikan nonton dan lupa tentang tulisan area. Repotnya lagi, selesai film, mbak-mbak di public announcement (PA) bandara dengan suara merdu kengantuk-ngantukan (hampir pukul 00.00 soalnya) mengumumkan untuk penumpang pesawat ke Amsterdam segera menuju ruang tunggu, persiapan boarding. Halah, gagal deh menulis!

Setelah duduk nyaman dan pesawat lepas landas, saya pun mulai lagi membuka notebook untuk meneruskan artikel. Tapi, kok, mendadak perut kriuk-kriuk. Pertanda, perut agak sedikit kosong dan minta diisi. Sewaktu menu dibagikan, tertera bahwa hidangan malam (well, tengah malam tepatnya) berupa Garoupa Fish Cooked in Butter with Baby Potato, Chicken Curry with Rice and Sauteed Beans dan Penne Tricolore in Creamy Tomato Sauce. Sekali lagi, notebook saya tutup dan makan dulu. Chicken Curry pun saya nikmati dengan segelas white wine Australia sambil menonton film lain lagi di layar pribadi kursi saya, yaitu Confessions Of A Shopaholic. Beres mengisi perut, notebook ternganga lagi di depan mata. Tapi, kok ngantuk, ya? Selain itu, agak tanggung, film belum selesai. Tutup lagi, deh, notebook-nya. Lalu, saya membuat rencana kecil, yaitu selesai film, buka notebook, tulis artikel, beres deh—secara perjalanan lumayan panjang, hampir 14 jam. Eh, malah yang ada, di tengah-tengah film saya ketiduran. Film nggak selesai ditonton, artikel juga nggak kelar ditulis.

Bangun dari tidur yang setengah-setengah itu—karena kombinasi dingin kabin pesawat, bunyi mesin jet, dan tidur setengah duduk—membuat saya merasa lebih lelah dibanding segar. Yuk mari, notebook dibuka lagi untuk usaha yang kesekian kalinya menulis. Yang ada, layar hanya saya pelototin, keyboard tidak disentuh. Sambil mendengarkan lagu kali, ya? Sok, saya pasang headphone pesawat dan memilih Mariah Carey di hiburan pribadi kursi saya. Apa yang terjadi? Bobo lagi! Pas terbangun karena lengkingan-lengkingan Mariah, saya baru sadar kalau notebook dari tadi menyala dan power-nya down alias baterainya entek! Ooh, problem hidup 30.000 kaki di atas permukaan bumi.

Dari total perjalanan yang hampir 18 jam sejak meninggalkan Jakarta, tidak ada satu kata pun yang tertera di layar notebook. Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan. Apalagi, saya di Belanda untuk urusan keluarga yang penting. Malamnya, dengan kelelahan yang menumpuk, saya tertidur pulas tanpa teringat bahwa punya tanggung jawab menulis. Dua jam yang lalu saya bangun, melihat keluar di mana matahari baru saja mengintip dan menemukan pemandangan yang menakjubkan. Salju turun, walau tipis-tipis, tapi semua di luar jendela saya berwarna putih bersih. Cantik luar biasa! Akhirnya, saya ambil sofa, memposisikannya di depan jendela, mencolok kabel notebook dan mulai menulis tentang upaya dan usaha saya memberikan cerita untuk area sejak berangkat hampir dua hari lalu. This was my story on how to write this story.

 

Chicken Curry

Cuci bersih, keringkan, dan potong dada ayam atau paha ayam tanpa tulang (500 gr) menjadi kotak-kotak kecil dadu. Panaskan minyak (4 sdm) untuk menumis, kemudian goreng ayam dengan api besar hingga ayam kecokelatan (tapi belum matang). Turunkan api jadi sedang, lalu masukkan irisan bawang merah (4 siung), bawang putih (2 siung), dan bubuk kari (1 sdt), masak terus sambil diaduk hingga harum. Tuang kaldu yang dibuat dari campuran air (400 ml atau 2 cangkir) dan kaldu ayam instan (2 blok kecil) lalu campur dengan santan siap pakai (kurang lebih 150 ml) sambil terus diaduk hingga kuah mendidih. Kecilkan api, dan masak hingga ayam matang. Terakhir, tambahkan merica, garam (bila perlu), dan taburi irisan cabe, dan daun ketumbar. Suguhkan dengan nasi hangat.

 

Follow him on Twitter

Ikan Selar Garing Sambal Pete dan Twitter

February, 12th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 2

Berkat komunikasi yang intensif, kita seolah-olah saling kenal dan bebas mengutarakan pendapat sambil bercanda ringan. Menyenangkan.

img

Walau sudah setahun lalu mendaftarkan identitas saya @BaraTheCook di Twitter, baru dua bulan terakhir ini saya aktif menulis posting-posting di situs pertemanan di dunia internet ini. Twitter memang menyenangkan, karena kita bisa memproklamirkan sekaligus berbagi ke seantero jagad segala pemikiran dan kegiatan yang kita lakukan. Hebatnya, kita bisa mengikuti (following) atau diikuti (followers) oleh siapa saja di seluruh dunia. Mulai dari teman-teman sepermainan, teman kantor, bekas teman sekolah, para selebriti Jakarta, sampai artis Hollywood dan politisi dunia. Kita juga bisa mem-follow atau di-follow oleh mereka yang tidak kita kenal sama sekali. Para manusia terkenal yang saya sendiri follow, antara lain Indy Barends, Ari Tulang, Indra Bekti, Tika Panggabean, Sarah Sechan, Titi DJ yang kebetulan saya kenal pribadi. Atau, yang belum pernah bertatap muka, seperti Paris Hilton, John Legend, Britney Spears, Oprah Winfrey, Ryan Seacrest, dan Dita Von Tesse.

Bagaimana dengan saya sendiri? Well, walau saya tidak pernah merasa sebagai seorang artis (saya nggak nyanyi, main musik, atau main sinetron, apalagi film). Tapi, label “artis” cukup sering ditempel di nama saya oleh banyak orang. Seperti saya pernah tulis di area dulu, akhirnya saya ‘menyerah’. Kalaupun ada orang yang menyebut saya artis, maka saya adalah “artis atau selebriti kompor”. Sebab, wajah saya sudah akrab ditemui di layar kaca lima tahun terakhir melakukan kegiatan yang tidak jauh dari masak-memasak.

Sewaktu saya mendaftarkan ID (identitas) Twitter tahun lalu, yang mem-follow saya sampai dua bulan lalu hanya 30-an orang. Sebab, saya nyaris tidak pernah membuka situs ini. Foto yang terpampang pun hanya gambar siluet seekor burung, yang memang adalah standar Twitter. Tapi, sejak saya aktif ikut nge-twit dan memasang foto pribadi, dalam sekejap, pengikut saya melonjak menjadi ribuan. Saat mengetik artikel ini, jumlah followers saya persisnya 6127 orang. Ini masih sedikit sekali dibanding artis lain yang sudah puluhan ribu (Indy, Indra, Tika, Titi, dan kawan-kawan) sampai yang jutaan (Paris, Ryan, Britney, Oprah, dan kawan-kawan).

Memang, yang maksudnya ingin menginformasikan kepada dunia tentang kegiatan kita (dalam 140 huruf maksimal, termasuk spasi), akhirnya menjadi ajang ngobrol, saling tanya, saling jawab, dan kadang-kadang saling mencela (di antara teman-teman). Saya juga begitu. Tapi, hobi saya adalah memberikan twit tentang kegiatan masak saya. Contoh, twitt yang pernah saya post adalah “BaraTheCook sdg masak dinner: udang dgn sosis salmon thai style pk cabe, bwg putih/merah, jrk nipis & daun ketumbar.” Ternyata, twit-twit yang selalu berbau makanan dan kadang-kadang saya attach foto hasil makanannya sering membuat followers saya cukup heboh. Muncul, deh, respons-respons, seperti “bagi dooong”, “cepeeet kirim ke rumahku”, “mas bara mauwwww…looks good”, atau yang memberikan twit respons dengan “di pic sih keliatan enak tapi aslinya emang enak beneran? :))”, “gue mau unfollow @barathecook karena twit-nya bikin gue laper mlulu”, sampai respons “emang ada ya sosis dari salmon?”, “resepnya bisa dpt di mana?”. Jujur, sangat menyenangkan membaca semua respons. Saya pun berusaha membalas semua yang bentuknya pertanyaan atau sekadar mengucapkan terima kasih kalau twit-nya berupa ungkapan pujian. 

Selama aktif dua bulan ini, saya sudah memberikan 1967 twits (dan ini juga masih sedikit dibanding beberapa orang lain). Hampir semuanya berbau makanan, masakan, dan dapur. Biasanya pun, saya langsung menulis resepnya di note Facebook. Kadang-kadang, saya menulis di Twitter tentang kegiatan non-memasak, seperti “#nowplaying lagi dengerin Who’s The Boss by Diana Ross, sambil beberes meja kerja”, yang langsung direspons dengan “om bara jadul amat sih lagunya? Ketauan deh umurnya”, “mas, aku compile lagu2 barat yg baru2 ya biar semangat”.

Sebenarnya, dari enam ribuan orang yang mem-follow, yang benar-benar saya kenal pribadi barangkali hanya 15%. Tapi, berkat komunikasi yang intensif, kita seolah-olah saling kenal dan bebas mengutarakan pendapat sambil bercanda ringan. Menyenangkan. Dan memang, twit-twit ringanlah yang hanya saya posting. Saya tidak mau marah-marah (apalagi dengan kata-kata kotor) atau membiarkan seluruh dunia tahu bagaimana perasaan pribadi saya saat twit dikirim. Pernah saya menulis,

“di dapur ada ikan selar grg garing dgn sambel pete, makan pk nasi anget dgn tangan, lovely!”. Lalu, ada yang respons, “waah, mas bara juga suka makanan Indonesia”. Maksud loe? Gue penduduk asli, Man! Of course I like Indonesian food!

 

Follow the writer on Twitter

 

Cibodas Nita

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Syuting belum dimulai, tapi emosi saya sudah naik-turun seperti jet-coaster Dufan.

img

Banyak tulisan saya untuk area menceritakan hal-hal yang terjadi saat syuting acara masak yang saya pandu. Cerita kali ini tidak berbeda. Melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu banyak orang memang membuat hidup saya penuh cerita. Salah satunya adalah kejadian sebelum saya menulis untuk kolom Bara's Pots & Pans ini. Ceritanya begitu menyentuh sampai saya terharu. Begini ceritanya.

Kegiatan persiapan episode kali ini berjalan seperti biasanya. Kru tiba di lokasi (Kebun Raya Cibodas di kawasan Puncak) dan langsung set-up peralatan, seperti lampu, kamera, sound, dan butterfly, yaitu payung raksasa yang ditempatkan di atas saya. Tidak ketinggalan, 'dapur' bongkar-pasang berupa meja dengan segala pernak-pernik masak, seperti kompor, oven, panci, piring saji, dan beragam bumbu.

Untuk episode kali ini, di segmen terakhir, saya akan ditemani seorang pemenang kontes lomba masak yang disponsori sebuah perusahan makanan. Sambil menunggu semua siap, saya diperkenalkan dengan si mbak yang jadi salah satu pemenang; jumlah pemenang ada tiga orang. Sebut saja ia Mbak Nita (saya merasa lebih baik untuk tidak mengutarakan nama aslinya di sini), berasal dari sebuah kota di Jawa Timur. So, untuk mencairkan suasana dan agar Mbak Nita juga bisa akrab dengan saya, mulailah kami ngobrol sedikit tentang ini-itu.

Saat menunggu, si mbak memang terlihat agak grogi dan senewen. Wajarlah, mengingat ini baru pertama kalinya ia berada di depan kamera. Anyway, saya bertanya tentang keikutsertaannya di lomba masak ini dan tentang kegiatannya di dunia masak. Mbak Nita bilang, ia sangat mencintai dunia masak, tapi ayahnya tidak pernah setuju. Saat SMA, ia mengambil sekolah kejuruan perhotelan. Tapi, sewaktu akan naik kelas 3, Mbak Nita terpaksa harus berhenti sekolah karena ditentang sang ayah, yang juga menghentikan pembiayaan uang pendidikannya. Sewaktu saya tanya alasan sang ayah, Mbak Nita bilang, “Kata ayah, pekerjaan memasak itu tidak terpandang dan sama saja seperti pekerjaan pembantu.” Saya ternganga, terbelalak, dan jadi bisu mendengar hal itu. Otak saya bagai tersuntik kaget, bingung, dan heran dalam dosis tinggi. Oh my God, ternyata, sembilan tahun melewati millenium, masih ada juga orang yang berpendapat demikian.

Untuk tetap bisa membekali diri dengan ilmu dapur, Mbak Nita banyak mengambil berbagai kursus masak dan menonton acara kuliner di televisi. Mbak Nita bercerita lagi, kalau ia pernah bekerja di dua tempat; mal dan pegawai di pet shop. “Di kedua tempat itu, saya dipecat,” katanya.  “Loh, kenapa?” saya bertanya. Dengan bahasa Indonesia yang berlogat Jawa Timur, ia bilang, “Soalnya, setiap Sabtu, saya bolos kerja karena ingin nonton acara Gula Gula.” Saya seolah me-rewind keadaan mental saya yang “ternganga, terbelalak, dan jadi bisu” tadi. Tapi, kali ini, karena menjadi terharu luar biasa. Yang keluar dari mulut saya hanya, “Ya ampun, Mbak, sampai segitunya!”
    
Syuting belum dimulai, tapi emosi saya sudah naik-turun seperti jet-coaster Dufan. Cerita Mbak Nita begitu mengharukan, tapi juga inspiratif di saat yang sama. Ia bercerita bagaimana harus jalan jauh dari rumah untuk memasukkan lembaran lomba masak dalam kotak undian di sebuah mini market. Hasilnya, orang yang hasratnya untuk jadi seorang ahli kuliner pernah ditentang keluarganya, ternyata, jadi pemenang lomba masak ini. Saat kami syuting bareng, saya merasa bahwa Mbak Nita suatu hari nanti akan jadi seorang “tukang masak” yang andal dan sukses. Sebab, ada satu hal yang saya lihat dalam dirinya; passion. Boleh jadi, Mbak Nita grogi dan senewen luar biasa sebelum kamera rolling. Tapi, saat sutradara berteriak “action!”, lalu ia mulai mengaduk bahan dan bumbu makanan sambil menerangkan resep unggulannya, wajahnya begitu cerah, gembira, sumringah, dan sama sekali nggak terlihat nervous. Hebat! Tapi, sampai bolos-bolos dan dipecat? Ya ampun, Mbak Nita!

Sangria

Pada episode bersama Mbak Nita, saya membuat sebuah minuman terkenal yang berasal dari Spanyol ini. Versi aslinya menggunakan red wine yang berkadar alkohol. Versi saya adalah yang halal. Silakan saja kalau mau membuat versi orisinalnya.

Dalam pitcher, masukkan kurang lebih 15 lembar daun mint yang telah diremas sedikit (agar aroma keluar). Lalu, campur dengan 1 botol red wine non-alkohol, 250 ml jus jeruk segar, 125 ml jus lemon segar, 2–3 sdm gula, beberapa irisan jeruk (pilih navel atau valencia), dan beberapa irisan jeruk lemon. Simpan dalam kulkas hingga dingin sekali. Sajikan dalam gelas tinggi dengan es batu. Kalau menggunakan the real red wine, tambahkan 250 ml air soda dan tambahkan gulanya jadi 4–5 sdm (atau sesuai selera).

Makan dan Ngemil = Resah

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Ada satu hal yang paling dominan saya lakukan, yaitu makan, makan, makan, aadan lebih banyak makan.

img

Saya beberapa waktu lalu sempat resah. Keresahan saya, sebenarnya, tidak terlalu penting. Sebab, tidak menyangkut hidup atau mati. Sepele saja malahan. Begini, saya, kan, sempat mengadakan rangkaian syuting untuk Gula Gula di Belanda. Selesai masak-memasak di depan kamera, selama 10 hari, saya lalu bermaksud mengadakan perjalanan ke beberapa negara Eropa. Selain sedikit napak tilas (saya kebetulan dibesarkan di Eropa), saya juga bermaksud mencari inspirasi dengan mencoba berbagai makanan yang ada. So, karena punya visa schengen (berlaku untuk semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa) yang berlaku 30 hari, saya habiskanlah hari-hari yang masih tersisa. Secara juga, mendapatkan visanya perlu proses dan mahal pula.

Anyway, kembali ke keresahan saya tadi. Jadi, selama sebulan berada di Eropa, ada satu hal yang paling dominan saya lakukan, yaitu makan, makan, makan, dan lebih banyak makan. Selain makan, saya juga ngemil, ngemil, ngemil, dan ngemil. Saya mengulang kata “makan” dan “ngemil” sampai 4 kali tanpa bermaksud lebay. Tapi, untuk benar-benar menekankan betapa banyaknya makanan dan camilan yang masuk dalam perut. Saya kasih contoh, ya. Misalnya, sewaktu berjalan di Den Haag. Dalam selang waktu 3–4 jam, saya bisa makan sup yang bentuknya seperti zupasoup yang diolah dengan jamur dan sandwich gandum isi telur dadar dan irisan smoked beef. Masih ada tambahan, loh, yaitu dessert yang merupakan hal wajib untuk saya. Mau tau apa? Semacam pancake tebal yang dioles selai blueberry kemudian diberi satu scoop es krim.

By the way, ketiga makanan tadi in one go saya santap. Jalan-jalan sebentar, saya kemudian melihat semacam kedai kecil yang menjual aneka kacang-kacangan dan buah-buahan kering. Ada almond, brazilian nuts, pistachio, kacang mede, kacang tanah, walnuts, hazelnut, dan sebagainya, dan sebagainya. Ya, saya tentu berhenti dan membeli yang namanya Deluxe Party Mix. Isinya, campuran kacang di atas diberi bumbu gurih. Seperempat kilo bisa saya habiskan sendiri sambil jalan. Enaknya luar biasa sampai nggak bisa berhenti. Selang beberapa waktu, ada warung yang menjual patat atau kalau kita sebut french fries. Duuh, nggak mungkin dilewatkan begitu saja. Belanda, kan, terkenal dengan patat-nya. Jadi, saya pesanlah satu kantung, lengkap dengan mayones dan irisan bawang bombay.

Itu baru contoh di Den Haag. Sementara, kalau mau didata lengkap, selain ke Den Haag, saya juga ke Amsterdam, Amstelveen, Groningen, Zandaam, Volendaam, dan Rotterdam. Itu baru di Belanda. Kota lainnya di Eropa, ada Brussel, Paris, Stuttgart, Metzingen, Berlin, Koln, Dusseldorf, dan terakhir, Dubai, sebelum balik ke tanah air. Di Brussel pun demikian. Keluar dari hotel, langsung ada toko coklat Leonidas di depan hidung saya. Belilah sekantung pralines dan bablaslah dalam sekejap. Lalu, sambil jalan, ada kedai waffle Brussel yang terkenal itu. Waffle diberi topping cream yang banyak, diberi irisan strawberry dan disiram saus coklat. Habis juga.

Malamnya, saya dinner dengan menyantap foie gras (hati angsa) plus semangkuk kerang hijau saus krim anggur putih plus lobster yang disiapkan ala thermidor (di-grill dengan saus keju). Di Paris, saya keluar masuk toko pastry dan roti. Di Jerman, ke sana kemari makan sosis panggang. Nah, di setiap kota, pola makan dan ngemil saya, ya, seperti itu tadi. Kalau sekarang dipikir, saya jadi malu sendiri. Kesannya kalau di Jakarta saya nggak pernah makan. Padahal, maksud saya adalah untuk mencoba berbagai macam agar saya bisa mendapat ide-ide segar untuk mengolah resep-resep baru. Jadi, sudah tulis panjang lebar tentang makanan, resahnya di mana, ya?

Saya sempat resah sekali dengan berat badan yang di bayangan saya pasti bertambah drastis. Bagaimana tidak, pekerjaan di Jakarta sudah menunggu, ada beberapa wawancara dengan pemotretan pula. Saya tidak mau terlihat tembem. Tapi tahu apa? Ternyata keresahan saya tidak ada gunanya sama sekali. Sebab, komentar teman-teman yang sudah sebulan tidak bertemu adalah “loe, kok, kurus banget, sih?”. Hah? Bingung, deh. Pikir punya pikir, saya akhirnya menemukan alasan saya mengurus. Jalan kaki! Selama di Eropa, saya melakukan kegiatan jalan kaki yang luar biasa. Dari satu titik ke titik lain di dalam kota, kalau bisa jalan, saya pasti akan menggunakan kaki saya. Dan, ternyata, melangkah ke sana kemari bisa membantu saya membakar semua kalori dari semua makanan dan camilan tadi. Senangnya! Sudah jalan-jalan ke Eropa, makan enak dan banyak, tetap langsing pula. Pengen banget pola itu saya terapkan di Jakarta. Tapi, kok, agak susah, ya, mau jalan kaki di sini. Sudah kebawa manja, maunya naik mobil. Ya sudah, aerobik atau jalan di tread mill saja, deh. Ngomong-ngomong, ada, sih, yang sebenarnya membuat saya resah. Jalan-jalan di Eropa selama sebulan ternyata bikin bokek!

Hot & Spicy Party Mix Nuts

Dalam wajan anti-lengket, lelehkan 2 sdm mentega. Masukan 1 kg kacang-kacangan menurut selera (mede, kacang tanah, almond, dll) dan aduk rata hingga kacang terlapis mentega leleh. Tambahkan 1 sdt garam halus, 1 sdt gula, 1 sdt bubuk paprika, 1 sdt bubuk cabai, 1/4 sdt bubuk kunyit, dan 1/4 sdt merica. Aduk terus dengan api sedang hingga kacang matang. Dinginkan dan masukkan dalam toples. Ingat untuk jalan kaki sesudah menyantapnya agar tetap langsing.

Den Haag

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Bangunan di sini masih sama seperti dulu. Tapi, ada satu hal yang benar-benar berubah, penduduknya.

img

Kolom Bara's Pots & Pans kali ini ditulis jauh dari Jakarta. Saya baru saja merampungkan serangkaian syuting program masak yang dilakukan di Belanda. Para kru sudah kembali ke Tanah Air. Saya sendiri minta izin produser untuk tidak bergabung pulang dan tinggal lebih lama, sekalian berlibur serta bernostalgia.

Sebagai orang yang pernah tinggal di Den Haag untuk jangka waktu panjang, memori tentang kota ini memang banyak. Saya tiba di Den Haag pada 1976 dan tinggal sampai pertengahan '80-an. Kemudian, saya pindah ke negara Eropa lain. Tapi, tetap saja, karena nenek tinggal di Den Haag, maka kota kecil ini menjadi tujuan saya setiap liburan panjang atau saat hari raya. Gedung dan bangunan di sini rata-rata masih sama seperti dulu. Tapi, ada satu hal yang benar-benar berubah. Penduduknya. Dulu, Den Haag sangat bule sekali. Artinya, warga yang kita lihat banyak yang berambut sangat pirang dan bermata biru.

Saya sempat pergi ke pantai Den Haag yang dinamakan Scheveningen. Kembali ke hotel, saya menggunakan tram yang dipenuhi orang-orang yang baru menikmati pantai. Saya pun tercengang. Hampir 90% penumpang memiliki wajah yang sangat non-caucasian. Artinya, mereka bukan bule. Ada yang bermata sipit oriental, banyak yang memiliki paras Timur Tengah, belum lagi yang negro, dan tentu saja mereka si kulit sawo matang, seperti saya. Walau secara fisik mereka berbeda, tapi ada satu hal yang membuat mereka satu. Mereka semua berkomunikasi dengan bahasa Belanda kental yang istilah lokalnya "ngomong belanda dengan kentang di tenggorokan". Mereka adalah para teenagers yang orangtua mereka dahulu berimigrasi ke Belanda pada era '60 dan '70-an. Saya sempat bertanya kepada seorang anak asal Maroko, apakah dia masih bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sama sekali tidak, jawabnya. Dari kecil, dia masuk sekolah Belanda dan bicara bahasa ini walau dengan teman-teman dari negara sesama.

Perubahan struktur warga Belanda memang luar biasa. Kebijakan pemerintah Belanda dulu memang meringankan warga asing untuk berimigrasi ke sini. Bayangkan, dari 16,4 juta penduduk Belanda sekarang, 3,2 jutanya memiliki darah asing. Dari jumlah yang berarti total 20%, yang terbanyak adalah mereka yang dari Indonesia (tentu saja!) diikuti dengan Jerman, Turki, Suriname, dan Maroko. Sisanya, ada dari Pakistan, India, China, Italia, Brazil, dan beberapa warga dari negara-negara Eropa sendiri, seperti Inggris, Polandia, dan Irlandia. Contohnya, Den Haag. Kota ini menjadi melting pot dari berbagai budaya, seperti New York berskala kecil. Saya sendiri di Den Haag tinggal di sebuah butik hotel di tengah kota. Pemiliknya berdarah Jepang yang juga sudah “belanda banget”. Kalau saya keluar hotel, ada toko kecil Maroko, dan di seberangnya ada toko deli Portugal. Jalan di belokan blok belakang hotel ada surinaams-indonesisch cafe dan antiliaanse restaurant. Yang punya toko 24 jam di samping hotel adalah orang Turki. Tempat cuci baju self-service, pemiliknya orang Pakistan, dan di sampingnya, ada salon yang semua tulisannya dalam bahasa China. Semuanya hidup berdampingan dengan aman, tentram, dan saling menghormati. I love it! Saya jadi teringat beberapa kasus kerusuhan dan keributan di Indonesia yang melibatkan hanya bangsa kita sendiri.

Den Haag yang saya tinggalkan 15 tahun lalu telah berubah. Cukup drastis pula. Saya sempat kaget dengan keadaan sekarang. Tapi, ini semua tidak mengganggu. Penduduknya, yang asli maupun yang memiliki latar belakang asing, umumnya sangat ramah dan bersahabat satu dengan yang lainnya. Fenomena ini sangat menarik karena membuat saya berpikir, kalau mereka saja bisa hidup bersama dengan harmonis, masa kita di Indonesia yang semuanya masih satu rumpun tidak bisa? Pasti bisa, karena semuanya tergantung dari kita sendiri.

Memasak Antara Ciumbeluit dan Depok

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Untuk saya, keduanya (mahasiswa UNPAR dan UI) adalah penonton yang sangat menyenangkan

img

Selain memasak di depan kamera (on-air), saya juga sering memasak tanpa ada kamera di depan saya (off-air). Kegiatan off-air ini cukup padat, mulai dari demo masak untuk ibu-ibu PKK sampai di depan wartawan untuk mempromosikan produk makanan baru. Minggu ini, saya baru saja ber-off-air-ria di depan mahasiswa dari dua universitas bergengsi. Yang pertama, dengan anak-anak FISIP Universitas Parahyangan, Bandung, dan yang kedua, selang beberapa hari kemudian, dengan mahasiswa FISIP Universitas Indonesia di Depok. Untuk saya, keduanya adalah penonton yang sangat menyenangkan.

Skenario acara di kedua tempat kuliah ini nyaris mirip. Mereka mengadakan kegiatan di kawasan kampus; ada stan makanan, band yang nyanyi-nyanyi, talkshow, lomba, games, dan doorprize. Keduanya ramai, keduanya seru, keduanya, seperti tadi saya bilang, menyenangkan. Hebatnya, EO (event organizer), baik di Unpar dan UI dipegang langsung oleh mahasiswanya sendiri. Tidak ada campur tangan dosen (well, at least kelihatannya begitu) maupun 'orang tua' lainnya. Yang menghubungi saya mahasiswa, yang dealing dengan manajemen saya mahasiswa, dan yang memberikan rundown acara, ya, mereka juga. Pokoknya, semua diurus sampai sedetail-detailnya oleh anak-anak kuliahan itu sendiri. Hebat!

Di kedua acara, saya mendemokan tiga resep masakan. Nah, di sinilah letak perbedaannya; antara versi Bandung dan Depok. Kalau kampus Ciumbeluit mintanya saya memasak resep-resep mancanegara—karena acaranya bernama Intrex (International Relations Expo). Yup, mereka memang mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional. Jadi, saya masak Korean Bulgogi, Maroccon Chermoula Prawns with Couscous, dan Italian Budino Di Riso (puding nasi). Kalau di Depok, mereka maunya yang gizinya terjamin, mudah dibuat, serta, yang paling penting, bahan-bahannya gampang didapat dan murah. So, saya buatkan resep-resep dari buku masak saya, Masak Seru Bareng Si Tukang Masak, berupa Pizza Roti Panci, Ayam Teriyaki Pedes, dan Pisang Plenet Keju. Jenis makanan keduanya memang berbeda. Tapi, persamaannya adalah antusiasme para mahasiswa ini.

Jujur, sebelum tampil, baik di Unpar maupun UI, saya sempat bimbang. Terlintas di otak saya, “Memang, anak-anak muda ini mau ngeliatin gue masak? Duuuh, yang ada gue dicuekin kali.” Di bayangan saya, mereka akan lebih suka kalau bertemu band siapa gitu. Misalnya, Ungu atau Samsons. Atau, pemain sinetron Terlanjur Sayang. Tapi, saya ternyata salah. Salah besar. Sewaktu nama saya dipanggil untuk tampil, mereka ber-horeee sambil tepuk tangan. Saya senang, karena ternyata animo anak-anak muda untuk memasak luar biasa. Mereka benar-benar melihat, menyimak, dan bertanya tentang masakan serta cara memasak saya. Heboh dan kadang-kadang berteriak kalau bertanya sesuatu. Tentu saja, pas bagian icip-icip, semua hidangan ludes habis tak bersisa dalam sekejap. Seru banget! Yang membuat saya bahagia juga adalah keinginan mereka untuk menyenangi dunia kuliner yang bukan hanya makan sana-sini, tapi mencoba memegang panci, pisau, dan sutil. Ini tidak terbatas untuk mereka yang perempuan, tapi cowok-cowok juga. Very good!

Setiap kali selesai acara off-air, saya selalu mengevaluasi penonton yang baru saya demokan. Sekian banyak demo untuk para ibu, bapak-bapak, wartawan, anak-anak, sosialita, dan mahasiswa telah saya tampilkan. Untuk saya, anak-anak kuliahan are simply the best audience!

Pisang Plenet Keju

Siapkan tiga pisang ambon, lalu kupas. Panaskan mentega 2 sdm (kalau bisa butter) dalam wajan anti-lengket. Kemudian, goreng pisang, sambil terus dibolak-balik hingga menjadi kecoklatan dan pisang agak empuk. Dengan garpu, 'plenet' pisang hingga gepeng. Parut keju di atasnya (saya suka yang banyak), lalu taburi coklat yang sudah dicacah halus dan taburi juga sedikit kacang cincang. Terakhir, boleh diberi sedikit susu kental manis. Enjoy!

« previous 1 2 next »