Resto Mislek
July, 27th 2010 | by Bara Pattirajawane | 0
Saya adalah tipe yang bersedia bayar mahal untuk satu hidangan yang mengesankan.
Dimasakin orang lain memang menyenangkan. Kita tinggal duduk, semua sudah disiapkan, disuguhkan, dan kita tidak usah cuci piring pula. Saya bicara tentang makan di restoran. Enak, ‘kan? Selesai menikmati hidangan, kita tinggal bayar, berdiri, lalu pulang. Apalagi, kalau hidangan yang disiapkan si chef memberi kesan yang membuat kita hmm!
Seperti saya juga. Walau sangat suka berada di dapur sendiri dan meracik berbagai bahan dan bumbu sendiri, kadang-kadang ada saatnya saya hanya ingin duduk dan dilayani. Seperti minggu lalu, misalnya. Karena jadwal yang luar biasa padat, sesampai di rumah selesai masak di depan kamera atau demo off-air di berbagai tempat, saya ingin mengambil time-off dulu dari dapur rumah dan memenuhi kebutuhan primer perut yang membuat saya bisa tinggal duduk anteng tanpa memikirkan bawang putih yang harus dikupas dan diiris atau daging yang harus direndam berbagai bumbu biar sedap pas dimasak. Dan, saya adalah tipe yang bersedia bayar mahal untuk satu hidangan yang mengesankan. Well, barangkali tidak usah sampai memorable, tapi paling sedikit enak dan disiapkan dengan sempurna. Sayangnya, kesan memorable ini tidak terjadi dengan saya minggu lalu di sebuah restoran.
Selesai syuting sebelum pulang, saya pergi mengunjungi sebuah tempat makan di Mal Pondok Indah. Restorannya terkenal, franchise dari luar negeri, dan memiliki beberapa cabang di Jakarta. Karena lapar, saya memesan hidangan pembuka, hidangan utama, hidangan pencuci mulut, dan tentu saja segelas minuman. Saya tidak tahu apakah saya salah order atau memang kualitas makanannya memang seperti itu. Parah! Parahnya bukan “parah enak”, tapi “parah kacau”. Dessert-nya sih enak, karena memang tempat ini terkenal dengan aneka jenis cake yang yang sedep-sedep! Hidangan appetizer yang saya pilih adalah Soba Noodle Salad dengan semacam dressing dari campuran minyak dan japanese soya sauce. Saya nggak mengerti apakah minyaknya ketumpahan atau memang standar ukuran resepnya demikian, tapi bakmi soba saya seperti berenang gaya bebas dalam minyak yang membuat bibir dan wajah saya belepotan. Sebab, setiap kali saya mau hap soba, minyaknya bercipratan di sekitaran mulut saya. Yang ada, tisu di meja habis karena saya terus-menerus membersihkan bibir dari minyak berlebih.
Tadi itu hidangan pembuka. Main course-nya lain lagi. Pesanan saya adalah semacam chicken kebab, yaitu potongan ayam yang ditusuk dengan tusukan sate. Ada tiga kata yang saya bisa katakan tentang hidangan ini: kering, kering, dan kering! Ya ampun, diapain sih potongan daging ayam ini? Karena saya memiliki lumayan banyak pengalaman memasak, saya agak bisa menebak apa yang terjadi. Ayam saya sudah dimasak beberapa hari sebelumnya, disimpan dalam kulkas atau freezer, kemudian pas di-order baru dikeluarkan dari lemari pendingin, dimasukan ke dalam microwave, dipanaskan dengan kekuatan maksimal dan tiiiiing…sesudah kurang lebih 2–3 menit ayam dikeluarkan, susun di piring, beri seiris tomat, selembar daun selada setengah layu, dan sepucuk kecil daun parsley. Voila! Yang ada, si ayam kering kerontang. Dikunyah susah, apalagi ditelan.
Cerita belum selesai sampai di situ. Minuman saya juga gatot alias gagal total. Dan, hebatnya yang saya pesan adalah sesuatu yang sederhana. Iced Tea. Untuk membuat cerita ini singkat, segelas air dengan es batu tiba di meja saya, lalu kantung teh dicelupkan ke dalamnya. Bisa tebak, kan, apa yang terjadi? Coba, deh, sejak kapan ada kantung teh dicemplungin ke dalam air es? Yang ada, saya bukan minum iced tea, tapi air putih dingin dengan sedikit nuansa teh. Hey you guys at this restaurant..what’s going on here?
Tidak semua restoran yang saya kunjungi begitu, sih. Keesokan malamnya, sebelum menonton film Knight & Day (Tom Cruise bersama Cameron Diaz) bersama teman-teman, saya mampir di tempat makan yang tersohor dengan hidangan bebeknya. Semua yang kita pesan oke dan enak. Kulit bebek garing, dagingnya empuk, moist, juicy, yummy deh pokoknya. Tapi ya itu, ada satu hal yang agak gengges a.k.a. ganggu. Biasa lah, jebakan batman. Pas kami duduk, langsung dihidangkan di depan kami semacam acar timun dengan saus kacang dalam piring super kecil. Piring itu, lho, yang biasanya untuk saus sambal, yang memuat paling 8 potong (kecil-kecil juga potongannya) mentimun dan wortel. Semacam appetizer ‘iseng’ menurut saya, karena dalam waktu 10 detik semuanya habis. Anyway, waktu bayar di bon tertera: acar ketimun Rp6.000. Yuuk, pesan nggak, langsung disuguhi, jadi kami pikir gratis dong. No way, kata si restoran. You eat, you pay! Kami sedikit matematika, deh. Kalau tamu yang datang mengisi 200 meja, misalnya, (dan saya yakin lebih dari itu) 200 x 6000 = Rp1,2 juta/hari. Lalu, sebulan kali 30 hari jadi Rp36 juta. Hanya untuk potongan mentimun yang satu kilonya paling Rp1.000. Untung makanannya enak.
Follow the writer on Twitter



