Maju Terus!
October, 4th 2011 | by Aldo | 0
Kata ilegal sudah tidak dihiraukan lagi karena di lain sisi ada big market demand. Musisi juga rutin mencari inspirasi dan referensi audio dengan menjadi pelanggan setia lapak. Harga murah yang menjad
Tidak terasa kita sudah di kwartal terakhir tahun 2011 dan saya merasa lega karena musisi kembali aktif. Namun, jagad bisnis musik masih menyimpan berlapis keresahan usik atas masa depan karir. Kondisi penjualan fisik album sama sekali tidak bisa diprediksi akan melebihi posisi BEP (Break Even Point) sebesar lima kali lipat seperti 20 tahun silam. Sebelumnya, album yang penjualannya sedang-sedang saja masih memiliki peluang bilamana promotion budget ditambah dan promotional activity diperluas ke beberapa medium market yang belum tersentuh.
Saat ini bisnis musik tidak semudah seperti membaca dan membalik tabloid. Ekonomi Indonesia yang memburuk, menggeser perilaku consumer spending kepada album fisik yang dikuasai oleh format cakram padat. Adanya internet menjadi alternatif medium mengunduh musik tanpa harus mengeluarkan banyak uang dan beresiko besar bilamana tidak sesuai dengan selera kuping. Begitu juga dengan lapak bajakan yang tersebar di manapun mulai dari kawasan bergengsi seperti Kemang, Tebet, Menteng sampai di Mal Besar di sebagian kota besar Indonesia. Ironisnya, lokasi lapak ini berhadapan dengan retail musik berlisensi.
Kata ilegal sudah tidak dihiraukan lagi karena di lain sisi ada big market demand. Musisi juga rutin mencari inspirasi dan referensi audio dengan menjadi pelanggan setia lapak. Harga murah yang menjadi kelebihan utama lapak yaitu didukung oleh beragam judul album yang tidak dirilis oleh distributor dan importir di Indonesia. Sama seperti retail resmi, lapak juga menjual back catalog. Meski dikompres dalam format MP3, produk ini laris manis. Dunia memang sedang berubah, bahkan sebagian musisi mengamini hal ini sebagai alat promosi gratis bagi nama dan profil mereka.
Sebagai pelaku yang menjalani proses serius mencipta dan merekam, kondisi ini melemahkan dan menggetirkan. Realita internet dan lapak bajakan, musisi tidak punya kepastian mendapatkan pemasukan segar lagi dari fungsi distribusi yang dulu menguasai tombol kerjasama dua arah. Namun bagi sebagian besar yang merasa beruntung menggunakan kebebasan ini sama sekali tidak mau disalahkan dan dibatasi ruang geraknya. Intinya, mereka hanya suka kepada audio saja dan sama sekali tidak peduli atas kerja keras musisi dan hak atas kekayaan intelektual.
Mata rantai penghargaan antar manusia terhenti dalam hal ini dan sulit sekali untuk merekatkannya kembali. Beruntung live performance musisi masih dihargai dengan penjualan tiket atau kerja sama sponsor. Namun tidak ada indikator yang membuat musisi merasa nyaman. Saya selalu percaya kalimat “It’s All About The Music” berbicara pada musik. Namun situasi ekonomi tidak bisa mendukung kalimat ini. Dunia dagang tetaplah dunia dagang yang dipenuhi oleh spekulan yang berorientasi kepada regular margin. Menurut saya, kisah sedih ini tidak akan punya ‘happy ending' secara merata untuk semua musisi.
Bagi para musisi yang telah menikah dan harus menjadi bread winner untuk keluarga, masa ini teramat sulit untuk mendapatkan jalan pintas meraih income dan cash flow dalam jumlah besar. Sementara di sisi yang berbeda, realita kehidupan tidak bisa menunggu tanpa ada keuangan stabil yang menunjang perekonomian keluarga. Musisi pun memerlukan fokus yang serius dan memakan waktu dan jam terbang yang lama untuk bisa memiliki kemampuan yang baik dalam berbagai macam hal teknikal. Tidak semuanya juga percaya diri bisa melakukan hal lain di jagad entertainment seperti bermusik sekaligus menjadi Master of Ceremony, Announcer.
Semua lini membutuhkan keseriusan yang tidak menimbulkan konflik waktu dan komitmen. Tidak semua orang juga lahir dengan talenta yang sama satu sama lain. Namun saya yakin bahwa selama musisi berusaha dan memiliki harapan maka tanpa disadari komposisi ciptaan akan mengantarkan revenue streams dalam varian berbeda. Sekarang bukan waktu yang nyaman untuk mengulas dan merinci seperti apa “Masa Depan Musisi”. Kalimat ini begitu mengganggu dan menyiksa benak musisi dan orang-orang yang berempati penuh dengan musisi seperti saya ini. Sekarang adalah waktunya untuk mengubah sedikit demi sedikit atas paradigma penghargaan kita terhadap musisi. We love you musicians!

0 Comments
Be the first to comment.