Frankly Speaking

Festival Harian Kesenian Kota

July, 28th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Tokoh pembunuh profesional itu mengaku pekerjaannya adalah kesenian juga.

img

Banyak sekali kata yang kesannya kita sudah sama-sama ngerti, padahal mungkin maknanya belum disepakati benar. Kata "cinta" salah satunya. Apakah cinta itu kedok kebencian? Atau, di dalam cinta sebenarnya terkandung kasih-sayang dan pendaman dendam, sehingga dahulu Diana Nasution mempopulerkan “Benci tapi Rindu”? 

Kata "kesenian" yang kerap disebut-sebut sebagai ekspresi cinta pun seperti itu. Hampir seluruh manusia sepakat “Oh My Love”-nya The Beatles itu kesenian, sebagaimana “Melati dari Jayagiri”-nya Iin Bimbo dan lain-lain. Tapi, apakah seorang perempuan yang tengah malam tersedu sendirian di antara gerimis lampu stopan Ibukota bukanlah suatu kesenian?

Apakah yang disebut kesenian hanyalah bentuk-bentuk ungkap manusia yang dipentaskan di tempat-tempat khusus untuk kesenian, termasuk gedung bioskop? Misalnya, berbagai macam ekspresi sejak bentuk ungkap lagu, rupa, tari, sastra, dan sebagainya yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta menyongsong Jakarta Anniversary Festival VIII 2010 2-4 Juli lalu?

Saya sempat menyaksikan beberapa di antara mata acara itu. Salah satunya Sendratari Adeging Mataram. Tampil antara lain mantan model Dani Dahlan. Ia menari dan menyanyikan tembang tradisi. Apakah hanya cetusan dan luapan rasa seperti ini yang disebut kesenian? Bukankah kita telah setuju pula bahwa sepakbola, khususnya yang diperagakan oleh orang-orang Amerika Latin macam Brazil dan Argentina, adalah kesenian juga?

Ketika suatu saat Pramono Anung dalam teater, saya pasangkan dengan Yenni Wahid dan Happy Salma, di belakang panggung Wakil Ketua DPR ini bilang, politik ternyata kesenian juga. Pram ketika itu semakin yakin, seperti pernah ditulis para ahli, politik adalah seni memainkan kemungkinan-kemungkinan. 

Dan, setiap menyinggung soal kesenian, selalu saya tergoda oleh ungkapan Siti Asasin dalam drama Panembahan Reso karya Rendra. Tokoh pembunuh profesional itu mengaku pekerjaannya adalah kesenian juga. Ia pembunuh, memang, tapi ia bersedia menewaskan target hanya jika caranya indah. Taruhlah kesempatan untuk membunuh itu sedang ada, Siti Asasin tak akan mumpang-mumpung begitu saja menjalankan aksinya jika ia yakin bahwa pembunuhan pada momen itu tak akan berlangsung indah. 

Kesenian ada di mana-mana dan sehari-hari. Bukan berarti Jakarta Anniversary Festival tak penting. Saya salut pada Mas Bambang Subekti, Direktur Gedung Kesenian Jakarta sebagai salah satu penyelenggaranya. Festival yang ditutup oleh musikal Jakarta Love Riot dari EKI Dance Company ini tetap penting untuk menampilkan jenis-jenis ungkapan yang pada umumnya sudah diakui sebagai bentuk ungkap kesenian. 

Saya cuma ingin mengajak kawan-kawan agar tak menutup mata pada kesenian yang berlangsung sehari-hari di luar panggung kesenian. Ketika di House of Betari Sri di Kemang nonton bareng final Piala Dunia Belanda-Spanyol, tuan rumah Mbak Sri Teddy Rusdi secara terpisah mengundang karibnya, Ahmad Dani dan Maia, pasangan musisi yang telah bercerai itu. Pertandingan Senin 12 Juli pukul 1.30 dini hari itu sudah dimulai. Semua mata hadirin ke arah layar besar di depan. Tapi, saya lebih senang memperhatikan mata Maia yang berkaca-kaca, menerawang ke belakang-atas, ke arah balkon. Di pagar balkon itu menyembul anak-anak Maia yang ingin melihat ke layar pertandingan. Mereka tak tahu bahwa ibunya ada di bawah dan sedang memperhatikan mereka. Dani belum kelihatan. Perempuan ayu ini terus memandangi anak-anaknya yang kini diasuh oleh ayahnya. Maia terus berkaca-kaca. Bagi saya, peristiwa dini hari usai gerimis ini sangat mengharukan, sebagaimana seharusnya disajikan oleh setiap kesenian yang luhur.

 

Bermobil-ria Sebelum Tahun Ketujuh

July, 14th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Cadangan minyak kita tinggal tujuh tahun ke depan.

img

Semua ada batas umurnya. Pelopor otomotif Indonesia Om William Soeryadjaya umurnya terbatas 88 tahun. Beliau wafat pas umat Nasrani merayakan Paskah awal April lalu. Tapi, saya tidak tahu pasti sebetulnya berapa, sih, batas umur mobil. Begitu kita ke jalan raya, usia mobil yang kita pandang, kok, macam-macam banget dari yang gress ewes-ewes, sampai yang sangat sepuh.  

Kabarnya, konon, sebagai bangsa kita tuh dikenal pintar merawat. Tak sedikit kawan-kawan dari Jepang yang heran melihat mobil Colt era '70-an masih berjaya mengangkut sayur-mayur di pedesaan. Begitulah memang, suatu bangsa yang ahli memelihara keawetan seperti Dayang Sumbi dari Pasundan, juwita yang abadi di dalam kemudaan.  

Tapi, saya kurang bisa diyakinkan oleh penjelasan ini. Buktinya, banyak telepon umum rusak. Tak sedikit fasilitas umum seperti taman di ruang-ruang publik yang terbengkalai. Kaca jendela kereta api umumnya retak membentuk lajur seperti urat-urat daun. Memelihara Reog Ponorogo, Tari Pendet, dan Rasa Sayange juga nggak becus, kok. Dugaan saya, karena merawat mobil atau apa pun di sini jauh lebih murah ketimbang beli mobil baru. Di banyak negara, toh, tak sedikit kita lihat peralatan elektronik seperti laptop dibuang di tempat sampah. Alasannya sederhana. Lebih mahal mereparasi alat-alat itu ketimbang membeli baru. 

Apakah sekarang mulai terjadi pergeseran? Misalnya, ternyata masyarakat lebih senang membeli mobil baru karena ada kemudahan keuangan dari fasilitas kredit? Buktinya, seturun-turunnya pembelian mobil, para penjual masih optimistis bahwa sampai tahun ini akan terjual total 600 ribu unit mobil. Terutama untuk kasus Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang lalu-lintasnya tambah macet, fenomena ini agak membingungkan. Naik sepeda motor atau kereta api jauh lebih terjamin tepat waktu. Tak sedikit teman-teman saya yang tinggal di Depok, naik kereta untuk kerja di Jakarta, di kawasan Senayan, Thamrin, Sudirman, dan lain-lain. 

Lebih membingungkan lagi karena cadangan minyak untuk menggerakkan mobil hampir habis. Pekan lalu, dalam suatu acara di kawasan Patung Tani, Menteng, Jakarta, saya bertemu dengan kenalan lama yang kini bekerja di Pertamina. Katanya, cadangan minyak kita tinggal tujuh tahun ke depan. Setelah itu Pertamina harus ngebor di luar negeri. 

Okelah, minyak akan tetap ada dari sumber-sumber luar negeri. Tapi harganya pasti lebih mahal. Apalagi yang jualan eceran di jalanan bukan cuma Pertamina seperti yang mulai tampak sekarang. Pantesan, saya pikir, orang-orang asing sekarang mulai siap-siap dagang minyak eceran di tepi-tepi jalan. Sekarang mereka masih sepi pengunjung ya nggak apa-apa. 

Jika nanti mulai 23 Juli sampai 1 Agustus kita akan mengunjungi pameran otomotif internasional IIMS di JIExpo Kemayoran Jakarta, kendaraan macam apakah yang bakal menarik buat kita? Karena makin macet dan susah parkir, pasti yang ramping tapi isinya banyak. Masalahnya, para pakar meramalkan bahwa downshifting atau gerakan pemilihan mobil seperti ini akan berakhir dan kembali pada keseimbangan baru. Pasar diramalkan akan kembali memilih segmen mobil-mobil segmen di atasnya. Wah, kalau sudah begini, terserah mau pilih mobil apa aja, deh. Yang penting, seperti kata seorang teman pelawak, mobil itu dibikin mogok sehingga diderek, dan sehingga bensin di tangki tetap utuh. 

 

Jakarta, Daerah Khusus Perjanjian

June, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Jakarta itu 40% areanya sekarang berada di bawah permukaan laut.

img

Saya baru tahu kalau Jakarta benar-benar khusus untuk banyak hal. Di kota ini, misalnya, ternyata praktis sudah ndak ada rumah tangga yang listriknya 450 watt. Bos PLN, Dahlan Iskan, bilang listrik naik per 1 Juli, tapi justru gratis bagi pelanggan 450 watt. Artinya, sebetulnya, niatan tokoh media massa asal Jawa Pos itu ndak ada artinya apa-apa bagi masyarakat kebanyakan di Jakarta. Karena, masyarakat luas di Ibukota ternyata listriknya sudah 900 watt ke atas.

Sayangnya, sekarang pemadaman-listrik-bukan-karena-trafo-rusak sudah berkurang. Nyaris tak sering lagi pemadaman listrik akibat memang kurang daya seperti tahun-tahun lalu. Jadi, saya susah membandingkan apakah Jakarta memang masih khusus dibanding kebanyakan kota lain yang listriknya sering padam bergilir akibat kurang daya.

Di Dhaka misalnya, masyarakat Bangladesh protes main rusak ini-itu akibat kena pemadaman listrik bergilir. Sehingga, mereka tak bisa nonton Argentina lawan Nigeria via televisi. Mereka ngamuk dan merusak pabrik-pabrik saking kesalnya tak bisa menyaksikan kedua tim favorit mereka di Piala Dunia.

Siapa tahu jika pemadaman listrik itu berlangsung di Jakarta, masyarakatnya tidak akan seberingas itu. Orang Jakarta cukup sabar, kok. Misalnya, jika dibandingkan tabiat sebagian mahasiswa di Makassar. Bayangkan ketika tol Bintaro-Serpong lumpuh total gara-gara banjir, dan rentetannya hampir seluruh Jakarta macet abis selama kurang lebih 4–6 jam. Masyarakat masih tenang-tenang saja. Mungkin, orang-orang Jakarta itu marah. Tapi, samakan dengan gertak. Bilang saja marah sambal. Buktinya, mereka masih tetap bertahan hidup di eks-Batavia ini.

Ya, listrik tidak padam selama Piala Dunia. Andai pun padam, rasanya kita gak bakal seperti Dhaka karena itu tadi, Jakarta adalah daerah khusus. Bahwa sepeda motor semakin banyak saja jumlahnya, memang bukan cuma fenomena di Jakarta. Sekarang di berbagai daerah, pedagang sepeda motor aktif menjemput bola. Mereka gerainya sampai ke RT/RW dan boleh tanpa uang muka. Akibatnya, kota-kota jadi penuh sesak dengan sepeda motor. Tapi bagi saya, Jakarta masih khusus. Misalnya, pengendara mobil di sini relatif lebih sabar terhadap sepeda motor yang seliweran dibanding pengendara mobil di kota-kota lain.

Pada ‘90-an, ketika sepeda motor belum diobral seperti sekarang dan ketika untuk memperoleh SIM C benar-benar ada ujiannya, pengendara sepeda motor relatif bertanggung jawab. Kalau mereka nyrempet kaca spion mobil, mereka akan berhenti membetulkan posisi spion tersebut. Atau, setidaknya memberi kode via kepala dan tangan bahwa mereka minta maaf. Sekarang, jangankan minta maaf. Andai habis nyrempet lantas sepeda motor itu terpaksa berhenti di samping mobil yang disenggolnya karena lampu merah, mereka menoleh ke pengemudi mobil itu aja nggak.

Toh, para pengemudi mobil juga masih cukup sabar, kok. Mereka nggak pulang kampung ke Wonogiri, Tegal, atau udik-udik yang lain. Orang-orang dari kota lain mana punya kesabaran setebal itu. Pekan lalu, saya janjian sama temen dari Universitas Monash, Australia, di Ritz Carlton, Kuningan. Pukul 20.30, karena macet di Kemang, saya baru sampai di Kuningan pukul 20.15. Eh, teman itu sudah kabur dan marah-marah via ponsel. Katanya, saya telat banget.

Nggak sabar banget teman itu. Kayak nggak tahu Jakarta aja. Dikiranya, ini Melbourne dekat Monash yang kalau janjian bisa dijamin tepat waktu saking lancarnya jalan-jalan di kota itu. Mungkin, ada juga salahnya di saya. Saya nggak telepon dia pas lagi macet di Kemang bahwa akan terlambat. Waktu itu, saya lupa bahwa dia orang luar Jakarta. Kalau sesama warga Jakarta, telat-telat sampai 1 jam itu wajar. Dan, itu juga termasuk kekhususan warga Jakarta.

Kita juga sudah sabar untuk menunggu janji-janji pembangunan MRT dengan 14 stasiun konon dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas. Nantinya, fasilitas angkutan umum berstandar kota-kota dunia seperti Hongkong ini akan dikembangkan sampai Stasiun Kota dari Dukuh Atas. Kapan janji itu akan ditepati, ya wallahualam. Dalam menyongsong janji-janji, orang Jakarta cukup sabar, kok. Itulah kekhususan kita. Selain sabar, kita juga tidak sombong. 

Orang-orang Belanda, tuh, sombong. Sesumbar kemana-mana bahwa negaranya ada di bawah permukaan laut. Lho, Jakarta itu 40% areanya sekarang berada di bawah permukaan laut. 

Di samping sabar menunggu janji-janji, kita juga tidak pernah sombong dan gembar-gembor bahwa beberapa di antara 200-an situ tua di Jakarta lebih tinggi dibanding daerah permukiman. Misalnya, Situ Rorotan dan Situ Pamulang. Orang sabar dan tidak sombong kekasih Tuhan.

 

Bekal Makanan ke Piala Dunia

June, 16th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Susu baru dikenal oleh bangsa Indonesia lewat penjajahan Belanda abad ke-18

img

Banyak yang heran, termasuk saya, masa sih dari 240 jutaan penduduk Indonesia kita nggak sanggup mencari 11 orang terbaik buat tim nasional ke Piala Dunia? Lantas seperti biasa, saling tunjuk pun berlangsung. Ada yang menunjuk tabiat asli kita. Katanya, kita orangnya susah kerja sama. Lain kalau buat penampilan tunggal atau paling banter ganda. Sebut misalnya Nova Widianto dan Alvent Yulianto Chandra di bulutangkis atau Utut Adianto di catur. 

PSSI tak luput pula dari tudingan. Sedemikian parahnya organisasi itu sampai-sampai tak sanggup bikin kaderisasi pemain. Parah tapi betapa kuat organisasi itu. Sampai-sampai, kabarnya Presiden SBY pun tak kuasa mengganti Nurdin Halid sebagai pemimpinnya. 

Tak pelak pula tudingan mengarah ke mental para pemain itu sendiri. Suap-suapan disinyalir masih gencar terjadi. Mungkin, karena KPK tidak mengembangkan sayap penyidikannya sampai ke pemain bola. Di lingkungan birokrat saja, wilayah KPK beroperasi, sogok-sogokan masih banyak.

Bagaimana kalau sekarang saya menuding ikan? Ikan-ikan di negeri kelautan inilah penyebab merosotnya prestasi sepakbola kita. Mereka hanya memperbolehkan kita memakan 25,03 kg per orang per tahun. Padahal, Badan Kesehatan Dunia WHO membuat standar minimal 31,4 kg. Prancis yang konsumsi ikannnya di atas itu, 36 kg per kapita per tahun, masih lebih rendah dibanding Spanyol dan Portugal. Jadi, bagaimana kita akan melawan Portugal?

Tanggal 1 Juni lalu, pas lahirnya Pancasila, ditetapkan sebagai Hari Susu Nusantara. Nah, ternyata, selain kekurangan ikan, kita pun kekurangan susu. Kita hanya minum susu 9 liter per orang per tahun. Tetangga kita saja, Malaysia sudah 25,4 liter. Singapura lebih-lebih, 32 liter.

Mungkin ke depan, makanan dan jajan murah kita disyaratkan mesti mengandung ikan maupun susu. Soalnya, tidak setiap orang doyan ikan dan susu, kecuali kalau keduanya sudah diolah dalam adonan bareng yang lain-lain. Akibatnya mungkin harga jadi naik. Makanan yang tidak mengandung ikan dan susu akan tetap murah. Orang akan tetap pilih yang murah. Dalam keadaan kepepet, pertimbangan dompet jauh lebih menentukan ketimbang pertimbangan mutu.

Lebih bahaya mana coba, tidak terpilih sebagai pemain bola atau kebakaran dari tabung gas? Tentu yang terakhir lebih berbahaya, seperti yang akhir-akhir ini kerap kejadian, yaitu kebakaran dari tabung gas 3 kg. Tapi masyarakat tetap memilih membeli peralatan tabung gas yang tidak pakai label Standar Nasional Indonesia, karena harganya lebih murah.  

Gini deh, bagaimana kalau nggak usah memaksakan olahan makanan mengandung ikan dan susu. Apalagi, susu baru dikenal oleh bangsa Indonesia lewat penjajahan Belanda abad ke-18. Kalau tidak mampu, meski menurut Koes Plus kita ini negeri "kolam susu", kembali saja ke local wisdom yang jauh lebih mengakar ketimbang susu. Misalnya kunci. 

Rempah-rempah yang mirip kunyit dan lengkuas itu kerap dipakai dalam sayur asem zaman dulu. Ini saja yang kita perbanyak variasinya untuk berbagai makanan sehingga nanti tidak cuma terkandung dalam sayur asem. 

Jangan anggap remeh kunci. Korea Selatan yang dikenal sebagai negeri ginseng, konon sekarang sudah mengalihkan perhatiannya pada kunci. Dan, mereka melakukan studi besar-besaran untuk itu.

 

Se-(Miliaran) Pasang Mata Bola

May, 31st 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

itu penyebab banyak fans Inggris siap tidak makan sepekan demi tim nasional mereka

img

Bu Guru waktu saya SMP membedakan tanding dan lomba. Pertandingan, tuh, kalau pesertanya "berhadapan". Lihat saja, tidak ada pertandingan menyanyi atau memasak. Yang lumrah, ya, lomba menyanyi, bowling, memasak, menulis, baca puisi, dan sejenisnya.

Apa sepakbola menarik karena olahraga ini sifatnya pertandingan; para pesertanya berhadapan, bukan seperti lomba-lomba dalam cabang atletik? Nggak juga. Tenis, yang meja maupun lapangan, juga dipertandingkan. Bola voli pun kayak gitu. Tapi, umatnya kok tidak seluas dan sebesar massa sepakbola? Lagipula, tidak seluruh perlombaan, yaitu kompetisi yang dihakimi juri, pasti kalah menarik dibanding pertandingan alias kompetisi yang dihakimi wasit. Lomba nyanyi ala American Idol maupun AFI juga dibanjiri banyak pendukung. 

Mungkinkah karena dalam sepakbola, judi bisa sangat marak? Ingat, kan, ketika Andreas Escobar ditembak mati konon oleh mafia yang kalah judi lantaran pemain belakang Kolombia itu melakukan gol bunuh diri pada Piala Dunia 1994? Ah, nggak juga. Pasar taruhan tak cuma merebak di balik pertandingan sepakbola maupun pertandingan lain-lain. Perlombaan juga mampu menggairahkan judi. Lomba-lomba tarik suara, apalagi yang pemenangnya ditentukan SMS masyarakat, juga mampu menjadi ajang judi. 

Ketika judi resmi kita tutup secara munafik, pasar taruhan gelap muncul di mana-mana. Siapa pemenang Pemilukada juga bisa jadi kancah judi, kok. Apalagi, ketika pasaran kerja semakin melorot. Banyak orang bengong. Seorang teman, sambil melamun, tiba-tiba mengajak temannya meludah barengan. Ia lantas bertaruh, siapa yang ludahnya paling cepat dihinggapi lalat, dia yang menang. Intinya, apa pun dapat diperjudikan. Tak cuma sepak bola. Bisa jadi nanti orang-orang memperjudikan apakah Ahmad Dani-Maia serta Anang-KD kembali rujuk.

Saya kadang-kadang mikir, mungkinkah massa sepakbola jadi kayak gini karena pada dasarnya manusia senang pada ketidakpastian? Beda dibanding bulutangkis dalam Piala Thomas kemarin misalnya. Dalam sepakbola termasuk di Afrika Selatan kali ini, tanpa perpanjangan dan adu penalti, skor bisa 0-0. Dalam tenis maupun bulu tangkis, se-Steffi Graf atau se-Rudi Hartono atau siapa pun pemainnya pasti bola maupun shuttlecock itu akan jatuh tak sampai hitungan puluhan menit. Dalam sepakbola, skor bisa tetap nol-nol dalam dua kali 45 menit. Ini yang bikin deg-degan. Dan, bukankah ini menarik?

Kalaupun nol itu akan pecah juga, kita tetap tidak tahu akan jadi berapa hasil akhir angka. Pada bulutangkis, ketika angka tertentu tercapai, misalnya 15, pertandingan selesai.

Ya, berdebar-debar menunggu ketidakpastian. Bisa jadi, lho, itu penyebab banyak fans Inggris siap tidak makan sepekan demi tim nasional mereka, Tiga Singa, atau fans Italia yang siap kehilangan pekerjaan demi tim nasional mereka, Azzuri.

Ah, tapi semua itu, kan, cuma pikiran-pikiran iseng saya. Kenapa sepakbola digandrungi demikian banyak orang, sebaiknya kita juga tanya ke Yuli Sumpil, Aremania, yang nekad datang dan hidup di Jakarta hanya bermodal jualan kaus fans demi tim yang didukungnya. Kita bisa tanya juga ke Ayu Betik yang sampai menamai anaknya Jayalah Persibku. Kalau sempet ke Korea sih kita bisa sekalian tanya, kenapa mereka sampai rela kehilangan pacar dan istri demi tim nasional yang mereka dukung?

Liburan di Rumah Sendiri

May, 13th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Inti wisata, termasuk wisata buat anak-anak yang sekarang lagi liburan, saya kira adalah ketidakbiasaan.

img

Eiffel mengherankan? Cobalah sampeyan berumah di menara itu. Saban hari bangun tidur, tidur lagi-lagi ya di menara di Paris itu. Bertahun-tahun. Pasti sampeyan yang ganti heran, mengapa jutaan manusia sampai mau-maunya datang berduyun-duyun ke menara itu?

Inti wisata, termasuk wisata buat anak-anak yang sekarang lagi liburan, saya kira adalah ketidakbiasaan. Apa pun, sepanjang belum pernah sampeyan lakukan atau alami, mungkin itulah wisata. Bagi pengrajin keramik dan kain sutra, membuat keramik dan kain sutra sama sekali bukan wisata. Lain halnya bagi anak-anak yang belum pernah belepotan tanah lempung maupun melihat ulat, apalagi ulat sutra. Pemain wayang orang dan ketoprak Bharata di Jakarta mungkin sudah bosan pada kesenian tradisional mereka. Jenuh dan nyaris putus asa. Mereka malah berharap anak-anak mereka kelak jadi pegawai pajak. Syukur kalau sampai jadi puncak atasan Gayus, yaitu menteri keuangan. 

Tapi, banyak kaum eksekutif yang kini melakukan wisata dengan main wayang orang atau ketoprak. Mereka beragam profesi. Ada yang direktur maupun komisaris perusahaan swasta dan BUMN. Bahkan, banyak pula birokrat macam gubernur sampai ketua Mahkamah Konstitusi.

Bocah-bocah di dekat kawasan Taman Reptil dan Insect Park Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, kalau diajak ke taman itu pasti merasa tidak sedang bertamasya. Lain halnya kalau mereka kita giring ke mal-mal di Jakarta.

Saya kira semua ituakan bisa menjelaskan, mengapa kita tidak usah heran kok akhirnya Anang dan Krisdayanti pisahan. Kita tak usah heran, kurang cantik bagaimana KD, kok Anang pergi ke lain pangkuan. Sebaliknya, kurang berbakat bagaimana Anang, kok akhirnya KD pergi ke lain hati. 

Hampir setiap orang ingin berwisata. Tepatnya, nyaris semua orang ingin pergi dari suatu rutinitas. Bahkan kasarnya, jika di kampungnya sendiri ada nabi, kemungkinan besar orang itu akan mendatangi nabi dari kampung lain. Bukankah ada pepatah bahwa seorang nabi tidak terkenal di kampungnya sendiri? Kedekatan, kebiasaan, dan rutinitas membuat setiap orang tak merasa ada yang istimewa di tempatnya sendiri.

Di balik kacamata hitam dan keangkeran karena dibayar, sesungguhnya bodyguard artis heran kenapa masyarakat berjubel dan berdesakan ingin salaman, berfoto bersama, dan minta tanda tangan pada artis yang dikawalnya, yaitu orang yang sudah sehari-hari berada di dekat bodyguard itu? Apa istimewanya? "Selalu ada yang istimewa. Lihatlah dengan awas dan teliti orang-orang maupun tempat-tempat di sekitarmu sendiri, maka akan kau temukan keunikan itu," mungkin begitu kata Ronny Poluan, penggagas wisata di kampung-kampung miskin di Jakarta. 

Pada libur kali ini, anak-anak gedongan Jakarta yang mungkin sudah bosan dengan kemewahan, baik juga mengikuti program Jakarta Hidden Tour-nya Ronny. Tanpa harus keluar Jakarta, siapa tahu mereka akan bisa merasakan apa itu kemiskinan dan apa itu keramahtamahan penduduk miskin di Kampung Luar Batang dekat Pasar Ikan, pinggiran rel-rel kereta api di Senen, Kampung Bandang dekat Kota Toea, Kampung Pulo di pinggiran Ciliwung, dan lain-lain. Mungkin anak-anak akan happy berjalan membungkuk-bungkuk di antara jemuran baju dan celana dalam di permukiman kumuh. Sungguh masih banyak yang menarik di dekat-dekat kita sendiri sebagai tempat wisata, tak harus ke Taj Mahal atau Sydney Harbour.

 

« previous 1 2 3 next »