BARA'S POTS AND PANS

Den Haag

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Bangunan di sini masih sama seperti dulu. Tapi, ada satu hal yang benar-benar berubah, penduduknya.

img

Kolom Bara's Pots & Pans kali ini ditulis jauh dari Jakarta. Saya baru saja merampungkan serangkaian syuting program masak yang dilakukan di Belanda. Para kru sudah kembali ke Tanah Air. Saya sendiri minta izin produser untuk tidak bergabung pulang dan tinggal lebih lama, sekalian berlibur serta bernostalgia.

Sebagai orang yang pernah tinggal di Den Haag untuk jangka waktu panjang, memori tentang kota ini memang banyak. Saya tiba di Den Haag pada 1976 dan tinggal sampai pertengahan '80-an. Kemudian, saya pindah ke negara Eropa lain. Tapi, tetap saja, karena nenek tinggal di Den Haag, maka kota kecil ini menjadi tujuan saya setiap liburan panjang atau saat hari raya. Gedung dan bangunan di sini rata-rata masih sama seperti dulu. Tapi, ada satu hal yang benar-benar berubah. Penduduknya. Dulu, Den Haag sangat bule sekali. Artinya, warga yang kita lihat banyak yang berambut sangat pirang dan bermata biru.

Saya sempat pergi ke pantai Den Haag yang dinamakan Scheveningen. Kembali ke hotel, saya menggunakan tram yang dipenuhi orang-orang yang baru menikmati pantai. Saya pun tercengang. Hampir 90% penumpang memiliki wajah yang sangat non-caucasian. Artinya, mereka bukan bule. Ada yang bermata sipit oriental, banyak yang memiliki paras Timur Tengah, belum lagi yang negro, dan tentu saja mereka si kulit sawo matang, seperti saya. Walau secara fisik mereka berbeda, tapi ada satu hal yang membuat mereka satu. Mereka semua berkomunikasi dengan bahasa Belanda kental yang istilah lokalnya "ngomong belanda dengan kentang di tenggorokan". Mereka adalah para teenagers yang orangtua mereka dahulu berimigrasi ke Belanda pada era '60 dan '70-an. Saya sempat bertanya kepada seorang anak asal Maroko, apakah dia masih bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab. Sama sekali tidak, jawabnya. Dari kecil, dia masuk sekolah Belanda dan bicara bahasa ini walau dengan teman-teman dari negara sesama.

Perubahan struktur warga Belanda memang luar biasa. Kebijakan pemerintah Belanda dulu memang meringankan warga asing untuk berimigrasi ke sini. Bayangkan, dari 16,4 juta penduduk Belanda sekarang, 3,2 jutanya memiliki darah asing. Dari jumlah yang berarti total 20%, yang terbanyak adalah mereka yang dari Indonesia (tentu saja!) diikuti dengan Jerman, Turki, Suriname, dan Maroko. Sisanya, ada dari Pakistan, India, China, Italia, Brazil, dan beberapa warga dari negara-negara Eropa sendiri, seperti Inggris, Polandia, dan Irlandia. Contohnya, Den Haag. Kota ini menjadi melting pot dari berbagai budaya, seperti New York berskala kecil. Saya sendiri di Den Haag tinggal di sebuah butik hotel di tengah kota. Pemiliknya berdarah Jepang yang juga sudah “belanda banget”. Kalau saya keluar hotel, ada toko kecil Maroko, dan di seberangnya ada toko deli Portugal. Jalan di belokan blok belakang hotel ada surinaams-indonesisch cafe dan antiliaanse restaurant. Yang punya toko 24 jam di samping hotel adalah orang Turki. Tempat cuci baju self-service, pemiliknya orang Pakistan, dan di sampingnya, ada salon yang semua tulisannya dalam bahasa China. Semuanya hidup berdampingan dengan aman, tentram, dan saling menghormati. I love it! Saya jadi teringat beberapa kasus kerusuhan dan keributan di Indonesia yang melibatkan hanya bangsa kita sendiri.

Den Haag yang saya tinggalkan 15 tahun lalu telah berubah. Cukup drastis pula. Saya sempat kaget dengan keadaan sekarang. Tapi, ini semua tidak mengganggu. Penduduknya, yang asli maupun yang memiliki latar belakang asing, umumnya sangat ramah dan bersahabat satu dengan yang lainnya. Fenomena ini sangat menarik karena membuat saya berpikir, kalau mereka saja bisa hidup bersama dengan harmonis, masa kita di Indonesia yang semuanya masih satu rumpun tidak bisa? Pasti bisa, karena semuanya tergantung dari kita sendiri.

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.