BARA'S POTS AND PANS

Makan dan Ngemil = Resah

February, 2nd 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 1

Ada satu hal yang paling dominan saya lakukan, yaitu makan, makan, makan, aadan lebih banyak makan.

img

Saya beberapa waktu lalu sempat resah. Keresahan saya, sebenarnya, tidak terlalu penting. Sebab, tidak menyangkut hidup atau mati. Sepele saja malahan. Begini, saya, kan, sempat mengadakan rangkaian syuting untuk Gula Gula di Belanda. Selesai masak-memasak di depan kamera, selama 10 hari, saya lalu bermaksud mengadakan perjalanan ke beberapa negara Eropa. Selain sedikit napak tilas (saya kebetulan dibesarkan di Eropa), saya juga bermaksud mencari inspirasi dengan mencoba berbagai makanan yang ada. So, karena punya visa schengen (berlaku untuk semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa) yang berlaku 30 hari, saya habiskanlah hari-hari yang masih tersisa. Secara juga, mendapatkan visanya perlu proses dan mahal pula.

Anyway, kembali ke keresahan saya tadi. Jadi, selama sebulan berada di Eropa, ada satu hal yang paling dominan saya lakukan, yaitu makan, makan, makan, dan lebih banyak makan. Selain makan, saya juga ngemil, ngemil, ngemil, dan ngemil. Saya mengulang kata “makan” dan “ngemil” sampai 4 kali tanpa bermaksud lebay. Tapi, untuk benar-benar menekankan betapa banyaknya makanan dan camilan yang masuk dalam perut. Saya kasih contoh, ya. Misalnya, sewaktu berjalan di Den Haag. Dalam selang waktu 3–4 jam, saya bisa makan sup yang bentuknya seperti zupasoup yang diolah dengan jamur dan sandwich gandum isi telur dadar dan irisan smoked beef. Masih ada tambahan, loh, yaitu dessert yang merupakan hal wajib untuk saya. Mau tau apa? Semacam pancake tebal yang dioles selai blueberry kemudian diberi satu scoop es krim.

By the way, ketiga makanan tadi in one go saya santap. Jalan-jalan sebentar, saya kemudian melihat semacam kedai kecil yang menjual aneka kacang-kacangan dan buah-buahan kering. Ada almond, brazilian nuts, pistachio, kacang mede, kacang tanah, walnuts, hazelnut, dan sebagainya, dan sebagainya. Ya, saya tentu berhenti dan membeli yang namanya Deluxe Party Mix. Isinya, campuran kacang di atas diberi bumbu gurih. Seperempat kilo bisa saya habiskan sendiri sambil jalan. Enaknya luar biasa sampai nggak bisa berhenti. Selang beberapa waktu, ada warung yang menjual patat atau kalau kita sebut french fries. Duuh, nggak mungkin dilewatkan begitu saja. Belanda, kan, terkenal dengan patat-nya. Jadi, saya pesanlah satu kantung, lengkap dengan mayones dan irisan bawang bombay.

Itu baru contoh di Den Haag. Sementara, kalau mau didata lengkap, selain ke Den Haag, saya juga ke Amsterdam, Amstelveen, Groningen, Zandaam, Volendaam, dan Rotterdam. Itu baru di Belanda. Kota lainnya di Eropa, ada Brussel, Paris, Stuttgart, Metzingen, Berlin, Koln, Dusseldorf, dan terakhir, Dubai, sebelum balik ke tanah air. Di Brussel pun demikian. Keluar dari hotel, langsung ada toko coklat Leonidas di depan hidung saya. Belilah sekantung pralines dan bablaslah dalam sekejap. Lalu, sambil jalan, ada kedai waffle Brussel yang terkenal itu. Waffle diberi topping cream yang banyak, diberi irisan strawberry dan disiram saus coklat. Habis juga.

Malamnya, saya dinner dengan menyantap foie gras (hati angsa) plus semangkuk kerang hijau saus krim anggur putih plus lobster yang disiapkan ala thermidor (di-grill dengan saus keju). Di Paris, saya keluar masuk toko pastry dan roti. Di Jerman, ke sana kemari makan sosis panggang. Nah, di setiap kota, pola makan dan ngemil saya, ya, seperti itu tadi. Kalau sekarang dipikir, saya jadi malu sendiri. Kesannya kalau di Jakarta saya nggak pernah makan. Padahal, maksud saya adalah untuk mencoba berbagai macam agar saya bisa mendapat ide-ide segar untuk mengolah resep-resep baru. Jadi, sudah tulis panjang lebar tentang makanan, resahnya di mana, ya?

Saya sempat resah sekali dengan berat badan yang di bayangan saya pasti bertambah drastis. Bagaimana tidak, pekerjaan di Jakarta sudah menunggu, ada beberapa wawancara dengan pemotretan pula. Saya tidak mau terlihat tembem. Tapi tahu apa? Ternyata keresahan saya tidak ada gunanya sama sekali. Sebab, komentar teman-teman yang sudah sebulan tidak bertemu adalah “loe, kok, kurus banget, sih?”. Hah? Bingung, deh. Pikir punya pikir, saya akhirnya menemukan alasan saya mengurus. Jalan kaki! Selama di Eropa, saya melakukan kegiatan jalan kaki yang luar biasa. Dari satu titik ke titik lain di dalam kota, kalau bisa jalan, saya pasti akan menggunakan kaki saya. Dan, ternyata, melangkah ke sana kemari bisa membantu saya membakar semua kalori dari semua makanan dan camilan tadi. Senangnya! Sudah jalan-jalan ke Eropa, makan enak dan banyak, tetap langsing pula. Pengen banget pola itu saya terapkan di Jakarta. Tapi, kok, agak susah, ya, mau jalan kaki di sini. Sudah kebawa manja, maunya naik mobil. Ya sudah, aerobik atau jalan di tread mill saja, deh. Ngomong-ngomong, ada, sih, yang sebenarnya membuat saya resah. Jalan-jalan di Eropa selama sebulan ternyata bikin bokek!

Hot & Spicy Party Mix Nuts

Dalam wajan anti-lengket, lelehkan 2 sdm mentega. Masukan 1 kg kacang-kacangan menurut selera (mede, kacang tanah, almond, dll) dan aduk rata hingga kacang terlapis mentega leleh. Tambahkan 1 sdt garam halus, 1 sdt gula, 1 sdt bubuk paprika, 1 sdt bubuk cabai, 1/4 sdt bubuk kunyit, dan 1/4 sdt merica. Aduk terus dengan api sedang hingga kacang matang. Dinginkan dan masukkan dalam toples. Ingat untuk jalan kaki sesudah menyantapnya agar tetap langsing.

1 Comments

angelina lie

October, 28th 2010

laper!! laper!!

lagi ujan di luar, baca ini tambah laperrrr (T.T)

likey, likey ^^

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.