BARA'S POTS AND PANS

Cibodas Nita

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 1

Syuting belum dimulai, tapi emosi saya sudah naik-turun seperti jet-coaster Dufan.

img

Banyak tulisan saya untuk area menceritakan hal-hal yang terjadi saat syuting acara masak yang saya pandu. Cerita kali ini tidak berbeda. Melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu banyak orang memang membuat hidup saya penuh cerita. Salah satunya adalah kejadian sebelum saya menulis untuk kolom Bara's Pots & Pans ini. Ceritanya begitu menyentuh sampai saya terharu. Begini ceritanya.

Kegiatan persiapan episode kali ini berjalan seperti biasanya. Kru tiba di lokasi (Kebun Raya Cibodas di kawasan Puncak) dan langsung set-up peralatan, seperti lampu, kamera, sound, dan butterfly, yaitu payung raksasa yang ditempatkan di atas saya. Tidak ketinggalan, 'dapur' bongkar-pasang berupa meja dengan segala pernak-pernik masak, seperti kompor, oven, panci, piring saji, dan beragam bumbu.

Untuk episode kali ini, di segmen terakhir, saya akan ditemani seorang pemenang kontes lomba masak yang disponsori sebuah perusahan makanan. Sambil menunggu semua siap, saya diperkenalkan dengan si mbak yang jadi salah satu pemenang; jumlah pemenang ada tiga orang. Sebut saja ia Mbak Nita (saya merasa lebih baik untuk tidak mengutarakan nama aslinya di sini), berasal dari sebuah kota di Jawa Timur. So, untuk mencairkan suasana dan agar Mbak Nita juga bisa akrab dengan saya, mulailah kami ngobrol sedikit tentang ini-itu.

Saat menunggu, si mbak memang terlihat agak grogi dan senewen. Wajarlah, mengingat ini baru pertama kalinya ia berada di depan kamera. Anyway, saya bertanya tentang keikutsertaannya di lomba masak ini dan tentang kegiatannya di dunia masak. Mbak Nita bilang, ia sangat mencintai dunia masak, tapi ayahnya tidak pernah setuju. Saat SMA, ia mengambil sekolah kejuruan perhotelan. Tapi, sewaktu akan naik kelas 3, Mbak Nita terpaksa harus berhenti sekolah karena ditentang sang ayah, yang juga menghentikan pembiayaan uang pendidikannya. Sewaktu saya tanya alasan sang ayah, Mbak Nita bilang, “Kata ayah, pekerjaan memasak itu tidak terpandang dan sama saja seperti pekerjaan pembantu.” Saya ternganga, terbelalak, dan jadi bisu mendengar hal itu. Otak saya bagai tersuntik kaget, bingung, dan heran dalam dosis tinggi. Oh my God, ternyata, sembilan tahun melewati millenium, masih ada juga orang yang berpendapat demikian.

Untuk tetap bisa membekali diri dengan ilmu dapur, Mbak Nita banyak mengambil berbagai kursus masak dan menonton acara kuliner di televisi. Mbak Nita bercerita lagi, kalau ia pernah bekerja di dua tempat; mal dan pegawai di pet shop. “Di kedua tempat itu, saya dipecat,” katanya.  “Loh, kenapa?” saya bertanya. Dengan bahasa Indonesia yang berlogat Jawa Timur, ia bilang, “Soalnya, setiap Sabtu, saya bolos kerja karena ingin nonton acara Gula Gula.” Saya seolah me-rewind keadaan mental saya yang “ternganga, terbelalak, dan jadi bisu” tadi. Tapi, kali ini, karena menjadi terharu luar biasa. Yang keluar dari mulut saya hanya, “Ya ampun, Mbak, sampai segitunya!”
    
Syuting belum dimulai, tapi emosi saya sudah naik-turun seperti jet-coaster Dufan. Cerita Mbak Nita begitu mengharukan, tapi juga inspiratif di saat yang sama. Ia bercerita bagaimana harus jalan jauh dari rumah untuk memasukkan lembaran lomba masak dalam kotak undian di sebuah mini market. Hasilnya, orang yang hasratnya untuk jadi seorang ahli kuliner pernah ditentang keluarganya, ternyata, jadi pemenang lomba masak ini. Saat kami syuting bareng, saya merasa bahwa Mbak Nita suatu hari nanti akan jadi seorang “tukang masak” yang andal dan sukses. Sebab, ada satu hal yang saya lihat dalam dirinya; passion. Boleh jadi, Mbak Nita grogi dan senewen luar biasa sebelum kamera rolling. Tapi, saat sutradara berteriak “action!”, lalu ia mulai mengaduk bahan dan bumbu makanan sambil menerangkan resep unggulannya, wajahnya begitu cerah, gembira, sumringah, dan sama sekali nggak terlihat nervous. Hebat! Tapi, sampai bolos-bolos dan dipecat? Ya ampun, Mbak Nita!

Sangria

Pada episode bersama Mbak Nita, saya membuat sebuah minuman terkenal yang berasal dari Spanyol ini. Versi aslinya menggunakan red wine yang berkadar alkohol. Versi saya adalah yang halal. Silakan saja kalau mau membuat versi orisinalnya.

Dalam pitcher, masukkan kurang lebih 15 lembar daun mint yang telah diremas sedikit (agar aroma keluar). Lalu, campur dengan 1 botol red wine non-alkohol, 250 ml jus jeruk segar, 125 ml jus lemon segar, 2–3 sdm gula, beberapa irisan jeruk (pilih navel atau valencia), dan beberapa irisan jeruk lemon. Simpan dalam kulkas hingga dingin sekali. Sajikan dalam gelas tinggi dengan es batu. Kalau menggunakan the real red wine, tambahkan 250 ml air soda dan tambahkan gulanya jadi 4–5 sdm (atau sesuai selera).

Bookmark and Share

1 Comments

nita

March, 24th 2010

shallom..
wah ambil nama pemenangnya sama dengan nama saya.
saya juga termasuk penggemar gula2. resepnya mudah untuk ditiru dan diterapkan dalam masakan rumah. tetap smangat ya.. Gbu

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.