Frankly Speaking

Lihat Kotaku Penuh dengan Pohon…

April, 26th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Dulu, saya menyangka bahwa yang perlu kita dekati adalah kawan-kawan kita. Ternyata, yang jauh lebih perlu kita jalin dan dekati justru musuh-musuh kita.

img

Inilah salah satu daya tarik hidup. Di atas tanah ini, ndak semua berlangsung seperti yang kita kira. Kejutan akan selalu nongol seperti kabar-kabar tentang Pak Susno Duadji. Ketika seorang perempuan menolak dicium lelaki, ternyata itu tak selalu berarti bahwa hati perempuannya ndak berdesir. Kejutan bisa terjadi. Ternyata, di belakang hari, malah perempuannya yang termehek-mehek untuk mencium. 

Selanjutnya, saya pengin langsung ngomong soal lingkungan. Soal apa saja misalnya yang layak kita tanam di rumah-rumah kita, maupun di ruang-ruang publik di perkotaan. Tapi, biarlah, saya akan menyelanya lagi dengan obrolan, bahwa di atas tanah tempat tanaman-tanaman itu tumbuh, ndak semua berlangsung seperti yang kita sangka. Kita menerka kalau ikan asin yang kita beli terlalu asin, rendamlah lebih dahulu di air tawar. Ternyata, nenek moyang kita mengajarkan, justru rendamlah ikan asin itu di air garam. Garam dalam ikan akan terserap ke dalam air garam. Baru setelah SMU, kita dituturi oleh guru-guru kimia bahwa itulah prinsip osmose kalau tidak salah. Intinya, larutan yang lebih pekat akan menyerap kandungan-kandungan tertentu dari fluida yang lebih cair. 

Senada dengan itu, setelah kuliah, kita pun dikasih tahu via ilmu lingkungan, bahwa ternyata lingkungan yang lebih mapan dan kompak akan menyerap lingkungan yang belum stabil. Prinsip ini kemudian berlaku di banyak bidang termasuk ekonomi. Ternyata, dalam kerja sama negara kaya dan negara miskin, atau orang kaya dan miskin, yang selalu diuntungkan pasti negara atau orang kaya. 

Lihatlah salah satu keberatan kaum yang anti-tembakau. Mereka bilang, benar tembakau menghidupi ribuan mungkin jutaan petani tembakau. Tapi, sebenarnya yang jutaan itu hanya memperkaya segelintir pengusaha tembakau. Dalam bidang tembakau, petani atau kaum miskin justru menyumbang jauh lebih banyak kepada segelintir pengusaha kaya daripada sebaliknya. 

Dulu, saya menyangka bahwa yang perlu kita dekati adalah kawan-kawan kita. Ternyata, yang jauh lebih perlu kita jalin dan dekati justru musuh-musuh kita. Dulu, saya menyangka bahwa yang berbahaya adalah solar dan mesin diesel. Baunya ndak enak. Warnanya juga hitam. Ternyata, menurut yang ahli, premium dan pertamax lebih berbahaya karena kita ndak sempat mengendus baunya dan ndak sempat melihat warnanya sekeluar dari knalpot mobil tahu-tahu udah masuk ke paru-paru kita. 

Sekarang kita diminta, selain membayar pajak, juga menghijaukan lingkungan. Tujuannya agar polutan seperti karbon dan timah di udara terserap. Bersamaan itu, agar oksigen terus terproduksi. Ternyata, tidak setiap pohon dapat kita tanam. Salah-salah malah karbon dan polutan tidak terserap. Oksigen pun tidak dihasilkan secara signifikan. Hanya pohon-pohon tertentu yang bisa melakukan kedua fungsi tersebut, sekaligus bisa mempertahankan kandungan air tanah. Dari tradisi, kita tahu itulah pohon sukun, trembesi, dan mahoni. Teman-teman yang ahli dari dunia ilmiah menambahkan, antara lain pohon angsana, akasia, damar, mangga, meranti, tanjung, dan kenari. 

Penghijauan penting. Tapi, itu tadi. Dunia tak senantiasa berlangsung seperti yang kita kira semata-mata. Maksud hati menghijaukan lingkungan. Tanpa bertanya pada ahlinya, salah-salah pohon yang kita tanam malah jadi bumerang dan tak menyejukkan dunia.

 

Rokok, Obat Tidur, Suplemen

April, 8th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Ajakan mencuci tangan pakai sabun sudah tentu lahir dari kepentingan bisnis tertentu

img

Gaya hidup sehat? Apa itu seperti yang ditunjukkan iklan-iklan, ya? Mulai dari sandal jepit sampai makanan dan minuman, suplemen, bahkan alat-alat olahraga? Beberapa suami bilang, untuk hidup sehat sih nggak usah gonta-ganti susu. Susu tetap yang itu-itu saja. Yang penting suplemennya harus ganti-ganti. Beberapa istri yang selalu stres menghadapi suaminya juga bilang, agar sehat, sering-seringlah beli obat tidur. "Lho, saya tuh tidak biasa minum obat tidur," kata salah satu istri. Temannya sesama perempuan bilang, "Justru obat tidur itu buat suamimu." Pendeknya, macam-macam cara dan saran untuk hidup sehat. 

Ada dokter yang sangat anti-rokok. Saking antinya, bahkan ketika nanya pasien apakah pasien itu merokok dan pasiennya mengiyakan, dokter itu langsung nyuruh pasiennya pergi. Orang medis ini bahkan tak mau basa-basi memeriksa. Tapi, ada juga dialog pasien-dokter yang seperti ini pas pasien terima resep dan akan pamit.

"Ehm, Dok, saya tuh perokok. Apakah dalam pengobatan ini masih boleh merokok?"

"Silakan…"

Pertimbangan dokter, ketimbang pasiennya tambah sakit gara-gara stres tidak merokok. Sekali lagi, pendeknya, macam-macam cara dan saran untuk hidup sehat.

Tapi, kalau kita tidak hati-hati, kehendak hidup sehat bisa dipakai oleh orang-orang tertentu untuk bisnis semata-mata. Ajakan mencuci tangan pakai sabun sudah tentu lahir dari kepentingan bisnis tertentu. Bisa dibayangkan bakal seperti apa bumi kalau setiap saat dicemari air sabun. Padahal, sebenarnya, seperti dikatakan teman-teman pencinta lingkungan dari lereng Gunung Arjuna, mestinya cucilah tangan pakai sirih. Waktu saya tinggal di sana, ya, cuci tangan pakai air sirih. 

Teman saya ahli mikrobiologi di Bandung bilang, bakteri itu berbicara satu sama lain dan ada quorum-nya juga untuk mengakibatkan penyakit atau bukan bagi lingkungan. Mereka bermusyawarah seperti di parlemen. Nah, katanya, kemudian ditemukan bahwa sirih mengandung zat-zat yang bisa menghambat lobi-lobi antar-bakteri untuk membuat keputusan mengakibatkan penyakit. Tapi orang-orang sirih, apalagi belum ada organisasinya, pasti susah untuk beriklan di media massa. Uang dari mana mereka untuk setiap hari pasang iklan mencekoki pikiran kita agar mencuci tangan pakai sirih?

Ya, curiga boleh-boleh saja, termasuk curiga pada pabrik sabun. Tapi, kecurigaan yang tanpa batas juga nggak bagus. Di hotel, misalnya. Kan, sering ada peringatan agar handuk bekas kalau belum benar-benar kotor pakailah lagi. Jangan ditaruh di tempat cucian demi mengurangi pencemaran lingkungan. Kalau kita selalu berpikiran negatif, pasti langsung menuding pihak hotel malas dan pelit keluar uang untuk setiap hari mencuci handuk. 

Oh ya, termasuk ancaman besar dalam hidup sehat adalah banyaknya penduduk. Di tempat-tempat lain yang jarang penduduknya, seperti di kota-kota di Australia, pembantu rumah tangga susah didapat. Bahkan, supir. Pekerjaan-pekerjaan fisik yang menuntut gerakan otot dan persendian mau tidak mau harus dikerjakan sendiri. Bahkan, oleh orang-orang kaya.

Teman-teman saya banyak yang supirnya saja tiga orang. Belum pembantu rumah tangganya. Akibatnya, teman-teman itu kurang gerak. Padahal, kata orang bijak, jika setiap hari kita berjalan kaki mondar-mandir ambil sepatu, ambil dan mengembalikan piring bekas makan, dan lain-lain, persendian kita akan bergerak minimal seribu kali sehari. Dan, itu menyehatkan.

 

Remaja dan Film Nasional

March, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Film-film bule yang laris-laris itu, kok, nggak selalu soal remaja, ya?

img

Film-film bule yang laris-laris itu, kok, nggak selalu soal remaja, ya? Malah kebanyakan temanya adalah tema-tema orang dewasa. Bintang-bintangnya juga begitu. Usia mereka tidak remaja lagi. Coba saja sebut bintang-bintang pada masanya, seperti Sharon Stone, Julia Roberts, Tom Cruise, Kevin Costner, dan Nicole Kidman. Mereka pada masa-masa puncaknya bukanlah remaja lagi.

Film-film Bond, baik yang dibintangi Sean Connery, Roger Moore, Pierce Brosnan, dan Daniel Craig, jelas tidak dibintangi remaja-remaja macam Nicholas Saputra pada masa-masa puncaknya. Film-film Bond yang juga digandrungi remaja di Tanah Air itu dibintangi orang-orang dewasa. Problem pembuatan film di Indonesia adalah begitu banyak tema dewasa yang bisa digali dari Indonesia. Tapi, fakta menunjukkan bahwa pengunjung bioskop adalah remaja. Bahkan, mahasiswa bukanlah pengunjung potensial bioskop.

Judul-judul macam Get Married dan Kambing Jantan, untuk sekadar menyebut dua di antara banyaknya film tentang remaja, menunjukkan betapa besarnya potensi anak-anak belasan tahun untuk mengunjungi teater. Kalau sudah begini, kita tidak punya pilihan. Salah satu tema dewasa yang juga berpotensi digemari kaum remaja adalah horor. Maka, kebangkitan film Indonesia—setelah Festival Film Indonesia berakhir pada 1992—ditandai dengan merebaknya film-film horor sejak 2002. Cikal bakalnya sudah ada pada era ‘70-an dengan bintangnya, antara lain Suzanna.

Setelah kebangkitan awal 2000-an itu, puncaknya terjadi pada 2008 dengan produksi lebih dari 80 judul. Memang ada keanehan. Orang-orang dewasa di atas usia 25 tahun bisa membaca diskusi film nasional, membaca berita tentang film nasional, kasih usul ini-itu pada perfilman nasional melalui media massa, tapi mereka tidak datang ke bioskop.

Saya ingat, ketika Rano Karno membintangi Gita Cinta dari SMA bersama Yessy Gusman. Aktor yang kini jadi wakil bupati Tangerang itu memang remaja. Bioskop banyak dikunjungi remaja. Tapi, pada periode itu misalnya, juga ngetop film yang dibintangi Roy Marten, bintang yang sudah tidak remaja lagi. Roy misalnya waktu itu membintangi Cintaku di Kampus Biru, film yang bercerita tentang kehidupan asmara kampus Gajah Mada. Film ini ditonton oleh kalangan mahasiswa dan dewasa.

Mengapa dulu film nasional bukan hanya dimiliki penonton remaja? Waduh, dekat-dekat hari perfilman nasional 30 Maret ini saya paling hanya bisa kasih beberapa kemungkinan. Pertama, tahun 70-an itu lalu lintas belum semacet sekarang. Orang dewasa lebih cepat lelah dibanding remaja. Orang dewasa akan malas bersusah-susah datang ke gedung bioskop kalau harus melalui ritual kemacetan. Kedua, pada era ‘70-an belum marak versi VCD maupun DVD film layar lebar. Apalagi, rumah-rumah tangga yang memiliki home theater, yang sudah bisa nyetel DVD laiknya bioskop, lebih suka nonton di rumah. Apakah remaja nggak lebih baik nonton DVD di rumah? Agak lain, remaja masih ingin ketemu teman, cari pacar, calon istri atau suami. Itu semua ada di sektor publik. Tak heran remaja masih nonton di bioskop.

Tapi, kenapa remaja juga nonton tema-tema dewasa kalau itu diproduksi Hollywood? Ah, kalau itu mah nggak usah dijawab. Bangsa kuli di mana pun akan suka apa pun yang dibuat bule.

 

Masih Nggosip Berarti Masih Peduli

March, 15th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Dunia maya yang juga kerap dipakai Luna, bahkan pernah membuat kekasih Ariel itu repot menghadapi koalisi infotainment.

img

Kearifan lokal yang menyebut bahwa seluruh omongan kita terekam di alam fana, tidak lenyap begitu saja. Sebagian terbukti setelah muncul zaman Facebook, Twitter, dan lain-lain di dunia Luna Maya. 

Maksud saya, dunia maya yang juga kerap dipakai Luna, bahkan pernah membuat kekasih Ariel itu repot menghadapi koalisi infotainment. Ya, seluruh omongan kita tercatat. Sama dengan zaman Koes Plus, ABBA, dan Beatles; masa rambut gondrong belah pinggir dan celana gombrang dengan sisir di saku. Bedanya, pada era Bob Dylan dan kawan-kawan omongan kita ditranskrip alam. Pada dekade Syaiful Jamil ini, tutur kata kita di-record oleh sistem informasi dan transaksi elektronik.

Pada waktu jaya-jayanya pelawak S. Bagio dan Srimulat itu tidak ada hukum positif bagi gunjingan yang kita lakukan. Paling-paling hanya hukum karma. Konon, semakin kita menggunjing orang, semakin bertambahlah rezeki orang yang kita gunjingkan. Ngrasani, nggosip, dan sejenisnya, secara kebalikan dinilai sebagai doa baik buat obyek yang dirasani, sekaligus mengurangi rezeki pihak penggosip.

Makanya, sebagian teman saya yang masih percaya pada hukum karma mesam-mesem saja kalau digosipin. Tapi, berharap digosipin juga tidak, karena tambahan rezeki hanya berlaku bagi yang dirasani tanpa berharap dirasani. Ndak bisa Julia Perez misalnya bilang, "Please gosipin aku dong, biar rezekiku nambah, nih."

Sekarang, sudah ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan hukum positif berupa denda dan kurungan. Selain Luna Maya, ada banyak orang lain yang sudah terserempet pasal-pasal di dalamnya, khususnya tentang pencemaran nama baik. Sebut di antaranya Mieke Amalia, Prita, dan Mario Teguh.

Teman saya, Bambang Harimurti, wartawan senior, bilang UU ITE sudah bertentangan dengan undang-undang tentang pers menyangkut kebebasan berekspresi. Juga, lebih kejam dibanding undang-undang zaman kolonial. Sekarang, ngrasani orang bisa sampai empat tahun lebih kurungannya. Bahkan, ada yang dendanya sampai Rp1 miliar. Mas Bambang mengusulkan agar kasus pencemaran nama baik menggunakan undang-undang pers saja, yakni yang dicemarkan cukup diberi ruang dan waktu untuk menggunakan hak jawabnya. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia termasuk yang berkeberatan terhadap ancaman-ancaman hukuman pencemaran nama dalam UU ITE. 

Tapi, ngomong-ngomong, kenapa sih manusia harus bergunjing? Waktu masih kuliah pada ‘80-an, pas tahun baru, saya pernah usul ke kawan-kawan serumah kontrakan, gimana kalau kita berjanji selewat pukul 00.00 nanti kita nggak akan bergunjing lagi? Waktu itu, entah kesurupan apa, saya menilai bergunjing hanya upaya kita mengukuhkan kekuatan diri. Dengan bergunjing, kita merasa masih lebih baik daripada orang lain. Tapi, apakah kekuatan diri hanya dapat kita rasakan setelah kita tahu bahwa orang-orang lain ternyata lemah? Bagaimana kalau kita akui kekuatan orang di satu bidang, dan kita punya kekuatan juga di bidang lain? Tawaran saya jadi mentah. Teman asal Banyuwangi yang SMA-nya di Malang memberi jawaban menarik. "Kalau sudah nggak ngrasani orang, berarti kita sudah nggak peduli lagi sama orang," tegasnya. Wah, hehe, bener juga, ya.

 

Antara Make Money dan Make Love

February, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Ah, andai sejak dulu nenek-moyang kita mengajarkan

img

Ada tembang dolanan tradisional di Jawa: Pak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko duwit. Itu sindiran. Kata para leluhur, orang mati tak bergerak. Dikit aja bergerak akan bikin takut bocah-bocah. Mungkin sama menakutkannya dengan hantu keramas dan suster ngesot. Tapi, kalau emang hidup, mondar-mandirlah. Jangan diem aja. Carilah duit. Ayooo, jangan bergeming.

Oh ya, soal bergeming. Ini terjadi salah kaprah. Banyak yang nyangka bergeming itu bergerak. Padahal, yang bener, bergeming justru diam mematung. Kalau salah seorang pacar diam saja bagai arca menanggapi permohonan maaf sampeyan yang sudah menyakitinya sampai ke tingkat paling dasar, jangan lagi sebut pacar itu tidak bergeming. Sesungguhnya, kekasih sampeyan itu bergeming.  

Kembali ke soal duit. Orang-orang hidup yang sudah tidak mencari duit, menurut para leluhur, sejatinya sudah jadi jenazah. Mereka sudah mati sakjroning urip alias meninggal dalam keadaan hidup-hidup. Salah satu ajaran dalam warisan budaya Nusantara ini menurut saya menarik. Tapi, saya agak kurang sreg dengan istilah 'mencari duit' alias 'golekduwit'. Gimana, ya. Kata 'mencari' itu, lho, yang bikin saya nggak cocok. Seolah-olah, duit itu ada di luar kita dan kita berusaha mendapatkannya. Sama halnya mencari hiburan atau mencari panas.

Kalau kita penggemar Rhoma Irama, seperti lagu-lagunya, untuk mendapatkan hiburan kita akan mencarinya ke Bina Ria atau Taman Ria. Terajanaaaa, terajanaaaa…Kalau mencari panas, kita akan pergi ke tempat-tempat ada sinar mentari.

Lain rasanya kalau kita membuat hiburan atau membuat panas. Kita akan membangkitkan potensi dalam diri sendiri. Kita bikin perasaan hepi sehingga terhibur. Kita bikin badan kita panas dengan lari-lari kecil atau apalah. Maka, saya lebih cocok dengan istilah 'make money'. Potensi-potensi dalam diri kita, entah itu bakat entah itu keahlian, kita bangkitkan, kita kerahkan, dan kita olah sehingga menghasilkan uang. Itu arti positifnya. Arti negatif 'make money' ya bikin duit palsu. Tapi, mari kita berangkat dari hal positif. 

Sergey Brin dan Larry Page, kedua anak kelahiran Rusia yang bikin Google, adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah Mark Zuckerberg dan Eva William yang bikin Facebook dan Twitter. Atau anak Turki, Mike Lazaridis, yang bikin Blackberry.

Kalau mereka sekadar mencari uang dan bukan membuat uang sudah pasti yang mereka kerjakan adalah hal-hal yang lumrah dikerjakan banyak orang lain. Bukan atas dasar bakat dan kemampuannya sendiri yang khas dan unik. Itulah prinsip bekerja. 

Masih soal prinsip bekerja, lebih parah dari istilah 'golek duit' alias mencari duit adalah 'nyambut gawe' yang juga populer di Jawa. Mencari duit masih punya konotasi keaktifan. 'Nyambut gawe' lebih pasif. Ada gawe atau kerjaan lebih dahulu, baru kita sambut. Yang sudah tepat dalam tradisi kita, setidaknya tradisi Jawa, adalah 'mbangun asmoro' untuk 'make love'. 'Mbangun asmoro' kurang lebih berarti membangun atau membuat cinta. Ah, andai sejak dulu nenek-moyang kita mengajarkan 'wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip make money please', dunia wirausaha akan pesat di Tanah Air.

 

Valentine di Tempat Cuma Kita

February, 12th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 1

Kalau negara akan menghukum seseorang, siapapun, dasarnya jangan dendam. Dasarnya kasih sayang

img

 

Inti segala sesuatu, tuh, kasih sayang. Herannya, bentuk hati dan panah menancap sebagai lambang Valentine tak pernah jadi simbol negara. Lihat saja yang belum lama ini diributkan, yang konon dicontek perancang Giorgio Armani. Itu, lho, lambang Garuda. Bukan lambang hati dan panah yang dijadikan logo negara. Saya kira selain Indonesia, tak ada juga negara lain yang simbolnya Valentine. Padahal, apa pun yang akan jadi polah tingkah negara harus didasari kasih sayang. Kalau negara akan menghukum seseorang, siapa pun, kata Pak Menteri soal hukum Patrialis Akbar, dasarnya jangan dendam, tapi pendidikan. Dengan kata lain, dasarnya kasih sayang.  

Tak ada kasih sayang, jadilah seperti kisah perempuan di Banyumas yang dihukum karena mencuri tiga biji coklat. Di Situbondo, seorang lelaki dihukum karena mencuri lima batang pohon jagung buat sapinya. Seorang anak di bawah umur di Surabaya stres karena harus disidang. Ia duduk di kursi terdakwa karena kenakalannya menyengatkan lebah pada temannya sesama bocah. 

Itu hukum yang tak dipraktikkan atas dasar kasih sayang. Mestinya kasus pencurian coklat dan jagung cukup dirampungkan dengan cara musyawarah, tanpa acara di pengadilan. Mestinya baik polisi maupun hakim yang menangani bocah 'penyengat lebah' tidak pakai seragam polisi dan toga. Agar rileks. Agar kekeluargaan. Agar anak-anak tidak ketakutan. 

Ya, dasar penyelenggaraan negara haruslah kasih sayang. Dalam segala hal. Jika listrik PLN dimati-matikan, dasarnya juga kasih sayang. Kasih sayang, agar para warga hidupnya tidak lagi ditawan oleh televisi, internet, dan perlengkapan elektronik lainnya. Agar suami-istri kembali saling berpadu kasih mengisi kegelapan.

Jika fasilitas mobil menteri dikinclongkan, dasarnya bukan mau jor-joran kemewahan. Jangan. Dasarnya haruslah kasih sayang pada menteri. Nah, mobil Toyota Royal Saloon itu dilengkapi detektor kengantukan sopir. Melalui peralatan pengamat retina mata, kalau supir mengantuk, mobil akan memberi peringatan. Coba, betapa amannya mobil menteri. Betapa sayangnya kita pada sang ATM keluarga dan partai itu.

Partai-partai ormas baru Nasional Demokrat yang diprakarsai Sri Sultan HB X dan Surya Paloh, logonya juga bukan kasih sayang. 

Ini karena negara, partai, dan ormas tidak diselenggarakan atas dasar kasih sayang. Atau, justru karena mereka paham? Paham bahwa sesungguhnyalah 14 Februari adalah hari matinya kasih sayang. Bahwa hati berwarna pink yang dipanah oleh Cupid justru melambangkan dibunuhnya hati nurani. 

Alkisah, konon, pada masa Kaisar Claudius II, ada pendeta Romawi bernama Valentinus yang dihukum mati karena menikahkan sejoli muda-mudi. Padahal, menurut aturan kaisar, pernikahan justru memperlemah spirit juang warga negara sebagai prajurit sejati. 

"Lho, justru kami ingin mengenang keindahan cinta kasih dua muda-mudi itu, kok. Kami bukan mengenang kesadisan hukuman mati sang santo," mungkin begitu kata segenap pembela hari Valentine. Mana yang betul dalam perdebatan ini?

Ini saran saya. Daripada ikut-ikutan debat tak ada ujung (nanti dikira orang-orang Pansus Century), mending kita cari tempat-tempat khusus yang belum diketahui banyak orang. Kita rayakan Valentine di situ dengan Speak Softly Love Andy Willimas, "We're in a world, our very own. Sharing a love that only few have ever known."

 

« previous 1 2 3 next »