Frankly Speaking

Antara Make Money dan Make Love

February, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Ah, andai sejak dulu nenek-moyang kita mengajarkan

img

Ada tembang dolanan tradisional di Jawa: Pak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko duwit. Itu sindiran. Kata para leluhur, orang mati tak bergerak. Dikit aja bergerak akan bikin takut bocah-bocah. Mungkin sama menakutkannya dengan hantu keramas dan suster ngesot. Tapi, kalau emang hidup, mondar-mandirlah. Jangan diem aja. Carilah duit. Ayooo, jangan bergeming.

Oh ya, soal bergeming. Ini terjadi salah kaprah. Banyak yang nyangka bergeming itu bergerak. Padahal, yang bener, bergeming justru diam mematung. Kalau salah seorang pacar diam saja bagai arca menanggapi permohonan maaf sampeyan yang sudah menyakitinya sampai ke tingkat paling dasar, jangan lagi sebut pacar itu tidak bergeming. Sesungguhnya, kekasih sampeyan itu bergeming.  

Kembali ke soal duit. Orang-orang hidup yang sudah tidak mencari duit, menurut para leluhur, sejatinya sudah jadi jenazah. Mereka sudah mati sakjroning urip alias meninggal dalam keadaan hidup-hidup. Salah satu ajaran dalam warisan budaya Nusantara ini menurut saya menarik. Tapi, saya agak kurang sreg dengan istilah 'mencari duit' alias 'golekduwit'. Gimana, ya. Kata 'mencari' itu, lho, yang bikin saya nggak cocok. Seolah-olah, duit itu ada di luar kita dan kita berusaha mendapatkannya. Sama halnya mencari hiburan atau mencari panas.

Kalau kita penggemar Rhoma Irama, seperti lagu-lagunya, untuk mendapatkan hiburan kita akan mencarinya ke Bina Ria atau Taman Ria. Terajanaaaa, terajanaaaa…Kalau mencari panas, kita akan pergi ke tempat-tempat ada sinar mentari.

Lain rasanya kalau kita membuat hiburan atau membuat panas. Kita akan membangkitkan potensi dalam diri sendiri. Kita bikin perasaan hepi sehingga terhibur. Kita bikin badan kita panas dengan lari-lari kecil atau apalah. Maka, saya lebih cocok dengan istilah 'make money'. Potensi-potensi dalam diri kita, entah itu bakat entah itu keahlian, kita bangkitkan, kita kerahkan, dan kita olah sehingga menghasilkan uang. Itu arti positifnya. Arti negatif 'make money' ya bikin duit palsu. Tapi, mari kita berangkat dari hal positif. 

Sergey Brin dan Larry Page, kedua anak kelahiran Rusia yang bikin Google, adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah Mark Zuckerberg dan Eva William yang bikin Facebook dan Twitter. Atau anak Turki, Mike Lazaridis, yang bikin Blackberry.

Kalau mereka sekadar mencari uang dan bukan membuat uang sudah pasti yang mereka kerjakan adalah hal-hal yang lumrah dikerjakan banyak orang lain. Bukan atas dasar bakat dan kemampuannya sendiri yang khas dan unik. Itulah prinsip bekerja. 

Masih soal prinsip bekerja, lebih parah dari istilah 'golek duit' alias mencari duit adalah 'nyambut gawe' yang juga populer di Jawa. Mencari duit masih punya konotasi keaktifan. 'Nyambut gawe' lebih pasif. Ada gawe atau kerjaan lebih dahulu, baru kita sambut. Yang sudah tepat dalam tradisi kita, setidaknya tradisi Jawa, adalah 'mbangun asmoro' untuk 'make love'. 'Mbangun asmoro' kurang lebih berarti membangun atau membuat cinta. Ah, andai sejak dulu nenek-moyang kita mengajarkan 'wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip make money please', dunia wirausaha akan pesat di Tanah Air.

 

Valentine di Tempat Cuma Kita

February, 12th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 1

Kalau negara akan menghukum seseorang, siapapun, dasarnya jangan dendam. Dasarnya kasih sayang

img

 

Inti segala sesuatu, tuh, kasih sayang. Herannya, bentuk hati dan panah menancap sebagai lambang Valentine tak pernah jadi simbol negara. Lihat saja yang belum lama ini diributkan, yang konon dicontek perancang Giorgio Armani. Itu, lho, lambang Garuda. Bukan lambang hati dan panah yang dijadikan logo negara. Saya kira selain Indonesia, tak ada juga negara lain yang simbolnya Valentine. Padahal, apa pun yang akan jadi polah tingkah negara harus didasari kasih sayang. Kalau negara akan menghukum seseorang, siapa pun, kata Pak Menteri soal hukum Patrialis Akbar, dasarnya jangan dendam, tapi pendidikan. Dengan kata lain, dasarnya kasih sayang.  

Tak ada kasih sayang, jadilah seperti kisah perempuan di Banyumas yang dihukum karena mencuri tiga biji coklat. Di Situbondo, seorang lelaki dihukum karena mencuri lima batang pohon jagung buat sapinya. Seorang anak di bawah umur di Surabaya stres karena harus disidang. Ia duduk di kursi terdakwa karena kenakalannya menyengatkan lebah pada temannya sesama bocah. 

Itu hukum yang tak dipraktikkan atas dasar kasih sayang. Mestinya kasus pencurian coklat dan jagung cukup dirampungkan dengan cara musyawarah, tanpa acara di pengadilan. Mestinya baik polisi maupun hakim yang menangani bocah 'penyengat lebah' tidak pakai seragam polisi dan toga. Agar rileks. Agar kekeluargaan. Agar anak-anak tidak ketakutan. 

Ya, dasar penyelenggaraan negara haruslah kasih sayang. Dalam segala hal. Jika listrik PLN dimati-matikan, dasarnya juga kasih sayang. Kasih sayang, agar para warga hidupnya tidak lagi ditawan oleh televisi, internet, dan perlengkapan elektronik lainnya. Agar suami-istri kembali saling berpadu kasih mengisi kegelapan.

Jika fasilitas mobil menteri dikinclongkan, dasarnya bukan mau jor-joran kemewahan. Jangan. Dasarnya haruslah kasih sayang pada menteri. Nah, mobil Toyota Royal Saloon itu dilengkapi detektor kengantukan sopir. Melalui peralatan pengamat retina mata, kalau supir mengantuk, mobil akan memberi peringatan. Coba, betapa amannya mobil menteri. Betapa sayangnya kita pada sang ATM keluarga dan partai itu.

Partai-partai ormas baru Nasional Demokrat yang diprakarsai Sri Sultan HB X dan Surya Paloh, logonya juga bukan kasih sayang. 

Ini karena negara, partai, dan ormas tidak diselenggarakan atas dasar kasih sayang. Atau, justru karena mereka paham? Paham bahwa sesungguhnyalah 14 Februari adalah hari matinya kasih sayang. Bahwa hati berwarna pink yang dipanah oleh Cupid justru melambangkan dibunuhnya hati nurani. 

Alkisah, konon, pada masa Kaisar Claudius II, ada pendeta Romawi bernama Valentinus yang dihukum mati karena menikahkan sejoli muda-mudi. Padahal, menurut aturan kaisar, pernikahan justru memperlemah spirit juang warga negara sebagai prajurit sejati. 

"Lho, justru kami ingin mengenang keindahan cinta kasih dua muda-mudi itu, kok. Kami bukan mengenang kesadisan hukuman mati sang santo," mungkin begitu kata segenap pembela hari Valentine. Mana yang betul dalam perdebatan ini?

Ini saran saya. Daripada ikut-ikutan debat tak ada ujung (nanti dikira orang-orang Pansus Century), mending kita cari tempat-tempat khusus yang belum diketahui banyak orang. Kita rayakan Valentine di situ dengan Speak Softly Love Andy Willimas, "We're in a world, our very own. Sharing a love that only few have ever known."

 

Imlek, Sri Mulyani, Ramalan Jayabaya

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Ramalan, nujum, nubuat, atau apalah namanya, fungsinya justru untuk peringatan.

 

Saya akan coba menghubungkan shio Macan Kayu dengan ramalan Jayabaya untuk 2010 ini. Waduh, waduh, ternyata klop. Apalagi, kalau dihubungkan dengan ramalan Suku Maya akan adanya peristiwa besar 21 Desember 2012.

Jika pada 2010, kita anggap sebagai persiapan terjadinya gonjang-ganjing 2012, maka shio Macan Kayu cukup mewakili gambaran peristiwa-peristiwa yang akan mendebarkan. Misalnya, yang membuat saya agak was-was adalah sekarang persatuan kaum perempuan sudah sedemikian kuat. Begitu juga solidaritas kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Koin Prita yang bisa mengumpulkan dana hampir Rp1 miliar menunjukkan kekuatan itu. Padahal, naga-naganya, kasus Bank Century akan cuma sampai pada mengorbankan menteri keuangan saja, Sri Mulyani, perempuan.

Bisa kita bayangkan nanti akan seperti apa amarah masyarakat. Mereka sekarang menginginkan kasus Century dibongkar sampai ke akar-akarnya. Memang, kalau dari demo-demo yang kita lihat, Sri Mulyani juga dijadikan bulan-bulanan oleh masyarakat. Giginya diberi taring. Dibakar pula. Tapi, dibakar bersama tokoh-tokoh lain di atasnya.

Nah, kalau pembongkaran kasus Century hanya dihentikan sampai pencopotan Sri Mulyani saja sepertinya masyarakat akan berubah. Sepertinya, apa yang diramalkan Jayabaya dan shio Macan Kayu akan kejadian. Jayabaya dari abad ke-11 bilang, Nusantara akan meraih kejayaan lagi sekembalinya dua makhluk gaib Sabdo Palon Noyo Genggong. Tapi, sebelum itu akan ada tikus pithi anoto baris. Artinya, adalah gerakan rakyat semesta, yang lebih besar dari koin untuk Prita maupun sejuta lebih Facebooker untuk mendukung Bibit dan Chandra. Belum lagi, dukungan untuk Hendri Mulyadi, penonton yang tiba-tiba masuk kancah sepakbola PSSI melawan Oman saking kesalnya pada PSSI. 

Tikus piti anoto baris tampaknya terjadi tahun ini. Perhatikan saja. Kabarnya, dalam shio Macan Kayu, perpaduan logam positif dari langit dan unsur kayu akan menimbulkan banyak perbenturan kepentingan, terutama kepentingan kalangan politisi hingga konfliknya berdampak di bidang hukum dan ekonomi. Sudah tentu, kepercayaan investor akan kembali menipis karena konflik berkepanjangan itu. Mudah ditebak apa yang akan terjadi di kalangan masyarakat luas.

Sudah tentu, ramalan, nujum, nubuat atau apalah namanya, fungsinya justru untuk peringatan kepada kita agar hal itu tidak terjadi. Mungkin bisa dipertimbangkan kembali usaha untuk menutup kasus Century hingga hanya pada Sri Mulyani. Seyogyanya, kasus tersebut dituntaskan hingga ke akar-akarnya. Bukan hanya Sri Mulyani seorang diri, sehingga tidak muncul solidaritas perempuan yang akhirnya jadi solidaritas seluruh masyarakat. 

Dalam perayaan Imlek, selalu ada angpau. Dalam tradisi, angpau itu warnanya merah. Konon, warna ini dalam tradisi kemunculan Imlek ditakuti oleh naga Nian yang akan mengancam masyarakat. Mudah-mudahan warna merah PDI Perjuangan dalam kasus Century ini bisa berfungsi seperti angpau yang mengusir naga Nian. Entah kalau merahnya diam-diam udah mulai pudar, misalnya dipudarkan oleh Taufik Kiemas. Siapa tahu. Ya, kita lihat aja ramalan shio Macan Kayu, Jayabaya dan Suku Maya.

 

Citra...Oooh...Citra...

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Mahkota hanya salah satu contoh betapa dunia mati-matian memburu dan mempertahankan citra

img

Pernahkah sampeyan punya pacar bernama Image? Kalau saduran bahasa Nusantara-nya mungkin Citra. Tak sedikit di antara nama kekasih atau istri kita adalah Citra. Saya punya teman penari utama di EKI Dance Company. Wajahnya ada unsur-unsur Deasy Ratnasari dan Cut Mini. Namanya Citra. Sampeyan yang pada era ‘70-an sudah hidup dan daya ingatnya sudah bekerja pasti tahu aktris film top kita yang suka berkebaya, Citra Dewi.

Ternyata, di lingkungan asing, Image tak dipakai sebagai nama keseharian perempuan. Piala Academy Award namanya bukan Image. Namanya Oscar. Padahal sudah jelas-jelas bisnis akting adalah bisnis image, bisnis citra. Pelaku adegan ciuman belum tentu melakukan ciuman atas nama dorongan hati. Yang penting, mereka dengan kemampuan aktingnya mesti membawakan citra bahwa ciuman mereka adalah kissing yang tulus dan murni. Kalau ndak begitu, sutradara pasti ngamuk-ngamuk.

Di Indonesia, ketika dunia film masih jaya-jayanya, ketika kuantitasnya bisa di atas 100 judul per tahun tapi kualitasnya juga oke sampai awal 90-an, nama piala festival filmnya adalah Piala Citra. Demikianlah penyerahan Piala Citra menjadi acara yang ditunggu-tunggu dalam Festival Film Indonesia.

Hhmmm, Citra itu seperti pakaian, sepatu, korset, atau apalah. Yang penting, bagaimana kesan orang banyak. Tak peduli napas ngos-ngosan karena korset. Demi citra seksi di depan publik, tak peduli di sektor private, di dalam kamar, di atas ranjang, seorang perempuan jadi dead fish karena kaki, tungkai, dan pangkal pinggulnya pegal-pegal karena harus pakai sepatu tumit tinggi. Tak peduli seorang pasangan hanya plonga-plongo karena pasangannya minta kerokan, masuk angin setelah demi citranya di muka forum ia rela pakai kamisol maupun tank top.

Dalam istilah lama di Jawa, citra, pakaian, atau bungkus itu "ageman". Di suatu tembang klasik, Pangkur, disebutkan bahwa "agomo ageming aji". Artinya, agama-agama yang tertulis dalam KTP hanyalah demi citra pemegang KTP. Hati maupun kelakuan yang bersangkutan sering tak ada hubungannya dengan citra tersebut.

Citra tertinggi dalam sejarah peradaban manusia menurut saya adalah mahkota. Rata-rata pemimpin besar dunia pasti mempunyai catatan-catatan hitam. Mahkota alias citra baik diperlukan oleh setiap raja justru untuk melindungi hal-hal hitam dalam tempurung kepalanya. Mahkota itu saat ini secara fisik sudah tidak ada, tapi penghargaan-penghargaan dan gelar tetap ada.

Soeharto yang digelari Bapak Pembangunan pernah diusulkan jadi Pahlawan Nasional dan kini usul itu ramai lagi seiring usulan masyarakat agar Gus Dur diangkat jadi Pahlawan Nasional.

Citra...Citra...Citra...sekali lagi...Citra...

Mahkota hanya salah satu contoh betapa dunia mati-matian memburu dan mempertahankan citra. Rhoma Irama pernah membuat lagu berjudul “Rupiah”. Dibilangnya dalam tamsil bahwa setiap orang berusaha merebut hati perempuan bernama Rupiah. Mungkin Raja Dangdut ini perlu menggubah lagi nyanyian baru yang lebih sensual dibanding Rupiah. Dialah Citra.

Orang-orang bule, setahu saya, selain tak pernah menamai perempuannya dengan Image alias Citra, tak juga menamainya dengan Merek alias Brand. Ada teman saya Brandon. Tapi, pasti maksud nenek moyangnya bukanlah Brand. Meski demikian, bukan berarti mereka tak hirau pada Citra. Coca-Cola pasti hasil kerja keras luar biasa dalam pencitraan sehingga selama 9 tahun terakhir perusahaan minuman itu tetap di urutan teratas dalam tingginya nilai merek.

Dan, dari obrolan ngalor-ngidul itu, saya kira tantangan sudah saya ucapkan kepada rekan-rekan area, yang akan meningkatkan citranya dari tidak hanya bacaan eksklusif dengan kertas konvensional, tapi kertas sekaligus majalah online.

Ebony and Ivory

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Setidaknya beri sinyal betapa Ebony and Ivory atau tawa dan tangis itu satu kesatuan

img

Putih dan hitam tak hanya berdampingan di tuts piano. Stevie Wonder mengalunkan dalam lagunya “Ebony and Ivory” agar kulit putih dan kulit hitam bahu-membahu laksana pada piano. Justru, dari hal yang kontras dan berbeda tersebut muncullah harmoni. Tak hanya menyangkut warna kulit. Siang dan malam juga sama. Bahkan, dalam keadaan gelap, muncul berbagai keindahan.

Tak dapat kita bayangkan, muncul beragam gaun tanpa kehadiran malam. Atau, lampu-lampu kota menyala bagai ratna mutu manikam tampak dari udara tanpa kehadiran malam. Saat itulah hidup para penyanyi, pemain gitar, piano, dan sebagainya.

Kadang gelap-terang muncul serentak. Pesta adalah salah satu contoh. Pertunjukan wayang kulit untuk pesta-pesta panen, pernikahan, atau bersih desa selalu dilengkapi tumbuhnya permainan berbagai judi di seputarnya, penjualan minuman keras, sampai tak jarang, prostitusi. Bahkan, hari-hari keagamaan yang suci selalu diwarnai gegap gempita penyaluran sisi-sisi lain kehidupan manusia. Mal-mal dihias pada Hari Natal. Nafsu main-main dan belanja dilampiaskan di dalamnya. Saat Lebaran, hampir dipastikan muncul petasan. Orang-orang biasanya mulai berani melanggar aturan lalu-lintas. Mereka berwisata di mobil-mobil bak terbuka yang mestinya hanya boleh buat mengangkut barang. Keadaan hampir sama kalau orang Betawi sedang mengunjungi pesta nikah handai taulannya. Mereka berdesakkan di mobil bak terbuka. Polisi tampak sungkan menilang, seakan dispensasi harus diberlakukan di saat-saat tertentu seperti pesta.

Mengapa selalu ada pesta di setiap tempat dan kaum? Mungkin, agar roda perekonomian berputar. Ambil contoh pertunjukan wayang kulit. Setiap kali pementasan semalam suntuk ini berlangsung, minimal muncul penjual-penjual makanan kaki lima, penjual obat, penjual batik, penjual boneka-boneka wayang. Wah, masih banyak lagi yang lain, belum termasuk nafkah yang diterima dalang dan rombongan pengrawit.

Tak usahlah kita bermimpi agar salah satu tempat di negeri ini diliput besar-besaran oleh dunia pas peringatan malam tahun baru, seperti Edinburgh, Sydney, Toronto, Tokyo, Mokswa, London, Berlin, Rio de Janeiro, Paris, dan New York. O ya, satu lagi, Melbourne. Cukuplah kalau kita pikirkan bentuk pesta lain, yang tidak hanya memberi makan tukang penjual terompet. Siapa tahu info ini inspiratif. Orang-orang Ekuador membuat patung tokoh-tokoh politik yang tak mereka sukai sepanjang tahun. Mereka membuatnya dari jerami atau koran bekas. Artinya, jerami dan koran nganggur dimanfaatkan. Di dalamnya diberi kembang api. Pas malam tahun baru mereka bakar.

Mudah-mudahan di malam tahun baru nanti, kita tidak hanya berpikir tentang bagaimana kita berkumpul sebagaimana orang-orang Hongkong di Causeway Bay dan Tsim Sha Tsui, orang-orang India di Mumbai, dan orang-orang Skotlandia berkumpul menunggu meriam ditembakkan di Istana Edinburgh sembari sebagian menyanyikan Auld Lang Syne karya penyair besar mereka, Robert Burns. Tapi, bagaimana kita berpikir agar terjadi perputaran duit yang lebih luas buat berbagai kalangan. Kalau tak bisa memberi kerjaan buat banyak orang, setidaknya beri sinyal betapa “Ebony and Ivory” atau tawa dan tangis itu satu kesatuan. Ekuador menarik. Para lelakinya mengenakan baju perempuan. Mereka menangis-nangis justru agar penonton tertawa.

Yuk Makan-makan

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Selain kesenangan dan orientasi, dendam juga membuat kita susah melupakan sesuatu

img

Mengapa kita suka lupa parkir mobil di mana? Ini terutama kalau di basement. Mungkin, karena tempat parkir level berapa pun suatu bangunan nyaris sama. Saat parkir, kita tidak punya orientasi khusus. Rasa koordinat khusus tentang titik keberadaan mobil kita juga ndak ada. Ruangan serupa semua. Bingunglah kita mencari-cari mobil saat ingin pulang, sekalipun kita hafal level basement-nya.

Tapi, mengapa tahun ini kita ingat Chris John, juara dunia tinju dari Indonesia? Karena, pada dasarnya kita semua senang aduan. Aduan sapi, kambing, babi, ayam, dan lain-lain. Jangkrik pun kita adu. Kita juga senang bertaruh. Olahraga seperti sepakbola dan tinju sangat mungkin menjadi ajang pertaruhan. Tapi, mungkin juga karena prestasi “The Dragon” ini sangat luar biasa. Sejak 2003 mengalahkan Oscar Leon di Bali, praktis petinju ini tak pernah kalah.

Jadi, apa yang sesungguhnya bisa membuat kita tidak lupa sesuatu? Orientasi atau rasa senang kita akan sesuatu? Sukar menjelaskan orientasi ruang mana yang membuat kita tak melupakan Manohara maupun Miyabi tahun ini. Tapi, kesenangan kita melihat tangis orang lain bisa menjelaskan mengapa Manohara pernah membuat beberapa tabloid dicetak ulang berkali-kali. Selanjutnya, ini bisa menjelaskan kenapa kita sulit melupakan kasus bendungan Situ Gintung maupun gempa di Sumatra Barat.

Lebih dari kesukaan kita memandang kecantikan seseorang adalah kegemaran kita melihat tangis seseorang. Karenanya, tahun ini kita juga akan sukar melupakan Bu Minah, yang dihukum gara-gara ’hanya’ memetik tiga biji kakao. Kita tahu, karena usianya yang telah lanjut, Bu Minah tidak bisa dibandingkan dengan Manohara. Tapi, keduanya menimbulkan tangis. 

Lantas, hubungan Maria Ozawa alias Miyabi dengan tangis apa? Tidak ada hubungannya dengan air mata memang. Tapi, blasteran Jepang-Bule ini punya kaitan dengan sesuatu yang sifatnya seksual. Itu pula yang membuat kematian Michael Jackson sukar dilupakan. Raja pop ini, melalui suara dan gerakannya di panggung, telah menjadi simbol seks dunia sekaligus erotisme dunia.

Jawaban tentang landasan ingatan, ya, tetap dua hal itu; kesenangan dan orientasi. Makanya, untuk mencapai lokasi sarang-sarang hitam, seperti mafia dan tempat penculikan, mata kita ditutup. Tahu jalan-menuju sesuatu atau tahu orientasi, seseorang akan semakin gampang mengingat sesuatu itu. Seseorang yang tahu jalan menurunkan dalil Phytagoras, akan semakin lengket ingatan tentang dalil tersebut. Jauh dibanding yang sekadar hafal tanpa tahu dari arah mana dalil itu dirumuskan. 

Selain kesenangan dan orientasi, dendam juga membuat kita susah melupakan sesuatu. Agar diingat ibu-ibu, daripada memuji karena saking banyaknya orang yang sudah memuji, katakan saja dia gembrot. Ibu-ibu itu akan mengingat dirimu karena dendam sepanjang masa. Ingatan kita pada Syeh Puji, kasus Cicak dan Buaya tahun ini lebih banyak didasari oleh dendam ini. Bagaimana tidak dendam, di zaman serba susah seperti ini tiba-tiba ada orang demonstratif memamerkan kekayaannya. Bagaimana tidak nempel di benak, wong sebagian besar manusia terutama ibu-ibu sangat benci pada cicak. Tepatnya, geli karena warna kulit bagian bawahnya. Lalu benci dan selanjutnya bisa jadi dendam.

Tapi, kok, menurut saya sumber ingatan tetap hanya dua hal; kesenangan dan orientasi. Senang memelihara dendam, makanya jadi selalu ingat sesuatu yang kita dendami. Kenapa kita tidak belajar pada kasus tinja. Kita jijik, benci dan mungkin sebangsa dendam melihat tinja. Tapi, kita sering melupakan itu. Makanya, kita bisa makan-makan dan haha-hehe.

« previous 1 2 next »