Memasak Antara Ciumbeluit dan Depok
February, 2nd 2010 | by Bara Pattirajawane | 0
Untuk saya, keduanya (mahasiswa UNPAR dan UI) adalah penonton yang sangat menyenangkan
Selain memasak di depan kamera (on-air), saya juga sering memasak tanpa ada kamera di depan saya (off-air). Kegiatan off-air ini cukup padat, mulai dari demo masak untuk ibu-ibu PKK sampai di depan wartawan untuk mempromosikan produk makanan baru. Minggu ini, saya baru saja ber-off-air-ria di depan mahasiswa dari dua universitas bergengsi. Yang pertama, dengan anak-anak FISIP Universitas Parahyangan, Bandung, dan yang kedua, selang beberapa hari kemudian, dengan mahasiswa FISIP Universitas Indonesia di Depok. Untuk saya, keduanya adalah penonton yang sangat menyenangkan.
Skenario acara di kedua tempat kuliah ini nyaris mirip. Mereka mengadakan kegiatan di kawasan kampus; ada stan makanan, band yang nyanyi-nyanyi, talkshow, lomba, games, dan doorprize. Keduanya ramai, keduanya seru, keduanya, seperti tadi saya bilang, menyenangkan. Hebatnya, EO (event organizer), baik di Unpar dan UI dipegang langsung oleh mahasiswanya sendiri. Tidak ada campur tangan dosen (well, at least kelihatannya begitu) maupun 'orang tua' lainnya. Yang menghubungi saya mahasiswa, yang dealing dengan manajemen saya mahasiswa, dan yang memberikan rundown acara, ya, mereka juga. Pokoknya, semua diurus sampai sedetail-detailnya oleh anak-anak kuliahan itu sendiri. Hebat!
Di kedua acara, saya mendemokan tiga resep masakan. Nah, di sinilah letak perbedaannya; antara versi Bandung dan Depok. Kalau kampus Ciumbeluit mintanya saya memasak resep-resep mancanegara—karena acaranya bernama Intrex (International Relations Expo). Yup, mereka memang mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional. Jadi, saya masak Korean Bulgogi, Maroccon Chermoula Prawns with Couscous, dan Italian Budino Di Riso (puding nasi). Kalau di Depok, mereka maunya yang gizinya terjamin, mudah dibuat, serta, yang paling penting, bahan-bahannya gampang didapat dan murah. So, saya buatkan resep-resep dari buku masak saya, Masak Seru Bareng Si Tukang Masak, berupa Pizza Roti Panci, Ayam Teriyaki Pedes, dan Pisang Plenet Keju. Jenis makanan keduanya memang berbeda. Tapi, persamaannya adalah antusiasme para mahasiswa ini.
Jujur, sebelum tampil, baik di Unpar maupun UI, saya sempat bimbang. Terlintas di otak saya, “Memang, anak-anak muda ini mau ngeliatin gue masak? Duuuh, yang ada gue dicuekin kali.” Di bayangan saya, mereka akan lebih suka kalau bertemu band siapa gitu. Misalnya, Ungu atau Samsons. Atau, pemain sinetron Terlanjur Sayang. Tapi, saya ternyata salah. Salah besar. Sewaktu nama saya dipanggil untuk tampil, mereka ber-horeee sambil tepuk tangan. Saya senang, karena ternyata animo anak-anak muda untuk memasak luar biasa. Mereka benar-benar melihat, menyimak, dan bertanya tentang masakan serta cara memasak saya. Heboh dan kadang-kadang berteriak kalau bertanya sesuatu. Tentu saja, pas bagian icip-icip, semua hidangan ludes habis tak bersisa dalam sekejap. Seru banget! Yang membuat saya bahagia juga adalah keinginan mereka untuk menyenangi dunia kuliner yang bukan hanya makan sana-sini, tapi mencoba memegang panci, pisau, dan sutil. Ini tidak terbatas untuk mereka yang perempuan, tapi cowok-cowok juga. Very good!
Setiap kali selesai acara off-air, saya selalu mengevaluasi penonton yang baru saya demokan. Sekian banyak demo untuk para ibu, bapak-bapak, wartawan, anak-anak, sosialita, dan mahasiswa telah saya tampilkan. Untuk saya, anak-anak kuliahan are simply the best audience!
Pisang Plenet Keju
Siapkan tiga pisang ambon, lalu kupas. Panaskan mentega 2 sdm (kalau bisa butter) dalam wajan anti-lengket. Kemudian, goreng pisang, sambil terus dibolak-balik hingga menjadi kecoklatan dan pisang agak empuk. Dengan garpu, 'plenet' pisang hingga gepeng. Parut keju di atasnya (saya suka yang banyak), lalu taburi coklat yang sudah dicacah halus dan taburi juga sedikit kacang cincang. Terakhir, boleh diberi sedikit susu kental manis. Enjoy!




0 Comments
Be the first to comment.